LOGIN"Sentuh adek, Bang. Masa punya istri cantik fresh begini dianggurin. Nanti kalau ada yang naksir nyesel lho!" "Dasar aneh." "Aku nggak aneh, Bang. Aku unik." Demi kesembuhan sang nenek, Almira menerima syarat tak masuk akal dari wanita kaya yaitu menikah dengan putranya yang Ziandra Brady Wiryana. Pria 35 tahun. Dingin. Tegas. Seorang Mayor militer yang hidupnya penuh tekanan. Almira diberi waktu tiga bulan untuk menaklukkan hati Ziandra dan mengandung anaknya. Jika gagal, harapan neneknya pupus. Namun saat ingatannya perlahan kembali, Almira menyadari jika dirinyalah bukan gadis biasa. Akankah Almira bertahan dengan misi tiga bulan atau pergi meninggalkan Ziandra, ketika hati pria dingin itu mulai luluh? Folow Ig : Nanitamam Tiktok : Nanitamam
View More"Paket pelet semar mesem ampuh, gak ya?"
Almira menghela nafas panjang saat duduk menatap dirinya di depan cermin. Ucapan Nyonya Stella terus terngiang di telinga. Rambut panjangnya di gerai, make up tipis hasil tutorial dari youtube berhasil dilakukan. Hanya satu misinya yang belum berhasil, yaitu membuat Ziandra sang suami menyentuhnya. "Kenapa mirip LC sih?" gumamnya saat melihat gaun tidur bahan satin pendek melekat pada tubuhnya. "Nggak apa-apa lah. Mau jadi speak LC, ani-ani, atau sugar baby juga yang penting goda suami sendiri. Bukan godain laki orang. Pokoknya malam ini harus berhasil." Almira melirik ponsel yang ada di atas nakas. Tangannya meraih benda pipih itu dengan wajah penuh harap. Saat menyalakan ponsel, kepalanya langsung tertunduk lesu. "Aku nikah sama manusia apa robot? Masa dari sekian banyak pesan nggak ada satupun yang dibales. Dasar manusia balok es," gerutunya. "Jadi orang kok kayak pohon pisang. Punya jantung tapi nggak punya hati." Almira menghela nafas panjang. Sejujurnya menikahi pria bernama Ziandra seperti sebuah mimpi buruk baginya. Jika bukan karena Nyonya Stella membiayai semua pengobatan nenek Sarmila, mungkin Almira tidak akan pernah ada di kamar yang luas, mewah dan dingin. "Jangan gugup Almira! Rileks, anggap saja lagi ujian mental," gumamnya. Drap! Drap! Suara langkah kaki terdengar mendekat. Bola mata Almira langsung melebar. Ia merapikan rambutnya, memasang senyum terbaiknya. Srek! Pintu kamar terbuka. Sesosok pria tinggi tampan, mata tajam dengan setelan jasnya masuk. Seperti biasa, pandanganya dingin pada Almira. "Selamat datang suamiku," sapa Almira mendekat. Ia menyodorkan tangan pada Ziandra. "Mau apa kamu?" tanyanya dingin. "Kenapa kamu ada di kamarku?" "Salim dong, Bang. Kan suami baru pulang kerja, jadi aku harus salim menyambut kepulangan suamiku," jawab Almira. Ziandra menyodorkan tangan tanpa membalas lagi. Almira langsung salim takzim pada pria yang sudah menjadi suaminya dua minggu. "Apa kamu tidak merasa dingin? Cuaca hujan AC menyala,” kata Ziandra datar. Almira menggulung-gulung rambutnya. "Kenapa, aku seksi ya? Kalau Abang mau aku bisa pakai baju lebih pendek dari ini tiap hari." "Terserah," sahut Ziandra ketus. "Aku mau mandi. Cepat keluar dari kamarku sekarang!" Ziandra melepas jaket kulit dan menaruhnya di atas sofa. Ia melangkah menuju kamar mandi. Seperti biasa, ia tidak pernah menoleh kebelakang jika sudah berjalan. Almira menundukan wajah, tangannya meremas ujung gaun. Ia menatap wajahnya di cermin. Almira sendiri merasa geli melihat penampilannya yang menurutnya terlalu seksi. “Aku juga merasa mau muntah melihat diriku seperti ini. Cantik sih, tapi kayak tante girang kesepian. ” Almira duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Dia mengetik posisi untuk menggoda pria. Bola matanya membaca setiap tips yang diberikan dan memperagakannya. “Ok, saatnya beraksi, ready? Go!” gumam Almira penuh tekad. Dia duduk di atas ranjang dengan menyilangkan kaki. Gaun tidur satin yang di pakainya terangkat mengekspos pahanya yang mulus dan jenjang. Srek! Pintu kamar mandi terbuka. Seorang pria tampan, dengan tubuh tinggi proporsional keluar. Rambutnya yang basah menetesi dadanya yang bidang. Almira menelan ludah. Batinnya menjerit. "Bahu lebar, otot kekar, perut kayak roti sobek. Ah, betapa indah ciptaan Mu!" Mata Ziandra menyipit, wajah dinginnya menatap Almira seperti biasa. “Apa yang sedang kamu lakukan?” tanyanya dingin, eskpresinya datar seolah melihat boneka annabelle. "Hamili aku, Komandan. Masa punya istri cakep begini dianggurin sih? Nanti ada yang naksir nyesel lho!" "Dasar gadis gila. Mau sampai kapan kamu akan berhenti menggangguku? Apa kamu tidak sadar, jika sikapmu begini membuatku mual?" Dada Almira naik turun. Hidungnya kembang kempis mendengar ucapan Ziandra yang selalu menguji kesabarannya. Dia menarik tangan Ziandra hingga terbaring ke atas ranjang. "Mau apa kamu?" tanya Ziandra kaget. "Mau bikin dede bayi sama Abang." Almira memajukan bibirnya. Ziandra menahan wajah Almira dengan telapak tangannya yang lebar. Almira tidak kehilangan akal. Dia mencium telapak tangan Ziandra. Bola mata Ziandra melotot lalu menurunkan tangannya. “Almira. Apa kamu tidak bisa tidak menggangguku sehari saja?” Almira menggeleng. “Nggak bisa. Tuhan memberiku nyawa untuk aku bergerak. Pokoknya aku mau menggoda suamiku sampai menyentuhku.” Ziandra mendesah frustasi. Menikah dengan Almira seperti mimpi buruk baginya. “Bisa-bisanya Mama menyuruhku menikahi gadis aneh ini.” “Aku nggak aneh, Bang. Aku unik,” tegas Almira mengoreksi ucapan Ziandra dengan gelengan kepala. Jarinya menyentuh bibir Ziandra. “Mau sampai kapan kamu akan berhenti mengganggu saya? Apa kamu tidak sadar, sikapmu begini membuatku mual?” Dada Almira naik turun mendengarnya. Daripada menangis, amarahnya yang meledak. Dia menarik tangan Ziandra, dengan kekuatan yang mengejutkan untuk tubuh mungilnya hingga komandan yang biasanya sangat berwibawa itu terjatuh terkejut di atas ranjang. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Ziandra, kaget bukan main. Almira menarik napas dalam-dalam, lalu naik ke atas tubuh Ziandra yang kekar berotot. Ia mengumumkan dengan suara lantang yang lebih cocok untuk deklarasi perang daripada adegan mesra. "Kan aku bilang, mau bikin dede bayi sama Komandan!” Suasana mendadak hening. Hanya detak jam dinding yang terdengar. Wajah Ziandra terlihat campuran antara syok, tidak percaya. Almira baru tersadar pada apa yang baru saja diucapkannya. Pipinya memerah membara. “Ya ampun, malu banget sebenernya, tapi demi nenek, aku harus muka tembok!" batinnya berteriak. Ziandra terdiam sejenak, lalu mendorong Almira hingga terbaring. "Begitu ya?" ucap Ziandra akhirnya. Dia bangkit, merapikan piyamanya yang sudah agak kusut. "Aku sudah bilang tidak mau menyentuhmu. Aku menikahimu karena mama yang memaksa. Aku akan menyentuhmu jika aku mau, tapi sayangnya aku tidak ingin melakukan kannya. " Almira terdiam. Ucapan Ziandra kembali menghantam dadanya seperti pedang. Dadanya bergemuruh, bola matanya memanas. Tapi Almira tidak boleh terlihat lemah. Tidak mendapat jawaban, Ziandra mendengus sinis. “Sepertinya kamu gadis yang punya prinsip teguh. Tapi terserah yang jelas sudah aku bilang sejak awal. Aku tidak menyukaimu.” Ziandra membuka pintu lalu melangkah keluar. Seperti biasa dia pergi ke ruang kerja yang ada di ujung lorong. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya. “Buatkan aku kopi dan bawa ke ruang kerja!” Pintu kamar tertutup. Almira tertelungkup di atas kasur, wajahnya merendam pada bantal. “Ok, masih belum berhasil. Tapi masih banyak waktu,” pikirnya. "Ini baru misi pertama. Siapa tahu besok, aku bisa coba rayuan yang tidak membuatku merasa ingin pindah planet.” Almira mengelus perutnya yang keroncongan. “Lapar, makan mie instan kuah kayaknya enak,” gumamnya seraya beranjak dari tempat tidur. Ia mengganti gaun tidurnya dengan setelan piyama. Mengikat asal rambutan yang panjang dan berwarna hitam. Ia melirik ke kiri dan kanan ruangan itu terasa sepi. “Ini kopi pesanan Anda,” ucap seorang pria mengusik indra pendengaran Almira. Kepalanya spontan menoleh ke arah pintu ruang kerja Ziandra yang terbuka. “Kamu boleh pergi!” kata Ziandra pada Dave, asisten sekaligus supir pribadinya. “Saya permisi,” pamit Dave. Kakinya tidak sengaja tersandung kaki kursi. “Awas!” Ziandra spontan menarik Dave. “Pak Komandan!" Ziandra dan Dave menoleh ke arah pintu bersamaan. Posisi tangan Ziandra memegang pinggang Dave. “Pantas saja dia menolakku. Ternyata dia belok. Silahkan dilanjutkan. Maaf mengganggu.” "Almira ini tidak—""Almira!"Suara bariton Ziandra memecah keheningan. Pria itu berdiri di depan pintu kamar Almira dengan tangan masih menggantung di udara, seolah ragu apakah harus mengetuk lagi atau tidak. Entah mengapa, ucapan selamat malam Almira tadi terus terngiang di kepalanya. Senyum itu terlalu tenang. Terlalu dewasa. Bukan senyum yang biasa ia lihat setiap hari.Klik.Pintu perlahan terbuka. Almira muncul dari balik daun pintu dengan wajah yang kembali cerah. Rambutnya masih tergerai, sementara senyum lebarnya langsung mengembang begitu melihat sosok Ziandra."Ya, Abang, Sayang?" tanyanya manja, memiringkan kepala seperti biasanya.Ziandra memperhatikannya beberapa detik. Nada bicaranya dan ekspresi wajahnya sama. Bahkan cara gadis itu memanggilnya pun sama persis seperti biasanya. Namun, perasaan aneh di dalam dadanya justru semakin kuat."Apa kamu baik-baik aja?" tanya Ziandra akhirnya.Almira mengangguk ringan. "Baik, kok.""Kamu yakin?""Iya.""Kamu kelihatan pucat."Almira tertawa kecil
"Turunkan tanganmu, Zena. Atau kuasamu di Red Viper akan kucabut malam ini juga."Zena tersentak. Detik itu juga, ia refleks menurunkan tangannya yang semula memberi hormat takzim. Bulu kuduknya meremang. Aura dingin dan pekat yang menguar dari tubuh wanita di depannya seolah membekukan udara di dalam kamar sempit itu.Tidak ada lagi Almira yang polos bin ajaib. Di hadapannya kini berdiri Andrea sang putri tertinggi sindikat Red Viper yang sangat disegani."Nona, Anda sudah ingat semuanya?" bisik Zena dengan suara tertahan, memastikan.Almira melangkah pelan, jemarinya mengusap permukaan kasur yang sudah usang, lalu beralih menatap liontin perak bersimbol kode 00-RV-01 di telapak tangannya. Perlahan, gurat ketegangan di wajahnya mencair. Tatapan matanya yang sedingin es seketika berubah kembali menjadi binar polos yang dibuat-buat. Ia tersenyum sangat manis, jenis senyuman yang justru membuat Zena menelan ludah ngeri."Zena mulai detik ini, panggil aku Almira. Si gadis polos, konyol,
"Lalu Mama sendiri bagaimana?"Bukannya menjawab rentetan pertanyaan sang ibu, Ziandra malah balik bertanya dengan nada datar nan dingin yang menjadi ciri khasnya.Nyonya Stella mendelik, melotot protes. "Maksud kamu apa tanya begitu ke Mama?""Bagaimana jika sifat asli Almira tidak sepolos yang Mama kenal dulu?" Ziandra melipat kedua tangannya di dada, menatap ibunya lurus-lurus. "Dan jangan lupa, ternyata dia bukan dari keluarga miskin yang bisa Mama manfaatkan lagi untuk urusan domestik rumah tangga."Hening.Nyonya Stella seketika terpaku. Lidahnya mendadak kelu mendengar pertanyaan retoris yang menghantam telak egonya. Benar juga. Kalau ingatan Almira kembali dan dia ternyata tidak sekonyol sekarang, bagaimana dengan nasib misi tiga bulan yang pernah mereka sepakati? Apalagi sekarang Nenek Sarmila, satu-satunya alasan Almira bersedia bertahan di sini sudah meninggal dunia. Skenario pernikahan pura-pura ini bisa berantakan dalam sekejap jika sang pewaris Red Viver itu pulih."Ke
"Maksudnya?" tanya Almira kebingungan, matanya bergerak panik menatap Ziandra, lalu beralih ke wanita di hadapannya yang sama sekali tidak mirip dengan asisten rumah tangga yang biasa mengulek sambal di dapurnya.Ziandra mengembuskan napas berat, menggenggam tangan Almira yang masih gemetar. "Dia bukan sekadar asisten rumah tangga paruh baya biasa, Almira. Nama aslinya Zena. Dia adalah agen rahasia yang dikirim oleh keluarga kandungmu untuk mengawasimu."Almira mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba mencerna kalimat suaminya. "Keluarga kandung? Agen rahasia?" Ia menatap Zena dengan tatapan kosong. "Jadi ulekan sambal terasi yang enak banget itu cuma penyamaran?" gumam Almira. "Aku pusing, Bang. Kepala aku rasanya mau pecah."Di tengah ketegangan yang ada, Bu RT spontan membekap mulutnya menahan tawa, sementara Nyonya Stella mendengus kesal dari sudut ruangan.“Kamu ceroboh karena tidak tahu soal ini, Ziandra.”“Mama benar. Ternyata aku masih ceroboh karena tertipu oleh penyama
"Maaf, Nona. Pak Ziandra sudah berangkat," jawab Sumi pelan. Senyum di wajah Almira langsung runtuh. Secepat kilat, bibir mungil yang tadi melengkung indah itu kini berubah menjadi cemberut minor. Bahunya sedikit turun, seperti balon yang kempes perlahan. "Sudah berangkat?" ulangnya, masih tidak
Almira menoleh, matanya berbinar meskipun batuk-batuk karena asap. "Oh, Bang Komandan! Bangun? Maaf, Bang, sedikit insiden teknis." "Insiden teknis, Bang Komandan?" Kening Ziandra mengkerut. “Apa maksudmu?” "Iya, kompor sama wajannya ngajak perang, Bang. Padahal aku cuma mau bikin nasi goreng ce
"Oh... jadi ini alasannya?" gumam Almira dengan nada bicara yang tiba-tiba melas namun penuh pengertian yang salah alamat."Pantas saja gaun satin 'LC ala sugar baby’' aku nggak mempan. Ternyata sainganku bukan pelakor, tapi pemain bek tengah.""Almira, jangan berpikiran macam-macam. Dave hanya ter
"Paket pelet semar mesem ampuh, gak ya?"Almira menghela nafas panjang saat duduk menatap dirinya di depan cermin. Ucapan Nyonya Stella terus terngiang di telinga. Rambut panjangnya di gerai, make up tipis hasil tutorial dari youtube berhasil dilakukan. Hanya satu misinya yang belum berhasil, yait












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews