LOGIN"Sentuh adek, Bang. Masa punya istri cantik fresh begini dianggurin. Nanti kalau ada yang naksir nyesel lho!" "Dasar aneh." "Aku nggak aneh, Bang. Aku unik." Demi kesembuhan sang nenek, Almira menerima syarat tak masuk akal dari wanita kaya yaitu menikah dengan putranya yang Ziandra Brady Wiryana. Pria 35 tahun. Dingin. Tegas. Seorang Mayor militer yang hidupnya penuh tekanan. Almira diberi waktu tiga bulan untuk menaklukkan hati Ziandra dan mengandung anaknya. Jika gagal, harapan neneknya pupus. Namun saat ingatannya perlahan kembali, Almira menyadari jika dirinyalah bukan gadis biasa. Akankah Almira bertahan dengan misi tiga bulan atau pergi meninggalkan Ziandra, ketika hati pria dingin itu mulai luluh? Folow Ig : Nanitamam Tiktok : Nanitamam
View More"Dokter, bagaimana keadaan nenek saya?"Almira yang sejak tadi gelisah di depan ruang ICU mendekati dokter dan perawat yang baru saja keluar. Jari-jarinya gemas menggulung ujung kemeja yang ia kenakan. Seorang pria masih mengenakan APD lengkap, membuka masker dan penutup rambutnya. Ia menatap Almira yang terlihat sembab, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menandakan semalaman ia begadang."Kondisi pasien sudah stabil," ucap dokter itu dengan suara tenang."Alhamdulillah."Almira menghela napas lega. Bahu yang tegang perlahan turun. Untuk pertama kalinya dalam dua belas jam terakhir, ia merasa bisa bernapas. Tapi dokter itu belum selesai."Tapi ada hal yang harus Mbak tahu." Dokter muda itu menyeka keringat di dahinya. "Infeksi sudah menyerang organ vital pasien. Bahkan kinerja jantungnya sudah melemah. Kami tidak bisa melakukan tindakan operasi mengingat usia beliau sudah sangat renta."Almira merasakan dadanya seperti ditarik ke bawah."Jadi maksud dokter?"Pertanyaan Almira
Semua kepala menoleh. Ziandra membeku. Laser pointer di tangannya nyaris terlepas. Almira berdiri di ambang pintu dengan senyum selebar samudra. Dua lunch box biru di tangannya diangkat seperti trofi kemenangan. Wajahnya sedikit memerah karena kepanasan. “Almira?" Suara Ziandra terdengar seperti es yang retak. Dingin, tapi rapuh di tepian. "Abang belum makan siang, kan?" Almira melangkah masuk tanpa rasa bersalah. Matanya berbinar-binar. "Aku bawain makan siang." Terdengar suara tertahan dari beberapa anak buah Ziandra. Seseorang batuk palsu. Seseorang lagi menunduk, bahunya bergetar menahan tawa. Ziandra meletakkan laser pointer dengan pelan. Terlalu pelan. Suasana berubah dingin, seperti ada AC baru yang dipasang dengan suhu minus. Ziandra berjalan mendekat. Setiap langkahnya terasa berat, memantulkan tekanan yang membuat beberapa anak buahnya tanpa sadar menarik napas. "Kamu tidak boleh datang ke sini," ucapnya, suaranya tetap datar. Tapi ada nada yang berbeda. Sesuatu yang l
"Maaf, Nona. Pak Ziandra sudah berangkat," jawab Sumi pelan. Senyum di wajah Almira langsung runtuh. Secepat kilat, bibir mungil yang tadi melengkung indah itu kini berubah menjadi cemberut minor. Bahunya sedikit turun, seperti balon yang kempes perlahan. "Sudah berangkat?" ulangnya, masih tidak percaya. "Jam segini? Bukannya dia biasanya berangkat jam delapan?" "Tadi katanya buru-buru, Nona." Almira menggigit bibir bawahnya. Ia berjalan ke arah jendela, mengintip ke garasi. Benar saja, mobil hitam Ziandra sudah tidak ada di sana. Hanya bekas ban yang masih membekas di aspal. "Pria es balok," gumam Almira, cukup keras hingga Sumi mendengarnya. Sumi tersenyum kecil sambil kembali melanjutkan bersih-bersih. "Nona Almira, Bi Sumi bikinkan sarapan dulu, ya. Mau roti bakar?" "Nggak usah, Bi. Udah nggak nafsu makan, " jawab Almira, masih dengan wajah cemberut. Almira menggeleng, lalu melangkah gontai menuju ruang tamu. Ia merebahkan tubuhnya di sofa panjang, memeluk bonek karakter
Almira menoleh, matanya berbinar meskipun batuk-batuk karena asap. "Oh, Bang Komandan! Bangun? Maaf, Bang, sedikit insiden teknis." "Insiden teknis, Bang Komandan?" Kening Ziandra mengkerut. “Apa maksudmu?” "Iya, kompor sama wajannya ngajak perang, Bang. Padahal aku cuma mau bikin nasi goreng ceplok telor.” Almira mengangkat wajan yang bagian bawahnya sudah item menghitam. "Tapi kayaknya wajannya kurang ikhlas." “Astaga, gadis ini. Benar-benar biang rusuh.” Ziandra memejamkan mata. Menghitung sampai sepuluh. Lalu lima belas untuk jaga-jaga. "Kenapa kamu masak?” tanyanya masih dengan nada datar, meski pusat sarafnya sudah berteriak histeris. "Bi Sumi kan datang jam tujuh, Bang. Ini masih jam setengah enam.” Almira meletakkan wajan di wastafel dengan bunyi berisik. "Aku kan istri yang baik. Istri yang baik harus bisa menyiapkan makanan untuk suami dengan tangan sendiri." "Kata siapa?" "Kata—" Almira hampir menjawab jujur, tapi buru-buru menelan kata-katanya. "Kata hati nurani,


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.