Se connecter”Hidup itu simple, jalani lalu sudahi. Jangan terbawa emosi apalagi sampai pake hati.” Setidaknya itulah yang Naila katakan kepada teman-temannya, prinsipnya adalah suka sama suka, tanpa ikatan dan tanpa paksaan. Namun apa jadinya jika hubungan diam-diamnya bersama sang bos mulai dijalani pakai hati? Yang lebih parah, bosnya akan bertunangan sebentar lagi. Oh, shit!
Voir plusXoxo: Tempat aku apa tempat kamu?
Naila melirik ponsel yang menampilkan pop up chat dari seseorang, ia diam-diam membawa ponsel ke bawah meja untuk membuka chat yang masuk, setelah membaca sebaris kalimat itu, lirikannya melayang kepada si pengirim pesan yang kelihatannya sedang fokus mendengarkan concept presentation dari karyawannya. Tatapan pria itu fokus ke depan, tidak ada yang tahu kalau baru saja si bos mengirimkan pesan kepada karyawannya sendiri. Naila: Bagusnya di mana? Tempat aku? Atau hotel aja biar cepet? Naila melirik pria itu menatap ponsel, wajahnya datar tanpa ekspresi. Xoxo: Hotel aja kalau begitu. Aku yang pesan kamarnya. Langsung aja setelah selesai meeting ini. Naila: Nggak sabaran banget? Xoxo: Iya, udah keras dari tadi. Naila: Nggak sabar banget pengen masukin aku? Xoxo: Iya, nggak sabar mau enakin kamu. Lagi-lagi Naila melirik wajah sang atasan yang sedatar papan penggilingan, namun pesan yang dikirimnya begitu cabul. Ck, bisa-bisanya pria itu mengetikkan pesan seperti itu dengan wajah yang biasa saja, sementara Naila yang membacanya sudah merasa begitu gelisah, gerah dan juga … mulai basah. “Oke, cukup. Saya nggak suka desainnya. Ganti dan mulai dari awal,” pria itu berdiri dan keluar dari ruang meeting tanpa menunggu respon karyawan-karyawannya. ”Bangke,” maki Agus pelan, “capek banget gue.” ”Revisi yang ke berapa, Gus?” ledek Gabriel. ”Empat, nggak ada satu pun desain kita yang cocok sama dia, kita bisa minta ganti bos, nggak, sih?” Naila dan Erni tertawa. ”Lo pada jangan ketawa-ketawa aja, kita satu tim, ingat?” ”Iya, lupa,” Naila terkekeh sambil berdiri, “pulang aja, yuk. Capek banget, udah jam tujuh, nih.” ”Jadi ini gimana revisiannya?” ”Besok aja lanjut, kita juga butuh istirahat,” Gabriel menepuk bahu Agus, “pulang aja sekarang, mumet gue, pengin resign.” ”Gue juga,” sahut Agus. ”Anak gue baru lahir,” timpal Edo, “baru sebulan, gue baru tahu harga susu formula semahal itu. Astaga, sumpah, rasanya kayak hidup di dunia lain, belum lagi popok, belum lagi perlengkapannya yang lain, kalian kalau belum siap mental dan financial, jangan punya anak dulu, deh. Pusing!” Semua orang di dalam ruangan berpandangan, lalu tertawa, “Itu gunanya kondom diciptakan, Mas Bro. Siapa suruh lo ML nggak pake protection?” Agus menepuk-nepuk bahu Edo yang sibuk membereskan berkas-berkasnya, “Inget, jangan buntingin bini lo lagi, nanti setelah empat puluh hari malah lo hajar lagi.” ”Anjing.” Hanya itu jawaban Edo. Naila merasa ponsel di saku roknya bergetar, buru-buru wanita itu membukanya. Xoxo: Aku sudah di jalan ke hotel, kamu buruan. ”Ck, nggak sabaran banget,” gumam Naila sambil membalas pesan itu dengan kata ‘sabar’. ”Siapa, Nai? Pacar lo?” Agus tiba-tiba merangkul bahunya. “Naila punya pacar? Kiamat kali.” Gabriel ikut melangkah di samping wanita itu, “Siapa lagi korban lo kali ini, Nai?” ”Korban? Sejak kapan gue jadi tersangka?” Naila tertawa lebar, “yang ada gue korbannya.” Gadis itu mengerling, “gue duluan, ya. Bye.” ”Nai, ingat kata Edo, jangan bunting, susu sama popok mahal.” Naila membalasnya dengan mengacungkan jari tengah, membuat teman-teman satu timnya tertawa. Wanita itu mengambil tas lalu turun ke lobi, karena hari ini sengaja tidak membawa mobil dan sudah memesan taksi online, gadis itu buru-buru masuk ke taksi yang sudah menunggu di depan lobi. ”Hotel Kempinski, ya, Mbak,” driver memastikan tujuan sebelum melaju meninggalkan gedung kantor mewah ini. Tidak butuh waktu yang terlalu lama, Naila memasuki hotel. Pria itu sudah menunggu di lobi. ”Lama banget.” Keduanya masuk ke dalam lift, pria itu menekan Naila ke dinding untuk mencium bibirnya. ”Sabar dong, Dev. Tunggu sampai kamar.” Naila mendorong dada Devan menjauh. Devan Wijaya tidak memberi jarak, tetap berdiri lekat di depan Naila, membuat wanita itu mendongak dengan tangan yang mengelus benda keras di depannya dengan nakal. ”Ngerasain, kan?” Lift terbuka, Devan menarik Naila keluar dari lift dengan terburu-buru, wanita itu tertawa genit—tawa yang menghilang begitu mereka masuk ke sebuah kamar. Tawa yang terbungkam oleh ciuman. Prinsip Naila sejak dulu adalah tanpa ikatan dan tanpa paksaan, jangan pakai hati, main-main tidak perlu melibatkan hati, apalagi sampai jatuh hati. Jadi hubungan yang sudah ia jalani selama dua tahun bersama bosnya ini adalah definisi dari main-main tanpa ikatan dan tanpa paksaan yang sesungguhnya. Selagi belum ada yang bosan, maka mereka masih tetap sejalan. ”Wait, protection!” Naila menahan dada Devan dengan kedua tangan. ”Iya, ini mau pake,” pria itu merobek bungkus protection itu menggunakan gigi lalu memasangnya dan memastikan sudah benar-benar terpasang sempurna sebelum kembali mendekatkan dirinya kepada Naila.”Ogah,” Naila berdiri menatap city light dari kamar Devan, langit sudah gelap dan lampu-lampu kota tampak indah. Ia menoleh saat Devan berdiri di belakangnya, pria itu menarik lepas blazer yang masih melekat di tubuh Naila, menyisakan blouse tanpa lengan dan celana panjang, Devan mengikat rambut Naila ke atas dan menjepitnya dengan jepit rambut yang ia ambil dari pouch makeup wanita itu. Pria itu membungkuk untuk menumpukan dagunya di bahu Naila.”Mau makan apa?” tanyanya dengan suara pelan.”Steak,” jawab Naila, “wine.””Oke, mau mandi dulu atau—“”Mandi. Sendiri.” Naila mendorong dada Devan menjauh. Masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya sebelum Devan ikut masuk. Pria itu menghela napas dan meraih pesawat telepon untuk memesan layanan kamar.Selama dua tahun belum sekalipun mereka tidur bersama—tidur yang benar-benar tidur dan juga mandi bersama. Devan pikir kali ini ia bisa mandi bersama wanita itu, tetapi Naila seakan tahu niatnya dan buru-buru menegaskan bahwa wanita it
Mereka bertemu Pak Heru di lokasi proyek, fokus diskusi mereka saat ini adalah desain taman dan kolam renang yang akan menjadi daya tarik utama hotel tersebut. Di bawah terik matahari siang, mereka berjalan mengelilingi lokasi sambil mendiskusikan rencana yang telah dibuat sebelumnya.Devan melihat ke arah tanah kosong yang ditandai sebagai area kolam renang, “nah ini area di mana kolam renang akan dibangun. Saya ingin memastikan desainnya tidak hanya estetis, tetapi juga berfungsi maksimal untuk tamu hotel. Bagaimana pendapat Pak Heru?”Pak Heru memperhatikan sekitar, “lokasinya strategis, dan menurut saya, kita bisa menambahkan elemen lanskap di sekitar kolam untuk memperhalus transisinya ke taman. Misalnya, menanam pohon yang tidak terlalu tinggi di sisi timur untuk memberikan sedikit bayangan di sore hari.”Devan mengangguk, “Bagus, itu akan membantu mengurangi panas juga. Bagaimana dengan taman di sekitarnya? Saya membayangkan area ini menjadi tempat yang menyenangkan untuk berja
“Kamu mau yang mana?” Devan menunjukkan dua toys kepada Naila—g-spot vibrator dan anal beads—dan Naila memilih g-spot vibrator.”Nggak mau yang ini?” goda Devan menunjukkan toys berbentuk rangkaian bola kecil berwarna hitam yang digunakan di bagian belakang tubuh. Tapi Naila memilih toys yang lain berbahan silikon yang lembut berbentuk melengkung dengan panjang lima belas sentimeter karena ia belum ingin memakai toys yang satu lagi.”Buat di Jakarta aja, kalau pakai itu, takutnya besok aku nggak bisa bangun dari tempat tidur.”Benar juga, pikir Devan. Jadi pria itu menyimpan kembali toys yang tadi digenggamnya. Ia mengambil alih toys yang kini berwarna biru dari tangan Naila. “Hampir sama kayak yang hitam,” ujarnya menatap benda itu.”Iya, tapi yang ini lebih kecil dan getarannya lebih lembut.””Masa?” Devan mendekatkan toys itu ke payudara Naila dan menekan tombolnya, membuat Naila tersentak karena putingnya dijadikan sasaran. Desah nikmat meluncur bersamaan dengan teriakan kaget.”D
“Nggak usah, kamu mau yang kecil ini kan kemarin?” Devan menanggalkan bathrobe Naila, membuat wanita itu telanjang sepenuhnya karena tidak mengenakan apa-apa dibalik jubah mandi itu. Devan menarik Naila berbaring lalu mencium bibirnya dengan rakus, pria itu mengambil alih vibrator dari tangan Naila, vibrator yang masih menyala dan bergetar lembut, Devan mendekatkan toys itu ke kulit leher Naila yang langsung membuat wanita itu tersentak sekaligus mengerang di bibir Devan.Lidah Devan membelai rakus, toys itu kini beralih pada payudara Naila, begitu Devan mendekatkan benda bergetar itu ke puting Naila yang keras, Naila mengerang lebih keras, melumat bibir bawah Devan dengan penuh nafsu. Devan sengaja terus merangsang Naila dengan mainan yang wanita itu idam-idamkan sejak bulan lalu. Getaran lembutnya membuat Naila merinding dan menggelinjang. Tangan Devan terus memegangi toys menuju ke bawah, pria itu menempelkan benda hitam itu ke kewanitaan Naila dan membuat Naila melengkungkan pungg












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires