Home / Romansa / Ah! Enak Mas Dokter / Bab 659: Babak Belur

Share

Bab 659: Babak Belur

Author: Dita SY
last update publish date: 2026-06-04 10:00:00

Efek alkohol yang mengalir di darah Farah benar-benar sudah mengambil alih akal sehatnya.

Di bawah sorot lampu neon yang berkelap-kelip, rasa bersalah dan kecemasannya pada Biru mendadak menguap, digantikan oleh euforia palsu yang meledak-ledak.

Alunan musik yang berdentum keras seolah menarik tubuhnya untuk terus bergerak.

​Farah tertawa lepas, melangkah ke tengah-tengah halaman dekat kolam renang, lalu mulai menari dengan geraka

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mira
berganti cerita anak muda
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 671: Cerita Ray

    Sesampainya di pelataran rumah sakit, Biru segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Farah.​"Maaf, Non. Saya hanya bisa mengantar sampai di sini," ucap Biru datar, sambil menatap lekat Farah. "Setelah ini saya tidak bisa menemani ke dalam, karena saya ada janji penting untuk bertemu dengan seseorang."​Kening Farah berkerut bingung. Tidak biasanya Biru menolak untuk mendampinginya, apalagi di tempat umum seperti ini. "Janji? Sama siapa? Tumben banget kamu ada urusan mendadak di jam kerja begini, Biru."​Biru tampak kikuk. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kebingungan menyusun kebohongan. "Maaf, Non ... saya .... "​Melihat kegugupan itu, Farah justru tersenyum. Ia mengira Biru mungkin memiliki urusan asmara. "Ya udah, nggak apa-apa kok. Pergi aja selesaikan urusan kamu. Tapi nanti jangan lupa jemput aku lagi di sini, ya," potong Farah cepat. Ia langsung berbalik dan melangkah menuju lobi gedung perawatan tempat Ray dirawat.​Sementara itu, Biru masih bergeming di tempatny

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 670: Ke Rumah Sakit

    "Biru, antar aku ke rumah sakit sekarang! Aku mau lihat keadaan Ray. Semalam dia dipukulin orang sampai masuk rumah sakit," seru Farah, berlari tergesa-gesa menghampiri Biru yang sedang berdiri di dekat mobil.​Wajah Biru yang semula sudah tegang karena baru saja menerima sepucuk surat panggilan dari kepolisian, mendadak kian mengeras.Emosinya tersulut hebat begitu mendengar nama Ray kembali keluar dari bibir Farah.Ditambah lagi, gadis itu tampak begitu cemas memikirkan keadaan bajingan yang hampir saja melecehkannya semalam.​Kenapa pria berengsek itu selalu mendapatkan perhatian lebih dari kamu, Farah? batin Biru bergejolak, menahan rasa sesak sekaligus cemburu yang mengiris hatinya.​"Ayo, Biru, tunggu apa lagi?" ajak Farah mendesak. Namun, sedetik kemudian tatapan matanya beralih pada amplop putih berlogo kepolisian yang ada di genggaman tangan Biru. "Eh, itu surat apa?"

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 669: Panggilan Polisi

    Senin pagi di koridor utama kampus yang biasanya diisi oleh canda tawa santai, mendadak berubah menjadi riuh oleh kasak-kusuk ratusan mahasiswa.Pandangan semua orang tertuju pada layar ponsel masing-masing, lalu beralih menatap sinis ke satu arah.​Di ujung koridor, Megan berjalan dengan gaya angkuh yang biasa, dikelilingi oleh circle setianya.Namun, langkah kaki Megan mendadak terhenti saat ia menyadari ada yang tidak biasa.Bisikan-bisikan miring dan tatapan mengejek dari orang-orang di sekitar mulai menusuk telinganya.​"Megan, coba lo buka grup angkatan sekarang. Cepetan!" bisik salah satu temannya, Sherly, dengan wajah yang mendadak berubah pucat pasi sambil menyodorkan ponsel.​Megan mengerutkan kening, merebut ponsel itu dengan kasar. Begitu layar menyala dan sebuah video berdurasi beberapa menit terputar, bola mata Megan nyaris keluar dari kelopaknya. Jantungnya serasa berhenti berdetak seketika."WHAT!" teriak Megan histeris.​Di dalam video yang kini menjadi viral dan dito

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 668: Kerjaan Dylan

    Sementara itu, jauh di sebuah apartemen mewah di kawasan New York, Amerika Serikat, Dylan langsung mematikan sambungan teleponnya.Jam dinding di kamarnya menunjukkan waktu dini hari, namun rasa kantuknya seketika sirna digantikan oleh desakan adrenalin.​Dylan melangkah cepat menuju meja kerjanya yang dipenuhi oleh tiga monitor berukuran besar dengan spesifikasi dewa.Ia mendudukkan diri di kursi ergonomisnya, lalu menyalakan seluruh sistem komputer kustom miliknya.Jari-jemarinya yang panjang dan bergerak sangat lincah mulai menari di atas papan ketik mekanis, menciptakan melodi ketukan yang konstan dan cepat.​Klik! Klik! Klik!​Layar monitor yang tadinya gelap seketika berubah menampilkan ribuan baris kode biner hijau yang berjalan vertikal dengan kecepatan tinggi.Dylan menyipitkan mata, mengeluarkan seluruh keahlian terbaiknya sebag

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 667: Meminta Bantuan

    Saat Farah hendak membuka pintu mobil untuk melangkah masuk kembali ke rumah Aurora, tiba-tiba daun pintu utama terbuka.Biru berjalan ke luar dengan langkah tenang. Dilihat dari ekspresi wajahnya yang datar dan tanpa beban, sepertinya pria itu benar-benar tidak tahu apa-apa.​Farah seketika mengembuskan napas lega, memegangi dadanya yang sempat berdegup kencang.Ia bersyukur dugaannya keliru. Aurora terbukti setia menjaga rahasia kelam itu.​'Maafin aku, Aurora. Aku terlalu sensitif dan berpikiran buruk sama kamu,' batin Farah menyesal dalam hati.​Di ambang pintu, Biru sempat melempar senyum tipis yang tampak meyakinkan. Sebuah senyuman sandiwara yang sengaja ia pasang demi menyembunyikan badai amarah yang bergemuruh di dadanya setelah melihat video dari Aurora.Tanpa banyak bicara, Biru membukakan pintu mobil untuk Farah.​Tak lama kemudian, mesin mobil menyala dan kendaraan mewah itu pun melaju membelah jalanan menuju rumah.Sepanjang perjalanan, keheningan terasa begitu pekat. Bi

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 666: Biru Akhirnya Tahu

    Ting! Ting! Ting!​Setelah video klarifikasi itu resmi diunggah di grup angkatan kampus, ponsel di genggaman Farah seolah tidak diberi napas.Notifikasi pesan masuk beruntun tanpa henti, memekakkan telinga di dalam kamar Aurora yang semula hening.​Farah dengan tangan gemetar memberanikan diri menggulir layar, membaca satu per satu respons dari teman-teman kuliahnya.Di antara sekian banyak pesan, beberapa memang berisi dukungan dan rasa simpati.Namun, komentar jahat jauh lebih mendominasi. Mereka mencemooh, menghakimi, bahkan menuduh Farah sengaja bertingkah murahan demi mencari perhatian.Ada juga yang membawa-bawa nama baik institusi, menyebut kelakuan Farah semalam telah mencoreng reputasi kampus.​Mental Farah kembali runtuh. Air mata yang sempat mengering kini kembali mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat."Sabar, Farah. Yang penting kamu udah berani mengakuinya dan meluruskan semuanya. Kamu hebat karena kamu mau mengakui kesalahan kamu," ucap Aurora, mengusap punggung s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status