Share

Bidadari Nenek

Author: Dita SY
last update Huling Na-update: 2025-08-30 08:00:22

"Kenapa dengan cucu kita, Bu?" Fandi meninggikan suaranya. Dadanya mendadak sesak. Napasnya tertahan di tenggorokan, nyaris pingsan.

Suara jerit dan tangisan Inneke sudah menjelaskan apa yang terjadi pada Febby dan calon cucunya.

Fandi memegang dada yang kembang-kempis tak karuan. Belum sanggup mendengar penjelasan istrinya, namun dia ingin tahu.

Di sampingnya, Dirga memelankan laju kendaraan roda empat itu. Mencari tempat aman untuk berhenti lalu mengambil ponsel yang nyaris terlepas dari genggaman tangan ayah mertua.

"Bu, ada apa? Apa yang terjadi pada anakku?" tanya Dirga, berusaha kuat, meski perasaannya sudah kacau sejak tadi.

"Nak, kamu yang sabar ya. Mungkin ini salah satu cara untuk menghapus dosa kamu dan Febby. Yang sabar ya, Nak," isak Inneke dari ujung sana.

Dirga meremas ponsel di tangan. Wajahnya berubah pucat. Ia menghela napas lirih dengan kedua mata berkaca-kaca, menahan air mata yang ingin runtuh. Yakin, kabar b
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (3)
goodnovel comment avatar
Irna Dena
nangisss banget baca bab ini
goodnovel comment avatar
Inaya Khairunnisa
agak kecewa seh thor..knpa di bikin sedih terus seh,kasian febby...
goodnovel comment avatar
Diah Yanti
duuuh bab nya mengandung bawang ......... sedih bngt salah satu dr si kembar meninggal dunia... sdh takdir nya atau bs jg dr pengaruh susu bumil yg di campur ramuan penggugur kandungan oleh sisca???? ......
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Ah! Enak Mas Dokter   Desah di Ruang Perawatan +

    "Honey, kamu darimana?" Prams menatap wanita cantik yang baru saja membuka pintu kamar perawatan. Langkah kaki Elina tertahan. Matanya mengedar, seperti mencari sesuatu. Prams menyempitkan kedua mata, mengikuti arah mata Elina yang mengitari sekeliling kamar itu. Tak ada yang aneh, entah apa yang ada di dalam pikiran Elina. Menurutnya, seisi ruangan tidak ada yang berbeda. Bed rumah sakit masih berada di tempat semula. Buah-buahan segar belum disentuh sama sekali. Ruang kamar VVIP di salah satu Rumah Sakit terbesar di Hong Kong itu tampak bersih seperti kamar hotel bintang lima. Semua fasilitas ada di dalam ruangan itu. Sofa panjang mewah, televisi besar dan AC yang menyala full. "Honey, kamu sedang mencari siapa?" tanya Prams, mengubah posisi menjadi duduk bersandar ke belakang. Elina menggeleng, melanjutkan langkah kakinya mendekati bed dan duduk di kursi.

  • Ah! Enak Mas Dokter   Desah di Ruang Dokter ++

    Lily menelan ludah keras saat merasakan pergelangan tangannya digenggam begitu erat oleh Zhang.Saat ingin menarik pintu, Zhang mendorong pelan dan mengunci rapat. Lily mendongak, menatap pria tinggi itu dengan kedua mata membulat. Tatapannya beralih pada seisi ruangan, jauh dari tempatnya saat ini sebuah ponsel tergeletak, tak dapat diraih."Aku ingin bicara!" Zhang mengulang ucapannya.Lily menghela napas panjang. Menundukkan kepala sesaat, lalu menatap tajam pada Zhang. "Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Semua sudah selesai, kita tidak memiliki hubungan apapun. Kamu tahu 'kan, minggu depan aku akan menikah dengan sahabat Papaku. Tolong lupakan kalau kita pernah memiliki hubu .... "Ucapan Lily seketika berhenti saat Zhang menarik pinggang dan menekan tubuh moleknya ke dinding.Zhang memiringkan kepala dengan mata terpejam, menikmati harum khas yang dirindukan setengah mati.Wangi parfum Cherry yang biasanya i

  • Ah! Enak Mas Dokter   Penjelasan Dokter

    "Periksa tekanan darah Pasien," titah Dokter Zhang pada Perawat. "Baik Dokter." Perawat bernama Lily itu memeriksa tekanan darah Prams, kemudian tersenyum. "Tekanan darah Pasien stabil Dok. Kondisinya juga sudah jauh lebih baik."Dokter Zhang mengangguk, lalu melangkah mendekati ranjang dan berdiri di samping. Ia mencondongkan tubuh, dengan tatapan penuh konsentrasi saat memeriksa mata Prams yang terbuka lebar.Sementara Elina menunggu dengan harap-harap cemas. Kedua tangan saling menggenggam di atas dada.Dari bibir yang terus bergerak, doa-doa dilangitkan, meminta kesembuhan untuk calon suaminya.Dokter Zhang tersenyum. "Respons pupilnya normal," gumamnya sambil menyalakan senter kecil dan mengarahkan ke kedua bola mata Prams.Napasnya terhenti sesaat saat mendengar detak jantung yang terpantau melalui monitor, detak yang stabil, tetapi masih terdengar lemah.Dengan tangan cekatan, ia menekan manset tensi di

  • Ah! Enak Mas Dokter   Amnesia?

    Elina menatap Prams yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Wajah yang biasanya keras kini tampak rapuh dan pucat.Napas pria bertato itu terdengar berat, tersengal-sengal oleh alat bantu pernapasan yang terpasang di hidungnya.Tangan Prams yang kasar dan penuh bekas tinta itu terkulai lemah di samping tubuhnya.Elina menghela napas lirih, dadanya sesak menahan perasaan campur aduk antara harapan dan ketakutan."Tolong sadar Hubby. Aku di sini menunggu kamu. Kembalilah Hubby."Mata Elina yang merah berusaha menahan buliran bening yang menggenang di pelupuk. Jemari tangannya gemetar saat menyentuh selimut putih yang menutupi tubuh Prams."Tolong bertahanlah,” bisik Elina lagi dengan suara melemah. Suara itu nyaris tak terdengar di antara bunyi alat medis yang berdengung monoton.Elina mengusap lembut pipi Prams. Air matanya tak dapat terbendung, mengalir deras membasahi wajah cantik yang lelah itu.Sua

  • Ah! Enak Mas Dokter   Tangisan Sisca

    Indonesia~Baru saja Barta mendapat telepon dari Bramanto dan berbicara panjang lebar tentang rencana kepulangan Dylan dua hari lagi."Beritahu Istri kamu ya Nak, biar dia bisa membantu bibinya menyiapkan acara penyambutan kepulangan Dylan nanti," ucap Bramanto. "Iya Pa, pasti. Makasih informasinya. Aku nggak sabar ingin secepatnya melihat keponakan aku pulang.""Papa juga. Kita doakan saja semua lancar. Dua hari lagi mereka pasti pulang.""Amin Pa, Amin," senyum Barta. "Ya sudah, Papa mau melanjutkan pekerjaan Papa. Sudah dulu ya." Bramanto mengakhiri telepon.Setelah telepon diakhiri, Barta buru-buru mencari istrinya yang tak terlihat di dalam kamar Utama.Jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Sisca memang selalu bangun lebih pagi dari ayam tetangga. Sementara Ibu mertuanya pasti sedang mengajak cucu Kesayangan berjemur di taman komplek.Barta melangkah menuju dapur, satu-satunya tempat f

  • Ah! Enak Mas Dokter   Teka-teki

    "Silakan duduk Nak Adrian, dan .... " Fandi menggantung ucapan, menatap Intan sambil menggaruk kerutan kening, berusaha mengingat nama wanita muda di depannya.Melihat itu, Adrian langsung memahami. "Namanya Intan, Pak Fandi," ucapnya mengenalkan. "Dia wanita yang berhasil melenyapkan Prams. Berkat dia masalah kita semua selesai."Fandi membuka mulut sedikit dengan tatapan kagum. Dengan cepat ia melangkah mendekati Intan lalu mengulurkan tangan. "Jadi kamu yang namanya Intan?" senyumnya. "Neng Geulis yang berjuang sendiri di Hong Kong. Makasih ya Neng. Makasih banyak."Intan hanya tersenyum, menyambut uluran tangan pria baya itu."Makasih banyak Neng. Kalau bukan karena kamu, nggak mungkin semua masalah ini berakhir. Makasih nyak.""Sama-sama Pak, makasih juga sudah menjemput saya." Intan menundukkan kepala.Diam-diam Adrian terus memperhatikan wanita cantik itu. Senyum di bibirnya mengembang, mengagumi sikap sopan dan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status