Mag-log inBramanto berdiri lalu melangkah mendekati pintu dan membukanya. Ia melirik ke arah bawahan yang berdiri tegak di depan pintu. "Bawa tersangka ke kantor Polisi!"
"Baik Komandan!" Dua orang anggota Polisi masuk ke dalam kamar perawatan sambil mengeluarkan borgol.Mendengar perintah Komandan tersebut, Hengky menegakkan kepala sambil menggeleng berkali-kali. "Pak, saya ngga bersalah Pak! Saya bukan tersangka!"Bramanto bergeming, melangkah meninggalkan kamar perawatan tPintu ruangan kayu lapuk itu ditarik paksa hingga terbuka. Sang ketua anak jalanan masuk dengan tatapan mata yang sangat bengis, diikuti oleh dua anak buahnya yang bertubuh besar.Tanpa belas kasihan, mereka langsung melucuti semua barang berharga yang melekat di tubuh Dylan.Sepatu sekolah yang mahal, jam tangan pintar yang baru dibelikan Daddy-nya bulan lalu, hingga sisa uang jajan di saku celananya dirampas begitu saja.Seragam sekolah internasionalnya yang kotor dan robek dipaksa untuk dilepas."Sekarang kamu pakai ini!" bentak sang ketua sambil melemparkan sepotong kaos oblong yang sangat kusam, berlubang di bagian bahu, serta celana pendek kain yang sudah pudar warnanya.Baju itu adalah baju bekas milik anak jalanan lain yang sudah tidak terpakai, sangat mirip dengan baju yang biasa dipakai Biru.Dylan yang tubuhnya masih dipenuhi lebam kebiruan dan
Suara kunyahan kacang di dalam terowongan beton yang sunyi itu mendadak terhenti.Dylan dan Biru saling pandang saat mendengar suara derap langkah kaki yang berat mendekati mulut terowongan."Ssttthhh!" Biru menutup mulut Dylan dengan tangannya.Mata Dylan berotasi, memperhatikan tempat sempit yang mereka duduki.Sementara Biru memberi kode dengan kedipan matanya berulang kali.Sebelum mereka sempat bergerak untuk melarikan diri, sebuah bayangan besar langsung menutupi cahaya remang dari luar."Kena kalian!" tawa renyah terdengar menggema di terowongan gelap itu."Argggghhhh!"Sebuah tangan kekar langsung mencengkeram kerah seragam Dylan yang sudah kotor, menariknya ke luar dari terowongan dengan kasar hingga ia terjerembap di atas tanah becek.Biru yang mencoba menarik tangan Dylan pun langsung
Hush! Hush! Hush!Napas Dylan memburu seperti hendak putus.Suara derap langkah kaki anak-anak jalanan yang mengejarnya masih terdengar menggema di lorong-lorong seng yang sempit.Langkah kaki kecil Dylan yang terbiasa berlari di atas rumput lapangan sekolah yang halus kini terasa sangat berat melompati genangan air berlumpur dan tumpukan sampah tajam.Tiba-tiba, sebuah tangan yang kotor namun kuat menarik kerah seragamnya dari balik celah sempit di antara dua dinding kayu yang rapuh.Dylan hampir saja berteriak karena panik, namun sebuah telapak tangan langsung membekap mulutnya dengan erat."Ssshh! Ini aku, Biru," bisik sebuah suara yang serak dan terengah-engah.Dylan mendongak. Di balik keremangan, sepasang mata biru jernih menatapnya dengan sangat waspada.Wajah Biru kini semakin berantakan, dengan lebam baru
Begitu bel istirahat berbunyi, Farah langsung berlari menemui Dylan di depan kelasnya.Dengan kedua tangan kecilnya, ia menyodorkan robot superhero milik Zidan yang sudah kembali ke dalam pelukannya."Kak Dylan, lihat! Robot Zidan sudah ketemu!" seru Farah dengan wajah berseri-seri.Dylan yang sedang merapikan buku langsung menoleh. Matanya membelalak melihat mainan itu."Dari mana kamu dapat ini, Farah? Kamu yang ambil ya?""Bukan Farah!" bantah Farah cepat. "Ini dari Biru, Kak. Dia yang balikin tadi di pagar belakang. Dia bilang dia merebut mainan ini dari anak jalanan lain yang mencurinya. Wajah Biru sampai babak belur karena berkelahi demi mengembalikan robot ini!"Dylan mengambil robot itu dari tangan Farah, membolak-baliknya dengan tatapan penuh kecurigaan."Farah, kamu jangan mudah percaya! Bagaimana kalau si Biru itu sebenarny
Tiga hari berlalu tanpa ada tanda-tanda kehadiran Biru di balik pagar belakang sekolah.Farah hampir saja putus asa, hingga akhirnya pada suatu siang yang terik di jam istirahat, ia melihat siluet kurus itu kembali berdiri di balik pagar kawat yang menjulang tinggi."Biru!" seru Farah gembira, langsung berlari kecil menghampiri pagar.Namun, begitu jarak mereka semakin dekat, senyum di wajah Farah langsung memudar, digantikan oleh rasa terkejut yang luar biasa."Biru, kamu kenapa?"Wajah Biru yang biasanya tampan meski kusam, kini dipenuhi luka memar keunguan di pipi dan pelipisnya. Sudut bibirnya pecah dan tampak bercak darah yang sudah mengering."Biru, kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Farah panik, kedua tangan kecilnya mencengkeram kawat pagar.Biru hanya diam, berusaha menyembunyikan wajahnya."Wajah kamu kenap
Pagi yang cerah di kediaman Dirga. Saat ini Febby sedang memasukan makan siang ke dalam tas anak-anaknya."Mom, Biru suka banget sama roti coklat itu, katanya enak. Roti buatan Mommy memang nggak pernah gagal," ucap Farah.Febby tersenyum bahagia. "Kalau begitu hari ini kamu bawa banyak roti untuk Biru dan ibunya ya. Untuk adik atau kakaknya juga, siapa tahu mereka mau.""Okay Mom. Makasih ya Mommy," ucap Farah, senang."Sama-sama, Sayang."Setelah selesai menyiapkan bekal, kedua anak-anak itu dijemput supir pribadi mereka yang membawa mereka ke mobil.Suasana ruang makan kembali hening. Di meja makan, hanya ada Dirga yang duduk terdiam menatap cangkir kopi yang sudah mulai mendingin.Di hadapannya, Febby sedang sibuk merapikan piring tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.Keheningan ini terasa begitu menyiksa bag







