LOGINPasal yang menjerat Anggun semakin berat setelah bukti chat Dirga dengan Bella diterima oleh Polisi.
Bramanto turun tangan langsung untuk menangani kasus Anggun. Dibantu Barta Wiyana yang mencatat kondisi luka Bella yang disebabkan pisau tajam tertancap di perut.Setelah menangani Bella, Barta memberi kesaksian penting sebagai Dokter Ahli Bedah. Catatan medis yang baru saja diterima oleh Bramanto menambah deretan kasus kejahatan Anggun."Bukti bertambah, anakku baruDirga menarik napas panjang, berusaha mengatur emosinya yang meluap-luap."Kalian pulang saja. Aku akan melanjutkan mencari Dylan," ucap sang Dokter.Febby hanya diam sambil menatap jalanan dari kaca spion mobil. Perjalanan menuju rumah terasa sangat menyesakkan dada.Malam semakin larut ketika Dirga menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah mewah mereka yang megah, namun terasa sunyi.Tanpa sepatah kata pun, ia membimbing Febby dan Farah masuk ke dalam rumah.Febby yang masih terisak enggan menatap mata suaminya, sementara Farah sudah terlalu lelah hingga matanya sayu."Kamu mau cari Dylan ke mana lagi?" tanya Febby dengan suara parau saat melihat Dirga berbalik menuju pintu ke luar."Aku nggak tahu, tapi aku harus cari Dylan sampai ketemu. Aku nggak bisa cuma duduk diam menunggu kabar dari polisi," jawab Dirga.
Suara sirine mobil polisi yang berlalu-lalang di sekitar gerbang sekolah mulai menjauh saat Dirga memacu mobil sedannya membelah jalanan malam Jakarta yang mulai lengang.Surat laporan kehilangan anak sudah resmi diterbitkan oleh pihak kepolisian, lengkap dengan foto Dylan yang disebar ke seluruh unit patroli.Namun, bukannya merasa lega, ketegangan di dalam mobil itu justru terasa semakin mencekik.Di kursi belakang, Farah duduk sambil memeluk boneka kelincinya erat-erat. Matanya yang bulat tampak sembab.Ia tahu ada sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi pada kakaknya, dan rasa bersalah mulai menghantui pikiran kecilnya."Daddy .... " panggil Farah dengan suara mencicit yang sangat pelan.Dirga melirik dari kaca spion tengah. Wajahnya terlihat sangat kaku dan lelah."Iya, Farah? Ada apa, Nak?""Farah mau jujur
Matahari sore telah sepenuhnya tenggelam di ufuk barat, digantikan oleh kegelapan malam yang pekat.Di dalam area gedung sekolah dasar internasional itu, kepanikan luar biasa sedang melanda.Di ruang kepala sekolah yang biasanya tenang, Febby duduk dengan tubuh gemetar hebat dan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya.Di sampingnya, Dirga berdiri dengan wajah yang pucat pasi, guratan kecemasan dan kemarahan bercampur menjadi satu di wajahnya.Sejak jam pulang sekolah pukul dua siang tadi, Dylan tidak pernah ke luar dari gerbang sekolah.Pak Joko yang menjemput Farah dan Dylan sempat menunggu hingga koridor sepi, namun Dylan tak kunjung muncul.Saat Pak Joko melapor, Dirga dan Febby langsung memacu mobil mereka menuju sekolah dengan jantung yang berdegup kencang."Bagaimana bisa seorang anak kelas tiga hilang dari lingkunga
"Aku lelah .... " Dylan menghela napas panjang sambil mengusap peluh yang membasahi wajahnya.Matahari akhirnya tenggelam di balik gedung-gedung pencakar langit Jakarta.Bagi Dylan, hari pertamanya di jalanan terasa seperti berabad-abad.Kakinya yang tanpa alas terasa melepuh, dan sekujur tubuhnya berdenyut nyeri akibat sisa-sisa pukulan kemarin.Saat lampu merah terakhir menyala di jam tujuh malam, Biru mengajak Dylan kembali ke markas.Di sepanjang jalan setapak menuju gubuk seng, Dylan berjalan tertatih-tatih sambil memeluk kaleng biskuit penyoknya.Di dalam kaleng itu, hanya ada beberapa koin ratusan rupiah dan dua lembar uang seribuan yang sudah sangat lusuh."Duitmu sedikit sekali, Dylan," bisik Biru dengan cemas sambil melirik isi kaleng milik Dylan."Aku nggak bisa cari duit seperti kamu, Biru." Dylan menghe
Pintu ruangan kayu lapuk itu ditarik paksa hingga terbuka. Sang ketua anak jalanan masuk dengan tatapan mata yang sangat bengis, diikuti oleh dua anak buahnya yang bertubuh besar.Tanpa belas kasihan, mereka langsung melucuti semua barang berharga yang melekat di tubuh Dylan.Sepatu sekolah yang mahal, jam tangan pintar yang baru dibelikan Daddy-nya bulan lalu, hingga sisa uang jajan di saku celananya dirampas begitu saja.Seragam sekolah internasionalnya yang kotor dan robek dipaksa untuk dilepas."Sekarang kamu pakai ini!" bentak sang ketua sambil melemparkan sepotong kaos oblong yang sangat kusam, berlubang di bagian bahu, serta celana pendek kain yang sudah pudar warnanya.Baju itu adalah baju bekas milik anak jalanan lain yang sudah tidak terpakai, sangat mirip dengan baju yang biasa dipakai Biru.Dylan yang tubuhnya masih dipenuhi lebam kebiruan dan
Suara kunyahan kacang di dalam terowongan beton yang sunyi itu mendadak terhenti.Dylan dan Biru saling pandang saat mendengar suara derap langkah kaki yang berat mendekati mulut terowongan."Ssttthhh!" Biru menutup mulut Dylan dengan tangannya.Mata Dylan berotasi, memperhatikan tempat sempit yang mereka duduki.Sementara Biru memberi kode dengan kedipan matanya berulang kali.Sebelum mereka sempat bergerak untuk melarikan diri, sebuah bayangan besar langsung menutupi cahaya remang dari luar."Kena kalian!" tawa renyah terdengar menggema di terowongan gelap itu."Argggghhhh!"Sebuah tangan kekar langsung mencengkeram kerah seragam Dylan yang sudah kotor, menariknya ke luar dari terowongan dengan kasar hingga ia terjerembap di atas tanah becek.Biru yang mencoba menarik tangan Dylan pun langsung







