LOGINDipecat di usia 28 tahun, terlilit utang Rp150 juta, serta harus menghadapi kenyataan bahwa ibunya sedang sakit. Satu-satunya harapan Aurel adalah diterima bekerja di Nexus Group. Namun, sosok yang menunggunya di lantai 50 bukanlah seorang bos paruh baya, melainkan Rey—musuh abadinya sejak taman kanak-kanak, orang yang selalu membuatnya berada di posisi kedua. "Lama tidak jumpa, juara dua." Rey menawarkan gaji tiga kali lipat dengan kontrak kerja selama dua belas bulan. Kedengarannya sempurna... sampai Aurel mengetahui kenyataan yang disembunyikan pria itu.
View More"Aurel, kamu termasuk dalam dua ratus karyawan yang kami pecat."
Cangkir keramik jatuh dari genggamanku, pecah berkeping-keping di lantai marmer. Aku tidak mendengar penjelasan panjang lebar tentang pesangon atau formulir yang harus diisi.
"Bu, saya empat tahun dapat penghargaaan karyawan terbaik dan baru dapat penghargaan kelima tiga bulan lalu." Suaraku parau, tenggorokan kering, "Saya kerja lembur setiap minggu. Saya—"
"Maaf," Ibu Sari memotong. Ada kesal di matanya, seolah keberadaanku membuang waktunya. "Rekonstruksi perusahaan setelah merger, jadi keputusan ini sudah final. Tidak bisa diganggu gugat."
Lima tahun lembur di malam minggu, teman-teman pergi ke karaoke sedangkan aku masih di kantor. Penghargaan karyawan terbaik yang kugantung di dinding kamar, hidupku sudah terkuras untuk perusahaan ini.
Dan sekarang semuanya hilang dalam satu kali jentikan jari.
Tiga puluh menit sudah aku duduk di toilet perempuan lantai dua belas. Menatap bayanganku di cermin, wajah pucat, mata bengkak, blazer navy terbaikku tiba-tiba terlihat usang dan murahan.
Aku ingat telepon dari Rumah Sakit Medika minggu lalu.
Operasi diabetes ibuku yang semakin parah. Tagihan delapan puluh juta yang menggantung di leherku. Pesangon yang seharusnya cair besok? Enam bulan gaji? Sudah habis bahkan sebelum aku menerimanya, terkuras untuk biaya medis. Untuk hidup yang terus berjalan meski dompetku sudah kering kerontang.
Dan sekarang? Hanya kehampaan yang gelap dan menganga yang siap untuk menelanku hidup-hidup.
"Aurel?"
Suara dingin, feminim dan berbahaya datang dari ruang tamu saat aku membuka pintu sore itu.
Bu Santi berdiri di depan gerbang. Tas Hermes palsu yang masih terlihat mahal di lengan kirinya. Dia tersenyum manis.
"Seratus lima puluh juta, sayang," dia mengulang. Seolah-olah aku bisa lupa angka yang menghantuiku setiap malam. "Bunga sepuluh persen per bulan. Empat puluh lima hari lagi atau..."
Jari-jari panjangnya menelusuri bingkai fotoku saat wisuda di dinding. "Siapa tahu ada yang mau beli kenangan ini? Rumah dan Toko ini bisa jadi milik saya."
Tanganku terkepal erat sampai kuku menekan telapak dan meninggalkan bekas merah. Ayahku yang dihormati seluruh desa sekarang duduk di sudut ruangan, menunduk, tidak bisa melindungi apa-apa. Ibu batuk lemah di kamar belakang, tidak tahu bahwa dunianya akan runtuh dalam empat puluh lima hari.
"Empat puluh lima hari, saya sudah memberi waktu cukup lama," Bu Santi ulang. "Hitung baik-baik, ya?"
Ponselku bergetar di tangan kiriku. Nomor dari Rumah Sakit.
"Selamat sore, ini Rumah Sakit Medika," suara di seberang terdengar ramah. Terlalu ramah untuk hari yang kelam dan menghancurkan. "Tagihan operasi Ibu Widyani untuk minggu ini sudah dilunasi. Penanggung Tn. R. Adityawardana..."
Paru-paruku seolah berhenti bekerja sejenak. "R. Adityawardana??"
Nama itu mengganggu, terlalu mengganggu seperti mimpi buruk yang terkubur dalam-dalam, membawaku kembali pada anak tetangga yang menghilang tanpa kata dua belas tahun lalu.
Sebelum aku bisa memproses, notifikasi email masuk dengan bunyi yang terlalu keras di ruangan yang tiba-tiba sunyi.
Dari: R. Adityawardana
Subjek: Nexus Group. Wawancara besok Jam 08:00. Lantai 50. Isi: Datang tepat waktu. Keterlambatan tidak ditoleransi.Aku menatap layar ponsel, dadaku berdetak kencang bukan karena takut tapi karena sebuah nama.
Jam 07:30 aku berdiri di lobby gedung pencakar langit di Sudirman. Blazer yang kumal terasa tipis dan tidak layak di dalam gedung ini. Aku mengangkat dagu, menatap lift untuk naik ke lantai lima puluh.
Cermin di dinding lift menunjukkan wajahku yang terlihat lebih tua dan sebuah harapan liar yang tidak berani kusebut namanya.
Pintu lift terbuka dengan bunyi ding yang terlalu ceria di lantai lima puluh.
Dan aku melihatnya... Setelan abu-abu tua yang pasti harganya setara rumah orangtuaku. Jam tangan di pergelangan kirinya berkilau diam-diam. Rambut hitam yang dulu berantakan sekarang tertata rapi.
"Lama tidak berjumpa, Juara dua," suaranya lebih dalam dari yang kuingat.
Duniaku tiba-tiba berputar. Kakiku terasa lemas.
Lengannya menangkapku sebelum aku jatuh ke lantai. Terlalu dekat sampai aku bisa mencium aroma parfum kayu yang mahal dan sesuatu yang tidak bisa kulupakan dari masa kecil.
"Hati-hati, Aurel," bisik Rey di telingaku. Napasnya menyapu leherku dengan kehangatan yang menipu. "Lantai ini tinggi."
Tangannya naik hampir menyentuh pipiku.
Tepat saat itu, ponsel di genggamanku bergetar. Layar menyala menunjukkan nama yang membuat napasku tertahan seketika.
Arhan Kusuma Wijaya.
Tangan ku terasa dingin. Arhan. Mantan tunanganku yang membatalkan pernikahan kami dua tahun lalu cuma lewat telepon, tanpa penjelasan, tanpa tatap muka. Dia yang membuatku tidak percaya cinta selama dua tahun terakhir. Dan sekarang? Dia muncul lagi seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa?
Tatapan Rey ikut jatuh ke layar ponselku. Senyum tipis yang sedari tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar, berganti dengan sorot mata yang jauh lebih dingin. Lebih gelap.
Dia mengambil ponselku dari tangan yang terasa lemas. Menekan tombol speaker. Meletakkannya di antara kami.
"Jawab," ucapnya dingin, suaranya turun satu oktaf. "Aku ingin mendengar apa yang dikatakan pecundang itu."
Jari-jarinya menekan tombol hijau sebelum aku bisa bergerak.
Panggilan diterima dan suara Arhan terdengar jelas di lantai lima puluh yang sunyi.
"Aurel, aku tahu kamu di sana. Aku tahu kamu dengannya. Jangan percaya apa pun yang dia katakan. Dia—"
Dada kami bersentuhan. Napas kami bercampur di ruangan yang tiba-tiba terasa sempit, terlalu sempit untuk CEO dan sekretarisnya yang baru saja kembali dari perjalanan bisnis yang lebih pribadi daripada profesional."Kamu pilih masuk," bisiknya suaranya berat dan serak di leherku. Napasnya panas, menyapu kulitku dengan kehangatan yang membuat lututku lemas. "Kamu tahu apa artinya?"Aku tahu. Tuhan, aku tahu. Dia tidak bertanya tentang pekerjaan. Dia bertanya tentang kita. Tentang apa yang terjadi di Kyoto, di ryokan dengan futon bersebelahan, di gang sempit Gion dengan bintang-bintang di atas kami, di pesawat dengan tangannya yang tidak pernah melepaskan genggamanku.Aku tahu apa yang dia tanyakan. Dan aku tahu jawabanku."Aku pilih masuk," kataku, suaraku lebih stabil dari yang kuduga, meski jantungku berdegup kencang sampai aku yakin dia bisa mendengarnya. "Tapi dengan syarat kita hati-hati. Victor sudah tahu."Sudut bibir Rey naik, senyum tipis yang licik dan memabukkan. Senyum yang
Udara Jakarta berbeda dari Kyoto. Lebih berat, lebih lembap, bau knalpot dan asap rokok yang tiba-tiba saja terasa familiar setelah seminggu hirup udara cedar dan sakura. Aku berdiri di Terminal 3 Soekarno-Hatta, koper kecil di tangan kanan, tangan kiri masih digenggam Rey sejak kami turun dari pesawat.Dia tidak melepaskan. "Rey," bisikku, pipiku panas. "Banyak orang lihat.""Biarkan." Suaranya datar, tapi jari-jarinya menekan punggung tanganku. "Aku lelah berpura-pura."Aku tidak menjawab. Hati berdebar bukan karena malu, tapi karena kata-katanya seolah dua belas tahun menyembunyikan perasaan itu memang membuatnya lelah.Di luar pintu kedatangan, seseorang melambai dengan banner kertas karton besar yang dibuat asal-asalan, tulisannya miring-miring dengan spidol merah tebal."SELAMAT DATANG BOS & CALON ISTRI — DARI ORANG YANG HARUSNYA LIBUR TAPI DIPAKSA NJEMPUT."Kevin.Aku tertawa sebelum bisa menahannya. Suara itu keluar dari perut, berbunyi nyaring di tengah hiruk-pikuk bandara.
Dua belas tahun menunggu. Dan semalam dalam keadaan mabuk dan keberanian yang salah, dia memberiku sesuatu yang aku inginkan dengan cara yang aku benci.Aku tidak bisa tidur. Tidak bisa melepaskan mata darinya. Setiap kali menutup mata, aku melihatnya menarik kerahku, bibirnya yang hangat dan beraroma sake, tangannya yang gemetar dan aku merasakannya lagi kehilangan kendali, keinginan untuk melepaskan, untuk mengambil, untuk memiliki.Tapi tidak, tidak saat dia tidak tahu apa yang dia lakukan.Sekarang cahaya pagi menyelinap dari celah fusuma, emas dan lembut. Aurel bergerak, mengerutkan hidung, bibirnya bergerak tanpa suara. Aku menatapnya, jantungku berdegup kencang bukan karena takut, tapi karena... ini. Saatnya. Saat dia sadar. Saat aku bisa memberikan yang sebenarnya.Dia membuka mata. Perlahan. Cahaya membuatnya mengerjap dan aku melihat ketika ingatannya kembali. Potongan-potongan seperti puzzle. dinner. Yuki. Sake. Ciuman.Dia yang memulai.Wajahnya berubah dari bingung, ke sad
Lutku sudah mati rasa. Bagaimana cara duduk yang benar di lantai ini? Yuki, putri Yamamoto-san yang anggun itu duduk seperti dia lahir di tatami, punggung lurus, leher angsa, jari-jari yang jenjang memegang cangkir teh dengan cara yang bahkan terlihat artistik."Reyhan-san benar-benar menguasai strategi penetrasi pasar," kata Yuki, suaranya melodius.Rey mengangguk sopan. "Terima kasih, Yuki-san. Tapi kreditnya untuk Aurel, dia yang menyusun data."Yuki menatapku. Senyumnya tetap di tempat tapi matanya menilai. Dari kimono yang dipinjam, ke cara dudukku yang kaku.."Tentu," kata Yuki. "Aurel-san sangat... tekun."Pipiku memanas. Aku mengangkat gelas sake di depanku, gelas pertama malam ini dan meminumnya dalam satu teguk. Panas. Manis. Membakar tenggorokan hingga ke perut. Membuat sesuatu yang kaku di dadaku sedikit melunak.Hidangan demi hidangan datang. Sashimi yang diatur seperti taman batu, sup miso, Ikan bakar tapi aku tidak tahu cara memakannya dengan benar, jadi aku mengikuti Re












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.