로그인Dipecat di usia 28 tahun, terlilit utang Rp150 juta, serta harus menghadapi kenyataan bahwa ibunya sedang sakit. Satu-satunya harapan Aurel adalah diterima bekerja di Nexus Group. Namun, sosok yang menunggunya di lantai 50 bukanlah seorang bos paruh baya, melainkan Rey—musuh abadinya sejak taman kanak-kanak, orang yang selalu membuatnya berada di posisi kedua. "Lama tidak jumpa, juara dua." Rey menawarkan gaji tiga kali lipat dengan kontrak kerja selama dua belas bulan. Kedengarannya sempurna... sampai Aurel mengetahui kenyataan yang disembunyikan pria itu.
더 보기Kaca mobil hitam pekat seperti kuburan. Kami bergerak menyusuri Jakarta yang masih ramai, tengah malam. Tapi di dalam, segalanya telah mati.Aku menempel di pintu sejauh mungkin dari Rey yang duduk di sebelahku. Bahu kami berjarak tiga jari yang terasa seperti jurang, Kevin mengemudi di depan, diam seperti patung. Bahkan dia yang selalu cerewet tahu bahwa suara apa pun saat ini bisa memicu ledakan.Hujan mulai turun.Rintik-rintik memukul kaca dengan lembut, mengaburkan dunia luar, membuat kami terjebak dalam gelembung kaca yang akan segera pecah.Aku menatap lurus ke depan, rahang mengencang, tanganku terkunci di pangkuan sampai kuku menekan telapak dan meninggalkan bekas merah.Tiga menit. Lima menit. Tujuh menit tanpa suara. Hanya deru mesin yang halus dan napas Rey yang semakin memburu di sebelahku. Dia bergerak tidak nyaman, jari-jarinya membuka dan menutup kerah kemeja seolah udara di dalam mobil ini telah habis."Aku bisa jelaskan."Suaranya pecah di tengah sunyi, parau, berat.
Aku tahu seharusnya aku tidak mengikutinya. Tapi ketika melihatnya berdandan dengan setelan Armani abu-abu tengah malam, hatiku berkata bahwa sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang akan menghancurkanku.Rey bilang ada meeting mendadak, tapi rahangnya mengencang saat berkata, jarinya sengaja menghindar dari kulitku saat melewati sofa. Dia berbohong. Dan sekarang aku berdiri di balik pilar marmer Kempinski, menatap punggungnya yang menjauh.Jam menunjukkan 22:47.Klik. Klik. Klik.Sepatunya berderap teratur, dia berhenti di concierge, berbicara pelan, mengangguk. Sebuah kartu kunci diberikan. Lantai dua puluh dua.Kukuku menekan telapak hingga sakit. Lima puluh miliar. Apakah dia akan menukarku dengan bayaran itu?Pintu lift membuka memantulkan bayangannya yang tegap. Saat pintu menutup, aku melihat wajahnya di kaca, tidak ada jejak pria yang pagi tadi mencium leherku dengan obsesi. Tidak ada lagi biarkan dunia tahu kamu milikku.Lift menutup, aku berlari dari balik pilar menekan tombol lif
Aku terbangun bukan karena alarm, melainkan karena sesuatu yang lebih tajam.Sesuatu yang menusuk leher bagian kiriku, tepat di bawah tulang rahang, di tempat yang paling sensitif. Rasanya seperti terbakar dan dingin secara bersamaan, denyut yang mengirimkan sinyal ke seluruh tubuhku bahwa aku telah berubah.Cermin di lemari pakaian memantulkan bayangan wanita yang tidak kukenali.Rambut berantakan menutupi bahu, mata bengkak karena tidur terlalu lelap, dan di leherku terdapat bekas merah tua yang kontras dengan kulit pucatku. Tanda kepemilikan yang vulgar dan indah secara bersamaan."Jangan ditutupi."Suara itu datang dari belakangku parau masih terbalut sisa-sisa tidur. Aku berbalik perlahan, selimut terpeleset dari dada telanjangku, membuatku sadar bahwa aku hanya mengenakan celana dalam yang terlalu kecil milikku dan tidak ada yang lain.Rey duduk di tepi tempat tidur, punggungnya telanjang, otot-otot punggung bergerak-gerak saat dia mengulurkan tangannya ke arahku. Rambutnya bera
Tubuhku sudah menjawab sebelum bibirku sempat bergerak. Aku terbakar, basah karena ingin. Aku menggesekkan paha mencoba menghilangkan tekanan yang mengganggu di sana, tapi hanya membuatku semakin menyadari kekosongan yang memanggil-manggil.Aku memikirkan dia. Rey. Di kamar sebelah mungkin telanjang dada, mungkin juga terjaga sambil memikirkan hal yang sama.Aku bangkit, kaki telanjangku menyentuh lantai kayu yang dingin, tapi kulitku terbakar. Piyama katunku yang tipis menempel di payudaraku, menggesekkan puting yang sudah mengeras sejak tadi. Aku berjalan ke koridor, menuju cahaya yang menyala.Pintu kamarnya sedikit terbuka.Rey duduk di tepi tempat tidur tlanjang dada, kulitnya berkilauan di cahaya lampu oranye, otot perutnya yang keras naik turun dengan napasnya yang berat. Dia tidak pakai kacamata.Matanya langsung menatapku, turun dari wajahku ke dada, ke paha, kembali ke mataku. Dia menelan ludah."Aku tahu kamu akan datang," katanya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.