Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh

Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh

last updateLast Updated : 2026-08-08
By:  KAELUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
17Chapters
85views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Dipecat di usia 28 tahun, terlilit utang Rp150 juta, serta harus menghadapi kenyataan bahwa ibunya sedang sakit. Satu-satunya harapan Aurel adalah diterima bekerja di Nexus Group. Namun, sosok yang menunggunya di lantai 50 bukanlah seorang bos paruh baya, melainkan Rey—musuh abadinya sejak taman kanak-kanak, orang yang selalu membuatnya berada di posisi kedua. "Lama tidak jumpa, juara dua." Rey menawarkan gaji tiga kali lipat dengan kontrak kerja selama dua belas bulan. Kedengarannya sempurna... sampai Aurel mengetahui kenyataan yang disembunyikan pria itu.

View More

Chapter 1

Bab 1: Dipecat, Ditagih Rentenir, dan Ditawari Kontrak Cinta

"Aurel, kamu termasuk dalam dua ratus karyawan yang kami pecat."

Cangkir keramik jatuh dari genggamanku, pecah berkeping-keping di lantai marmer. Aku tidak mendengar penjelasan panjang lebar tentang pesangon atau formulir yang harus diisi. 

"Bu, saya empat tahun dapat penghargaaan karyawan terbaik dan baru dapat penghargaan kelima tiga bulan lalu." Suaraku parau, tenggorokan kering, "Saya kerja lembur setiap minggu. Saya—"

"Maaf," Ibu Sari memotong. Ada kesal di matanya, seolah keberadaanku membuang waktunya. "Rekonstruksi perusahaan setelah merger, jadi keputusan ini sudah final. Tidak bisa diganggu gugat."

Lima tahun lembur di malam minggu, teman-teman pergi ke karaoke sedangkan aku masih di kantor. Penghargaan karyawan terbaik yang kugantung di dinding kamar, hidupku sudah terkuras untuk perusahaan ini.

Dan sekarang semuanya hilang dalam satu kali jentikan jari.

Tiga puluh menit sudah aku duduk di toilet perempuan lantai dua belas. Menatap bayanganku di cermin, wajah pucat, mata bengkak, blazer navy terbaikku tiba-tiba terlihat usang dan murahan.

Aku ingat telepon dari Rumah Sakit Medika minggu lalu.

Operasi diabetes ibuku yang semakin parah. Tagihan delapan puluh juta yang menggantung di leherku. Pesangon yang seharusnya cair besok? Enam bulan gaji? Sudah habis bahkan sebelum aku menerimanya, terkuras untuk biaya medis. Untuk hidup yang terus berjalan meski dompetku sudah kering kerontang.

Dan sekarang? Hanya kehampaan yang gelap dan menganga yang siap untuk menelanku hidup-hidup.

"Aurel?"

Suara dingin, feminim dan berbahaya datang dari ruang tamu saat aku membuka pintu sore itu.

Bu Santi berdiri di depan gerbang. Tas Hermes palsu yang masih terlihat mahal di lengan kirinya. Dia tersenyum manis.

"Seratus lima puluh juta, sayang," dia mengulang. Seolah-olah aku bisa lupa angka yang menghantuiku setiap malam. "Bunga sepuluh persen per bulan. Empat puluh lima hari lagi atau..."

Jari-jari panjangnya menelusuri bingkai fotoku saat wisuda di dinding. "Siapa tahu ada yang mau beli kenangan ini? Rumah dan Toko ini bisa jadi milik saya."

Tanganku terkepal erat sampai kuku menekan telapak dan meninggalkan bekas merah. Ayahku yang dihormati seluruh desa sekarang duduk di sudut ruangan, menunduk, tidak bisa melindungi apa-apa. Ibu batuk lemah di kamar belakang, tidak tahu bahwa dunianya akan runtuh dalam empat puluh lima hari.

"Empat puluh lima hari, saya sudah memberi waktu cukup lama," Bu Santi ulang. "Hitung baik-baik, ya?"

Ponselku bergetar di tangan kiriku. Nomor dari Rumah Sakit.

"Selamat sore, ini Rumah Sakit Medika," suara di seberang terdengar ramah. Terlalu ramah untuk hari yang kelam dan menghancurkan. "Tagihan operasi Ibu Widyani untuk minggu ini sudah dilunasi. Penanggung Tn. R. Adityawardana..."

Paru-paruku seolah berhenti bekerja sejenak. "R. Adityawardana??"

Nama itu mengganggu, terlalu mengganggu seperti mimpi buruk yang terkubur dalam-dalam, membawaku kembali pada anak tetangga yang menghilang tanpa kata dua belas tahun lalu.

Sebelum aku bisa memproses, notifikasi email masuk dengan bunyi yang terlalu keras di ruangan yang tiba-tiba sunyi.

Dari: R. Adityawardana  

Subjek: Nexus Group. Wawancara besok Jam 08:00. Lantai 50.  

Isi: Datang tepat waktu. Keterlambatan tidak ditoleransi.

Aku menatap layar ponsel, dadaku berdetak kencang bukan karena takut tapi karena sebuah nama.

Jam 07:30 aku berdiri di lobby gedung pencakar langit di Sudirman. Blazer yang kumal terasa tipis dan tidak layak di dalam gedung ini. Aku mengangkat dagu, menatap lift untuk naik ke lantai lima puluh.

Cermin di dinding lift menunjukkan wajahku yang terlihat lebih tua dan sebuah harapan liar yang tidak berani kusebut namanya.

Pintu lift terbuka dengan bunyi ding yang terlalu ceria di lantai lima puluh.

Dan aku melihatnya... Setelan abu-abu tua yang pasti harganya setara rumah orangtuaku. Jam tangan di pergelangan kirinya berkilau diam-diam. Rambut hitam yang dulu berantakan sekarang tertata rapi.

"Lama tidak berjumpa, Juara dua," suaranya lebih dalam dari yang kuingat.

Duniaku tiba-tiba berputar. Kakiku terasa lemas.

Lengannya menangkapku sebelum aku jatuh ke lantai. Terlalu dekat sampai aku bisa mencium aroma parfum kayu yang mahal dan sesuatu yang tidak bisa kulupakan dari masa kecil.

"Hati-hati, Aurel," bisik Rey di telingaku. Napasnya menyapu leherku dengan kehangatan yang menipu. "Lantai ini tinggi."

Tangannya naik hampir menyentuh pipiku.

Tepat saat itu, ponsel di genggamanku bergetar. Layar menyala menunjukkan nama yang membuat napasku tertahan seketika.

Arhan Kusuma Wijaya.

Tangan ku terasa dingin. Arhan. Mantan tunanganku yang membatalkan pernikahan kami dua tahun lalu cuma lewat telepon, tanpa penjelasan, tanpa tatap muka. Dia yang membuatku tidak percaya cinta selama dua tahun terakhir. Dan sekarang? Dia muncul lagi seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa?

Tatapan Rey ikut jatuh ke layar ponselku. Senyum tipis yang sedari tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar, berganti dengan sorot mata yang jauh lebih dingin. Lebih gelap.

Dia mengambil ponselku dari tangan yang terasa lemas. Menekan tombol speaker. Meletakkannya di antara kami.

"Jawab," ucapnya dingin, suaranya turun satu oktaf. "Aku ingin mendengar apa yang dikatakan pecundang itu."

Jari-jarinya menekan tombol hijau sebelum aku bisa bergerak.

Panggilan diterima dan suara Arhan terdengar jelas di lantai lima puluh yang sunyi.

"Aurel, aku tahu kamu di sana. Aku tahu kamu dengannya. Jangan percaya apa pun yang dia katakan. Dia—"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
17 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status