Kedatangan Fandi dan Inneke ke rumah Andi, benar-benar tak disangka-duga. Kedua mertuanya itu datang tanpa memberi kabar lebih dulu.
Untungnya Andi tidak melakukan apapun pada Febby selain meminta dilayani, namun Inneke tahu Andi tidur di kamar terpisah."Kok kamu tidur di kamar itu, Ndi? Kenapa emangnya kamar kalian?" tanya Inneke pada Andi yang duduk di sofa panjang berhadapan dengan Ibu mertuanya.Saat Febby membuka pintu rumah, Inneke memergoki Andi masuk ke dalam kamar tamu sambil membawa bantal dan selimut.Andi tersenyum kecil, gugup. Namun sebisa mungkin dia menutupi alasan sebenarnya, "Itu Bu, aku sebenarnya ngga tidur pisah kamar sama Febby. Aku tadi cuma mau istirahat aja, soalnya .... ""Tadi aku muntah-muntah Bu, terus Mas Andi jijik denger suara muntahan aku," potong Febby, memberitahu yang sebenarnya. "Mas Andi bilang ngga mau tidur di kamar yang sama. Takut muntah juga karena jijik."Wajah Andi pucat. Pandang mataBramanto berdiri lalu melangkah mendekati pintu dan membukanya. Ia melirik ke arah bawahan yang berdiri tegak di depan pintu. "Bawa tersangka ke kantor Polisi!""Baik Komandan!" Dua orang anggota Polisi masuk ke dalam kamar perawatan sambil mengeluarkan borgol.Mendengar perintah Komandan tersebut, Hengky menegakkan kepala sambil menggeleng berkali-kali. "Pak, saya ngga bersalah Pak! Saya bukan tersangka!"Bramanto bergeming, melangkah meninggalkan kamar perawatan tersebut."Pak, saya bukan pelaku Pak! Saya ngga bersalah!" teriak Hengky."Hengky!" Harda histeris melihat anaknya diborgol. "Pak, apa-apaan ini! Jangan bawa anak saya!"Polisi lain menghalangi Harda dan dua istrinya yang mengamuk."Anda bisa menyewa pengacara untuk membebaskan anak Anda dari tuduhan. Sementara anak Anda akan dimintai keterangan lanjutan di kantor Polisi," ucap salah satu bawahan Bramanto, menjelaskan pada Harda.Suara teriakan dan pe
Saat sedang berbicara dengan Barta di ruang Dokter. Dirga mendapat telepon dari ibu mertua yang berada di Bandung.Ia memberikan kode dengan gerakan mata pada Barta, untuk menunda pembicaraan sesaat sambil menunjukkan ponsel yang berdering.Barta menganggukkan kepala, tanda paham. Ia pun melanjutkan kegiatan lain, membuka catatan medis di atas meja.Sementara Dirga berdiri dari kursi yang diduduki lalu melangkah menjauh dari meja dan menerima telepon."Halo, Nak Dudung. Kamu ada di mana? Sibuk ngga?" tanya Inneke dengan suara gemetar, panik.Wajah Dirga menegang. Meski belum mendengar apa yang terjadi, namun perasaannya mendadak tidak nyaman. "Ada apa Bu? Febby kenapa? Apa ada yang terjadi sama dia?" Nama sang istri yang langsung terlintas dalam benaknya."Febby di rumah sakit, Nak. Tadi perutnya mendadak mulas, sekarang dia lagi diperiksa sama Dokter. Tadi Ibu sama Bu Ida yang bawa dia ke rumah sakit. Sekarang Ibu lagi nunggu Do
Hengky menelan saliva keras. Sangking paniknya ia sampai tidak bisa menjawab pertanyaan Polisi yang membuatnya tertekan."Jadi sebenarnya Istri Anda jatuh saat berada di kamar mandi mana? Dapur atau kamar? Anda ada di mana? Pesta dilakukan di mana? Anda sedang apa malam itu?" Bramanto mencecar Hengky dengan berbagai pertanyaan.Pria brewok itu terdiam dengan wajah pucat pasi. "Pak, kepala saya .... kepala saya pusing Pak." Keringat bercucuran membasahi kening dan leher.Bramanto mendengus emosi melihat reaksi berlebihan Hengky. Dari berbagai kasus yang ditangani, sudah sering dia melihat akting seperti itu."Tolong jawab pertanyaan saya satu per satu!" tegas sang Komandan. "Anda dan Istri Anda ada di ruang terpisah? Begitu? Atau Anda lari ke kamar saat Istri Anda jatuh? Atau ....""Pak, maaf kepala saya pus .... " Hengky memejamkan kedua mata. Tubuhnya terhuyung ke depan dan jatuh ke atas lantai.Bramanto berdecak kesal. "Jangan
Bramanto dan anggota Polisi lain mendatangi rumah sakit tempat Sisca dirawat.Kedatangan enam orang pria berseragam coklat tua itu, menarik perhatian orang-orang di rumah sakit tersebut."Itu keluarga korban kecelakaan," tunjuk Bramanto pada Fandi, Agung, Innaya dan dua wanita paruh baya yang duduk di kursi tunggu pasien. Sedangkan Harda berada di kamar perawatan, menjaga anaknya yang pingsan.Kelima anggota Polisi melangkah tegap mendekati keluarga Sisca.Melihat kedatangan anggota Polisi tersebut Fandi berdiri, melangkah mendekati Bramanto."Komandan, Anda ke sini?" tanya Fandi sambil melihat anggota Polisi lain dengan tatapan bingung. Ia sama sekali tidak tahu tujuan Bramanto yang berpangkat Komandan Kepolisian, datang ke rumah sakit."Saya datang ke sini karena mendapat laporan tentang kecelakaan yang menimpa Sisca. Apa benar Sisca keponakan Anda, Pak Fandi?" tanya Bramanto menatap Fandi lalu beralih pada empat orang yang mas
Telepon diterima~ "Ada apa Dok?" tanya dokter Antoni dari ujung sambungan telepon. "Dok, bisa ke ruang ICU sebentar. Saya butuh bantuan Anda," jawab Barta. "Baik Dokter." Telepon diakhiri oleh Barta, dan tak berapa lama Dokter Ahli Saraf masuk ke ruangan. "Dok, pasien yang semalam dioperasi oleh Dokter Gunawan baru saja sadar," kata Barta pada Dokter Ahli Saraf. Dokter bernama Antonio itu mendekati bed rumah sakit, melihat keadaan Sisca. "Dokter Gunawan, apa sudah datang Dok?" "Belum Dok, beliau masih berada di perjalanan ke rumah sakit," jawab Barta. Dokter tersebut memeriksa keadaan Sisca. Sama seperti yang dilakukan oleh Barta, Dokter tersebut meminta Sisca memberikan respon terhadap sentuhan dan mengikuti gerakan tangannya. "Sejak sadar tadi, pasien belum berbicara, Dok," kata Barta menjelaska
Melihat Hengky masuk ke ruangan, Barta membulatkan kedua mata lebar lalu melangkah mendekati pria brewok itu. Barta memegang lengan Hengky dengan kasar. "Anda dilarang masuk!" desis sang Dokter seraya menatap keluar ruang ICU, meminta perawat membawa pria itu keluar. "Saya suaminya Dok. Istri saya sudah sadar. Saya ingin melihat dia," sewot Hengky, menepis tangan Barta yang memegang lengannya. Ia menatap ke arah Sisca yang membuka mata, namun tak menyadari keberadaannya di dalam kamar. Seorang perawat mendekati Hengky, "Tolong jangan mengganggu Dokter Barta menangani pasien, Pak." Ia memegang lengan Hengky, namun kembali ditepis oleh pria itu. Hengky mengerutkan kening, menatap istrinya yang melamun, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. "Istri saya kenapa Dok?" Barta mendengus, "Saya akan memeriksanya, tolong keluar sebentar!" "Saya ingin mengetahui keadaan Istri saya!" sewot Heng