INICIAR SESIÓNKedatangan Fandi dan Inneke ke rumah Andi, benar-benar tak disangka-duga. Kedua mertuanya itu datang tanpa memberi kabar lebih dulu.
Untungnya Andi tidak melakukan apapun pada Febby selain meminta dilayani, namun Inneke tahu Andi tidur di kamar terpisah."Kok kamu tidur di kamar itu, Ndi? Kenapa emangnya kamar kalian?" tanya Inneke pada Andi yang duduk di sofa panjang berhadapan dengan Ibu mertuanya.Saat Febby membuka pintu rumah, Inneke memergoki Andi masuk ke dalBegitu bel istirahat berbunyi, Farah langsung berlari menemui Dylan di depan kelasnya.Dengan kedua tangan kecilnya, ia menyodorkan robot superhero milik Zidan yang sudah kembali ke dalam pelukannya."Kak Dylan, lihat! Robot Zidan sudah ketemu!" seru Farah dengan wajah berseri-seri.Dylan yang sedang merapikan buku langsung menoleh. Matanya membelalak melihat mainan itu."Dari mana kamu dapat ini, Farah? Kamu yang ambil ya?""Bukan Farah!" bantah Farah cepat. "Ini dari Biru, Kak. Dia yang balikin tadi di pagar belakang. Dia bilang dia merebut mainan ini dari anak jalanan lain yang mencurinya. Wajah Biru sampai babak belur karena berkelahi demi mengembalikan robot ini!"Dylan mengambil robot itu dari tangan Farah, membolak-baliknya dengan tatapan penuh kecurigaan."Farah, kamu jangan mudah percaya! Bagaimana kalau si Biru itu sebenarny
Tiga hari berlalu tanpa ada tanda-tanda kehadiran Biru di balik pagar belakang sekolah.Farah hampir saja putus asa, hingga akhirnya pada suatu siang yang terik di jam istirahat, ia melihat siluet kurus itu kembali berdiri di balik pagar kawat yang menjulang tinggi."Biru!" seru Farah gembira, langsung berlari kecil menghampiri pagar.Namun, begitu jarak mereka semakin dekat, senyum di wajah Farah langsung memudar, digantikan oleh rasa terkejut yang luar biasa."Biru, kamu kenapa?"Wajah Biru yang biasanya tampan meski kusam, kini dipenuhi luka memar keunguan di pipi dan pelipisnya. Sudut bibirnya pecah dan tampak bercak darah yang sudah mengering."Biru, kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Farah panik, kedua tangan kecilnya mencengkeram kawat pagar.Biru hanya diam, berusaha menyembunyikan wajahnya."Wajah kamu kenap
Pagi yang cerah di kediaman Dirga. Saat ini Febby sedang memasukan makan siang ke dalam tas anak-anaknya."Mom, Biru suka banget sama roti coklat itu, katanya enak. Roti buatan Mommy memang nggak pernah gagal," ucap Farah.Febby tersenyum bahagia. "Kalau begitu hari ini kamu bawa banyak roti untuk Biru dan ibunya ya. Untuk adik atau kakaknya juga, siapa tahu mereka mau.""Okay Mom. Makasih ya Mommy," ucap Farah, senang."Sama-sama, Sayang."Setelah selesai menyiapkan bekal, kedua anak-anak itu dijemput supir pribadi mereka yang membawa mereka ke mobil.Suasana ruang makan kembali hening. Di meja makan, hanya ada Dirga yang duduk terdiam menatap cangkir kopi yang sudah mulai mendingin.Di hadapannya, Febby sedang sibuk merapikan piring tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.Keheningan ini terasa begitu menyiksa bag
"Kamu terlalu memanjakan Dylan Mas!" omel Febby saat suaminya baru saja pulang bekerja.Biasanya dia selalu disambut hangat oleh sang istri, tetapi sekarang ... Febby justru marah-marah.Tak ingin memperpanjang masalah sepele, Dirga melangkah ke kamar untuk membersihkan tubuh, lalu ke kamar Jagoan Kecil-nya.Suasana rumah megah itu terasa sangat dingin malam ini.Setelah Dylan ditenangkan oleh ayahnya dan tidur di dalam kamar, Dirga dan Febby akhirnya memiliki waktu berdua di kamar utama.Namun, bukannya kemesraan yang biasanya mereka bagi, ketegangan hebat justru menyelimuti ruangan itu.Dirga berdiri di dekat jendela kaca besar, sementara Febby duduk di tepi ranjang dengan menyilangkan kedua tangannya.Matanya menatap Dirga dengan penuh kekecewaan."Kenapa kamu malah mendukung pemikiran Dylan yang seperti itu. Dyl
Sore itu, suasana di dalam rumah mewah Dirga terasa sangat tegang.Begitu mobil jemputan sampai di rumah, Farah langsung berlari masuk ke dalam pelukan Febby yang sedang menunggu di ruang tengah.Tangisnya yang sempat mereda selama perjalanan pulang kini pecah kembali."Mommy! Kak Dylan jahat! Tadi Farah dimarahin di sekolah sampai nangis!" adu Farah sambil sesenggukan, menyembunyikan wajahnya di balik daster yang dikenakan Febby.Febby yang terkejut langsung mengusap punggung putrinya dengan lembut. Tak lama kemudian, Dylan melangkah masuk dengan wajah ditekuk dan tas ransel yang masih tersampir di pundak."Dylan, coba sini. Mommy mau bicara," panggil Febby dengan nada suara yang serius."Ya Mom .... ""Kenapa kamu membentak adikmu di sekolah sampai dia menangis begitu? Kakak kelas tiga harusnya mengayomi adiknya, bukan malah bi
"Makasih, kamu baik sekali," ucap Biru. "Kamu juga cantik," pujinya kemudian.Farah hanya tersenyum lembut. Sementara Biru terus menatap anak perempuan itu."Aku sering bertemu dengan anak orang kaya yang sombong dan jahat, ternyata kamu nggak," tambah Biru."Apa kamu mau berteman sama aku, Biru?" tanya Farah.Biru langsung mengangguk. "Tentu, Farah."Makasih ya, Bi .... ""Farah!"Sebuah teriakan lantang yang sangat familier tiba-tiba memecah keheningan di sudut halaman belakang itu.Dylan berjalan cepat dengan langkah lebar, wajahnya tampak sangat tegang dan keningnya berkerut dalam.Ia baru saja ke luar dari gedung kelas tiga dan sengaja mencari adiknya ke area taman bermain kelas satu.Mendengar suara langkah kaki yang mendekat dengan cepat, Biru yang berada di bal







