LOGINAlina, tidak pernah menyangka. Pemagang yang dipacarinya ternyata anak pemilik perusahaan ternama tempatnya bekerja. Ia merasa bodoh bisa dibohongi selama ini. Laki-laki itu juga ternyata sudah memiliki calon tunangan yang begitu sempurna. "Kenapa kamu memilih aku, Dev? Dia lebih segalanya dibanding aku!" "Tapi bagiku, kamulah segalanya."
View MoreBRAK!
Pintu toilet mendadak terbuka kasar, menghantam dinding pembatas dengan suara nyaring yang membuat telingaku berdenging. Deva, berdiri di sana dengan napas memburu. Kemejanya sedikit berantakan, rambutnya mencuat aneh seolah baru saja ia acak-acak karena frustrasi. "Lin? Astaga, Lin!" Deva, langsung menerjang masuk. Dia tidak peduli lantai toilet ini kotor atau basah saat lututnya menghantam ubin untuk sejajar denganku. Tangannya yang besar dan hangat langsung menangkup kedua pipiku yang mungkin sudah sedingin es. "Hei, lihat aku, Lin? Denger suara aku, nggak?" "Sakit., Dev..." Aku merintih, suaraku nyaris tidak keluar. "Iya, aku tahu. Tahan sebentar, kita ke rumah sakit, okay?" tangannya gemetar saat menyeka keringat di pelipisku. Air mataku mengalir begitu saja ketika Deva, mendekapku mengantarkan rasa aman. Tanpa permisi, Deva menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggungku. Seketika tubuhku melayang. Aroma citrus dan keringat laki-laki itu langsung memenuhi rongga hidungku, mengusir bau obat pel yang membuatku mual sejak tadi, membuatku refleks mencengkeram kerah kemejanya. "Dev, badanku berat, tu-turunin..." racauku lirih. "Diem! Nggak usah ngomong," potongnya tajam. Deva, membawaku keluar dari toilet wanita dengan langkah lebar dan tergesa. Aku bisa mendengar suara ribut di koridor. Beberapa orang mungkin sedang melihat kami, tapi Deva tidak peduli. Dia justru mengeratkan dekapannya, menyembunyikan wajahku di dada bidangnya seolah tidak ingin ada satu orang pun yang melihat kondisiku yang kacau. "Pak, tolong bukain pintu lobi! Sekarang!" teriak Deva. Aku merasakan getaran suaranya merambat dari dadanya ke pipiku. "Siapin mobil di depan. Saya nggak mau nunggu taksi. Bodo amat punya siapa, pake aja dulu!" Dia sedang bicara dengan siapa? Kenapa dia berani sekali membentak orang kantor? Kesadaranku makin tipis. Rasa sakit di perutku semakin menjadi-jadi, seolah sedang mencabik-cabik kesadaranku. Hal terakhir yang kuingat hanya suara Deva yang berbisik tepat di telingaku, nadanya berubah drastis dari bentakan tadi. Menjadi begitu lirih dan takut? "Tahan ya, Lin, bentar lagi sampai." *** Bunyi bip-bip ritmis dan hawa dingin yang menusuk kulit menjadi hal pertama yang menyambutku. Aku mengerjap pelan. Langit-langit ruangan ini tinggi sekali, dengan lampu tanam yang memberikan pencahayaan temaram dan elegan. Bukan lampu neon putih menyilaukan yang biasa kulihat di langit-langit kamar kosku. Aku menoleh perlahan. Ada sofa kulit panjang berwarna beige di sudut, TV layar datar yang menempel di dinding ber-wallpaper, dan kulkas dua pintu di dekat lemari pakaian. Ini di mana? Hotel? Aku mencoba bangun, tapi selang infus di punggung tangan menahanku. Rasa nyeri di ulu hati masih ada, tapi sudah jauh lebih mendingan dibanding tadi siang. "Udah sadar?" Suara itu membuatku menoleh cepat. Deva, baru saja keluar dari pintu kamar mandi di dalam ruangan ini. Dia sedang mengeringkan tangan dengan tisu, terlihat jauh lebih segar meski wajahnya masih menyisakan guratan lelah. Lengan kemejanya digulung sampai siku, jam tangan mahalnya berkilau tertimpa cahaya lampu. Dia berjalan mendekat, menarik kursi di samping ranjangku dengan gerakan santai, lalu duduk menyilangkan kaki. "Dev, ini rumah sakit mana?" tanyaku langsung. Tenggorokanku kering. "Kenapa kamarnya begini? Ini VIP, kan?" Deva, menuangkan air putih ke dalam gelas di nakas, lalu menyodorkannya padaku lengkap dengan sedotan. Aku menurut karena memang haus setengah mati. Setelah meneguk air itu sampai setengah, aku kembali menatapnya menuntut penjelasan. "Jawab, Dev. Ini pasti mahal banget. Kita harus pindah sekarang. Aku pake BPJS aja, serius. Duitku nggak bakal cukup buat bayar depositonya doang!" Aku sudah bersiap menarik selimut, berniat turun. Gaji magangku cuma UMR, bayar kosan dan makan saja sudah pas-pasan. Kalau harus bayar kamar semewah ini, aku bisa puasa setahun. "Heh, heh! Mau ngapain?" Deva, menahan bahuku, memaksaku kembali bersandar. "Siapa juga yang nyuruh kamu bayar? Udah dapet fasilitas enak kok malah ngajak susah." "Maksudnya?" "Ini ditanggung kantor, Alina," jawabnya enteng. Dia mengambil apel dari keranjang buah di meja, lalu mulai mengupasnya dengan pisau kecil. "Kantor? Sejak kapan anak magang dapet fasilitas VIP?" Aku menatapnya curiga. "Kamu jangan bohongin aku ya, Dev. Jangan-jangan kamu yang bayarin? Aku nggak mau berhutang budi—" "Dengerin dulu makanya," potong Deva gemas. Dia menunjuk-nunjuk aku dengan pisau di tangannya. "Tadi HRD panik liat kamu digotong keluar. Kebetulan jatah asuransi kesehatan manajer bulan ini lagi sisa banyak dan nggak kepake. Daripada hangus, mereka alihin buat emergency case kamu. Katanya sih, itung-itung kompensasi karena beban kerja anak magang lagi gila-gilaan." Alasannya terdengar terlalu teknis dan spesifik. Apa benar begitu? "Serius? Manajer baik banget mau kasih jatahnya?" "Ya daripada citra perusahaan jelek gara-gara ada anak magang mati kelaparan di toilet kantor?" Deva menyeringai jahil. "Udah, terima aja. Rezeki anak sholehah." Aku menghela napas panjang, bahuku merosot lega. Kalau memang dibayari kantor, syukurlah. Aku kembali menatap Deva yang kini sibuk memotong apel menjadi bentuk dadu kecil-kecil. Jujur saja, sulit untuk tidak overthinking. Aku berbaring di kamar rawat inap VIP yang luasnya dua kali lipat ukuran kamar kosku, diselimuti selimut tebal yang wangi, sementara di luar sana tagihan pasti sedang berjalan seperti taksi argo kuda. "Dev, ini beneran kantor yang bayar, kan? Nanti gajiku nggak dipotong, kan?" tanyaku cemas. Lidahku terasa pahit, bukan karena sakit, tapi karena takut membayangkan sisa saldo di ATM. Deva, menghela napas panjang. Ia meletakkan pisau buah di nakas dengan bunyi klotak pelan. "Kalau sampai gajimu dipotong, aku orang pertama yang bakal demo ke HRD. Udah, percaya sama aku. Tugas kamu cuma sembuh." *** Dua hari kemudian, aku memaksa masuk kerja. Badanku sebenarnya masih terasa melayang, sisa-sisa demam masih menggantung di pelipis. Tapi absen lama-lama bagi anak magang sama saja bunuh diri karier. Sialnya, langit hujan turun bukan main derasnya. Angin kencang menampar-nampar jendela kaca gedung kantor, membuat nyaliku ciut untuk pulang naik ojek online. "Kamu pulang sama aku. Titik." Deva, muncul di kubikelku bahkan sebelum aku sempat membereskan tas. "Tapi arah kita beda jauh, Dev. Macet juga..." "Lin, di luar badai. Kamu baru keluar rumah sakit dua hari lalu. Mau pingsan lagi di jalan?" potongnya tajam. Aku diam. Kalah telak. Sepanjang perjalanan, kehangatan di dalam mobil Deva yang beraroma musk dan kulit jok mahal sangat kontras dengan kekacauan di luar. Hujan mencambuk kaca mobil tanpa ampun. Aku hanya bisa meremas sabuk pengaman, merasa bersalah karena lagi-lagi merepotkan pangeran kantor ini. Namun, rasa bersalah itu berubah menjadi horor begitu kami sampai di depan kosanku. Bahkan dari dalam mobil, aku bisa melihat air selokan meluap sampai ke teras. Firasatku buruk. "Tunggu di sini, biar aku cek," perintah Deva. Dia menerobos hujan dengan payung, tapi aku nekat mengikutinya. Begitu pintu kamar kubuka, bau apek yang menyengat langsung menonjok hidung. "Ya Tuhan..." Lantaiku hilang. Tergenang air keruh setinggi mata kaki. Yang paling parah, atap tepat di atas kasurku jebol. Kasur busa tipis satu-satunya milikku kini basah kuyup, berwarna cokelat kotor karena air hujan bercampur debu plafon. Hancur sudah tempat istirahatku. Satu-satunya tempatku pulang, kini mirip kolam comberan. Aku berdiri mematung. Dingin air di kaki merambat naik sampai ke ulu hati. Mau tidur di mana aku malam ini? Uangku pas-pasan. "Kemas barang-barang penting kamu, sekarang!" Suara Deva terdengar rendah, tapi ada amarah yang tertahan di sana. Aku menoleh, mendapati rahang Deva mengeras saat matanya menyapu sekeliling kamarku yang menyedihkan. Dia tidak marah padaku, aku tahu. Dia marah pada keadaan. "Dev, aku bisa bersihin ini kok. Nanti dipel..." "Dipel gimana, Alina?!" bentaknya. Ini pertama kalinya dia meninggikan suara. "Kasur kamu basah, atap bocor, terus airnya kotor banget! Kamu mau tidur di sini terus sakit lagi? Atau kamu mau mati kedinginan?" Mataku memanas. Dibentak Deva rasanya lebih sakit daripada melihat kamarku kebanjiran. "Terus aku harus ke mana?" cicitku, air mata mulai bercampur dengan tetesan air hujan di pipi. Deva, membuang napas kasar, menyugar rambutnya yang basah. Dia melangkah mendekat, mencengkeram bahuku—bukan kasar, tapi tegas. "Ikut aku. Malam ini kamu tidur di tempatku!" *****Deva, memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya yang megah. Mobil Ferrari miliknya, berjajar rapi dengan mobil-mobil mewahnya yang lain yang entah pernah dipakai atau tidak. Jas yang sudah sedari pagi ia Pakal ditanggalkan. Kini, tubuhnya berbalutkan kemeja dan dasi, menampilkan proporsi tubuhnya yang indah berotot.Laki-laki itu menyalakan ponselnya, mengirim pesan pada satu nomor, yang paling sering ia hubungi akhir-akhir ini; Alina. Hari ini begitu melelahkan, tapi ia senang bukan main karena untuk pertama kalinya, ia dapat merayakan ulang tahun Nirmala. Wajah menggemaskan anak itu tidak bisa hilang dari pikirannya."Aku sudah sampai di rumah, Lin." Tulisnya dalam pesan singkat yang segera kubaca. Dengan sabar, Deva menungguku menjawab. Ia sengaja tidak masuk ke rumah dan memilih berdiri bersandar pada mobilnya sembari menatap layar ponselnya menunggu jawabanku. "Syukurlah kalau kamu sudah sampai," jawabku, tak bisa menyembunyikan senyum lega di bibirku. "Selamat malam, Deva. Is
"Lin, aku punya ide. Bagaimana kalau kita ke panti asuhan saja?" Aku tidak punya pilihan lain selain menerima saran Deva. Mengetahui bagasi mobilnya tidak muat untuk mengangkut semua makanan dan bingkisan ini, diapun memanggil seseorang untuk membawa mobil tambahan.Tidak perlu menunggu lama, sebuah mobil pick up datang mengangkutnya untuk dibawa ke panti asuhan."Jadi, keluarga kami memang rutin mengirimkan dana ke sebuah panti asuhan. Kami juga sering mengadakan acara tahunan di sana. Dari kecil aku sudah sering main ke panti itu. Aku juga sudah kenal dekat dengan pengurusnya." Ujar Deva, menjelaskan ketika kami, dalam perjalanan. Jujur, aku tidak menyangka. Ternyata, ada sisi seperti ini di keluarga Rama Baskara, yang kukenal dingin dan angkuh. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana raut wajah keras dan dingin milik Rama Baskara, kalau berhadapan dengan anak-anak panti asuhan. Dia pasti banyak ditakuti anak-anak. Atau malah sebaliknya? Dia akan lembut dan ramah pada anak-anak? Sia
Meskipun hanya pernah ke apartemen Alina, beberapa kali, tapi Deva, seakan sudah begitu hafal dengan seluk-beluk jalan menuju ke sana. Tak butuh waktu lama bagi Deva, untuk bisa sampai di apartemen Alina. Meski Alina, sempat risih karena mobil mewah Deva, menjadi pusat perhatian di sana, tapi fokus Alina, segera kembali ke pesta ulang tahun Nirmala. Peduli setan dengan tatapan aneh orang-orang, yang jelas ia tidak mau ketinggalan momen tiup lilin dan potong kue di pesta Nirmala, mengingat hari sudah menjelang sore. Halaman depan apartemen Alina, dipenuhi dekorasi khas anak perempuan. Pita merah muda, balon, dan ucapan selamat datang, terlihat begitu meriah di depan rumah. Ia masih ingat bagaimana wajah girang Nirmala, kemarin sore. Anak itu begitu tidak sabar menunggu esok datang untuk merayakan ulang tahunnya yang digelar ramai terbuka untuk pertama kali. Sebab biasanya, Alina hanya merayakannya dengan membeli kue di toko dengan dua hadiah yang diterima. Satu dari Alina dan satu
Kunjungan ke tim pengembangan, selalu menjadi sesuatu yang menyenangkan buatku. Tapi kali ini rasanya berbeda. Pikiranku sudah dirusak sejak Meera, datang ke kantor pagi ini. Pikiranku jadi kemana-mana. Apa jadinya kalau perempuan itu tahu tentang Nirmala? Ah, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan perempuan itu perbuat pada putriku."Menurut kamu, wangi yang ini cocok nggak, Lin?" Tanya Deva, yang sedang memeriksa sample aroma parfum yang sedang disempurnakan oleh tim. Berkali-kali, ia mengendus aroma di atas kertas kecil panjang yang sudah disediakan. Laki-laki itu tampak bingung dan bertanya padaku. Namun, aku hanya berjalan mengikuti di belakangnya dengan tatapan kosong. Pikiranku melayang jauh ke Nirmala dan Meera."Lin? Alina?" Panggil Deva, untuk ke sekian kalinya. Merasa panggilannya tidak direspon. Deva, akhirnya menoleh padaku dan langsung mendapatiku yang sedang melamun. Diapun menepuk bahuku, memanggil namaku sekali lagi. "Lin!""Eh, iya. Gimana?"tersadar aku dari lam


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.