Kekasih Rahasia Tuan Muda

Kekasih Rahasia Tuan Muda

last updateLast Updated : 2025-11-22
By:  Ratu Syakrila Ongoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
13views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Alina, tidak pernah menyangka. Pemagang yang dipacarinya ternyata anak pemilik perusahaan ternama tempatnya bekerja. Ia merasa bodoh bisa dibohongi selama ini. Laki-laki itu juga ternyata sudah memiliki calon tunangan yang begitu sempurna. "Kenapa kamu memilih aku, Dev? Dia lebih segalanya dibanding aku!" "Tapi bagiku, kamulah segalanya."

View More

Chapter 1

Bab 1 Tidurlah Denganku!

BRAK!

Pintu toilet mendadak terbuka kasar, menghantam dinding pembatas dengan suara nyaring yang membuat telingaku berdenging.

Deva, berdiri di sana dengan napas memburu. Kemejanya sedikit berantakan, rambutnya mencuat aneh seolah baru saja ia acak-acak karena frustrasi.

"Lin? Astaga, Lin!"

Deva, langsung menerjang masuk. Dia tidak peduli lantai toilet ini kotor atau basah saat lututnya menghantam ubin untuk sejajar denganku. Tangannya yang besar dan hangat langsung menangkup kedua pipiku yang mungkin sudah sedingin es.

"Hei, lihat aku, Lin? Denger suara aku, nggak?"

"Sakit., Dev..." Aku merintih, suaraku nyaris tidak keluar. "Perutku..."

"Iya, aku tahu. Tahan sebentar. Jangan merem, Lin. Awas kalau kamu merem!" ancamnya, tapi tangannya gemetar saat menyeka keringat di pelipisku.

Tanpa permisi, Deva menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggungku. Seketika tubuhku melayang. Aroma citrus dan keringat laki-laki itu langsung memenuhi rongga hidungku, mengusir bau obat pel yang membuatku mual sejak tadi.

Aku reflek mencengkeram kerah kemejanya.

"Dev, badanku berat, tu-turunin..." racauku lirih.

"Diem! Nggak usah ngomong," potongnya tajam.

Deva, membawaku keluar dari toilet wanita dengan langkah lebar dan tergesa. Aku bisa mendengar suara ribut di koridor. Beberapa orang mungkin sedang melihat kami, tapi Deva tidak peduli. Dia justru mengeratkan dekapannya, menyembunyikan wajahku di dada bidangnya seolah tidak ingin ada satu orang pun yang melihat kondisiku yang kacau.

"Pak, tolong bukain pintu lobi! Sekarang!" teriak Deva. Aku merasakan getaran suaranya merambat dari dadanya ke pipiku.

"Siapin mobil di depan. Saya nggak mau nunggu taksi. Bodo amat punya siapa, pake aja dulu!"

Dia sedang bicara dengan siapa? Kenapa dia berani sekali membentak orang kantor?

Kesadaranku makin tipis. Rasa sakit di perutku semakin menjadi-jadi, seolah sedang mencabik-cabik kesadaranku.

Hal terakhir yang kuingat hanya suara Deva yang berbisik tepat di telingaku, nadanya berubah drastis dari bentakan tadi. Menjadi begitu lirih dan takut?

"Tahan ya, Lin, bentar lagi sampai."

***

Bunyi bip-bip ritmis dan hawa dingin yang menusuk kulit menjadi hal pertama yang menyambutku.

Aku mengerjap pelan. Langit-langit ruangan ini tinggi sekali, dengan lampu tanam yang memberikan pencahayaan temaram dan elegan. Bukan lampu neon putih menyilaukan yang biasa kulihat di puskesmas.

Aku menoleh perlahan. Ada sofa kulit panjang berwarna beige di sudut, TV layar datar yang menempel di dinding ber-wallpaper, dan kulkas dua pintu di dekat lemari pakaian.

Ini di mana? Hotel?

Aku mencoba bangun, tapi selang infus di punggung tangan menahanku. Rasa nyeri di ulu hati masih ada, tapi sudah jauh lebih mendingan dibanding tadi siang.

"Udah sadar?"

Suara itu membuatku menoleh cepat.

Deva, baru saja keluar dari pintu kamar mandi di dalam ruangan ini. Dia sedang mengeringkan tangan dengan tisu, terlihat jauh lebih segar meski wajahnya masih menyisakan guratan lelah. Lengan kemejanya digulung sampai siku, jam tangan mahalnya berkilau tertimpa cahaya lampu.

Dia berjalan mendekat, menarik kursi di samping ranjangku dengan gerakan santai, lalu duduk menyilangkan kaki.

"Dev, ini rumah sakit mana?" tanyaku langsung. Tenggorokanku kering. "Kenapa kamarnya begini? Ini VIP, kan?"

Deva, menuangkan air putih ke dalam gelas di nakas, lalu menyodorkannya padaku lengkap dengan sedotan. Aku menurut karena memang haus setengah mati. Setelah meneguk air itu sampai setengah, aku kembali menatapnya menuntut penjelasan.

"Jawab, Dev. Ini pasti mahal banget. Kita harus pindah sekarang. Aku pake BPJS aja, serius. Duitku nggak bakal cukup buat bayar depositonya doang!"

Aku sudah bersiap menarik selimut, berniat turun. Gaji magangku cuma UMR, bayar kosan dan makan saja sudah pas-pasan. Kalau harus bayar kamar semewah ini, aku bisa puasa setahun.

"Heh, heh! Mau ngapain?" Deva, menahan bahuku, memaksaku kembali bersandar. "Siapa juga yang nyuruh kamu bayar? Udah dapet fasilitas enak kok malah ngajak susah."

"Maksudnya?"

"Ini ditanggung kantor, Alina," jawabnya enteng. Dia mengambil apel dari keranjang buah di meja, lalu mulai mengupasnya dengan pisau kecil.

"Kantor? Sejak kapan anak magang dapet fasilitas VIP?" Aku menatapnya curiga. "Kamu jangan bohongin aku ya, Dev. Jangan-jangan kamu yang bayarin? Aku nggak mau berhutang budi—"

"Dengerin dulu makanya," potong Deva gemas. Dia menunjuk-nunjuk aku dengan pisau di tangannya. "Tadi HRD panik liat kamu digotong keluar. Kebetulan jatah asuransi kesehatan manajer bulan ini lagi sisa banyak dan nggak kepake. Daripada hangus, mereka alihin buat emergency case kamu. Katanya sih, itung-itung kompensasi karena beban kerja anak magang lagi gila-gilaan."

Alasannya terdengar terlalu teknis dan spesifik. Apa benar begitu?

"Serius? Manajer baik banget mau kasih jatahnya?"

"Ya daripada citra perusahaan jelek gara-gara ada anak magang mati kelaparan di toilet kantor?" Deva menyeringai jahil. "Udah, terima aja. Rezeki anak sholehah."

Aku menghela napas panjang, bahuku merosot lega. Kalau memang dibayari kantor, syukurlah. Aku kembali menatap Deva yang kini sibuk memotong apel menjadi bentuk dadu kecil-kecil.

Jujur saja, sulit untuk tidak overthinking. Aku berbaring di kamar rawat inap VIP yang luasnya dua kali lipat ukuran kamar kosku, diselimuti selimut tebal yang wangi, sementara di luar sana tagihan pasti sedang berjalan seperti taksi argo kuda.

"Dev, ini beneran kantor yang bayar, kan? Nanti gajiku nggak dipotong, kan?" tanyaku cemas. Lidahku terasa pahit, bukan karena sakit, tapi karena takut membayangkan sisa saldo di ATM.

Deva, menghela napas panjang. Ia meletakkan pisau buah di nakas dengan bunyi klotak pelan.

"Kalau sampai gajimu dipotong, aku orang pertama yang bakal demo ke HRD. Udah, percaya sama aku. Tugas kamu cuma sembuh."

***

Dua hari kemudian, aku memaksa masuk kerja. Badanku sebenarnya masih terasa melayang, sisa-sisa demam masih menggantung di pelipis. Tapi absen lama-lama bagi anak magang sama saja bunuh diri karier.

Sialnya, langit hujan turun bukan main derasnya. Angin kencang menampar-nampar jendela kaca gedung kantor, membuat nyaliku ciut untuk pulang naik ojek online.

"Kamu pulang sama aku. Titik."

Deva, muncul di kubikelku bahkan sebelum aku sempat membereskan tas. "Tapi arah kita beda jauh, Dev. Macet juga..."

"Lin, di luar badai. Kamu baru keluar rumah sakit dua hari lalu. Mau pingsan lagi di jalan?" potongnya tajam.

Aku diam. Kalah telak.

Sepanjang perjalanan, kehangatan di dalam mobil Deva yang beraroma musk dan kulit jok mahal sangat kontras dengan kekacauan di luar. Hujan mencambuk kaca mobil tanpa ampun. Aku hanya bisa meremas sabuk pengaman, merasa bersalah karena lagi-lagi merepotkan pangeran kantor ini.

Namun, rasa bersalah itu berubah menjadi horor begitu kami sampai di depan kosanku.

Bahkan dari dalam mobil, aku bisa melihat air selokan meluap sampai ke teras. Firasatku buruk.

"Tunggu di sini, biar aku cek," perintah Deva. Dia menerobos hujan dengan payung, tapi aku nekat mengikutinya.

Begitu pintu kamar kubuka, bau apek yang menyengat langsung menonjok hidung.

"Ya Tuhan..."

Lantaiku hilang. Tergenang air keruh setinggi mata kaki. Ember yang kusiapkan tadi pagi sudah terguling tak berdaya. Yang paling parah, atap tepat di atas kasurku jebol. Kasur busa tipis satu-satunya milikku kini basah kuyup, berwarna cokelat kotor karena air hujan bercampur debu plafon.

Hancur sudah tempat istirahatku.

Satu-satunya tempatku pulang, kini mirip kolam comberan.

Aku berdiri mematung. Dingin air di kaki merambat naik sampai ke ulu hati. Mau tidur di mana aku malam ini? Uangku pas-pasan.

"Kemas barang-barang penting kamu, sekarang!"

Suara Deva terdengar rendah, tapi ada amarah yang tertahan di sana.

Aku menoleh, mendapati rahang Deva mengeras saat matanya menyapu sekeliling kamarku yang menyedihkan. Dia tidak marah padaku, aku tahu. Dia marah pada keadaan.

"Dev, aku bisa bersihin ini kok. Nanti dipel..."

"Dipel gimana, Alina?!" bentaknya. Ini pertama kalinya dia meninggikan suara. "Kasur kamu basah, atap bocor, terus airnya kotor banget! Kamu mau tidur di sini terus sakit lagi? Atau kamu mau mati kedinginan?"

Mataku memanas. Dibentak Deva rasanya lebih sakit daripada melihat kamarku kebanjiran.

"Terus aku harus ke mana?" cicitku, air mata mulai bercampur dengan tetesan air hujan di pipi.

Deva, membuang napas kasar, menyugar rambutnya yang basah. Dia melangkah mendekat, mencengkeram bahuku—bukan kasar, tapi tegas.

"Ikut aku. Malam ini kamu tidur di tempatku!"

*****

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status