LOGINSetelah menjalani operasi ketiga, kondisi Dylan semakin membaik. Dokter Yohanes sudah memperbolehkan pasien kecilnya pulang.
Fandi dan Dirga mengurus semua berkas yang dibutuhkan untuk membawa Dylan ke Indonesia. Rumah sakit terbaik pun sudah dipilih untuk melanjutkan pengobatan Dylan di sana."Pasien hanya butuh pengawasan ketat selama beberapa minggu saja, setelah itu pasien sudah bisa beraktivitas seperti biasa," ujar Dokter Yohanes menerangkan."Terima kasih banyak Dokter. Kami akan melanjutkan pengobatan di Indonesia. Kebetulan salah satu keluarga kami adalah Dokter ahli saraf terbaik di sana.""Oh, bagus kalau begitu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Semakin cepat kalian kembali ke Indonesia, semakin baik, karena perkembangan psikis Dylan akan membaik di sana.""Iya Dok, sekali lagi terima kasih banyak." Dirga tersenyum simpul. Rasa lega dan bahagia bercampur menjadi satu, sulit dijelaskan.Setelah mendengar penjel"Mimpi itu .... " Fandi menggantung ucapan, mengingat-ingat lalu melanjutkan, "Sebenarnya beberapa kali Dylan sering bermimpi tentang Marco. Di alam bawah sadarnya Dylan mengatakan dia senang dibawa ke tempat yang indah, banyak uang dan emas."Dirga menyimak penjelasan Ayah Mertua dengan kening yang berkerut. Lalu, pandang matanya beralih pada Adrian yang seperti sedang memikirkan sesuatu.Entah apa yang ada di dalam pikiran Detektif Tampan itu, tidak mungkin hanya karena mimpi Adrian mencurigai anaknya menyimpan rahasia."Hanya mimpi seperti itu? Kenapa kita membahasnya seolah mimpi itu penting?" tanya Dirga dengan raut wajah keheranan.Adrian langsung menimpali, "Mimpi itu bisa jadi petunjuk kalau sebenarnya Dylan mengetahui sesuatu. Dan kemungkinan besar itu adalah alasan kenapa Prams sangat menginginkan Dylan. Apalagi yang kita tahu, Marco ingin menjadikan anak Anda sebagai bagian dari mereka."Dirga berdecak kasar, "Semua itu tidak p
Setelah menjalani operasi ketiga, kondisi Dylan semakin membaik. Dokter Yohanes sudah memperbolehkan pasien kecilnya pulang.Fandi dan Dirga mengurus semua berkas yang dibutuhkan untuk membawa Dylan ke Indonesia. Rumah sakit terbaik pun sudah dipilih untuk melanjutkan pengobatan Dylan di sana."Pasien hanya butuh pengawasan ketat selama beberapa minggu saja, setelah itu pasien sudah bisa beraktivitas seperti biasa," ujar Dokter Yohanes menerangkan."Terima kasih banyak Dokter. Kami akan melanjutkan pengobatan di Indonesia. Kebetulan salah satu keluarga kami adalah Dokter ahli saraf terbaik di sana.""Oh, bagus kalau begitu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Semakin cepat kalian kembali ke Indonesia, semakin baik, karena perkembangan psikis Dylan akan membaik di sana.""Iya Dok, sekali lagi terima kasih banyak." Dirga tersenyum simpul. Rasa lega dan bahagia bercampur menjadi satu, sulit dijelaskan. Setelah mendengar penjel
"Honey, kamu darimana?" Prams menatap wanita cantik yang baru saja membuka pintu kamar perawatan. Langkah kaki Elina tertahan. Matanya mengedar, seperti mencari sesuatu. Prams menyempitkan kedua mata, mengikuti arah mata Elina yang mengitari sekeliling kamar itu. Tak ada yang aneh, entah apa yang ada di dalam pikiran Elina. Menurutnya, seisi ruangan tidak ada yang berbeda. Bed rumah sakit masih berada di tempat semula. Buah-buahan segar belum disentuh sama sekali. Ruang kamar VVIP di salah satu Rumah Sakit terbesar di Hong Kong itu tampak bersih seperti kamar hotel bintang lima. Semua fasilitas ada di dalam ruangan itu. Sofa panjang mewah, televisi besar dan AC yang menyala full. "Honey, kamu sedang mencari siapa?" tanya Prams, mengubah posisi menjadi duduk bersandar ke belakang. Elina menggeleng, melanjutkan langkah kakinya mendekati bed dan duduk di kursi.
Lily menelan ludah keras saat merasakan pergelangan tangannya digenggam begitu erat oleh Zhang.Saat ingin menarik pintu, Zhang mendorong pelan dan mengunci rapat. Lily mendongak, menatap pria tinggi itu dengan kedua mata membulat. Tatapannya beralih pada seisi ruangan, jauh dari tempatnya saat ini sebuah ponsel tergeletak, tak dapat diraih."Aku ingin bicara!" Zhang mengulang ucapannya.Lily menghela napas panjang. Menundukkan kepala sesaat, lalu menatap tajam pada Zhang. "Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Semua sudah selesai, kita tidak memiliki hubungan apapun. Kamu tahu 'kan, minggu depan aku akan menikah dengan sahabat Papaku. Tolong lupakan kalau kita pernah memiliki hubu .... "Ucapan Lily seketika berhenti saat Zhang menarik pinggang dan menekan tubuh moleknya ke dinding.Zhang memiringkan kepala dengan mata terpejam, menikmati harum khas yang dirindukan setengah mati.Wangi parfum Cherry yang biasanya i
"Periksa tekanan darah Pasien," titah Dokter Zhang pada Perawat. "Baik Dokter." Perawat bernama Lily itu memeriksa tekanan darah Prams, kemudian tersenyum. "Tekanan darah Pasien stabil Dok. Kondisinya juga sudah jauh lebih baik."Dokter Zhang mengangguk, lalu melangkah mendekati ranjang dan berdiri di samping. Ia mencondongkan tubuh, dengan tatapan penuh konsentrasi saat memeriksa mata Prams yang terbuka lebar.Sementara Elina menunggu dengan harap-harap cemas. Kedua tangan saling menggenggam di atas dada.Dari bibir yang terus bergerak, doa-doa dilangitkan, meminta kesembuhan untuk calon suaminya.Dokter Zhang tersenyum. "Respons pupilnya normal," gumamnya sambil menyalakan senter kecil dan mengarahkan ke kedua bola mata Prams.Napasnya terhenti sesaat saat mendengar detak jantung yang terpantau melalui monitor, detak yang stabil, tetapi masih terdengar lemah.Dengan tangan cekatan, ia menekan manset tensi di
Elina menatap Prams yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Wajah yang biasanya keras kini tampak rapuh dan pucat.Napas pria bertato itu terdengar berat, tersengal-sengal oleh alat bantu pernapasan yang terpasang di hidungnya.Tangan Prams yang kasar dan penuh bekas tinta itu terkulai lemah di samping tubuhnya.Elina menghela napas lirih, dadanya sesak menahan perasaan campur aduk antara harapan dan ketakutan."Tolong sadar Hubby. Aku di sini menunggu kamu. Kembalilah Hubby."Mata Elina yang merah berusaha menahan buliran bening yang menggenang di pelupuk. Jemari tangannya gemetar saat menyentuh selimut putih yang menutupi tubuh Prams."Tolong bertahanlah,” bisik Elina lagi dengan suara melemah. Suara itu nyaris tak terdengar di antara bunyi alat medis yang berdengung monoton.Elina mengusap lembut pipi Prams. Air matanya tak dapat terbendung, mengalir deras membasahi wajah cantik yang lelah itu.Sua







