Share

Bunuh Diri

Author: Dita SY
last update Huling Na-update: 2025-10-20 09:00:56
Saat udara malam semakin terasa dingin, Dirga memaksa Tania kembali ke dalam mobil.

Namun, wanita itu terus saja menolak, hingga membuat Dirga terpaksa menggendongnya dan memasukan ke mobil yang terparkir di ujung jembatan.

Di dalam mobil, Tania masih menangis tersedu-sedu sambil memanggil nama adiknya. Satu tangannya berusaha membuka pintu, tetapi dikunci oleh Dirga.

"Saya ingin mencari Adik saya Dok!" teriak Tania dengan suara parau.

Dirga menghela napas panjang. Menahan emosi yang ingin meledak. "Jangan nekat! Adikmu belum tentu bunuh diri. Mungkin dia sudah berada di rumah. Sebaiknya kita ke rumah Adikmu. Atau ... kalian tinggal di rumah yang sama? Di mana rumahmu?"

Mesin mobil dihidupkan oleh Dokter Tampan itu.

"Jelita tinggal di apartemen Dok," jawab Tania masih menangis. "Dia tinggal di apartemen Gradien."

"Oke, kita ke sana." Dirga melajukan mobilnya menuju apartemen yang disebutkan oleh Tania.

Mobil BMW itu melaju cepat melewati hambatan di depan. Sepanjang
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (13)
goodnovel comment avatar
Muhmamad Marvel Pratama
critanya jangan Dirga feby trus dink... Siska gmna udh punya anak blom... udh sembuh blom suaminya trahir kan berobat kluar negri dia
goodnovel comment avatar
Norma Erlita
cerita kok mbulet bikin males baca lagi
goodnovel comment avatar
Nur Kholis Kholis
kebanyakan derama selalau dan selaluu ad aj Maslah
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Ah! Enak Mas Dokter   Pak Adrian!

    Beberapa detik berlalu, dan suasana di mobil semakin mencekam. Supir yang tak lain anak buah Prams mulai menyadari sandiwara Intan dan Adrian. Meski gadis itu terus berteriak kesakitan, sang Supir tak berniat melanjutkan perjalanan menuju Rumah Sakit. Mobil yang dikendarai itu berhenti di pinggir jalan, jauh dari keramaian di depan. Mata sang Supir melotot ke arah Adrian dan Intan. Satu tangannya merogoh dasbor, mengeluarkan senjata api kecil. Adrian tak bisa berkutik. Ia hanya bisa memainkan sandiwaranya sebagai Dokter meski sejak tadi semua itu sudah diketahui. "Tolong lanjutkan perjalanan. Pasien saya sedang kesakitan. Apa kau tidak takut Tuan Prams murka?" Napas Adrian terengah-engah. "Dia mau melahirkan. Cepat jalan!" Supir tersebut tersenyum dingin. "Kau pikir aku percaya? Kau dan wanita ini bersekongkol. Kalian berdua akan mati di tangan Tuan!" Adrian membuang napas pan

  • Ah! Enak Mas Dokter   Ketahuan?

    "Tolong antar kami ke Rumah Sakit terdekat." Adrian memasang sabuk pengaman di pinggang, kemudian memeluk tubuh Intan yang duduk di sampingnya. "Baik Dokter."Mobil sport berwarna merah menyala itu melaju kencang membelah jalanan sempit Kota Hong Kong yang dipenuhi gedung pencakar langit dan lampu neon yang berkelap-kelip.Mesin mobil meraung bagaikan singa yang dilepas, suara ban menggesek aspal menambah ketegangan suasana malam itu.Di balik kemudi, sang Supir duduk tegap dengan fokus penuh. Matanya yang tajam menatap lurus ke depan, tangan terampil menggenggam setir seolah sedang mengendalikan kuda liar.Gerakannya lincah, setiap tikungan dilibas dengan presisi sempurna, tanpa sedikit pun kehilangan kendali.Jalanan yang padat dengan kendaraan lain seakan tersingkir, memberi ruang bagi mobil itu untuk melaju seperti pembalap profesional di arena balap.Hembusan angin pada sore itu menerpa wajah, menyibakkan rambut ya

  • Ah! Enak Mas Dokter   Berhasil Pergi

    Tut! Tut! Tut! Suara alarm terdengar memecah keheningan di kabin pesawat. Seketika itu suasana di dalam ruang kemudi menjadi panik. "Sepuluh menit lagi kita akan menabrak awan hitam," ucap Ko-Pilot dengan mata membulat sempurna."Pastikan masker Oksigen berfungsi dengan baik!""Tidak ada yang bisa kita lakukan, kita akan menabrak awan," gumam Ko-Pilot sambil menatap tombol-tombol pengendali di depannya.Bruk!Pesawat jet pribadi itu berguncang hebat, seolah-olah terhantam gelombang besar di udara.Dirga yang duduk di kursi penumpang utama, merasakan jantungnya berdetak tak beraturan.Tubuh pesawat terombang-ambing tanpa kendali, membuat orang di dalamnya saling berpegangan erat pada sandaran kursi. Wajah Pilot dan Ko-Pilot berubah pucat, keringat dingin mengalir deras di pelipis mereka. "Tekanan oksigen turun drastis!" teriak Pilot dengan suara gemetar, matanya sibuk memantau panel instrumen yang ber

  • Ah! Enak Mas Dokter   Prams Tewas?

    "Buka pakaian dalam Anda!"Intan terdiam dengan wajah panik saat mendengar Adrian memintanya membuka pakaian dalam dan melebarkan kedua kaki, tepat di depan sang Detektif. Sebenarnya pemeriksaan yang dilakukan Dokter Kandungan memang seperti itu. Namun, sekarang berbeda, yang duduk di depannya bukan seorang Dokter melainkan Detektif. Bagaimana mungkin? Sama seperti Intan, sang Detektif pun mulai gugup. Tak henti-hentinya ia mengusap peluh yang membasahi pelipis. Sesekali sudut matanya melirik ke samping, melihat Elina dan satu Pelayan sedang memperhatikan.Jika kebohongannya ketahuan, bisa-bisa hidupnya dan hidup Intan berakhir saat ini juga."Buka kakinya." Adrian mengulang ucapan sambil menatap Intan yang diam mematung. Matanya bergerak, memberi kode agar Intan mengikuti sandiwaranya. Namun, gadis itu masih ragu. Suasana mendadak canggung. Keduanya terlihat panik. Tubuh mereka dibasahi keringat

  • Ah! Enak Mas Dokter   Berhasil Masuk

    "Buka pintu gerbang! Dokter Kandungan itu sudah ada di luar!" Suara teriakan seseorang dari dalam mansion didengar oleh Adrian. Disusul suara langkah kaki mendekati pintu gerbang.Adrian menegakkan tubuh, mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam mansion.Tak lama pintu gerbang mansion mewah itu terbuka perlahan dengan bunyi derit besi yang berat.Di balik gerbang, puluhan pria bertubuh jangkung berdiri rapi, masing-masing menggenggam senjata api dan senjata tajam yang berkilat di bawah sinar matahari.Tatapan mereka tak beranjak dari sosok Dokter Kandungan yang berdiri tegak di depan mereka, mulai dari ujung kepala yang diselimuti rambut hitam hingga ujung kaki yang mengenakan sepatu kulit mengkilap.Wajah para pengawal kaku, tanpa senyum, seolah menilai setiap detail keberadaan sang Dokter.Salah satu pria berpostur kekar melangkah maju, menatap tajam ke arah pakaian Dokter itu."Anda Dokter Kandungan?"

  • Ah! Enak Mas Dokter   Prams Menghilang?

    Elina membuang napas kasar. Menatap dengan sorot mata tajam ke arah Intan. Sementara gadis itu hanya diam sambil meringis, memegang perut. "Kamu meminum alkohol? Apa kamu tidak tahu alkohol itu tidak baik untuk janin?" tanyanya dengan nada sinis. "Maaf, aku .... ""Untuk apa meminta maaf padaku? Sekarang yang merasakan sakit itu kamu, bukan aku. Kenapa kamu melakukan itu? Apa kamu tidak tahu bahayanya mengkonsumsi alkohol di saat hamil?"Intan menggeleng. "Aku hanya ingin melupakan masa lalu. Aku tidak sanggup menanggung rindu pada orang yang sudah tidak bisa aku lihat lagi di dunia ini."Mendengar ungkapan hati Intan, Elina hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu betapa tersiksanya hidup dalam bayang-bayang masa lalu dengan orang Tersayang. Menanggung rindu setiap detik sangat menyiksa. Apalagi rindu pada orang yang sudah tiada. Beberapa tahun lalu ia juga merasakan perasaan yang sama seperti Intan, tetapi tak pernah terlintas sedikitpun di benaknya untuk mengkonsumsi alkohol

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status