LOGINMelihat Bramanto yang menangis pilu, Dewanto bergegas mendekati pria paruh baya itu.
"Kita ke sana, Ga!" Ia mengajak anaknya berjalan mendekati Bramanto.Dirga memapah tubuh subur sang ayah yang melangkah gontai mendekati sahabat seperjuangan dulu.Di setengah perjalanan, Dewanto mengusap bulir bening yang mengalir dari sudut mata dan membasahi pipi. Rasanya tidak sanggup lagi menahan kesedihan mendalam.Bukan dia yang kehilangan, tetapi hatinya terasa sak"Berhenti!"Saat dalam perjalanan, Adrian memberi perintah pada seorang supir yang tengah mengendarai mobil. Dua orang polisi bersenjata menoleh ke belakang, salah satunya menatap ke arah laptop yang ditunjukkan oleh Adrian. "Aku mendapatkan sinyal di sekitar pelabuhan," ucap Adrian yakin.Mendengar itu, kedua polisi saling tatap. Lalu, sang supir mengatakan, "Apa kita akan mencoba ke sana?"Adrian mengangguk cepat. "Putar arah, tapi usahakan kedatangan kita tidak mengundang perhatian mereka.""Baik." Salah satu polisi berbicara menggunakan alat komunikasi, menginformasikan arah yang baru.Mobil melaju cepat menuju titik lokasi yang ditemukan oleh Adrian."Sinyalnya memantul di koordinat ini," bisik Adrian, suaranya parau karena ketegangan yang menggunung.Ia menunjukkan sebuah titik merah yang berkedip di peta digital ... sebuah gudang kontainer yang sudah tidak beroperasi selama satu dekade di ujung Pelabuhan Sunda Kelapa Tua.Di belakangnya, dua mobil polisi mengikuti dengan ja
"Sedang apa kau di tempat ini? Kenapa kau berlari saat kami datang? Di mana temanmu yang lain?" tanya Polisi dengan nada tinggi.Seorang laki-laki berpakaian lusuh berhasil diamankan oleh kepolisian. Namun, saat ditangkap, laki-laki itu tidak menunjukkan gelagat mencurigakan.Meski terlihat panik dan ketakutan, tetapi dari cara ia menatap Polisi, dan juga menjawab pertanyaan, laki-laki itu tidak seperti seorang penjahat."S-saya cuma tidur di sana, Pak! Saya nggak punya rumah. Saya lihat pintu terbuka, jadi saya masuk untuk berteduh. Sumpah, Pak! Saya nggak lihat siapa-siapa dari tadi sore!" Pria itu mulai menangis sesenggukan, tubuhnya meringkuk ketakutan."Jangan bohong! Jika kau tidak kooperatif, kau akan langsung kami jebloskan ke dalam penjara!" ancam Polisi yang membuat laki-laki itu semakin ketakutan.Wajahnya pucat pasi dengan tangan dan kaki yang gemetar hebat. "S-saya b
Setelah telepon dengan Bramanto diakhiri, Adrian berdiri diam di depan bangunan kosong terbengkalai.Tatapan matanya tertuju pada dinding tua bangunan itu, yang catnya sudah sangat kusam.Tak ada sedikit pun tanda-tanda pergerakan di dalam sana. Namun, ia tetap bergeming sambil menunggu tim kiriman Bramanto datang."Jangan gegabah," katanya mengingatkan diri sendiri.Tak lama terdengar suara deru mesin mobil mendekat. Adrian berlari, mencari tempat persembunyian untuk berjaga-jaga.Setelah berada di tempat aman, ia mengamati siapa yang datang.Adrian menghela lega saat melihat tim khusus bantuan Bramanto datang dan bergerak dengan presisi militer.Mereka tidak menggunakan sirine, hanya suara sepatu bot yang menginjak dedaunan kering dan desis napas yang teratur di balik masker balaclava."Dimana Detektif .... "
Di tempat berbeda, Vila mewah di kawasan perbukitan yang sejuk, Dirga menggenggam ponsel dengan erat.Baru saja merasakan ketenangan saat liburan bersama keluarganya ke sebuah Vila milik Fandi, ia kembali dikejutkan kabar terbaru dari Adrian.Tanpa membuang waktu, ia segera menghubungi sang ayah__pensiunan Polisi yang masih memiliki jaringan relasi hingga ke pucuk pimpinan instansi hukum."Ada apa Ga? Tumben nelepon. Papa dengar kalian lagi liburan ke Vila? Mana cucu Papa? Apa mereka senang sama liburan kali ini?" tanya Dewanto."Pa, maaf, aku menghubungi Papa karena ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Aku ingin membantu Detektif Adrian yang saat ini sedang terkena masalah hukum.""Lho, masalah apalagi Nak?""Aku kurang tahu pasti, tapi dia mengatakan kalau dia sedang dalam posisi terjepit. Seseorang sedang mencoba mengkambinghitamkan dia atas kasus kecela
"Mas Adrian harus tahu soal ini!" Intan menggenggam ponselnya. Setelah diam cukup lama, ia memutuskan keluar dari kamar.Lantai kayu berderit pelan saat Intan melangkah keluar, jemarinya gemetar hebat menggenggam ponsel yang terasa sedingin es.Setibanya di ruang kerja yang hanya diterangi pendar layar laptop, Adrian masih terpaku, rahangnya mengeras menatap barisan kode enkripsi yang memusingkan."Mas .... " Suara Intan pecah, nyaris tenggelam dalam keheningan malam.Adrian menoleh cepat. Melihat wajah pucat pasi Intan, naluri pelindungnya langsung bangkit.Ia berdiri, tetapi langkahnya terhenti saat Intan menyodorkan ponsel dengan tangan yang tidak kunjung diam."Ada apa Sayang?"Intan tak menjawab, hanya mengarahkan ponsel semakin dekat pada Adrian.Dengan cepat sang Detektif menyambar ponsel itu. Matanya menyip
"Mas, aku takut .... "Adrian mengembuskan napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa hawa dingin dari ruang interogasi yang masih menempel di pori-pori kulitnya.Ia melangkah mendekat, mengabaikan jarak yang sempat diciptakan Intan, dan meraih kedua bahu wanita itu dengan lembut."Intan, tatap aku," bisik Adrian, suaranya kembali berat dan menghipnotis. "Jangan biarkan ketakutanmu menghancurkan kita lebih dulu sebelum polisi melakukannya. Aku di sini. Aku pulang, kan? Itu bukti kalau tuduhan mereka tidak berdasar.""Tapi ASI-ku, Mas ... Maura menangis terus. Aku takut ini pertanda buruk," isak Intan, dadanya kembang kempis menahan sesak."Sstt! ... itu hanya karena kamu panik. Tubuhmu bereaksi pada stresmu sendiri, bukan pada kenyataan hukumnya. Dengar, aku ini detektif. Aku tahu celah mereka. Polisi hanya menggertak karena dia tidak punya bukti kuat. Semua akan baik-baik saja
Kepulangan Dewanto disambut tangis haru Ratna, yang bangga memiliki suami seperti pensiunan polisi itu.Keberhasilan Dewanto dalam melumpuhkan kelompok Mafia, membuat seluruh keluarga merasa tenang dan aman. Apalagi mereka mendengar sendiri Prams sudah mati ditembak oleh polisi.
Setelah berkonsultasi dengan Dokter Dirga. Makan siang di luar. Sore harinya Febby kembali disibukkan dengan aktivitas di rumah.Urusan mencuci baju dan menyetrika memang dia serahkan pada ahlinya, hanya mengeluarkan uang beberapa puluh ribu dalam sehari, semua pakaian rapi, bersih dan wangi.Namun
Perjalanan menuju rumah sakit berakhir. Dokter dan petugas lain bergegas turun dari mobil ambulance.Saat pintu belakang mobil dibuka, Dirga mendorong Stracher Ambulance dengan perlahan dibantu dua orang petugas medis."Kondisinya semakin kritis, Dok." Dokter bernama Kevin berja
Berbeda dengan istrinya yang baru saja menikmati dosa terindah. Di tempat lain, Andi lagi-lagi, harus menerima cacian dan makian dari atasan karena kesalahan sepele ... baginya."Lain kali salin dulu semua dokumen penting di komputer kantor. Jangan asal pulang aja. Pikiran kamu cuma rumah aja. Ngga







