Malam Ini Kamu Milikku, Bos!

Malam Ini Kamu Milikku, Bos!

last updateLast Updated : 2026-04-22
By:  Rossy DildaraOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
5views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Malam ini Pak Bos nggak bisa lagi jual mahal pada saya, karena malam ini Pak Bos akan menjadi milik saya seutuhnya!" Demi sebuah misi dan ambisi menjadi kaya, Mawar terpaksa menuruti permintaan mamanya untuk menyamar menjadi pembantu demi bisa menaklukkan bosnya—Robert di ranjang. Selain tampan dia juga tajir melintir. Namun, misi itu ternyata tak semudah dibayangkan, karena sang bos selalu bersikap dingin, galak, dan seolah tak peduli akan kehadirannya. Akankah Mawar berhasil menjalankan misi rahasia ini? Atau justru gagal dan membuat hidupnya semakin runyam? Yuk simak selengkapnya hanya di novel ini~

View More

Chapter 1

1. Milikku seutuhnya

"Mawar ... apa yang kau lakukan? Apa kau ... kau ingin memperkosaku??"

Suara Robert meledak keras, bergema di kamar yang semula sunyi. Getaran kemarahan dan kepanikan menyertai setiap kata.

Pasalnya, dia baru saja membuka mata, dan mendapati pemandangan yang diluar nalar.

Tubuhnya tergeletak di atas kasur yang empuk, namun kedua tangan dan kaki terikat erat dengan tali tebal yang mengelilingi besi ranjang. Tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Dia benar-benar telanjang bulat.

Udara dingin kamar seketika menyentuh kulitnya, membuat dia merinding tapi bukan karena dingin, melainkan karena ketakutan yang membanjiri dada.

Di depannya, Mawar berdiri. Lingerie merah menyala yang dikenakannya tipis seperti sutra, menyoroti bentuk tubuhnya yang meliuk-liuk. Jari-jarinya yang halus meluncur ke gagang pintu, dan menguncinya. Cahaya lampu meja di sudut kamar memantul pada rambutnya yang hitam mengkilap, membuat wajahnya tampak samar dan penuh misteri.

"Malam ini Pak Bos nggak bisa lagi jual mahal pada saya, karena malam ini Pak Bos akan menjadi milik saya seutuhnya!"

Dengan gerakan yang penuh kepercayaan diri, Mawar melangkah mendekat, lalu naik ke atas ranjang.

Robert menelan salivanya dengan susah payah. Keringat dingin membasahi dahi dan lehernya, menetes perlahan ke atas kasur. Tubuhnya mulai berontak, namun tali itu terasa terlalu kuat, tidak memberi kesempatan sedikit pun untuk lepas.

Baru kali ini dalam hidupnya, dia merasakan ketakutan yang luar biasa, bahkan lebih dari saat menghadapi bahaya terbesar. Dan yang paling mengagetkannya, ketakutan itu datang dari Mawar—pembantu barunya sendiri.

"Jangan gila kau, Mawar! Aku bisa membu*nuhmu!" ancam Robert dengan nada tinggi, matanya melotot penuh emosi.

"Hahaha ...." Bukannya takut, Mawar justru tertawa. Dia menganggap kata-kata ancaman Robert terlalu lucu, seolah omong kosong yang tidak berarti.

Perlahan-lahan, dia naik ke atas tubuh Robert. Jari-jarinya yang hangat mulai meraba-raba dada bidangnya, melintasi tulang rusuknya, lalu meluncur perlahan ke bawah ke perutnya yang kotak-kotak.

Tubuh Robert seketika berdesir. Sentuhan lembut Mawar seolah menyala di kulitnya, membuat panas tiba-tiba menyebar ke seluruh tubuh. Dan tanpa dia sadari, miliknya pun ikut bereaksi—suatu hal yang membuat dia malu dan marah pada dirinya sendiri.

"Waahhh... apa-apaan ini? Pak Bos sudah terangsang saja, padahal saya belum ngapa-ngapain." Mawar langsung menyentuh ujung milik Robert. Pria itu terkejut, matanya membulat, dan napasnya terhenti sejenak. "Mau pemanasan dulu apa langsung nih, Pak?"

***

Sebelumnya....

"Kamu nggak usah masuk kerja hari ini, Mama akan mengajakmu pergi."

Langkah kaki Mawar yang baru saja hendak melangkah keluar rumah seketika terhenti tepat di ambang pintu.

Suara itu—suara Aulia, mamanya. Dia datang dari arah dapur. Mawar menoleh, dahinya langsung berkerut rapat. Rasa curiga dan kekhawatiran seketika menyelimuti hatinya, mengingat apa yang pernah terjadi dalam seminggu yang lalu.

"Ke mana? Kalau Mama memintaku jual diri lagi, aku nggak mau!" tegasnya.

Mawar tentu saja masih ingat. Seminggu yang lalu, karena desakan ekonomi yang terus menghimpit, Aulia sempat memintanya umtuk jual diri. Dengan nada yang penuh keputusasaan dia mengatakan bahwa gaji Mawar yang bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah restoran dirasa tidak cukup.

Uang yang didapatkannya seolah hanya lewat sebentar, belum cukup untuk menutupi biaya hidup sehari-hari, membayar hutang, apalagi untuk membayar sewa rumah kontrakan yang sudah beberapa bulan tertunggak.

Tekanan hidup yang terus membebani membuat mamanya sampai berpikir ke arah itu, meski saat itu juga Mawar sudah menolaknya dengan tegas.

"Tenang saja, Sayang. Ini bukan soal jual diri."

Melihat raut wajah anaknya yang tegang, Aulia segera melangkah mendekat. Senyumnya melebar, seolah berusaha meyakinkan, lalu tangannya terulur menyentuh lembut pundak kanan Mawar, berusaha menenangkan.

"Tapi kamu harus melakukan misi. Kalau misimu berhasil... bukan cuma kamu yang akan jadi kaya, tapi Mama juga," lanjutnya dengan nada yang terdengar penuh harapan.

Mata Mawar menyipit, rasa curiganya makin bertambah. "Mama mau melakukan pesugihan?" tebaknya dengan nada ragu, mengingat cerita-cerita yang pernah dia dengar tentang cara-cara instan yang berbahaya dan salah.

"Ih bukan, Sayang!" Aulia segera menggeleng cepat, wajahnya terlihat sedikit terkejut mendengar dugaan itu. "Mana mungkin Mama lakukan hal yang tidak baik begitu."

"Terus apa?" tanya Mawar, nadanya masih belum sepenuhnya percaya. Dia ingin mendengar penjelasan yang jelas, agar hatinya bisa sedikit tenang.

"Pokoknya kamu ikut saja, nanti kamu tau sendiri. Tapi sebelum itu ... kamu ganti baju dulu dan dandan yang cantik. Jangan sampai orang yang mau ketemu sama kita kecewa."

"Tapi Mama nggak aneh-aneh, kan? Pokoknya aku nggak mau kalau ...."

Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Aulia sudah lebih dulu menyambar tangannya, lalu menariknya masuk kembali ke dalam kamar. Gerakannya cepat dan antusias, seolah sudah tidak sabar untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Wanita itu segera berjalan menuju lemari pakaian milik Mawar, lalu membukanya lebar-lebar. Tangannya bergerak menyusuri setiap helai baju yang tergantung di sana, memilih satu per satu seolah sedang mencari sesuatu yang layak dipakai.

Namun setelah dicari-cari dengan teliti, ekspresinya perlahan berubah menjadi kecewa. Ternyata, tidak ada satu pun baju yang terlihat bagus atau layak untuk dipakai ke acara penting. Semuanya terlihat sudah usang, ada yang warnanya sudah pudar, ada yang bahannya sudah menipis, bahkan sebagian besar adalah pakaian bekas yang dulunya dipakai oleh Aulia sendiri.

Sejak dulu Mawar memang tidak pernah membeli pakaian baru, karena uang yang dimilikinya selalu dipakai untuk kebutuhan yang lebih mendesak.

"Astaga... bajumu ternyata gembel semua, Sayang. Nggak ada yang bagus," ujar Aulia sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku 'kan nggak pernah beli baju, Ma."

Aulia pun berjalan menuju meja rias sang anak. "Kalau begitu kita pergi ke salon saja, buat sewa baju dan sekalian make up di sana. Alat make up-mu juga nggak lengkap, hanya bedak bayi dan lipstik doang, mana cukup untuk membuatmu terlihat menawan."

Mawar diam sejenak, lalu menatap mamanya dengan tatapan yang penuh tanya dan ragu. "Sebenarnya kita mau ke mana sih, Ma? Kenapa sampai harus pakai baju bagus dan make up segala?"

"Kita akan bertemu orang penting."

"Siapa?"

"Udah ayok ikut saja!"

Tanpa memberi kesempatan bagi Mawar untuk bertanya lebih lanjut, Aulia langsung menggenggam tangan anaknya erat-erat, lalu menariknya berjalan cepat keluar dari rumah kontrakan yang sempit itu.

Tak lama kemudian, sebuah angkot lewat di depan mereka, dan Aulia segera mengangkat tangan memberi isyarat agar kendaraan itu berhenti. Begitu pintu terbuka, dia segera menuntun Mawar masuk ke dalamnya.

"Memangnya Mama ada uang, buat bawa aku ke salon? Kita makan aja setiap hari cuma pakai mie instan, sekalinya makan ayam ya ayam tiren."

Baginya, apa yang dikatakan mamanya saat ini terdengar seperti lelucon belaka—sesuatu yang mustahil terjadi, mengingat kondisi keuangan mereka yang serba kekurangan.

 

"Ada kok, Sayang."

"Uang dari mana, Ma?" tanyanya pelan, suaranya terdengar penuh kekhawatiran. "Mama jangan ngutang terus sama orang ah, hutang kita 'kan udah banyak banget. Malu jadi omongan tetangga terus, Ma."

Aulia hanya tersenyum mendengar kekhawatiran anaknya, lalu menepuk tangan Mawar dengan lembut seolah sedang menenangkan anak kecil.

"Nggak apa-apa. Ini 'kan buat modal, Sayang," jawabnya dengan nada yang penuh keyakinan. "Asalkan misimu berhasil ... bukan cuma hutang ini, semua hutang kita saja pasti lunas, bahkan lebih dari itu. Kita akan jadi orang kaya, hidup enak, nggak perlu lagi memikirkan uang makan atau sewa rumah."

Mawar hanya terdiam. Dia sama sekali tak mengerti misi apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh mamanya, namun untuk saat ini dia memilih untuk tidak menolak lebih jauh. Ada rasa penasaran yang tumbuh di hatinya, membuatnya ingin melihat ke mana sebenarnya mamanya akan membawanya, dan apa yang sebenarnya akan terjadi selanjutnya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status