LOGINSetelah sampai di kediaman Zalen, Elena langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Kemudian, merapihkan barang-barang bawaannya sebelum turun untuk ikut makan bersama. "Mam, aku benar-benar lelah hari ini. Aku juga bertemu dengan Riven dan Jay," ujarnya menceritakan hal-hal yang ia temukan dengan antusias. Zalen menggigit keras paha ayam cabai di tangannya, rasanya masih geram ketika mendengar nama 'Riven', apalagi saat disebutkan oleh sang anak. Amerta yang melihat itu, lantas tertawa. "Asal kau tau, Elena. Mamimu ini masih sangat dendam pada Riven, karena membuat hidupmu penuh drama," katanya. Elena yang sebelumnya memasang raut antusias, langsung meredup dan dengan cepat bangkit dari duduknya untuk memeluk Zalen yang masih cemberut. "Ummm, Mamiii. Maaf, ya. Tapi aku masih suka sama Riven, Mam, dia terlihat lebih baik," ujarnya membujuk. Zalen hanya mendengus, dan melanjutkan acara makannya tanpa menjawab bujukan Elena. Ia membiarkan sang anak mengecup pipinya b
"iya, Mami. Ini aku sudah di bandara, di mana Amerta? Katanya dia akan menjemputku?" Sungguh repot Elena sekarang, sudah sejak 20 menit lalu ia mendarat di Zhangbu, dengan barang-barang yang sangat banyak. Zalen bilang, Amerta akan menjemputnya di bandara, karena Zalen sedang sibuk dengan acara masaknya. Namun, Elena belum juga menemukan presensi teman sang ibu tersebut. Ia berdecak, saat Zalen bilang kemungkinan ada kendala di jalan. Ia duduk di kursi tunggu dan menyandarkan tubuhnya, helaan napas terdengar sangat lelah, sorot mata Elena pun terlihat kesal. Lalu lalang manusia, dan robot-robot membuat Elena semakin lelah. Ia ingin lebih cepat merebahkan tubuhnya, dan tertidur tanpa gangguan. Saat akan memejamkan mata sejenak, Elena menangkap siluet yang familiar. Ia segera memakai masker untuk menutupi hidng dan mulutnya. Jaket yang sebelumnya tidak dirapatkan, Elena rapatkan agar dadanya sama sekali tidak terlihat lagi. Lalu, topi kupluknya ia turunkan, agar siluet orang
Langkah Elena terasa sangat ringan hari ini, ia mengunjungi beberapa mall untuk berbelanja buah tangan yang akan dibawa ke Zhangbu nanti. Elena berencana untuk pulang ke negaranya hari ini, dan meninggalkan Zevellus I. Ia sudah sangat merindukan Zalen, dan ingin melihat tuan dan tuan mudanya dari jauh. Selain itu, bisnisnya di sini juga sangat sukses. Ia bahkan menerima tawaran kerja sama, dari mantan majikannya, Riven. Pria itu tidak mengetahui, siapa yang menjadi pemilik sah restoran miliknya. Akan jadi kesempatan yang bagus, jika Elena datang sebagai rekan kerja Riven, 'kan? Mungkin, Ciara nanti akan lebih memandangnya juga. Namun untuk kali ini, Elena enggan terburu-buru. Ia juga tidak ingin menjadikan statusnya pada Riven dahulu sebagai alat dirinya mendekati Riven. Elena ingin Riven mengenalnya sebagai wanita, bukan pelayan. "Humm, ini bagus untukku. Aku ingin ini semua," ujarnya seraya menyerahkan setumpuk pakaian di meja kasir. Pakaian itu, tidak hanya untukny
Sekitar satu bulan berlalu, Elena sudah belajar banyak hal bersama Zalen. Ia kembali fokus pada dirinya yang mendalami berbagai macam minuman, dan manajemen keuangan. Dengan kacamata bacanya, Elena menyalin beberapa informasi yang ia dapatkan dari buku-buku lama di perpustakaan pinggiran Ibu Kota Zevellus I. Ya, kini, Elena sedang berada di negara tersebut. Setelah mendapatkan informasi mengenai kedok ilegal bar milik Orion, yang tersebar di beberapa negara, terutama Ibu Kota Zhangbu. Ia juga sudah mengumpulkan beberapa saksi, dan bukti kuat mengenai hal itu. Bahkan, Elena juga mendapat bukti-bukti kejahatan yang dilakukan oleh Orion padanya, sejak masa sekolah. Ia bisa mendapatkannya, berkat koneksi Zalen yang menyebar semakin luas. "Rea? Siapa wanita ini?" gumam Elena. Matanya semakin memicinh, dengan bibir mengkerut ke dalam ketika mendapat informasi lebih jauh, mengenai nama yang baru ia gumamkan. Reari, adalah nama penulis sebuah artikel berita lima tahun lalu, yang
"Berantakan, Jay! Lagi pula kamar ini akan dijadikan gudang! Bersihkan itu semua, atau Opa yang akan membuangnya?!" bentak Ciara. Saat berkunjung ke kediaman sang anak, untuk bertanya mengenai perceraiannya dengan Diana, ia mampir ke kamar Elena. Ciara nendapat kabar dari Riven, kalau Elena juga memutuskan untuk pergi. Sesampainya di kamar Elena, ia mendapati cucunya sedang sibuk menempelkan sticky note di dinding dan lemari di kamar Elena. Ciara yang melihatnya seketika kesal, karena merasa Elena sudah mencuci otak Jay. Bagaimana pun, semua masalah datang karena kegatalan Elena. Ciara akan selalu menyalahkan Elena, atas apa yang terjadi pada Riven dan Jay. Ia ingin membuang semua tentang Elena, tanpa melihat lagi bagaimana kondisi anak dan cucunya tanpa wanita itu. Seperti saat ini, ia membentak Jay karena kamar Elena akan dijadikan gudang. Riven juga tidak terlalu meresponnya saat ia datang, membuatnya sangat geram. Jay yang sudah mengepalkan tangan kecilnya karena dibenta
"Bagaimana? Senang?" tanya Zalen, saat melihat sang anak menghampirinya dengan raut riang. Di tangannya, sudah terdapat banyak uang hasil meliar. Elena tertawa lepas, lalu menunjukkan uangnya. "Tentu, aku sangat senang, Mami! Aaahhh, rasanya aku hidup lagi!" seru Elena. Zalen mengangguk, ia ikut merasa senang dengan pernyataan dari Elena. Akhirnya, ia ikut menari bersama Elena di tengah-tengah kumpulan manusia yang pikirannya sudah melayang. Bahkan, keduanya tidak segan menunjukkan tarian yang sangat sensual, pada para pria dan wanita di sana. Hingga mereka tenggelam dalam musik yang semakin kencang, ketika waktu semakin malam. Zalen dan Elena meliukkan tubuh, sesuai dengan irama musik yang memekakkan telinga. Minuman terangkat dari gelas-gelas para pengunjung, sesekali terdengar dentingan antar gelas dan tawa mereka. Hingga satu jam setelah tengah malam, beberapa pengunjung mulai tumbang. Ditopang, dan dibawa oleh teman-teman atau pasangan mereka sendiri. Entah ke kamar yan







