LOGINErik Smith adalah sosok sempurna di mata banyak orang, tampan, berkuasa, dan dikagumi. Namun bagi Kalila, kakak angkatnya itu adalah ketakutan yang tak pernah bisa ia hindari. Bagi Kalila, Erik adalah alasan kenapa rumah tak pernah terasa aman. karena pria itu ...
View More“Apa kau tahu ini benda apa?”
Kalila tengah menggosok rambutnya yang basah dengan handuk saat keluar dari kamar mandi, lalu terkejut mendapati sang kakak sudah berada di kamarnya. “Kak Erik?” pekik gadis itu. Handuk di tangannya pun terjatuh. “Kenapa benda ini ada di dalam tasmu?” Erik menunjukkan benda kecil terbungkus plastik berwarna merah di tangannya. “I-itu bukan punya Lila, Kak,” sangkal gadis itu. Kalila tahu dari temannya bahwa itu adalah alat kontrasepsi. Ia tidak mengerti kenapa benda itu bisa berada di dalam tasnya. “Bukan milikmu? Jadi ini milik teman priamu?” tanya Erik menuntut. Dengan cepat Kalila menggelengkan kepala untuk menyangkal tuduhan itu. Ia mengatakan pada sang kakak bahwa ia tidak tahu mengapa benda tersebut bisa ada di sana. Kalila memundurkan langkah saat Erik perlahan mendekatinya. Gadis itu mengenakan pakaian lengkap, meski hanya kaos dan celana pendek, namun tatapan tajam Erik seolah mampu menelanjanginya. Erik kembali menunjukkan benda di tangannya, lalu tersenyum licik pada gadis itu. “Mau menggunakannya bersamaku?” tawarnya, membuat tubuh Kalila semakin kaku. Kalila adalah putri angkat keluarga kaya yang hanya memiliki seorang putra bernama Erik. Pria tampan bermata elang yang saat ini menatapnya tanpa berkedip. Dulu Kalila sangat menyukai Erik, sebelum sifat pria itu berubah ketika Kalila beranjak dewasa. Lila kecil selalu mendapat perhatian dari sang kakak. Namun, Lila yang dewasa justru membuat pria itu bersikap kurang ajar kepadanya. Langkah Kalila terhenti saat punggungnya menabrak tembok. Erik semakin mendekat dan mencengkeram dagu gadis itu. “Apa ada pria yang menggodamu di sekolah?” tanya Erik pelan, meski tetap membuat Kalila terkejut. Gadis itu menggeleng. “Nggak! Nggak ada.” “Bagus. Tidak ada seorang pun yang boleh menggodamu, karena kau adalah milikku.” Erik menyelipkan benda di tangannya ke saku kemeja yang ia kenakan, lalu pergi begitu saja, meninggalkan Kalila yang gemetar ketakutan. Kalila jatuh terduduk. Ia takut, tapi juga menyukai kedekatan mereka. Wajah tampan Erik selalu membuat jantungnya berdetak hebat, entah karena rasa takutnya, atau justru karena dia sangat menyukai pria itu. . “Kok bisa?” tanya Hera, teman sebangkunya, saat Kalila bercerita ada kondom di dalam tas sekolahnya. “Ya mana kutahu,” balas Kalila pelan. Di sekolah ini dia tidak punya banyak teman. Hanya Hera yang lumayan dekat karena duduk satu meja dengannya. Hera menoleh ke sekeliling, lalu kembali menatap temannya. “Pasti ada orang suruhan Brianna di kelas ini,” tuduhnya. Brianna adalah salah satu gadis yang tidak menyukai Kalila, entah kenapa. Kalila juga tidak mengerti mengapa banyak gadis yang tidak menyukainya, padahal dia tidak melakukan apa-apa. “Dia tahu hari ini ada razia. Pasti sengaja kemarin dia kasih jebakan.” Kalila malas memikirkan hal semacam itu. Ia harus cepat merapikan buku-bukunya dan keluar dari kelas, karena Erik pasti sudah menunggunya. Sang ibu memberi kabar bahwa ia tidak bisa menjemput. Wanita itu kemudian menghubungi Erik untuk menggantikannya. Belum apa-apa jantung Kalila sudah berdebar. Membayangkan wajah Erik saja membuat dadanya memanas. Namun anehnya, ia malah tersenyum. Kalila menggelengkan kepala. Dia pasti sudah gila, jelas-jelas Erik jahat kepadanya, kenapa dia harus menyukai pria itu. "Hera, aku duluan," pamit Kalila dan langsung keluar dari kelasnya. Saat berlari, tidak sengaja dia menabrak seseorang. "Berani-beraninya lo!" "Brianna?" *** Tolong jemput Kalila di sekolah ya, Sayang. Hari ini mami sedang sibuk. Pesan itu kembali Erik baca saat duduk di balik meja kerjanya. Pria itu sedikit merenung. Kalila yang akan dijodohkan dengan anak dari ayahnya itu membuat Erik merasa ketakutan, dia belum siap kehilangan gadis itu. Selama dirinya masih hidup, dia tidak akan mau merelakan gadis itu bersanding dengan pria lain. Hanya Erik yang boleh menyentuh tubuh Kalila, hanya pria itu yang pantas bersanding dengan gadis secantik Kalila. Setidaknya itu yang selalu Erik rapalkan dalam hati. Sikapnya yang kejam terhadap siapa pun nyatanya membuat Kalila juga merasa takut. Erik tidak mampu mengungkapkan isi hatinya, pria itu tidak mampu menggambarkan perasaan cintanya. Sampai di area sekolah, Erik menelepon sang adik dan mengabarkan bahwa dia sudah berada di parkiran. "Aku tidak suka menunggu, cepatlah atau akan ada hukuman untukmu," ancam Erik pada sang adik yang sepertinya tengah berlari tergesa, dan pria itu mematikan sambungan teleponnya. Tatapan Erik mengarah pada seorang gadis yang berlari menghampiri mobilnya. Rambut panjang yang berkibar-kibar juga wajah yang memerah karena terengah membuat wajah cantik Kalila terlihat begitu menggemaskan. Kalila duduk di kursi sebelah kakaknya. Gadis itu masih mengatur napas saat pria di sebelahnya berkata. "Telat satu menit dua puluh empat detik," ucapnya santai. Kalila menoleh takut, dia kemudian menggeleng. "Maafin aku, Kak Erik. Aku janji akan lebih cepat lagi," ucapnya sedikit masih terengah. Erik tidak peduli. Ditangkupnya dagu Kalila dengan sebelah tangan, membuat wajah cantik gadis itu mendongak ke arahnya. Pria itu mengernyit saat mendapati sedikit memar di ujung bibir Kalila, dia pun semakin mendekatkan wajah mereka. Kalila yang ketakutan kemudian memejamkan mata. Dia menduga pasti sang kakak akan menciumnya dengan paksa seperti biasa. "Ada apa dengan wajahmu?" Pertanyaan Erik membuat kelopak mata Kalila kemudian terbuka. Dia sedikit tertegun. "Ini."Kalila mendekat pada suaminya. "Kau lapar?" tanya wanita itu. Seperti tengah mengalihkan perhatian.Erik tidak menanggapi, fokus pada Roy yang kemudian pamit undur diri, dan colekan di pipinya dari sang istri membuat pria itu menoleh. "Aku lapar," ucap Kalila. Erik yang diam saja kemudian mendapat cubitan di pipinya. "Kita makan di luar." Erik memberikan saran. "Untuk apa, di sini banyak makanan," tolak wanita itu. Kalila mengambil dua gelas minuman berwarna yang seorang pelayan bawa dengan nampan, wanita itu memberikan satu pada suaminya. "Aku tidak haus," tolak Erik, namun kemudian ia terima juga uluran gelas dari istrinya. "Minumlah, aku merasa hawa di sini sangat panas," sindir Kalila. Erik tidak menanggapi ledekan itu, dia menenggak habis cairan manis di tangannya, kemudian memberikangelas kosong pada pelayan yang melewatinya."Tidak haus, Tuan Erik?" Kalila kembali menggoda suaminya. "Ayo kita pulang," ajak Erik dengan merangkulkan sebelah tangannya pada pinggang Kalila,
Erik tampak diam, dan begitu juga dengan istrinya, dan saat pria itu menghentikan laju kendaraannya di lampu merah, dia kemudian bertanya. "Apa yang kalian bicarakan?" Kalila menoleh pada suaminya, kemudian tertawa kecil, dia tahu pria itu pasti akan menanyakan tentang hal ini. "Menurutmu?" tanyanya menggoda. Erik berdecak, kembali melajukan kendaraannya saat lampu berubah hijau, dan sikapnya yang tak acuh itu membuat Kalila gemas dan mencubit pipinya. "Dia hanya menanyakan hadiah apa yang disukai oleh seorang wanita," ucap Kalila menjelaskan. "Untukmu?" Erik kemudian bertanya, dan malah membuat Kalila jadi tertawa. "Tentu saja bukan," sangkal wanita itu, dan kembali mencubit pipinya. Sampai di dalam kamar Kalila mendapati suaminya itu lebih banyak diam, bahkan sudah lebih dulu merebahkan diri di atas kasur, biasanya pria itu selalu mengganggunya. Setelah mengganti gaunnya dengan baju tidur seperti biasa, Kalila kemudian naik ke atas ranjang dan mencolek pipi suaminya. "Kau ta
"Seharusnya tidak perlu," ucap Kalila dengan berusaha bangkit dari pangkuan Erik, namun pria itu menahannya. "Kau bilang ada rapat, cepat lepaskan aku," pintanya. Bukan menurut, suaminya itu malah tersenyum. Kalila mengerutkan dahi saat Sorot mata pria di hadapannya itu terlihat sendu, dan dia tahu arti tatapan itu. "Kak Eriik, kau bilang sibuk."***Erik yang tengah memasang kembali sepatunya duduk di tepi ranjang, sesekali pria itu menoleh pada jarum jam di pergelangan tangan, memastikan bahwa waktunya masih banyak tersisa. "Sudah lewat tigapuluh menit loh Kak," ucap Kalila mendekat dengan air putih di tangannya, kemudian ia taruh di atas meja, Kalila menghampiri suaminya dan berdiri di hadapan pria itu untuk membantu memasangkan dasi di lehernya. "Papi kamu juga belum datang, sepertinya dia ada urusan juga," ucap Erik sedikit menggoda, dengan sibuk mengancingkan lengan kemejanya. Kalila berdecak, melirikkan matanya dengan sinis ke arah suaminya namun kemudian tersenyum juga. "M
"Awas, Kak. Aku harus membalikkan telur nanti gosong," ucap Kalila dengan tertawa, dan setelah suaminya itu menyingkir dia justru kembali kebingungan. "Aku tidak bisa mengendalikannya!" "Apa yang harus aku lakukan?" Erik kemudian bertanya. Dan sang istri menyuruh untuk mematikan kompornya. Sesaat berperang dengan spatula dan dapur yang berantakan, Kalila meletakan mi goreng dan telur ceplok setengah gosong di atas meja. "Maaf aku tidak bisa masak," Sesalnya. Erik menatap wajah cantik sang istri yang terlihat begitu kontras dengan hasil masakan di piringnya, namun pria yang duduk pada kursi di ujung meja itu menarik piring dari hadapan Kalila agar mendekatinya. Kalila sedikit terkesip saat suaminya itu menyendok masakannya kemudian ia makan. "Jangan, Kak Erik!" cegahnya dengan mendekat, kemudian duduk di sebelah Erik dan menyentuh lengannya, Kalila takut sang suami akan keracunan dengan hasil masakannya, belum apa-apa masa dia harus menjadi janda. Erik sedikit mengernyit saat rasa
Erik terkekeh pelan saat gadis yang berbaring menghadap dirinya itu reflek menarik tangannya sendiri, kemudian memukul lengannya hingga terasa nyeri. "Sakit, Sayang," keluh pria itu. Kalila berdecak. "Lebih sakit tangan aku digigit sama kamu," omelnya. Setelah itu keduanya terdiam, Erik meraih ta
Erina menghela napas. "Dengar ya, Erik. Lupakan Kalila, kalian tidak seharusnya bersama," tegasnya. Namun Erik menggeleng. "Tidak bisa," tukas pria itu. "Erik!" "Jika perlu, aku akan benar-benar memberikan Mami cucu," ancam Erik yang nyaris membuat secangkir kopi di tangan wanita kesayangannya i
Sebelum melangkah masuk, Erik meraih jemari gadis itu dan meremasnya pelan, hingga Kalila menoleh kebingungan. "Bersiaplah untuk lari, Kalila," ucapnya. Kalila mengerutkan dahi. "Maksudnya?" tanya gadis itu yang tidak mengerti dengan arahan pria di sebelahnya ini. Erik menoleh, genggaman tangan p
Kalila tertawa, rasanya senang saja jika berhasil mendapatkannya, gadis itu kemudian menoleh ke sekitar, menghentikan anak kecil yang lewat kemudian membagikan boneka miliknya. Melihat hal itu bukannya kesal Erik malah diam-diam tersenyum, gadis itu lebih senang saat membagikannya dari pada mendap
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.