ANMELDEN“Ya, Burger King dua, dua kentang goreng, dan dua soda. Hm, take away.”
“Baik. Pembayarannya cash atau kartu?”“Cash.”Di sebuah restoran cepat saji yang masih cukup ramai, Hexa berdiri dengan raut kaku, memesan menu yang biasanya menjadi favorit kaum muda-mudi.Sang Jaksa yang biasanya hanya menyentuh makanan organik dan diet seimbang itu kini berdiri di depan kasir, menunggu kantong kertas berisi tumpukan kalori yang sebelumnya sangat ia hindari.“Fuck!” Hexa memukul setir kemudi dengan keras. Gerahamnya mengatup rapat, menciptakan garis rahang yang kaku dan berbahaya.Beberapa menit setelah meninggalkan base camp, suasana hati Hexa yang tadinya sempat membaik setelah mengejek Enrico, mendadak berubah keruh. Ia melirik spion tengah, lalu ke spion samping. Empat unit Jeep hitam dengan kaca gelap pekat menjaga jarak konstan di belakangnya.Ia sudah berusaha bergerak serapi mungkin, namun sepertinya musuh kali ini jauh lebih waspada dari dugaannya. Kejanggalan ini bukan tanpa alasan. Selama lebih dari setengah mil berkendara, Hexa mencoba melakukan tes kecil. Ia sengaja melambatkan laju mobilnya, dan keempat Jeep itu ikut melambat. Begitu ia memacu mesin lebih dalam, mereka pun menambah kecepatan.Hexa adalah seorang petarung yang handal, ia yakin bisa melumpuhkan beberapa orang dengan tangan kosong. Namun, menghadap empat mobil yang kemungkinan berisi enam belas orang bersenjata adalah tindakan bunuh diri yang konyol. Apalagi
“Fuck! Kau mulai lagi, Hexa!” umpat Enrico jengkel, sementara anak buahnya hanya bisa menahan tawa melihat interaksi kedua pria itu.“Sudah, instruksikan orang-orangmu untuk mengamati pola keluar-masuk penghuni kastil,” potong Hexa kembali serius. “Akan jauh lebih mudah dan minim resiko kalau ada pelayan yang bisa kita jadikan ‘orang dalam’ untuk mengambil sampel rambut itu.”Enrico akhirnya mengangguk setuju. “Baik. Kalian dengar itu? Cari tahu siapa yang memasok bahan makanan atau siapa pelayan yang sering keluar dari gerbang belakang. Aku mau laporan lengkapnya besok pagi!”“Baik.”Anak buah Enrico segera bergerak meninggalkan basecamp itu untuk melakukan pengintaian. Saat mereka baru saja memacu kendaraan meninggalkan base camp, Enrico sudah bersiap menyusul dengan langkah terburu-buru. Namun, gerakannya langsung dicegah oleh lengan Hexa yang kokoh.“Kau mau ke mana?” tanya Hexa, alisnya terangkat sebelah menyentuh pundak Enrico.“Mengawasi anak buahku menjalankan misi, tentu saj
Pekerjaan Hexa sore ini sudah tuntas. Namun, ia tak langsung pulang untuk menemui sang istri lantaran Enrico meminta bertemu karena ada hal mendesak yang harus dibicarakan.Di sebuah ruang private, keduanya duduk bersisian pada sofa yang berbeda. Hexa sofa panjang sedangkan Enrico duduk di sofa tunggal. Sementara untuk mendinginkan suasana yang tegang, sebotol wine tersaji di hadapan mereka.“Anak buahmu sudah mencoba mendekati kastil itu?” selidik Hexa, matanya menatap tajam ke arah Enrico, menunggu jawaban pasti.Enrico mengangguk pelan. “Sudah, kau tenang saja. Tapi aku butuh waktu. Masuk ke sana bukan perkara mudah. Kastil kecil itu dijaga ketat layaknya benteng. Dijaga sangat ketat, dan siapa pun yang ingin masuk harus mendapatkan izin langsung dari pemiliknya.”“Siapa? Pria yang terlihat bersama wanita itu?” tanya Hexa lagi. “Yang kita intai itu?”“Ya,” jawab Enrico pendek. Ia memutar gelasnya, lalu menatap Hexa lurus. “Dan ... apa yang sebenarnya membuatmu begitu yakin kalau wa
“Apa pemandangan pagi ini membuatmu terangsang, hm?”Hazel segera memalingkan wajahnya yang panas. Ia tidak sudi meladeni ucapan Hexa yang mulai melantur. Dengan langkah terburu-buru, ia hanya berujar, “Terserah kau saja! Menyingkirlah, aku mau mandi.”Hexa membiarkan istrinya melarikan diri ke kamar mandi. Saat menatap punggung Hazel yang menjauh, senyum simpulnya perlahan memudar, digantikan tatapan yang lebih serius. Di kepalanya, ia mulai menyusun rangkaian pertanyaan untuk menggali informasi tentang ibu mertuanya, tentu dengan cara yang sangat halus agar tidak melukai perasaan Hazel.Usai bersiap, Hexa dan Hazel turun untuk sarapan bersama Elon dan Gracia. Suasana di meja makan terasa jauh lebih hangat pagi itu. Di sela-sela denting sendok, Gracia membuka suara. “Hexa, mulai minggu depan, Hazel harus menghadiri kelas senam ibu hamil. Kau harus mengantarkannya, dan kalau bisa, kau ikut mendampingi di dalam,” saran Gracia dengan nada yang tak bisa dibantah.Hexa meletakkan pisau
“Bagaimana kalau tato yang kau maksud itu sebenarnya luka permanen seperti keloid—yang mungkin dia dapatkan selama disekap di sini? Gambar yang diambil fotografermu itu belum bisa dipastikan apakah tato sungguhan atau bukan, kan?”Enrico tampak terdiam sejenak, mempertimbangkan argumen logis yang baru saja dilontarkan Hexa. Ia memandangi kembali foto di layar ponselnya, lalu beralih menatap kastil di kejauhan dengan kening berkerut.Hexa berargumen dengan nada dingin jaksanya yang khas. “Lebih baik, suruh anak buahmu mengawasi semuanya dulu dari jauh. Jangan gegabah. Kalau sudah benar-benar fix, baru kita ke sini lagi dengan persiapan matang. Nanti, akan kucoba menanyai Hazel mengenai ini. Kalau memang itu tato sungguhan, maka kita bisa cek lagi secara berkala.”“Baiklah.” Enrico menghela napas panjang, akhirnya menurunkan ponselnya. “Kita cek lagi ini dan itunya. Logikamu ada benarnya juga. Aku tidak mau kita menyerbu tempat ini hanya untuk menemukan orang yang salah.”“Bagus,” sahut
“Hexa! Syukurlah kau cepat datang!”Sesuai janjinya, Hexa menemui Enrico tepat setelah urusan kantornya selesai. Ia sudah berpamitan pada Hazel bahwa ada urusan mendesak yang tidak bisa ditunda, agar istrinya itu tidak menunggunya pulang untuk makan malam.Hampir tengah malam, Hexa tiba di lokasi yang ditentukan dengan napas sedikit memburu. Ia menghampiri Enrico yang sudah siaga di posisi. “Kau membawaku ke ujung dunia, menyeberang ke pulau terpencil sampai aku harus berganti helikopter dan boat kecil, lalu sekarang mengajakku mengintip dari balik semak belukar tebing ini? Apa kau pikir kita sedang simulasi perang?”Enrico mendesis, wajahnya tampak dramatis di bawah temaram cahaya bulan. “Bisa tidak mulut pedasmu itu diam sebentar! Aku menemukan sesuatu yang akan membuatmu tercengang!” Ia berbisik dengan nada tertahan, matanya terus mengawasi ke depan seolah takut kehilangan momentum.”“Memangnya apa yang kau temukan sampai harus sejauh ini?” tan







