LOGINTerjebak dalam perjodohan yang dingin, Rosa dipaksa menerima Bima, pria yang di mata keluarga terlihat sempurna. Namun topeng itu runtuh saat Rosa menyaksikan pengkhianatan dan penghinaan yang meremukkan harga dirinya. Dalam keputusasaan, ia bertemu Kevin, sahabat kakaknya yang selama ini ia cintai secara diam-diam. Kevin, sosok tenang dan penuh wibawa, menjadi saksi hancurnya dunia Rosa sekaligus tempat ia menemukan perlindungan yang tak pernah ia miliki. Rasa sakit hati yang membakar membuat Rosa mengambil langkah nekat demi merebut kembali kendali atas hidupnya. "Hamili aku, biar pernikahan ini tidak terjadi.” Permintaan gila yang ia ajukan pada Kevin mengguncang batas moral, membuat Kevin harus membuat keputusan. Di tengah tatapan tajam keluarga, ancaman Bima, dan rahasia yang nyaris terbongkar, Rosa harus memilih, tetap menjadi boneka atau melawan demi martabat dan cinta yang ia temukan di tempat yang paling tak terduga.
View MoreRosa mematung di ambang pintu. Bau parfum asing di kamar itu mencekik paru-parunya. Di tangannya, ponsel masih menyala, merekam pengkhianatan yang terpampang nyata.
Bima terlonjak. Wajah tampannya berubah pucat, lalu panik. Di sampingnya, wanita itu menarik selimut dengan kalap. “R-Rosa?!” suara Bima tercekat. “Jangan sebut namaku!” potong Rosa. Tubuhnya bergetar, namun genggamannya pada ponsel tetap kokoh. “Di rumah ini, Bima? Di atas lantai yang kita pilih bersama?” Bima bangkit, mencoba mendekat. “Aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti….” “Jelaskan apa?” Rosa terkekeh pahit, suaranya bergetar karena muak. Ia mundur menjauh. “Kamu pikir aku sebodoh itu? Mau pakai alasan apa lagi kali ini? Aku punya mata, Bima. Dan apa yang kulihat barusan sudah lebih dari cukup.” Melihat pembelaannya mental, raut Bima mendadak berubah. Paniknya menguap, digantikan tatapan dingin yang sinis. Ia menghela napas kasar. “Sudahlah, jangan drama,” desis Bima. Ia menatap Rosa dengan rendah dari ujung kaki. “Aku bertahan hanya demi muka di depan keluarga. Kau itu membosankan, sok suci, dan tidak tahu cara menyenangkan tunangan sendiri.” Rosa tersentak. Kata-kata itu lebih tajam dari belati. Namun, ia tidak hancur. Ia justru mengangkat ponselnya lebih tinggi. “Aku tidak sok suci, Bima. Aku hanya punya harga diri yang tidak bisa kau beli,” ujar Rosa dingin. “Jika perempuan di balik selimut itu standar bahagiamu, silakan ambil. Kalian berdua memang terlihat cocok dan sama-sama hina.” “Kurang ajar!” teriak wanita di ranjang itu. Bima merangsek maju, urat lehernya menonjol. “Matikan ponsel itu! Serahkan padaku!” Rosa lebih gesit. Ia mundur dengan langkah mantap, matanya tak lagi basah, melainkan membaja. “Jangan sentuh aku. Mulai detik ini, tidak ada lagi kita. Anggap saja rekaman ini hadiah perpisahan dariku untuk keluargamu.” Rosa berbalik. Air matanya jatuh menetes ke lantai, tapi punggungnya tetap tegak. Ia melangkah keluar dari kamar itu, meninggalkan aroma busuk pengkhianatan di belakangnya, menuju udara malam yang jauh lebih jujur. Langkah kaki Rosa tidak lagi berpijak, ia terhuyung seolah gravitasi baru saja mengkhianatinya. Di dalam sana, di atas meja makan yang tertata rapi, kantong belanjaan berisi bahan makan malam yang ia siapkan dengan cinta kini tak lebih dari tumpukan sampah. Pintu apartemen itu tertutup dengan dentuman berat, namun suara di baliknya jauh lebih bising, berputar-putar seperti piringan hitam yang rusak di kepalanya. Kata-kata Bima bukan sekadar ucapan, itu adalah belati tumpul yang dipaksa masuk ke dadanya. Dingin dan menyakitkan. Di lorong apartemen yang dingin, Rosa membeku. Layar ponsel di tangannya masih merekam, menjadi bukti digital atas pengkhianatan yang baru saja ia saksikan. Air matanya jatuh, panas dan memburamkan layar yang retak. "Kenapa harus aku?" bisiknya dengan suara pecah. Dada Rosa sesak. Dalam sekejap, bayangan gaun pengantin dan masa depan yang mereka susun hangus menjadi abu. Ia menyeret langkah keluar gedung, sepatu hak tingginya kini terasa seperti pasung yang menyiksa. Malam Jakarta menyambutnya tanpa belas kasihan. Di bawah pendar neon, Rosa berdiri terpaku. Rencana kejutan makan malam yang ia siapkan justru berbalik menghantamnya hingga ia lupa cara bernapas. Ia berhenti di depan kaca toko yang gelap. Di balik pantulan riasannya yang luntur, suara Bima kembali bergema, menghakiminya seperti kaset rusak. Kata-kata itu membuat Rosa merasa sekecil debu. Rasa tidak berharga merayap, mencekiknya lebih kuat daripada polusi kota. Ia mulai melangkah lagi, bukan berjalan, melainkan melarikan diri. Ia tidak peduli ke mana aspal membawanya, asalkan cukup jauh untuk membuatnya lupa bahwa beberapa jam lalu, ia masih memiliki masa depan. Rosa terpaku di depan etalase gaun pengantin putih gading yang berkilau. Di balik kaca, pantulan dirinya tampak mengenaskan, riasan luntur dan pakaian kerja yang kusut. Ia terlihat seperti porselen retak yang dipaksakan bersanding dengan keindahan gaun itu. "Apa aku terlalu polos? Terlalu bodoh?" batinnya getir. "Apa aku seburuk itu sampai dia mencari neraka di pelukan wanita lain?" Rasa sakitnya kini berubah menjadi amarah yang dingin. Ia berbalik, meninggalkan cahaya etalase menuju gang sempit yang remang. Suara bass dari bar dan aroma pengap mulai mengepungnya. Bayangan wajah ibunya yang penuh doa sempat melintas, namun Rosa segera menepisnya. "Apa gunanya menjadi baik kalau akhirnya dihancurkan begini?" Dorongan liar muncul dari sudut hatinya. Malam ini, ia ingin berhenti menjadi Rosa yang 'sok suci'. Ia ingin rasa sakit ini bungkam. Rosa mendorong pintu bar yang berat. Lampu warna-warni dan uap alkohol langsung menelan tubuhnya. Ia duduk di kursi bar yang dingin, jemarinya mengetuk meja yang lengket. "Satu, apa saja yang paling kuat," pesannya dengan suara serak yang tenggelam di balik dentuman musik. Gelas pertama habis dalam satu tarikan napas. Cairan itu membakar tenggorokan, namun kalah panas dibanding bara di dadanya. “Lagi,” tuntutnya. Gelas berganti hingga hitungan mengabur. Tawa sumbang Rosa pecah, terdengar lebih seperti isak tangis yang gagal disembunyikan. Saat ia bergerak lunglai, ponselnya merosot ke lantai. Layarnya masih menyala, menampilkan durasi rekaman pengkhianatan yang seolah mengejeknya. “Brengsek!” rintihnya. Tubuhnya oleng, hampir jatuh dari kursi. Tiba-tiba, seorang pria di sebelahnya mendekat dengan aroma alkohol dan senyum muak. “Sendirian, Cantik? Aku bisa jadi obatmu malam ini.” Tangan kasar pria itu terulur ke bahu Rosa. Dengan sisa tenaga, Rosa menepisnya kasar. “Jangan sentuh aku!” teriaknya, meski suaranya goyah dan rapuh. Pria itu tidak mundur, malah tertawa rendah sambil memangkas jarak. “Ah, jangan jual mahal. Wanita sepertimu tidak ke sini untuk sendirian, kan?” Sebelum jemari itu menyentuh kulit Rosa, sebuah tangan muncul dari kegelapan. Cengkeramannya pada pergelangan tangan si pria begitu kuat hingga sendinya bergemeretak. “Dia bilang jangan sentuh.” Suara itu dingin, tajam, dan seketika membekukan suasana. Si pria tertegun, nyalinya menciut saat menatap sosok yang berdiri menjulang di samping Rosa. Kevin. Rosa mengenal Kevin sebagai teman baiknya Rey, kakak Rosa. Sorot mata Kevin setajam belati, dingin dan penuh wibawa. Tanpa tenaga berarti, ia menghentakkan tangan pria itu hingga terhuyung mundur. “Pergi,” desis Kevin rendah. “Sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran.” Pria itu sempat hendak melawan, namun melihat rahang Kevin yang mengeras, ia segera mundur dan menghilang ke dalam remang-remang bar. Rosa menoleh dengan gerakan lambat, kepalanya terasa seberat timah. Di tengah pandangan yang kabur, siluet di sampingnya terasa seperti jangkar di tengah badai. “K-Kevin?” suaranya pecah, membawa campuran rasa malu dan lega yang menyesakkan. Kevin tidak langsung menjawab. Ia menatap Rosa dengan pandangan yang sulit diartikan, ada amarah tertahan dan rasa perih melihat wanita seteguh Rosa tampak seperti burung bersayap patah. Di bawah pendar lampu neon, Kevin mengepalkan tangan, menahan diri untuk tidak langsung menyentuh Rosa yang terlihat sangat rapuh. “Apa yang kamu lakukan di sini, Rosa?”Ancaman itu menguap begitu saja bersamaan dengan berbaliknya tubuh Olivia, menjauh dari Kevin. Kevin sama sekali tidak terusik. Matanya tetap terkunci pada satu titik di atas sana, pada sosok Rosa yang tengah berpose anggun di bawah sorotan lampu kilat kamera.Sesi foto bersama itu akhirnya usai. Satu per satu orang bergeser turun dari panggung, dan Rosa segera melangkah mendekati tempat Kevin menantinya. Senyum tipis yang tadi ia pamerkan di hadapan kamera perlahan memudar, menyisakan kekhawatiran yang kembali mencuat di manik matanya."Mereka marah besar, ya?" bisik Rosa hati-hati, begitu ia berdiri tepat di hadapan Kevin. Jemarinya meremas pelan ujung gaunnya, menyembunyikan rasa gugup yang mendera.Kevin menggeleng pelan. Tanpa ragu, ia meraih jemari Rosa yang gelisah itu, menggenggamnya erat untuk memberikan kehangatan sekaligus rasa aman."Biarkan saja," jawab Kevin tenang, suaranya terdengar begitu mantap. "Yang penting sekarang kamu ada di sini, bersamaku. Tidak ada yang perlu
Tak terima, Olivia menoleh dengan dagu terangkat, melirik Rosa dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan meremehkan. "Apa sih menariknya dari perempuan ini?"Alih-alih tersinggung, Kevin justru merapatkan dirimu pada Rosa. Ia menggenggam erat jemari wanita itu di hadapan Olivia. "Apa yang ada padanya, semuanya menarik bagiku," tandasnya telak, membuat pipi Rosa merona merah, tersipu malu di tengah ketegangan yang tercipta.Sebelum Olivia sempat membalas, suara lain menyela dari arah belakang."Oliv, kamu ke sini juga? Datang bareng Kevin, ya?" sapa Wike antusias. Mamanya Kevin itu baru saja tiba bersama Indra, sang suami. Wike tampak begitu sumringah melihat kehadiran Olivia, sampai-sampai ia tidak menyadari atau sengaja mengabaikan keberadaan Rosa yang berdiri tepat di sebelah anaknya.Olivia langsung mengubah ekspresinya, memasang senyum semanis mungkin. "Iya, Tante," jawabnya ramah.Melihat gelagat ibunya yang kembali mendewakan Olivia, Kevin buru-buru menyela untuk menghent
"Jadi... Papa punya simpanan?" Suara Wike mendadak berubah. Kalimat itu meluncur dengan nada yang agak bergetar, menyiratkan kepanikan berlapis amarah.Indra mengerjap pelan, sedikit terkejut dengan perubahan reaksi istrinya. "Punya!" jawabnya santai.Seketika itu juga, pertahanan Wike runtuh. Genangan air mata langsung mendesak di pelupuk matanya yang membelalak. "Papa jahat! Tega-teganya Papa berkhianat di belakang Mama!" serunya dengan suara bergetar menahan tangis.Kevin yang sedari tadi bersiap menjadi penengah kontan melongo. Otaknya mendadak macet, gagal mencerna ke arah mana arah pembicaraan kedua orang tuanya kini bergeser."Hah? Siapa yang berkhianat?" balas Indra bingung."Tadi Papa sendiri kan yang bilang kalau Papa punya simpanan?!" Wike menuding suaminya dengan jari yang gemetar.Indra tergelak pelan, baru sadar dengan kesalahpahaman konyol yang baru saja terjadi. "Ya ampun, Ma... Kan yang Papa maksud itu memang punya simpanan! Simpanan uang di bank, surat-surat berh
Kevin menunduk sejenak, meresapi beban dari restu yang baru saja ia perjuangkan setengah mati, sekaligus dinding tebal yang baru saja kembali ia hadapi."Saya rundingkan dulu dengan orang tua saya, Om. Nanti saya kabari," jawab Kevin lirih, namun tegas, menjaga wibawanya di hadapan ayah wanita yang sangat ia cintai."Pa, Mama nggak setuju!" teriak Rima, dengan nada tinggi yang memekakkan telinga.Sena menghela napas berat, menoleh pada istrinya dengan sorot mata yang menyiratkan peringatan. "Ma, yang menjalani mereka berdua. Kita nggak usah ikut campur terlalu jauh.""Tapi, Pa...." Rima melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah Kevin seolah menguliti pemuda itu hidup-hidup."Nggak ada tapi-tapian. Biarkan mereka dengan keputusannya," potong Sena final, tidak memberi ruang bagi perdebatan lanjutan.Sena kemudian mengalihkan pandangannya, menatap Kevin yang berdiri dengan punggung tegap meski sorot matanya menyiratkan lelah."Nanti kalau sudah ada keputusan, hubungi Rosa langsu
Rosa kembali menatap Bima, senyumnya semakin lebar. "Ayo, Sayang. Kita sudah terlambat," ajak Rosa dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis mungkin, seolah insiden tadi hanyalah angin lalu."Eh, i... iya. Ayo," jawab Bima gagap. Ia sempat melirik Sarah sekilas, sebuah tatapan peringatan yang
Udara di dalam mobil seolah membeku. Rosa teringat kemeja putih Kevin yang ia peluk tadi pagi, juga bagaimana ia menghabiskan malam di sofa pria itu. Aroma kayu cendana dan citrus khas Kevin, mungkin masih tertinggal samar di rambutnya."Oh, itu parfumku, Kak Rey!" Ira menyambar cepat, suaranya sed
Kevin segera mengalihkan tatapan, tangannya mendadak sibuk merapikan letak remote TV yang sebenarnya sudah rapi. Ia berdeham, mencoba mengusir rasa canggung yang mendadak mencekik.“Tidak juga,” ucap Kevin rendah. “Cocok malah.”Rosa tertegun. Matanya membulat menatap Kevin, seolah sedang memproses
Ira baru saja selesai merapikan mejanya ketika pintu kamarnya diketuk. Begitu dibuka, ia terkejut melihat Rosa berdiri di depan pintu dengan rambut masih sedikit basah, mengenakan kemeja kebesaran pria.“Rosa?!” serunya kaget. “Astaga, kamu dari mana? Kok bajumu, itu siapa yang punya?”Rosa menundu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews