LOGIN“Jadi menurutmu ....” Hazel berujar dengan suara rendah yang berbahaya. “... aku gendut?”
Hexa tampak menelan ludah dengan susah payah. Batinnya merutuk habis-habisan, “Oh, God! Mengapa dia sensitif sekali?”Detak jantungnya mendadak berpacu lebih cepat daripada saat ia menghadapi sidang tuntutan paling berat sekalipun.Hexa buru-buru meralat dengan nada bicara yang dibuat selembut mungkin agar Hazel tak kembali murka padanya. “Kapan aku bilang begitu? Aku sama sekElon tiba di atap rumah sakit dengan helikopter pribadinya setelah mengudara selama 17 menit. Tanpa membuang waktu, ia segera diarahkan ke ruang pengambilan darah. Sebagai pemilik golongan darah yang sama langkanya dengan putranya, Elon memberikan satu kantong darahnya dengan cepat, lalu bergegas menuju lorong ruang operasi dengan langkah lebar yang sarat kewibawaan.Enrico segera berdiri menyambut kedatangan pria kuat itu. “Tuan River, selamat datang,” sapanya dengan nada rendah penuh hormat.Elon hanya menyambut sapaan itu dengan kedipan singkat, wajahnya kaku menahan emosi. Tanpa basa-basi, ia langsung menghujamkan pertanyaan, “Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Hexa bisa mengalami kecelakaan sehebat itu?”“Ceritanya panjang, Tuan,” jawab Enrico. Ia kemudian menuturkan semuanya dengan gamblang, mulai dari awal pengejaran di Rute 56 hingga ledakan yang hampir merenggut nyawa Hexa. Di akhir kalimat, Enrico menyatakan dugaannya bersam
“Kau ... tolong aku. Perutku ...,” bisik Hexa parau, suaranya nyaris hilang ditelan malam.Enrico segera berlutut dan meraba bagian perut Hexa yang ditekan kuat oleh tangan pria itu. Begitu jemarinya menyentuh kain kemeja yang sudah basah kuyup oleh cairan hangat, Enrico tertegun. Ia menyalakan senter ponselnya dan seketika itu juga napasnya tertahan.“Shit!” umpat Enrico tertahan.Cahaya senter ponselnya menyingkap pemandangan mengerikan. Serpihan logam tipis yang mungkin bagian dari rangka mobil yang hancur akibat ledakan, menembus kemeja Hexa dan tertanam dalam di perutnya. Darah merembes cepat, mewarnai kain putih itu menjadi merah pekat. Enrico tahu betul, menarik benda itu sekarang sama saja dengan membuka keran kematian bagi sahabatnya.Tanpa membuang waktu, Enrico membopong tubuh lemas Hexa dengan sangat hati-hati ke kursi belakang mobilnya. Ia meminta anak buahnya menginjak pedal gas dalam-dalam, memacu kendaraan menembus kegelapan malam yang kian mencekam.Sekitar 23 menit
“Vosco, granat!”Begitu instruksi keluar dari mulut Enrico, sebuah granat taktis berpindah ke tangannya dengan cepat. Tanpa ragu, Enrico mencabut pin pengaman, menahan tuas sejenak untuk menghitung detik, lalu melemparkannya dengan presisi tinggi ke arah Jeep hitam yang menjadi tameng terakhir musuh.BOOM!Ledakan hebat mengguncang Rute 56. Kobaran api membumbung tinggi, melalap kerangka baja Jeep tersebut hingga terpental beberapa meter.Serpihan logam panas beterbangan di udara, menciptakan kembang api maut di tengah kegelapan malam.Enrico segera merunduk, melindungi wajahnya dari hawa panas yang menyengat. Begitu debu dan asap mulai menipis, ia memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk maju mendekat.“Periksa sisanya! Pastikan tidak ada yang bernapas!” perintahnya dingin.Anak buahnya segera mengecek dengan teliti. “Tuan, kemarilah!”Saat Enrico melangkah mendekati puing-puing yang masih membara, matanya menyipit tajam. Di aspal yang menghitam, ia tidak menemukan jasad yang ha
CIIIIIIIIIIIT!BRAKKK!Suara decitan ban yang bergesekan hebat dengan aspal memekakkan telinga, menciptakan kepulan asap hitam yang pekat dan bau karet terbakar yang menyengat. Pandangan Hexa seakan melambat saat moncong mobilnya menghantam bagian belakang sisi samping truk raksasa itu dengan telak.Tubuh Hexa terlempar keras ke depan. Beruntung, airbag langsung mengembang dengan ledakan kecil, menahan benturan kepalanya ke kemudi, sementara sabuk pengaman menyentak dadanya begitu kuat hingga ia merasa paru-parunya sesak seketika. Mobil mewah itu kehilangan kendali total, berputar dua kali sebelum akhirnya terbalik dengan posisi roda di atas.Truk pengangkut beton itu—yang entah sengaja atau tidak telah menutup jalan—hanya berkilat dingin di bawah lampu jalanan yang remang. Tanpa rasa bersalah, kendaraan berat itu kembali melaju pelan, meninggalkan kekacauan di belakangnya seolah-olah tidak ada nyawa yang baru saja di
“Fuck!” Hexa memukul setir kemudi dengan keras. Gerahamnya mengatup rapat, menciptakan garis rahang yang kaku dan berbahaya.Beberapa menit setelah meninggalkan base camp, suasana hati Hexa yang tadinya sempat membaik setelah mengejek Enrico, mendadak berubah keruh. Ia melirik spion tengah, lalu ke spion samping. Empat unit Jeep hitam dengan kaca gelap pekat menjaga jarak konstan di belakangnya.Ia sudah berusaha bergerak serapi mungkin, namun sepertinya musuh kali ini jauh lebih waspada dari dugaannya. Kejanggalan ini bukan tanpa alasan. Selama lebih dari setengah mil berkendara, Hexa mencoba melakukan tes kecil. Ia sengaja melambatkan laju mobilnya, dan keempat Jeep itu ikut melambat. Begitu ia memacu mesin lebih dalam, mereka pun menambah kecepatan.Hexa adalah seorang petarung yang handal, ia yakin bisa melumpuhkan beberapa orang dengan tangan kosong. Namun, menghadap empat mobil yang kemungkinan berisi enam belas orang bersenjata adalah tindakan bunuh diri yang konyol. Apalagi
“Fuck! Kau mulai lagi, Hexa!” umpat Enrico jengkel, sementara anak buahnya hanya bisa menahan tawa melihat interaksi kedua pria itu.“Sudah, instruksikan orang-orangmu untuk mengamati pola keluar-masuk penghuni kastil,” potong Hexa kembali serius. “Akan jauh lebih mudah dan minim resiko kalau ada pelayan yang bisa kita jadikan ‘orang dalam’ untuk mengambil sampel rambut itu.”Enrico akhirnya mengangguk setuju. “Baik. Kalian dengar itu? Cari tahu siapa yang memasok bahan makanan atau siapa pelayan yang sering keluar dari gerbang belakang. Aku mau laporan lengkapnya besok pagi!”“Baik.”Anak buah Enrico segera bergerak meninggalkan basecamp itu untuk melakukan pengintaian. Saat mereka baru saja memacu kendaraan meninggalkan base camp, Enrico sudah bersiap menyusul dengan langkah terburu-buru. Namun, gerakannya langsung dicegah oleh lengan Hexa yang kokoh.“Kau mau ke mana?” tanya Hexa, alisnya terangkat sebelah menyentuh pundak Enrico.“Mengawasi anak buahku menjalankan misi, tentu saj







