INICIAR SESIÓNHari keseratus satu.Dia datang jam sembilan pagi, sendirian.Tidak ada asisten, tidak ada pengawal, tidak ada mobil hitam yang diparkir berhadapan seperti yang biasanya bikin tetangga buru-buru kunci gerbang. Cuma satu mobil tua yang terawat bersih, dan seorang bapak yang turun dari kursi belakang dengan bantuan sopirnya saja. Di tangannya ada kotak kue yang pasti dibeli di kota sebelum masuk ke gang ini.Mecca sudah di rumah sejak jam enam pagi. Dia tidak mau baru pulang dan langsung berpapasan di depan pagar.Mama tidak menyiapkan apa pun yang berlebihan. Tidak ada nampan penuh camilan, tidak ada piring cantik. Cuma kopi padahal sudah lewat jam sembilan, dan semua tahu di rumah ini kopi bukan minum pagi-pagi begini.Foto lama di ruang tamu sudah dibalik menghadap tembok. Bersih, tak berdebu. Seperti sesuatu yang sengaja disimpan agar tak perlu dilihat siapa pun lagi.Mecca baru paham sekarang kenapa malam itu Papa membaliknya. Bukan untuk menyembunyikan orang di foto itu.Tapi untu
Hari kesembilan puluh delapan.Yang pertama kasih tahu Mecca soal balasan itu bukan Reyhan, dan bukan juga Papa.Pukul satu siang, nomor dari kantor hukum itu muncul di layar ponselnya. Bukan kurir lagi; kali ini ada suara pria yang bicara dengan nada yang sudah dihafal betul kaku, rapi, seolah setiap kata sudah dipilihkan sebelumnya. Dia memperkenalkan diri sebagai bagian dari tim administrasi, lalu membacakan satu kalimat dari kertas yang kemarin malam baru saja berpindah tangan."Kami sudah membacanya. Ada satu bagian yang menurut kami perlu dikonfirmasi dulu."Mecca duduk di tangga belakang gedung jurusannya tempat yang sepi, jarang dilewati siapa pun."Bagian mana?""Bagian yang bunyinya begini: kalau ada yang mau bicara soal saya, bicaralah langsung ke saya." Suara itu berhenti sebentar, dan Mecca tahu dia bukan sedang mencari kata-kata dia sedang memutuskan nada bicara yang pas. "Apakah itu bisa kami artikan sebagai ketersediaan untuk berbicara langsung, tanpa surat-menyurat la
Hari kesembilan puluh tujuh, pukul sembilan lewat seperempat malam.Dapur itu kecil. Bertiga di dalamnya bikin Mecca merasa dia cuma berdiri di antara dua dunia yang sedang bicara tanpa kata-kata.Reyhan berdiri di ambang pintu, map kertasnya masih di tangan. Dia nggak melangkah masuk lebih jauh sampai dipersilakan. Dan waktu Papa cuma diam, dia tetap berdiri nggak bersandar, nggak gelisah."Boleh saya taruh tas ini di kursi dulu, Pak?""Taruh."Reyhan meletakkannya pelan. Seolah dia sadar, kertas tipis bisa lebih berat dari batu.Tak lama, Mama datang membawa segelas air. Ditaruhnya di meja, di tempat yang kosong bukan di depan Reyhan, bukan di depan Papa. Lalu dia mundur ke ruang tengah dan berdiri di sana, di tempat yang agak gelap. Mecca tahu Mama nggak pergi benar-benar. Dia cuma memberi ruang, sambil tetap mendengar semuanya.Papa belum menyuruh Reyhan duduk.Mecca juga diam. Tiga menit penuh. Dia sudah memutuskan sejak tadi: malam ini, dia nggak akan bicara duluan.Papa yang ak
Hari kesembilan puluh tujuh.Surat somasi itu harus dijawab sebelum jam sepuluh malam. Tapi pagi itu Mecca cuma membacanya berulang-ulang, dari atas sampai bawah, seolah hurufnya akan berubah kalau dibaca cukup lama. Nama di halaman ketiga itu tetap asing.Naya masuk ke kamar kos sambil bawa dua gelas kopi dan satu roti yang sudah digigit sedikit. Dia duduk di lantai, buka laptopnya."Kalau perjanjian itu dibuat tahun 2011, nggak mungkin cuma ada potongan begini," kata Naya. "Harus ada nama lengkap, alamat, dan saksi. Sisanya pasti ada di suatu tempat.""Di mana?""Bisa di notaris, di pengadilan, atau di rumah orang yang namanya tertulis di situ." Naya menunjuk layar. "Coba cari namanya di internet dulu."Mecca mengetik nama itu. Yang muncul: mantan pemain sepak bola, seorang penceramah, dan pemilik usaha kecil. Semua nama yang sama, tapi bukan orang yang dia cari."Nama ini terlalu umum," kata Mecca.Dia tambahkan satu kata lagi di kolom pencarian: Pradipta.Hasilnya cuma dua. Yang p
Hari kesembilan puluh enam.Unggahan itu muncul pukul enam lewat dua belas pagi. Dan kali ini bukan sekadar kebocoran ini sudah jadi cerita utuh.Sepuluh foto tersusun rapi: halaman-halaman protokol yang dia kenal, foto makan malam dengan kartu nama "Amaris", gedung kantor Reyhan dari seberang jalan, gerbang kampus, dan pintu rumah orang tuanya dari dua sudut berbeda. Di bawahnya satu paragraf panjang, setiap kata terasa seperti ditata untuk menusuk:"Mahasiswa semester enam. Dua puluh tahun. Tiga puluh delapan tahun. Selisih delapan belas tahun. Dia tidak pernah diminta pendapatnya. Dokumen tiga halaman sudah disiapkan bahkan sebelum rumor pertama muncul."Mecca membaca angka-angka itu perlahan di kamarnya yang masih remang. Delapan belas tahun.Selama ini angka itu cuma ada di kepalanya, sekadar angka. Tapi saat ditulis orang lain, angka itu berubah jadi tuduhan. Jadi pertanyaan yang tak pernah diajukan padanya: untuk apa?Sebelum jam tujuh, unggahan itu sudah dibagikan lebih dari e
Hari kesembilan puluh lima.Mecca sudah menatap halaman kosong di laptopnya selama empat puluh menit saat pesan itu masuk."Selamat sore. Saya Nayla. Saya tahu nama saya pernah sampai ke kamu, mungkin lewat cara yang nggak enak. Saya bukan musuh kamu, dan kamu nggak harus langsung percaya itu. Saya sekarang di kafe seberang kampus, meja nomor dua. Saya tunggu dua jam. Kalau kamu nggak datang, saya pulang dan nggak akan hubungi kamu lagi."Mecca membacanya tiga kali. Lalu menutup laptop, ambil tas, dan berjalan keluar tanpa bilang ke siapa pun.Nayla ternyata beda dari bayangannya dan justru itu yang paling mengganggu.Dia nggak pakai setelan kantor atau tas mahal. Cuma kaos abu-abu, rambut diikat, dan di mejanya cuma ada satu gelas kopi yang sudah dingin plus satu map plastik bening. Dia berdiri saat Mecca datang."Makasih sudah mau datang.""Langsung aja ya," kata Mecca sambil duduk. "Siapa kamu sebenarnya?""Nayla Amaris. Dua puluh sembilan tahun. Kerja di usaha keluarga." Dia terdi







