Mag-log inScarlet menghabiskan dua belas tahun untuk mencintai Felix Duncan. Dialah yang menyelamatkan Felix dari penjara, melindunginya dari penghinaan orang-orang, hingga akhirnya menjadikannya raja dengan memilihnya sebagai suami. Scarlet mengira akhirnya dia mendapatkan akhir bahagia yang selama ini diimpikannya. Ternyata, dia salah. Ketika Aislin, kakak tirinya, tewas dalam perjalanan menuju pernikahannya dengan Raja Iblis, Vintergard berubah menjadi lautan darah. Raja Iblis datang untuk menagih harga dari janji yang telah dilanggar, meninggalkan kehancuran dan kobaran api di seluruh kerajaan. Dan Felix? Dia menyalahkan Scarlet atas segalanya.Bahkan ketika nyawanya direnggut oleh pedang sang Raja Iblis, kata-kata terakhirnya bukan ditujukan kepada Scarlet. Melainkan kepada wanita lain. “Jika kita terlahir kembali, biarkan aku bersama Aislin.” Scarlet mati dengan hati yang telah hancur. Namun, takdir menolak mengakhiri kisahnya. Sebuah jam pasir misterius pecah tepat di saat kematiannya, dan Scarlet terbangun di masa lalu. Dia mendapatkan kesempatan kedua. Kali ini, dia tidak akan menyelamatkan Felix. Dia tidak akan mengejar cintanya. Dia tidak akan menjadi ratunya. Dan yang terpenting, dia tidak akan mengulangi kesalahan yang menghancurkan hidupnya.
view moreBukan aroma bunga yang tercium dari taman istana, melainkan bau busuk belerang dan sisa abu pembakaran yang menyesakkan dada Scarlet.
Wanita itu tengah berdiri di balik jendela menara.
Tangannya yang gemetar mencengkeram batu pualam hingga jari-jarinya memutih.
Matanya berkaca-kaca menyaksikan kehancuran sebuah kerajaan.
"Lihat itu, Scarlet! Lihat perbuatanmu!" Felix Duncan, Raja Vintergard sekaligus suaminya berdiri di sampingnya.
Meski mengenakan baju zirah, lengkap dengan helm dan pedang, sorot matanya tak mampu menyembunyikan kemarahan sekaligus ketakutan.
Di bawah sana, kota yang makmur, kota yang Scarlet dambakan, kota yang membesarkannya penuh kasih, kota yang sebulan lalu menasbihkannya sebagai ratu, dalam keadaan sekarat.
Asap tebal nan pekat membumbung.
Ledakan demi ledakan menciptakan jeritan yang memekakan telinga.
Orang-orang tampak berlarian.
Ketakutan menjalar bagai naga yang siap menerkam.
"Semua ini adalah ulahmu, sadarkah kau?" Tangan Felix meninju dinding menara dengan putus asa.
Tanpa menjawab, pandangan Scarlet turun ke gerbang utama istana yang kini menjeblak, mementalkan sepasukan prajurit yang berjaga. Denting logam dan jerit akhir para prajurit yang gugur seolah berbisik langsung di telinganya.
Bukan segerombolan prajurit berlambang kerajaan lain, melainkan hanya sesosok iblis yang merangsek masuk.
Sayapnya yang hitam meregang, mengepak-ngepak di punggung.
Rambutnya yang berwarna terang dengan tanduk sebagai hiasan, membingkai mimik keji.
Satu tangannya memegang pedang dan sisa darah dari para prajurit yang habis ditebas menetes, mengalur pada setiap geraknya.
Scarlet memejamkan matanya rapat-rapat. Ia tak kuasa melihat pembantaian itu lebih banyak lagi.
"Kau telah membunuh Aislin, dan sekarang kau menghancurkan kerajaanku!" Felix menggertakkan gigi. Rautnya menunjukkan kegetiran.
"Kerajaanmu?" Scarlet berbalik. Matanya nanar menatap sang suami. Benarkah ini semua karena perbuatannya?
"Ya, kerajaanku! Dan andai kau tidak memilihku, Aislin pasti masih hidup dan iblis itu tidak akan mengamuk!" lanjut Felix.
"Tidak," ucap Scarlet lirih. Ia tertuduk ke lantai. Tubuhnya lemas oleh kata-kata suaminya yang begitu menusuk.
Selama ini, ia hanya ingin hidup bahagia bersama orang yang dicintainya, di tempat yang diimpikannya, menciptakan dongeng kehidupan yang indah.
Apakah semua itu salah?
Felix mendengkus, ia mencengkeram kedua bahu wanita itu, lalu mengguncangnya, seolah ingin menyadarkannya. "Kau masih mengingkarinya? Bahkan setelah melihat mayat-mayat bergelimpangan di hadapanmu?"
Bibir Scarlet bergetar. "Kalau aku tidak memilihmu, kau tidak akan jadi raja. Kau tidak akan memiliki kerajaan!"
Felix mendengkus. "Justru karena kau memilihku, kerajaan itu musnah! Lagi pula, untuk apa jadi raja kalau harus mengorbankan orang lain?"
Ledakan kembali terdengar dari luar menara, kali ini disertai tawa keji sang iblis.
"Kau memaksa Aislin menikahi iblis itu, sehingga membuatnya mati sebelum kereta yang membawanya tiba di istana sang iblis. Dan oleh sebab itu si iblis mengira telah dibohongi, lalu menyerang kerajaan yang kau janjikan untukku. Apakah kau masih merasa tak bersalah?"
"Tidak," jawabnya lebih untuk menyakinkan dirinya sendiri. "Bukan aku yang memaksa Aislin!"
"Kalau kau tidak terobsesi menikah denganku, dia tak harus menikahi iblis itu," sela Felix. "Kau memang perempuan jahat!"
"Tidak!" Scarlet meraung. Air matanya berderai. Ia tak menyangka suaminya tega berbicara seperti itu. "Kenapa kau menimpakan semua kesalahan kepadaku?"
"Karena ini memang salahmu!"
Sembari terisak, Scarlet bertanya, "Lupakah kau kalau akulah yang meminta Ayah mengeluarkanmu dari penjara, meminta semua orang memperlakukanmu dengan baik, dan melupakan kenyataan bahwa kau tawanan perang? Selama dua belas tahun hidupku kupersembahkan untukmu."
Felix tertawa sumbang. "Jadi, setelah merasa berbuat baik lantas kau berhak mengatur hidupku?"
"Aku tidak—"
"Kau tahu Aislin selalu diabaikan. Tidak sepertimu yang diberi pilihan. Seharusnya kau lebih bijak!"
Scarlet mencengkeram gaunnya, menahan rasa sakit di hatinya. "Apa kau lebih suka aku yang memilih menikahi iblis itu? Kau lebih suka aku yang mati?"
Belum sempat pertanyaan itu terjawab, raungan terdengar keras, lantai menara berguncang, kemudian ... blar!
Atap kerucut menara meledak.
Scarlet merunduk, berlindung dari serpihan dinding menara yang jatuh.
Para prajurit yang berjaga di depan pintu menghambur masuk, mengepung sang iblis yang mendarat di lantai menara.
Tombak, pedang, serta perisai diacungkan.
Namun, semua itu tak berguna karena dengan satu lambaian tangan, iblis itu mampu mengempaskan para prajurit. Mereka terluka parah, bahkan sebagian tewas.
Scarlet menjerit, tubuhnya berguncang hebat saat sang iblis mendekatinya.
"Kalian meminta banyak hal dariku, tetapi aku hanya meminta satu hal dan tidak kalian berikan," geram iblis itu.
Felix meneghunuskan pedangnya. "Jika kita dilahirkan kembali, kumohon Scarlet, biarkan aku bersama Aislin. Saat melihat jasadnya, aku baru sadar kalau dialah satu-satunya gadis yang kucintai."
Setelah berbicara seperti itu, dia maju, menghadapi kemurkaan sang iblis.
Dunia Scarlet tidak hanya runtuh, tetapi hancur berkeping-keping saat mendengar permohonan sang suami.
Napasnya tersekat ketika ujung pedang si iblis menembus baju zirah Felix, menancap tepat ke jantungnya.
Darah menyembur dari luka yang menganga saat pedang itu dicabut.
Felix berdeguk, kemudian ambruk. Matanya terbuka saat nyawanya tercerabut.
Rasa sakit kehilangan segala yang dimilikinya selama ini, ditambah pengakuan suaminya, membuat gadis itu mati rasa.
Sang iblis mendekat. Langkahnya lambat, tetapi justru itulah teror yang sesungguhnya. Ia berhenti tepat di hadapan Scarlet yang tengah bersimpuh.
Menggunakan ujung pedang, ia mengangkat dagu gadis itu, memaksanya beradu pandang. Matanya yang bengis membuat Scarlet gemetar.
Jika kembali ke masa lalu, apakah ia akan mengambil pilihan yang berbeda?
Air mata Scarlet sudah kering sekarang. Ia pasrah menerima takdirnya.
Tubuh gadis itu tersentak. Pedang iblis menusuk jantungnya. Darah merembes ke gaunnya, mengubah warnanya yang putih menjadi merah.
Satu tangannya tak sengaja menyenggol sesuatu yang jatuh ke lantai.
Entah dari mana asal keberanian itu, ia mengayunkan benda yang diambilnya dari lantai hingga membentur kepala sang iblis.
Scarlet baru mengetahui benda tersebut adalah sebuah jam pasir setelah berhasil menghantam kepala sang iblis, memecahkan kacanya dan menghamburkan isinya.
Bagai gerak lambat, ia melihat serpihan pasir itu menyebar di udara, berkerlap-kerlip tebiaskan cahaya.
Kemurkaan si Iblis meledak dalam satu raungan panjang. Ia menarik pedang, dan menebas Scarlet tanpa ampun.
Gadis itu melihat bilah pedang mengenainya, tetapi rasa sakit yang ia antisipasi tidak pernah datang.
Sebaliknya, ia merasa tubuhnya menjadi seringan kapas.
Serpihan jam pasir yang pecah seolah menyerap seluruh perhatiannya, menelan rasa sakitnya, dan menghapus pemandangan tragis di menara itu.
Saat kelopak matanya perlahan menutup, ia mengira tengah menyerah pada maut dan memulai tidur panjang dalam kegelapan yang abadi.
Namun, ia keliru. Ia tidak mati, atau setidaknya belum.
Ia merasakan sebuah keajaiban yang mungkin tak akan terulang.
***
Scarlet meninggalkan lorong dengan langkah tergesa. Ia tak ingin berlama-lama di sana, apalagi memberi Felix kesempatan untuk melontarkan lebih banyak omong kosong.Tergopoh-gopoh, Jennaya menyusulnya. Sesekali pelayan itu melirik wajah majikannya dengan cemas. Bekas tamparan di pipi Scarlet mulai memerah, dan melihatnya saja sudah membuat Jennaya geram.Sebelum menyusul Scarlet, ia sempat meminta seorang pelayan yang berpapasan untuk membawakan bongkahan es batu dan kain ke kamar sang tuan putri.Di belakang mereka, Aislin menatap Felix dengan cemas."Kenapa kau menamparnya?" protesnya. "Bagaimana kalau dia benar-benar mengusirmu?"Felix merangkul bahunya, lalu mengusapnya lembut. "Jangan khawatir, Sayang. Dia hanya menggertak. Scarlet tak akan berani mengusirku.""Tapi tadi raut mukanya terlihat tidak main-main.""Itu cuma akal-akalannya. Aku yakin, dengan
Ibarat kata, sudah jatuh, tertimpa tangga, terinjak gajah pula.Itulah yang dirasakan Scarlet hari itu.Setelah mendapat balasan tidak mengenakkan dari Light Vermilion, suasana hatinya memburuk. Surat yang dikirimkannya dengan harapan mendapatkan jawaban memuaskan justru dibalas dengan kalimat singkat dan dingin.Benarkah Light seorang raja? Kalau memang begitu, mengapa ia tidak menunjukkan kebijaksanaan sedikit pun?Scarlet mendengkus. Tak ada basa-basi, apalagi keramahan. Pria itu seolah tidak peduli bahwa mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting.Ia melanjutkan langkah menyusuri lorong istana. Pikirannya kembali tertuju pada perjalanan menuju istana Light nanti. Jika pria itu tidak bisa diandalkan, ia harus mencari cara lain untuk memastikan keselamatannya. Mungkin ia bisa meminta ayahnya menambah jumlah pengawal.Saat memasuki lorong berikutnya, Scarlet bertemu dengan Jennaya.
Scarlet tidak ingat bagaimana Aislin dulu mati. Waktu itu ia baru hendak menjalani malam pertama dengan Felix. Kepergian Aislin ke negeri sang iblis bersamaan dengan pernikahan mereka.Gadis itu ingat istana mendadak gempar. Kereta Aislin sudah tak berbentuk ketika melewati gerbang. Atapnya roboh, rodanya bengkok. Kaki kuda yang menariknya pun terseok-seok. Orang bilang, sebuah keajaiban kereta itu bisa sampai ke istana.Hanya ada dua prajurit yang menyertai. Selain terluka, para prajurit itu gila. Baju zirah mereka penuh darah dan rusak. Pedang mereka hilang entah ke mana. Raja memerintahkan untuk menginterogasi mereka, tetapi seolah dibungkap, mereka membisu. Suara mereka seperti dicerabut.Namun anehnya, jasad Aislin utuh. Tak ada luka, tak ada memar. Bahkan goresan pun tak ada. Ia terbaring mati di dalam kereta. Begitu saja.Membuat Scarlet kini bertanya-tanya, apa penyebab gadis itu mati. Mungkinkah hewan? Kalau begitu, kenapa tak ada bekas cakar di tubuh Aislin?Scarlet sedang
"Serius?"Jennaya berlari kecil agar dapat menjajari majikannya. "Anda benar-benar serius, Yang Mulia?"Tanpa menghentikan langkah, Scarlet menjawab, "Tentu saja.""Oh, astaga!" Jennaya berhenti. Ia memegang kepalanya seolah-olah telah kalah taruhan. Tak mau tuan putrinya berada dalam masalah besar, ia pun menyusul. "Tolong pikirkan baik-baik, Yang Mulia."Scarlet tak menanggapi."Jangan gara-gara emosi sesaat Anda lantas mengambil keputusan sembrono." Pelayan itu melanjutkan, "Saya takut Anda akan menyesal nantinya.""Ini yang diinginkan Felix, Jennaya. Dia ingin bersama Aislin." Scarlet mempercepat langkahnya memasuki lorong istana. Sore-sore begini biasanya sang ayah sedang di ruang pribadi menikmati waktu luang sebelum minum teh. Dugaan gadis itu benar karena di ujung lorong, ia melahat pengawal pribadi raja berjaga.Suara Jennaya bergema ketika memohon, "Aku tahu Anda sangat mencintai Tuan Felix, tetapi ... ayolah, Yang Mulia. Apakah kalau beliau meminta Anda mati, Anda akan m












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.