로그인Hari kesembilan puluh tujuh, pukul sembilan lewat seperempat malam.Dapur itu kecil. Bertiga di dalamnya bikin Mecca merasa dia cuma berdiri di antara dua dunia yang sedang bicara tanpa kata-kata.Reyhan berdiri di ambang pintu, map kertasnya masih di tangan. Dia nggak melangkah masuk lebih jauh sampai dipersilakan. Dan waktu Papa cuma diam, dia tetap berdiri nggak bersandar, nggak gelisah."Boleh saya taruh tas ini di kursi dulu, Pak?""Taruh."Reyhan meletakkannya pelan. Seolah dia sadar, kertas tipis bisa lebih berat dari batu.Tak lama, Mama datang membawa segelas air. Ditaruhnya di meja, di tempat yang kosong bukan di depan Reyhan, bukan di depan Papa. Lalu dia mundur ke ruang tengah dan berdiri di sana, di tempat yang agak gelap. Mecca tahu Mama nggak pergi benar-benar. Dia cuma memberi ruang, sambil tetap mendengar semuanya.Papa belum menyuruh Reyhan duduk.Mecca juga diam. Tiga menit penuh. Dia sudah memutuskan sejak tadi: malam ini, dia nggak akan bicara duluan.Papa yang ak
Hari kesembilan puluh tujuh.Surat somasi itu harus dijawab sebelum jam sepuluh malam. Tapi pagi itu Mecca cuma membacanya berulang-ulang, dari atas sampai bawah, seolah hurufnya akan berubah kalau dibaca cukup lama. Nama di halaman ketiga itu tetap asing.Naya masuk ke kamar kos sambil bawa dua gelas kopi dan satu roti yang sudah digigit sedikit. Dia duduk di lantai, buka laptopnya."Kalau perjanjian itu dibuat tahun 2011, nggak mungkin cuma ada potongan begini," kata Naya. "Harus ada nama lengkap, alamat, dan saksi. Sisanya pasti ada di suatu tempat.""Di mana?""Bisa di notaris, di pengadilan, atau di rumah orang yang namanya tertulis di situ." Naya menunjuk layar. "Coba cari namanya di internet dulu."Mecca mengetik nama itu. Yang muncul: mantan pemain sepak bola, seorang penceramah, dan pemilik usaha kecil. Semua nama yang sama, tapi bukan orang yang dia cari."Nama ini terlalu umum," kata Mecca.Dia tambahkan satu kata lagi di kolom pencarian: Pradipta.Hasilnya cuma dua. Yang p
Hari kesembilan puluh enam.Unggahan itu muncul pukul enam lewat dua belas pagi. Dan kali ini bukan sekadar kebocoran ini sudah jadi cerita utuh.Sepuluh foto tersusun rapi: halaman-halaman protokol yang dia kenal, foto makan malam dengan kartu nama "Amaris", gedung kantor Reyhan dari seberang jalan, gerbang kampus, dan pintu rumah orang tuanya dari dua sudut berbeda. Di bawahnya satu paragraf panjang, setiap kata terasa seperti ditata untuk menusuk:"Mahasiswa semester enam. Dua puluh tahun. Tiga puluh delapan tahun. Selisih delapan belas tahun. Dia tidak pernah diminta pendapatnya. Dokumen tiga halaman sudah disiapkan bahkan sebelum rumor pertama muncul."Mecca membaca angka-angka itu perlahan di kamarnya yang masih remang. Delapan belas tahun.Selama ini angka itu cuma ada di kepalanya, sekadar angka. Tapi saat ditulis orang lain, angka itu berubah jadi tuduhan. Jadi pertanyaan yang tak pernah diajukan padanya: untuk apa?Sebelum jam tujuh, unggahan itu sudah dibagikan lebih dari e
Hari kesembilan puluh lima.Mecca sudah menatap halaman kosong di laptopnya selama empat puluh menit saat pesan itu masuk."Selamat sore. Saya Nayla. Saya tahu nama saya pernah sampai ke kamu, mungkin lewat cara yang nggak enak. Saya bukan musuh kamu, dan kamu nggak harus langsung percaya itu. Saya sekarang di kafe seberang kampus, meja nomor dua. Saya tunggu dua jam. Kalau kamu nggak datang, saya pulang dan nggak akan hubungi kamu lagi."Mecca membacanya tiga kali. Lalu menutup laptop, ambil tas, dan berjalan keluar tanpa bilang ke siapa pun.Nayla ternyata beda dari bayangannya dan justru itu yang paling mengganggu.Dia nggak pakai setelan kantor atau tas mahal. Cuma kaos abu-abu, rambut diikat, dan di mejanya cuma ada satu gelas kopi yang sudah dingin plus satu map plastik bening. Dia berdiri saat Mecca datang."Makasih sudah mau datang.""Langsung aja ya," kata Mecca sambil duduk. "Siapa kamu sebenarnya?""Nayla Amaris. Dua puluh sembilan tahun. Kerja di usaha keluarga." Dia terdi
Hari kesembilan puluh empat.Ternyata pernyataan resmi itu bukan reaksi mendadak. Itu hal pertama yang Mecca sadari setelah dia memutuskan untuk bertanya, bukan menuduh.Pagi itu dia bertemu Dinda di parkiran belakang kampus, di antara barisan motor dan pagar besi yang warnanya terlihat kurang pas. Dinda terlihat sangat lelah, matanya sembab, dan ponsel di tangannya digenggam erat seolah benda itu bisa meledak kapan saja."Kalau Mbak mau tanya apakah saya yang kirim itu keluar...""Aku nggak nanya itu," potong Mecca lembut. "Aku cuma mau tahu: kalimat itu sudah ada sejak awal?"Dinda mengangguk pelan. "Ada di halaman dua sejak dokumen itu disusun. Aturan nomor tiga kalau ditanya, pakai kalimat ini. Sudah disepakati tiga minggu yang lalu."Mecca berdiri diam di sana. Jadi tidak ada yang memutuskan apa-apa kemarin. Semuanya sudah terprogram sebelumnya. Begitu masalah datang, kalimat itu otomatis keluar persis seperti lampu yang menyala sendiri saat hari mulai gelap."Mbak, tolong jangan
Hari kesembilan puluh satu, pukul empat lewat pagi.Pintu rumah orang tuanya terbuka bahkan sebelum Mecca selesai mengetuk. Mama berdiri di sana, masih dengan baju yang sama sejak sore tadi, seolah dia memang sudah menunggu di balik pintu sejak lama."Mama tahu kamu bakal pulang.""Aku sendiri nggak yakin sampai aku di jalan," aku Mecca pelan. "Aku cuma kasih alamat ini ke sopir, ternyata ini tempat yang aku cari."Mama mundur memberi jalan. Tidak memeluknya. Tidak langsung bertanya apa-apa. Di meja ruang tamu sudah ada dua gelas teh sudah dingin, artinya Mama memang menunggu cukup lama."Mama nggak akan paksa cerita," katanya akhirnya. "Kamu mau nginep, atau cuma duduk sebentar?""Nginep.""Selimutnya di lemari seperti biasa." Mama berhenti sejenak sebelum masuk ke kamarnya. "Satu hal aja ya, soal kamu, bukan soal dia. Kalau hari ini kamu belum siap cerita, nggak apa-apa. Tapi jangan sampai kamu terbiasa menyembunyikan hal dari orang yang sayang sama kamu. Karena nanti kebiasaan itu







