Ah! Perih Om

Ah! Perih Om

last updateLast Updated : 2026-10-02
By:  Goresan HaraUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
9views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Mecca (21), mahasiswi jurusan bisnis yang berani dan blak-blakan, dipaksa dijodohkan oleh orang tuanya dengan Reyhan (33), pengusaha properti yang dingin dan misterius. Mecca menolak mentah-mentah dia tidak mau hidupnya diatur, apalagi dengan seorang "Om-Om." Tapi semakin dekat mereka, semakin Mecca menemukan bahwa di balik dinginnya Reyhan tersimpan kehangatan yang membuatnya tak bisa lari. Pertanyaannya bukan lagi apakah mereka jatuh cinta tapi apakah cinta mereka bisa bertahan melawan pandangan dunia yang menghakimi. Bisakah cinta yang tulus bertahan ketika seluruh dunia menganggapnya salah?

View More

Chapter 1

Bab 1 Dunia Mecca

Jakarta tak pernah tidur, dan Mecca Ardani pun sama.

Pukul tujuh pagi, gadis itu sudah melangkah keluar dari apartemen kecilnya di Kuningan dengan langkah yang begitu percaya diri terlalu percaya diri, malah, untuk seorang mahasiswi baru masuk semester tiga. Rambut hitam panjangnya diikat tinggi ke atas, tas ransel tersampir seenaknya di satu bahu, dan sepatu kets putihnya mengetuk trotoar seolah menantang siapa saja yang berani menghalanginya.

“Mecca! Tunggu!”

Suara itu melengking dari belakang, napasnya terengah-engah, dan sangat ia kenal. Naya, sahabatnya sejak hari pertama orientasi kampus, berlari kecil mengejar sambil memeluk gelas kopi es yang nyaris tumpah.

“Kamu ini, jalan saja seperti dikejar setan,” kata Naya sambil mengatur napas setelah berhasil menyamai langkahnya. “Saya baru saja keluar dari lift, kamu sudah pergi secepat pelari maraton.”

Mecca menoleh sekilas, sudut bibirnya terangkat sedikit. “Yang lambat itu kamu, Nay. Bukan saya yang berjalan terlalu cepat.”

“Sama saja saja!”

Mereka berjalan berdampingan menuju halte bus kampus. Pagi itu Jakarta tetap seperti biasa panas, bising, dan dipenuhi orang-orang yang terburu-buru, mengejar sesuatu yang mungkin tak akan pernah benar-benar mereka temukan. Tapi Mecca tak pernah merasa dirinya bagian dari keramaian itu. Ia tahu persis apa yang ia kejar: gelar sarjana bisnis, karier yang dibangun sendiri, dan kebebasan benar-benar bebas dari siapa pun yang ingin mengatur hidupnya.

Termasuk kedua orang tuanya.

“Eh, tadi pagi ibumu menghubungimu lagi?” tanya Naya sambil menyeruput kopinya.

Mecca mendengus pelan. “Kapan dia tidak? Sudah tiga kali menelepon pagi ini, bahkan sebelum saya bangun.”

“Apa maunya?”

“Entahlah, saya tidak angkat.” Mecca mengangkat bahu. “Pasti soal pulang ke rumah lagi. Atau lagi menguliahi soal ‘masa depan yang harus dipikirkan dari sekarang’.” Ia menirukan nada ibunya dengan begitu pas sampai Naya hampir menyemburkan kopinya.

“Kamu jahat sekali sama ibumu, tahu.”

“Bukan jahat. Hanya realistis.” Mecca menatap lurus ke depan. “Saya sayang mereka, Nay. Tapi kalau saya menuruti semua kemauan mereka, saya bukan lagi Mecca. Saya cuma akan jadi boneka yang digerakkan sesuka hati.”

Naya terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia sudah cukup lama mengenal Mecca untuk tahu di balik kata-kata yang terdengar tajam itu, ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang mungkin Mecca sendiri belum sepenuhnya sadari.

Bus kampus tiba. Mereka naik dan duduk di barisan paling belakang. Bahkan sebelum bus bergerak, Mecca sudah membuka laptopnya; presentasi Manajemen Strategi menantinya, dan ia tak pernah melakukan sesuatu setengah-setengah.

“Kamu sudah menyelesaikan presentasinya?” tanya Naya, melirik layar yang sudah penuh dengan susunan slide yang rapi.

“Sudah, sejak tiga hari lalu.”

“Tiga hari lalu —” Naya menatapnya tak percaya. “Mec, presentasinya baru besok.”

“Justru itu. Saya mau perbaiki lagi.”

Naya menggeleng-gelengkan kepala. “Kadang saya bingung, kamu ini mahasiswi atau CEO perusahaan besar.”

Mecca tak menjawab, tapi sudut bibirnya sedikit tersenyum. CEO. Kata itu terasa aneh di telinganya pagi ini, meski ia tak tahu alasannya.

Di kampus, Mecca adalah sosok yang tak bisa diabaikan. Bukan karena ia berisik walau suaranya selalu terdengar tegas di setiap diskusi melainkan karena caranya berbicara membuat orang lain berhenti dan mendengarkan. Dosen menyebutnya “kritis”. Teman-teman menyebutnya “galak”. Bagi Mecca sendiri, itu cuma satu hal: jujur.

“Saya tidak setuju dengan analisis kelompok tiga.”

Suara Mecca membelah ruangan saat diskusi berlangsung. Beberapa teman menoleh, ada yang menghela napas mereka sudah hafal sifatnya itu.

“Strategi masuk pasar yang kalian usulkan terlalu konservatif untuk selera Gen-Z,” lanjutnya sambil berdiri dari kursi tanpa diminta. “Data yang dipakai berasal dari tahun 2021. Tiga tahun lalu. Keadaan sekarang sudah berubah sepenuhnya.”

Ketua kelompok tiga, Adit, menatapnya kesal sekaligus kagum. Ekspresi yang kini kerap muncul di wajah siapa pun yang berhadapan dengan Mecca Ardani.

“Lalu menurutmu bagaimana?” tantang Adit.

Mecca tersenyum tipis bukan senyum yang manis, melainkan senyum penuh keyakinan. “Kalau mau, setelah kelas selesai saya berikan referensinya. Gratis.”

Satu kelas tertawa. Dosen tersenyum sambil menggeleng. Mecca duduk kembali dengan perasaan puas yang tulus; ia tak butuh pujian, tapi menyampaikan apa yang benar sudah seperti naluri yang tak bisa ia tahan.

Setelah kelas usai, mereka duduk di kantin. Mecca memesan nasi goreng dan es teh sederhana sekali untuk anak dari keluarga berada, hal yang kerap membuat orang lain heran.

“Sebenarnya kamu bisa saja hidup enak, Mec,” kata Naya sambil menatap piring di depannya. “Mobil disediakan, apartemen dibayarkan, uang saku berlimpah. Tapi kamu malah memilih naik bus kampus dan makan di sini.”

“Itu mobil milik Ayah, bukan milik saya,” jawab Mecca tenang. “Saya ingin hidup dari hasil kerja saya sendiri. Uang mereka selalu ada syaratnya, Nay. Selalu.”

“Syarat apa?”

Mecca menusuk nasi gorengnya sedikit terlalu kuat. “Tunduk.”

Satu kata itu menggantung di udara berat, sunyi.

Ponsel di meja bergetar. Layarnya menyala: Mama. Panggilan keempat hari ini. Mecca menatapnya tiga detik cukup lama merasakan sesak di dada, tapi belum cukup untuk membuatnya menyerah.

Ia membalikkan ponsel, layarnya menempel ke meja.

“Tidak diangkat?” tanya Naya pelan.

“Nanti,” jawab Mecca. Tapi nada suaranya berkata lain: mungkin tidak sekarang, mungkin tidak besok, mungkin tidak sampai ia siap menghadapi apa pun yang menanti di ujung telepon itu.

Mecca belum tahu panggilan kali ini berbeda dari yang lain.

Ia belum tahu, bahwa di rumah keluarganya yang besar di Menteng, kedua orang tuanya sedang duduk berhadapan dengan seseorang, seorang pria yang namanya belum pernah ia dengar, tapi yang akan mengubah seluruh arah hidupnya.

Yang ia tahu hari ini hanyalah satu hal: ia adalah Mecca Ardani, dan tak seorang pun berhak menentukan jalan hidupnya.

Belum ada yang memberitahunya takdir punya rencana lain.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status