Share

Rencana Surya

last update publish date: 2026-01-04 23:57:34

Maya menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.

“Aku… pernah dengar,” katanya pelan. “Bukan dari dia langsung. Tapi waktu itu Surya ngobrol sama orang kepercayaannya.”

Evan tidak menyela. Tatapannya tenang, tapi menekan.

“Dia nggak nyebut nama tempat,” lanjut Maya. “Cuma… sebuah pulau.”

Alis Evan mengerut. “Pulau?”

Maya mengangguk cepat. “Pulau yang katanya aman. Sepi. Jauh dari jalur kapal.”

Ia menarik napas, berusaha mengingat. “Tempat yang nggak semua orang bisa datang.”

“Di mana?” tanya E
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 225

    Celine mengerutkan keningnya dalam-dalam. Alih-alih merasa bersalah, ia justru menatap suaminya dengan pandangan yang benar-benar heran. Jarak wajah mereka yang begitu dekat, membuat Celine bisa melihat dengan jelas bagaimana sepasang mata elang suaminya yang biasa memancarkan ketegasan mutlak, kini justru tampak sayu dan dipenuhi sisa-sisa kepanikan. Aldean tidak langsung menjawab. Pria berkepala empat itu justru mengembuskan napas berat yang terasa hangat di wajah Celine. Alih-alih melepaskan cengkeramannya pada bahu sang istri, Aldean malah dengan sengaja menjatuhkan dahinya untuk bertumpu di bahu istrinya itu. ​Ya, seorang Aldean Devantara yang selama ini disegani di dunia bisnis, kini menumpahkan seluruh beban di kepala dan tubuhnya di bahu istrinya, seolah-olah kekuatannya mendadak menghilang begitu saja karena kelelahan mental. ​“Aku nggak sedang bercanda, Celine...” gumam Aldean, suara baritonnya yang berat kini terdengar begitu pelan, serak, dan... merajuk. “Jangan coba-

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 224

    Pikiran-pikiran buruk itu terus menggelayuti benak Aldean, membuat dadanya kian bergemuruh dihantam kecemasan.Tak lama kemudian, Aldean segera merogoh saku celananya dengan gerakan kasar, menyambar ponselnya lalu dengan cepat mendial nomor Celine. Ponsel itu ditempelkan erat ke telinganya, sementara kakinya berjalan mondar-mandir di tengah lorong dengan rahang yang mengeras rapat dan pelipis yang mulai dihiasi bulir keringat dingin.Tut... Tut... Tut...Hanya suara nada sambung yang monoton yang menyahut panggilannya. Tidak ada jawaban. Aldean mematikan sambungan, lalu kembali menekan tombol panggil dengan ibu jari yang mulai bergetar samar. Satu kali, dua kali, tiga kali... tetap sama. Panggilannya diabaikan begitu saja.“Angkat, Sayang... Tolong angkat...” bisik Aldean parau, suaranya kini dipenuhi nada frustrasi yang teramat nyata.Kedewasaan dan ketenangan pria berkepala empat itu runtuh seketika. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Aldean Devantara, ia merasa sekujur tubuh

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 223

    Aldean menatap putrinya lekat-lekat, jemarinya merapikan anak rambut Kayra yang berantakan dengan penuh kesabaran.​Kayra meremas selimut rumah sakit dengan tangan kirinya yang bebas, menyalurkan rasa sesak yang kembali menghantam dadanya. Air mata perempuan itu kembali menetes deras, kali ini benar-benar murni karena rasa takut yang teramat sangat.​“Pa... gimana kalau Celine sudah telanjur benci banget sama aku?” bisik Kayra, suaranya bergetar hebat dan tercekat oleh isakan. “Kemarin... kemarin aku udah jahat banget sama dia. Aku selalu ngatain dia perempuan nggak tahu diri, aku maki-maki dia dengan kata-kata keji yang nggak pantas... aku selalu pojokin dia...”​Kayra mendongak, menatap Aldean dengan sepasang mata sembap yang memancarkan keputusasaan yang begitu nyata.​“Aku takut Celine udah nutup pintu maafnya buat aku, Pa. Aku takut kalau nanti aku minta maaf, dia bakal buang muka dan nggak mau lagi nerima aku sebagai sahabatnya... aku nggak sanggup kalau harus kehilangan Celine

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 222

    Mendengar seluruh tumpahan ketakutan yang keluar dari bibir putrinya barusan, Aldean benar-benar merasa dadanya seperti dihantam palu besi yang teramat besar. Sesak, perih, dan hancur lebur menjadi satu.Kekhawatiran yang dulu sempat ia takutkan kini benar-benar terwujud di depan matanya.Dan yang paling mengiris hatinya adalah kenyataan bahwa dialah orang yang telah meruntuhkan dunia Kayra. Dialah yang kemarin, dalam kepungan amarah, tega menguliti kebenaran itu hingga membuat putrinya terpuruk dan mengalami kecelakaan tragis ini.Aldean memejamkan matanya rapat-rapat. Satu tetes air mata penyesalan lolos melewati pipinya yang tegas.Namun, ia adalah seorang ayah. Di tengah hancurnya pertahanan diri dan posisi rumitnya sebagai suami dari Celine sekaligus papa dari Kayra, kedewasaan dan naluri pelindungnya menolak untuk ikut tumbang. Pria itu harus menjadi tiang kokoh tempat putrinya bersandar.Perlahan, Aldean bangkit dari duduknya. Dengan gerakan yang teramat lembut dan penuh kehat

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 221

    Detik itu juga, kata-kata Kayra melesat bak anak panah beracun yang langsung menancap telak, membekukan seluruh udara di dalam ruangan. Kalimat yang begitu tenang, namun sarat akan penolakan tajam dan jarak yang sengaja dibentangkan lebar-lebar.​Celine seketika membeku di tempatnya berdiri. Senyum tulus yang beberapa detik lalu ia tunjukkan langsung luruh seketika, menyisakan wajah yang mendadak pias dan pucat pasi.Sadar diri bahwa keberadaannya sama sekali tidak diinginkan di sini, Celine menarik napas dalam, mencoba menelan bulat-bulat rasa perih yang menggores hatinya demi menjaga ketenangan psikis sahabat dekatnya itu.​Ia menatap Aldean, memberikan anggukan kecil yang mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja. Sembari memaksakan sebuah senyum tipis, Celine menyentuh lembut lengan suaminya.​“Mas... kalau begitu aku keluar sebentar, ya. Mau sekalian cari udara segar di depan.”​Aldean menatap Celine dengan sorot mata yang dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam. Ada rasa sesak ya

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   220

    Dokter itu tersenyum tipis, mencoba memberikan ketenangan fungsional khas dunia medis. “Kondisi fisik Nona Kayra secara keseluruhan sudah cukup membaik dan stabil, Pak Aldean. Luka-luka luar di kepalanya sudah dibersihkan kembali dan tidak ada tanda-tanda infeksi.”Dokter menjeda kalimatnya sejenak sambil mencatat sesuatu di papan klip medisnya.“Semalam, beberapa jam setelah Nona Kayra benar-benar sadar dari efek anestesi total, tim medis kami juga sudah kembali memeriksa respons tubuhnya. Detak jantung dan tekanan darahnya bagus. Sejauh ini, dari sisi medis klinis, tidak ada komplikasi yang perlu dicemaskan.”Mendengar penuturan itu, Aldean mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dada. Bahunya yang tegap tampak sedikit merileks, memancarkan rasa lega yang teramat besar meski hatinya masih menyimpan secuil keraguan.“Terima kasih, Dokter. Syukurlah kalau fisiknya stabil,” sahut Aldean dengan suara baritonnya yang masih terdengar serak.Namun, senyum di wajah dokter itu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status