Mag-log inCeline belum sempat menyelesaikan kalimat protesnya saat tiba-tiba Aldean sudah menunduk dan mendaratkan kecupan singkat namun dalam di bibir ranum Celine. Bukan kecupan menuntut yang kasar, melainkan pagutan lembut yang sarat akan perasaan posesif dan rasa lega karena wanita ini akhirnya kembali ke pelukannya.Celine terbelalak, tangannya refleks mencengkeram kerah kemeja Aldean karena kakinya mendadak terasa lemas seperti jeli.Begitu tautan bibir mereka terlepas, Aldean tidak menjauhkan wajahnya. Ibu jarinya mengusap lembut bibir Celine yang kini sedikit basah oleh saliva, sementara matanya menatap intens kelopak mata Celine yang bergetar.“Itu baru uang mukanya,” bisik Aldean dengan suara yang makin dalam, sukses membuat bulu kuduk Celine meremang hebat.“Hukuman aslinya... temani aku begadang malam ini. Jangan harap kamu bisa tidur cepat, Sayang.”Celine belum sempat mencerna arti kata ‘begadang’ dari ucapan suaminya saat tiba-tiba tubuhnya terasa melayang ke udara.“Kyaaa! Om
Sebuah kehangatan tiba-tiba menyergap punggung tegap Aldean dari belakang. Dua lengan mungil Celine melingkar erat di sekitar pinggang kokoh suaminya. Wanita itu menyembunyikan wajahnya di punggung lebar sang suami, mencengkeram kemeja hitam Aldean hingga berkerut.Aldean tersentak, langkahnya terkunci. Jantungnya berdesir hebat.“Om... maaf,” cicit Celine dari balik punggung Aldean, suaranya meredam namun terdengar sangat tulus. “Maaf karena aku udah salah paham, maaf karena aku nggak tahu jalan pikiran Om yang sebenarnya... dan maaf juga karena tadi udah buat Om cemas sampai hampir gila.”Mendengar kalimat terakhir Celine, sudut bibir Aldean langsung tersungging membentuk seringai tampan. Perasaan kesal, cemas, dan cemburu yang sempat menguasainya sebelumnya menguap seketika, tergantikan oleh letupan rasa gemas yang membuncah di dadanya.Aldean perlahan melepaskan pelukan tangan Celine di pinggangnya, lalu memutar tubuhnya untuk kembali menghadap sang istri. Tanpa aba-aba, ia me
Aldean tersentak. Amarah posesifnya mendadak runtuh, digantikan oleh kilat rasa bersalah yang teramat pekat di matanya. Ia tahu ia egois. Ia tahu ia telah menorehkan luka baru di hati istri kecilnya ini.Pria itu menatap Celine yang menunduk dengan bahu yang bergetar pelan karena menahan tangis. Menghela napas dalam-dalam, Aldean memutuskan untuk menurunkan seluruh egonya. Ia kembali merapatkan tubuhnya, memangkas jarak hingga dada bidangnya menempel pada tubuh Celine.Jemari kekar Aldean yang hangat bergerak lembut, menyentuh pipi lalu ke dagu Celine dan mendongakkannya perlahan, memaksa sepasang mata indah yang basah itu menatapnya kembali.“Iya, aku salah karena sudah membuatmu terluka soal masalah itu. Aku minta maaf, Cel,” bisik Aldean. Suaranya kini berubah drastis, menjadi serak, lembut, dan sarat akan penyesalan.Aldean membawa kedua tangannya untuk membingkai wajah cantik Celine, mengusap sisa air mata di pipi istrinya dengan ibu jari. Mode merajuk kekanak-kanakannya runtuh t
Bip.Suara smart lock berbunyi pendek, disusul pintu unit apartemen yang terbuka lebar. Begitu melangkah masuk, Celine langsung melepaskan cengkeraman Aldean dari pergelangan tangannya dengan sentakan kasar.Debuman pintu yang ditutup rapat oleh Aldean di belakangnya seolah memutus seluruh sisa kebisingan dari luar. Seketika, keheningan yang mencekam langsung menyergap ruang tengah apartemen yang luas, tapi terasa begitu sempit karena atmosfer tegang sekaligus intim di antara mereka.Celine membalikkan tubuhnya, berjalan beberapa langkah lalu melempar tas kecilnya ke atas sofa dengan kasar.Dada perempuan bertubuh mungil itu naik turun menahan pasokan oksigen yang mendadak terasa menipis. Amarah, kekecewaan, dan rasa sesak yang ia telan bulat-bulat sejak pertengkaran mereka tadi sore di kantor—soal Aldean yang memintanya mengalah demi menjaga perasaan Kayra—kini kembali mendidih ke permukaan.“Maksud Om Dean tadi di taman apa, sih?!” sembur Celine seketika, membalikkan badan menghad
Celine menahan napas. Lidahnya mendadak kelu, terjepit di antara pilihan untuk tetap menjaga rahasia pernikahan mereka sesuai kesepakatan, atau menyelamatkan Darrel dari amukan monster cemburu di hadapannya saat ini.Di sisi lain, Celine juga sangat takut jika Aldean yang sedang kehilangan akal sehat ini akan membuat keributan di depan Shaka yang masih kecil.Alih-alih menjawab tuntutan Aldean, Celine justru melakukan hal yang sama sekali tidak diduga oleh kedua pria itu. Dengan mantap, tangan kecilnya bergerak maju, menyusup di antara jemari kekar Aldean, lalu mencengkeram pergelangan tangan suaminya dengan teramat erat.“Om, ayo pulang,” kata Celine cepat, suaranya sedikit bergetar namun penuh penekanan.Aldean tersentak. Alis tebalnya menukik tajam. Ia menunduk, menatap tangannya yang digenggam erat oleh Celine, lalu kembali menatap istrinya itu dengan sorot mata tidak terima.“Apa? Pulang? Begitu saja?” geram Aldean dalam hati, egonya berontak hebat.Sialan.Dia sudah menyetir sep
Mendengar pertanyaan itu, Aldean mendengus sinis. Langkah kakinya yang besar langsung memotong jarak, bergerak maju hingga tubuh tegapnya berdiri angkuh tepat di hadapan Celine, mengurung perempuan itu dalam bayang-bayang tubuh besarnya.“Ngapain aku di sini?” Aldean mengulang pertanyaan Celine dengan nada rendah, tak habis pikir.Mata elang Aldean menatap Celine dengan kilat cemburu yang begitu pekat, namun terselip binar terluka dan merajuk yang hanya ia tunjukkan pada istrinya.Jiwa dominannya bergejolak hebat, tidak terima karena alih-alih merasa bersalah karena sudah pergi tanpa kabar, Celine malah menyambutnya dengan wajah seolah ia adalah pengganggu.“Kamu mematikan ponselmu, mengabaikan panggilanku, dan membiarkan aku hampir gila seperti orang tolol di rumah karena mencemaskanmu, Celine,” bisik Aldean, suaranya beralih menjadi sangat dalam dan dingin, namun terdengar begitu posesif dan penuh tuntutan.“Dan sekarang kamu bertanya ngapain aku di sini? Di saat kamu malah asyik







