Chapter: BAB. 264Keheningan menyelimuti ruangan itu, namun gaung pengakuan Surya masih terus memukul dinding kesadaran Celine, membuat tubuhnya membeku di tempatnya berdiri. Napasnya kembang-kempis, sementara jemari lentiknya yang gemetar hebat meremas selembar kertas kusam dalam genggamannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh satu per satu, menetes membasahi pipinya.Melihat istrinya yang tampak begitu rapuh dan terguncang, Aldean tak membuang waktu satu detik pun. Pria itu segera mengikis jarak, merengkuh tubuh Celine ke dalam pelukan hangat. Ia melingkarkan kedua lengan kekarnya di sekeliling tubuh Celine, menenggelamkan kepala istrinya di dada bidangnya yang berdetak tenang dan menenangkan.“Mas...” suara Celine pecah di balik dada Aldean, terisak pelan dengan nada parau. “Jadi... Papa kandungku masih hidup? Dia disingkirkan... cuma karena dia miskin dan demi menutupi aib keluarga?”Aldean memejamkan mata rapat-rapat, mengeratkan pelukannya seolah tak ingin membiarkan satu titik pun
Dernière mise à jour: 2026-09-18
Chapter: BAB. 263Dua orang Petugas Pengawal Tahanan berseragam rapi melangkah masuk, mengawal Surya dengan kedua tangan yang terborgol di depan. Pria paruh baya itu sebelumnya telah memohon pada petugas agar diberi waktu satu menit saja untuk bicara pada Celine sebelum dipindahkan ke sel tahanan sementara.“Permisi...” ujar salah satu petugas sopan. “Ada yang ingin bertemu dengan Nona Celine sebentar.”Petugas itu memberi isyarat. Surya mengangguk pelan, lalu melangkah ragu mendekati Celine dan Aldean yang berdiri berdampingan. Dua petugas pengawal tetap berada di belakangnya, memastikan jarak aman.Melihat kehadiran Surya, raut wajah Aldean seketika berubah dingin dan protektif. Pria itu langsung meletakkan satu tangannya di pinggang Celine, membentengi posisi istrinya.“Mau apa lagi kamu?” tegur Aldean tajam dan menekan.Surya tidak menatap Aldean. Matanya yang sembap dan memerah berfokus penuh pada Celine. Dengan tangan terborgol yang bergetar hebat, Surya merogoh saku rompi tahanannya, lalu mengel
Dernière mise à jour: 2026-09-06
Chapter: BAB. 262Tangan kanan Kayra meremas ujung roknya sendiri, matanya menatap kosong ke lantai dingin ruang sidang. Bayangan Amira yang terseret keluar dengan kursi roda dan terisak histeris mendadak berputar di kepalanya."Seumur hidup" Kata itu terus bergema memekakkan telinganya. Bagaimanapun jahatnya racun yang pernah disebar wanita itu, ada bagian kecil di hati Kayra yang meringis membayangkan ibu kandungnya harus membusuk di dalam bui sampai akhir hayat, tanpa pernah menghirup udara bebas lagi.Melihat perubahan raut wajah putrinya yang mendadak muram, Aldean yang sejak tadi fokus pada Celine langsung menoleh. Sepasang mata elangnya meneliti wajah Kayra dengan penuh kecemasan.“Kay?” panggil Aldean rendah, memecah lamunan anak gadisnya.Kayra tersentak kecil, mendongak kaget saat mendapati Papanya sedang menatapnya dengan intens. Celine pun ikut memiringkan tubuh, menyapu raut wajah Kayra dengan tatapan lembut yang berbalut rasa khawatir.“Kamu kenapa, Nak? Ada yang sakit?” tanya Aldean memp
Dernière mise à jour: 2026-09-05
Chapter: BAB. 261“Maaf?”Celine terkekeh sumbang—sebuah tawa hambar berbalut air mata yang akhirnya menetes di pipinya.“Kata maaf dari Papa nggak akan pernah bisa mengembalikan Mama. Kata maaf dari Papa nggak bisa menghapus setiap luka dan rasa sakit yang harus aku tanggung selama bertahun-tahun gara-gara kebejatan Papa!”Celine menyapu air matanya dengan kasar, lalu menegakkan tubuhnya kembali. Ia menatap Surya dengan tatapan paling tegas yang pernah ia miliki.“Pintu maafku terlalu mahal untuk pria yang sudah menghancurkan hidupku dan merenggut Mamaku,” ucap Celine dingin, tanpa setitik pun keraguan.Mendengar itu, Surya seketika terkulai lemas di kursinya. Kepala pria paruh baya itu tertunduk makin dalam, bahunya bergetar hebat diiringi isakan penyesalan yang tertahan.Celine segera membalikkan badan dengan anggun, memunggungi pria tua yang kini hancur oleh dosanya sendiri. Ia melangkah mantap menuju pintu keluar, tidak sudi membuang waktunya walau hanya satu detik lagi di ruangan dingin tersebut
Dernière mise à jour: 2026-09-04
Chapter: BAB. 260Langkah kaki Celine bergema anggun di sepanjang koridor Pengadilan Negeri. Evan berjalan satu langkah di depannya, berperan sebagai pemandu jalan sekaligus perisai pembuka pintu. Di belakang Celine, Aldean dan Kayra mengiringi dengan jarak yang cukup menjaga ketenangan Celine, namun tetap memberikan kehangatan perlindungan dari balik punggungnya.Begitu tiba di depan pintu kayu cokelat gelap dengan papan bertuliskan Ruang Tunggu Khusus 2, Evan menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan ke arah Celine, mengangguk sopan, lalu mengetuk pintu dua kali sebelum mendorongnya terbuka.“Silakan, Nona Celine,” ucap Evan tenang.Celine menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan lewat bibir. Ia membetulkan letak blazer-nya, menegakkan bahu, lalu melangkah melewati ambang pintu dengan kepala tegak dan pandangan tertengadah.BAM.Pintu kayu di belakangnya tertutup rapat, menyisakan keheningan mencekam yang mendadak menyelimuti ruangan bersuhu dingin tersebut.Di sudut ruangan, seorang
Dernière mise à jour: 2026-09-03
Chapter: BAB. 259Di dalam ruangan yang tertutup rapat itu, Amira masih meraung dan terisak-isak sendirian. Wanita berrompi oranye itu sama sekali tidak menyangka bahwa rencananya gagal total. Ia yang awalnya begitu percaya diri ingin bertemu Kayra demi meracuni kembali pikiran sang anak—memanfaatkannya agar membelanya di persidangan—kini hanya bisa menelan kepahitan.Alih-alih mendapatkan simpati, kebohongan dan rahasia berdarah yang ia sembunyikan justru terkuliti habis oleh anaknya sendiri. Pertemuan yang ia kira bakal jadi kartu as-nya justru mendorong Amira makin dalam ke dasar jurang kehancuran yang paling kelam.Sementara itu, di luar ruangan, atmosfer terasa jauh lebih lega. Udara dingin koridor pengadilan seolah menyapu bersih hawa beracun yang baru saja mereka tinggalkan di dalam.Celine mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Sepasang matanya masih berkaca-kaca, namun ada kelegaan luar biasa yang terpancar di paras cantiknya.Aldean memiringkan tubuhnya, pertama-tama
Dernière mise à jour: 2026-09-02
Chapter: BAB. 110Sendok terakhir diletakkan perlahan. Jasmine menarik napas kecil, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Namun matanya tetap tertuju pada Martha, seolah tidak ingin kehilangan satu detik pun. Jeda beberapa detik, lalu Jasmine tiba-tiba berdiri. Gerakannya cepat dan antusias. “Ayo, Bibi!” katanya, suaranya langsung hidup, penuh semangat. “Ke kamarku. Kita ngobrol di sana.” Ia bahkan sudah menarik pergelangan tangan Martha sedikit. “Aku mau cerita banyak… dan aku juga mau dengar semua cerita dari Bibi. Aku akan tunjukkan kamarku juga—” “Nanti, ya Nona.” Kata-kata itu memotong dengan lembut, namun cukup untuk membuat langkah Jasmine terhenti. Jasmine menoleh cepat. “Maksudnya…?” Martha tersenyum kecil. Ada rasa bersalah di sana, tapi juga ketegasan. “Tidak sekarang, Nona…” Jasmine mengerutkan kening. “Tapi—” “Saya masih ada pekerjaan,” lanjut Martha pelan. “Tuan Zein sudah memberikan saya kesempatan bekerja di sini… saya tidak boleh menyia-nyiakannya.” Nada suarany
Dernière mise à jour: 2026-03-19
Chapter: BAB. 109Martha terdiam beberapa detik, lalu menggeleng pelan.“Bukan sekarang, Nona…”Jasmine langsung mengerutkan kening.“Kenapa?”Martha tersenyum lembut.“Akan saya ceritakan… nanti.”“Tapi Bi—”“Sekarang…” Martha menepuk pelan punggung tangan Jasmine, “…lebih baik Nona sarapan dulu.”Jasmine menatap Martha tidak percaya.“Aku tidak mau makan,” katanya cepat. “Aku cuma mau bicara sama Bibi.”“Jasmine...”Zein yang sejak tadi hanya dia, akhirnya mulai membuka suara. Nadanya tenang dan rendah, namun cukup untuk membuat Jasmine menoleh padanya.Zein melangkah mendekat.“Sarapan dulu,” ujarnya singkat sambil mengusap lembut puncak kepala Jasmine, penuh sayang.Jasmine menatapnya, masih ada sisa rasa penasaran di matanya.“Kamu tahu sesuatu, kan?” tanyanya langsung pada Zein. “Kamu harus jelasin ini—”“Iya, Sayang... nanti,” potong Zein tanpa menaikkan suara. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke Martha.“Bagaimana menurutmu, Martha?”Martha sedikit menunduk, lalu menjawab pelan, “Benar sekali,
Dernière mise à jour: 2026-03-19
Chapter: BAB. 108Jasmine menggeleng pelan, lalu matanya melebar seketika.“B-Bi Martha?” suaranya jatuh pelan, tidak percaya.Wanita tua itu menatapnya dengan lembut, tatapan itu benar-benar sama seperti dulu.“Iya…” jawabnya pelan. “Ini saya, Nona Jasmine.”Hening.Jasmine terdiam, tidak langsung mendekat, tidak langsung percaya.Tangannya perlahan terangkat, mengucek matanya berkali-kali, lalu berkedip cepat, menatap kembali. Ia takut pandangannya mengabur lagi seperti kemarin dan salah mengenali orang.Namun wajah itu tetap sama. Tidak mengabur, tidak hilang. Itu Nyata.“Tidak mungkin…” bisiknya. Dadanya mulai sesak. “Ini… bukan mimpi… kan…?”Martha tidak menjawab dengan kata-kata.Hanya menatap Jasmine dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca.Detik berikutnya, air mata Jasmine jatuh tanpa bisa ditahan.“Bi Martha…!”Ia langsung berlari, memeluk wanita itu erat, seolah takut sosok itu akan menghilang jika dilepaskan.Martha membalas pelukan itu dengan sama eratnya, tangannya mengusap punggung Jasm
Dernière mise à jour: 2026-03-19
Chapter: BAB. 107Malam sudah larut saat mobil hitam itu memasuki halaman mansion. Lampu-lampu taman menyala redup, memantulkan bayangan panjang di jalan setapak. Suasana sunyi, hanya beberapa pengawal yang berjaga. Mobil berhenti. Liam turun lebih dulu, lalu membuka pintu belakang. Zein keluar tanpa banyak bicara. Wajahnya kembali seperti biasa—tenang, dingin, dan tidak terbaca. Tidak ada sisa emosi yang sempat muncul di markas tadi. “Tuan,” ucap Liam singkat. Zein melangkah satu langkah, lalu berhenti. “Besok pagi,” katanya tanpa menoleh, “bawa dia ke mansion.” Liam tidak langsung menjawab, tapi hanya dalam satu detik ia mengerti. “Baik, Tuan.”Zein mengangguk tipis. Tanpa berkata lagi, ia melangkah masuk ke dalam mansion. Lorong panjang itu kembali menyambutnya dengan keheningan.Langkahnya pelan dan terukur, tapi kali ini ada tujuan yang lebih jelas. Tanpa singgah ke mana pun, ia langsung menuju lantai dua mansion itu—ke satu tempat, ke satu orang. Pintu kamar di hadapannya terbuka per
Dernière mise à jour: 2026-03-19
Chapter: BAB. 106Beberapa hari kemudian...Siang merambat pelan di balik dinding kaca tebal. Langit tampak cerah, tapi kehangatan itu seolah tidak pernah benar-benar masuk ke dalam ruangan itu.Ruang kerja Zein di markas Blackthorne Syndicate tetap sama seperti biasa—hening, rapi, dan dingin.Di balik meja besar berlapis kayu gelap, Zein duduk tegak. Jasnya masih sempurna, seolah waktu tidak pernah menyentuhnya sejak pagi.Beberapa berkas terbuka di hadapannya. Dokumen kerja sama, angka-angka, nama-nama sekutu, dan tanda tangan yang nilainya jauh melampaui sekadar bisnis.Zein menelusuri satu halaman dari berkas terakhir. Tatapannya bergerak perlahan, baris demi baris, tajam, teliti, tidak ada yang terlewat satu pun.Ujung jarinya mengetuk pelan permukaan meja. Sekali, dua kali, lalu berhenti. Seolah keputusan sudah terbentuk bahkan sebelum seluruh isi dokumen selesai dibaca.Keheningan menggantung, hanya suara halus kertas yang bergeser, lalu tiba-tiba pintu terbuka dari luar tanpa suara berlebihan.
Dernière mise à jour: 2026-03-19
Chapter: BAB. 105Jasmine terdiam beberapa detik.Tatapannya bertemu dengan mata Zein yang masih menatapnya—dalam, tanpa berpaling, seolah benar-benar menunggu. Ada sesuatu di sana, lembut namun juga tidak mau kalah.Jasmine menghela napas pelan.“Dasar kamu…” gumamnya lirih.Namun pada akhirnya, ia menunduk.Cup.Bibirnya menyentuh pipi Zein singkat, hangat, dan seharusnya cukup. Namun, Zein tidak menjauh, justru sudut bibirnya terangkat tipis.“Bukan di situ, Sayang...”Jasmine langsung mengernyit.“Zein kamu itu—”Zein menggeleng pelan, memotong kalimat Jasmine. Matanya tidak lepas darinya.“Yang ini,” katanya sambil tatapannya turun ke bibir Jasmine.Jasmine tercekat.“Nakal.”“Serius.”Jasmine menatap Zein beberapa detik, seperti sedang menimbang, atau mungkin hanya pura-pura bertahan. Namun pada akhirnya, ia menyerah.Perlahan, Jasmine mendekat. Jarak di antara mereka menghilang sedikit demi sedikit. Napas mereka bersentuhan hangat, dekat, dan saat bibir mereka akhirnya bertemu, tidak ada keragua
Dernière mise à jour: 2026-03-19