Chapter: BAB. 159Kayra berjalan cepat ke arah Celine. Tatapannya tajam.“Jangan panggil aku seperti itu!”Suara Kayra menggema di seluruh ruangan. Semua staf langsung saling pandang.Vita menatap Celine dengan bingung. “Ada apa ini?”Kayra berhenti tepat di depan Celine. Tatapannya penuh kemarahan.“Jadi selama ini kamu yang sudah menyakiti Mamaku?”Celine mengerutkan dahi.“Apa maksudmu, Kay?”Kayra tertawa sinis.“Apa kamu beneran mau pura-pura nggak tahu, Celine?!”Celine benar-benar tidak mengerti.“Kay, aku nggak paham—”“Jangan pura-pura!”Suara Kayra meninggi. Ia menunjuk langsung ke wajah Celine.“Kamu yang membuat Mamaku jadi cacat seperti ini?!”Seluruh ruangan langsung gempar.Vita membelalak. “Apa?!”Beberapa staf mulai berbisik satu sama lain. Celine sendiri terlihat benar-benar terkejut.“Kay… apa yang kamu omongin?” tanya bingung.Kayra menatap Celine dengan mata penuh amarah.“Berhenti berpura-pura!”Ia menunjuk ke arah ibunya. “Kamu pikir aku tidak tahu? Mamaku cacat seperti ini gara-
Last Updated: 2026-03-14
Chapter: BAB. 158Amira menatap lurus ke mata putrinya.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata pelan, “Orang itu adalah… sahabatmu sendiri, Nak.”Kayra membeku.“…Apa?”Amira tetap menatap putrinya tanpa berkedip.“Celine.”Mata Kayra langsung membesar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.“Ma… apa Mama serius?”Namun sebelum Amira sempat menjawab, tiba-tiba terdengar tawa pendek dari arah meja kerja.Aldean.Pria itu terkekeh pelan. Bukan tawa keras, hanya satu hembusan tawa singkat yang terdengar begitu dingin di ruangan yang penuh ketegangan itu. Kayra langsung menoleh tajam.“Papa ketawa?”Aldean bersandar santai di kursinya. Tatapannya datar, hampir malas.“Menarik saja,” jawabnya ringan.Kayra semakin emosi.“Menarik?” ulangnya tak percaya. “Pa, Mama baru saja bilang Celine yang bertanggung jawab atas semua ini!”Aldean hanya mengangkat alis tipis.“Lalu?”Jawaban santai dari ayahnya itu justru membuat Kayra semakin marah.“Papa masih membela dia?” desaknya.Ald
Last Updated: 2026-03-13
Chapter: BAB. 157Sementara itu, di ruang kerja Aldean, suasana terasa jauh lebih tegang.Kayra berdiri di depan meja kerja besar itu, menatap ayahnya dengan emosi yang sulit ia sembunyikan. “Papa sadar, kan? Celine itu sahabat aku,” ucap Kayra dengan suara cukup keras. Aldean tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri tenang di balik meja kerjanya, menatap putrinya dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Papa sadar, Kay,” jawabnya pelan. “Kalau sadar, kenapa Papa masih melanjutkan hubungan itu?” desak Kayra. “Papa nggak mikir gimana perasaan aku? Gimana perasaan Mama?” Aldean tetap diam di tempatnya. Tak ada gerakan yang menunjukkan ia tersinggung atau marah. Justru ketenangannya itu yang membuat Kayra semakin kesal.“Papa,” lanjut Kayra, suaranya mulai bergetar, “aku datang ke sini bukan buat ribut. Aku cuma mau Papa berhenti.”Aldean mengangkat alis tipis.“Berhenti?”“Ya. Putusin Celine.” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Kayra. “Dan kembali ke Mama.”Sunyi menyelimuti ruangan. Kayra
Last Updated: 2026-03-12
Chapter: BAB. 156Beberapa detik berlalu, dan Amira masih terdiam.Evan akhirnya berdehem pelan, lalu bertanya, “Nyonya… Anda baik-baik saja?”Kesadaran Amira kembali seketika. Ia tersenyum tipis, seolah tidak terjadi apa-apa.“Ya, Van. Aku baik-baik saja. Memangnya menurutmu bagaimana?”“Ah—maaf, Nyonya.” Evan sedikit menundukkan kepala. “Saya hanya melihat wajah Anda agak pucat. Saya khawatir Anda merasa tidak enak badan.”Amira kembali tersenyum tipis.“Oh iya, Nyonya,” lanjut Evan dengan nada tetap tenang. “Anda belum menjawab pertanyaan saya tadi.”Amira terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara.“Begini ya, Van. Kadang masa lalu tidak selalu selesai dengan baik.”Evan tidak menyela. Ia hanya menunggu. Sementara Amira, menyandarkan punggungnya sedikit pada kursi roda.“Dia pernah menjadi rekan bisnis lama. Ada urusan yang tidak berjalan sesuai keinginannya.” Ia mengangkat bahu kecil. “Beberapa orang terlalu lama menyimpan sakit hati.”Nada bicaranya ringan. Hampir seperti sedang membicarakan sesu
Last Updated: 2026-03-12
Chapter: BAB. 155Evan terdiam sejenak sebelum akhirnya bertanya dengan hati-hati, “Tuan… apa Anda yakin?”Aldean mengunci tatapannya pada Evan.“Aku tidak mengambil langkah setengah-setengah, Van.”Evan langsung menangkap maksud itu. Keraguan yang sempat muncul di wajahnya pun menghilang seketika. Ia pun mengangguk mantap.“Baik, Tuan.”Aldean tidak menambahkan sepatah kata pun. Evan tahu, hari ini bukan hari biasa. Ia berbalik dan keluar dari ruangan untuk menjalankan perintah tuannya.Klik.Pintu tertutup pelan di belakangnya. Suasana kembali hening.Aldean tidak bergerak untuk beberapa saat, tetap berdiri di tempat yang sama, menatap layar laptop yang masih menyala. Matanya menatap benda itu dalam hening, lalu ia menarik napas pelan.“Sudah terlalu lama,” gumamnya rendah. Bukan dengan nada marah, tapi lebih seperti seseorang yang akhirnya memutuskan menutup sebuah bab...Ting.Lift berhenti di lantai eksekutif dengan bunyi pelan. Pintu terbuka perlahan, Kayra melangkah keluar lebih dulu, kemudian
Last Updated: 2026-03-08
Chapter: BAB. 154Nama Papa masih terpampang di layar saat panggilan akhirnya tersambung.“Halo, Kay,” suara Aldean terdengar tenang, dalam, dan terukur seperti biasanya.Kayra menelan ludah. “Papa…”“Ada apa, Nak?” tanyanya lembut.Kayra melirik Amira sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan.“Papa lagi di kantor?”“Hm.” Ada jeda singkat di seberang. “Iya. Kenapa?”“Aku mau ketemu Papa. Sekarang.”Hening beberapa detik. Tidak lama, tapi cukup membuat jantung Kayra berdetak lebih kencang.“Sekarang?” ulang Aldean pelan.“Iya. Ada yang mau aku omongin.”Di seberang sana terdengar embusan napas tipis. Bukan kaget, juga bukan keberatan. Lebih seperti seseorang yang memang sudah menunggu panggilan itu datang.“Kamu sama Mamamu?” tanya Aldean tiba-tiba.Kayra terdiam sejenak. “Iya.”Ada jeda lagi di seberang. Kali ini, sunyi itu lebih dalam.“Baik,” jawab Aldean akhirnya. Suaranya tetap stabil. “Papa tunggu di kantor.”Sesederhana itu. Tanpa bantahan. Tanpa pertanyaan lanjutan. Dan justru itulah yang me
Last Updated: 2026-02-22
Chapter: BAB. 110Sendok terakhir diletakkan perlahan. Jasmine menarik napas kecil, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Namun matanya tetap tertuju pada Martha, seolah tidak ingin kehilangan satu detik pun. Jeda beberapa detik, lalu Jasmine tiba-tiba berdiri. Gerakannya cepat dan antusias. “Ayo, Bibi!” katanya, suaranya langsung hidup, penuh semangat. “Ke kamarku. Kita ngobrol di sana.” Ia bahkan sudah menarik pergelangan tangan Martha sedikit. “Aku mau cerita banyak… dan aku juga mau dengar semua cerita dari Bibi. Aku akan tunjukkan kamarku juga—” “Nanti, ya Nona.” Kata-kata itu memotong dengan lembut, namun cukup untuk membuat langkah Jasmine terhenti. Jasmine menoleh cepat. “Maksudnya…?” Martha tersenyum kecil. Ada rasa bersalah di sana, tapi juga ketegasan. “Tidak sekarang, Nona…” Jasmine mengerutkan kening. “Tapi—” “Saya masih ada pekerjaan,” lanjut Martha pelan. “Tuan Zein sudah memberikan saya kesempatan bekerja di sini… saya tidak boleh menyia-nyiakannya.” Nada suarany
Last Updated: 2026-03-19
Chapter: BAB. 109Martha terdiam beberapa detik, lalu menggeleng pelan.“Bukan sekarang, Nona…”Jasmine langsung mengerutkan kening.“Kenapa?”Martha tersenyum lembut.“Akan saya ceritakan… nanti.”“Tapi Bi—”“Sekarang…” Martha menepuk pelan punggung tangan Jasmine, “…lebih baik Nona sarapan dulu.”Jasmine menatap Martha tidak percaya.“Aku tidak mau makan,” katanya cepat. “Aku cuma mau bicara sama Bibi.”“Jasmine...”Zein yang sejak tadi hanya dia, akhirnya mulai membuka suara. Nadanya tenang dan rendah, namun cukup untuk membuat Jasmine menoleh padanya.Zein melangkah mendekat.“Sarapan dulu,” ujarnya singkat sambil mengusap lembut puncak kepala Jasmine, penuh sayang.Jasmine menatapnya, masih ada sisa rasa penasaran di matanya.“Kamu tahu sesuatu, kan?” tanyanya langsung pada Zein. “Kamu harus jelasin ini—”“Iya, Sayang... nanti,” potong Zein tanpa menaikkan suara. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke Martha.“Bagaimana menurutmu, Martha?”Martha sedikit menunduk, lalu menjawab pelan, “Benar sekali,
Last Updated: 2026-03-19
Chapter: BAB. 108Jasmine menggeleng pelan, lalu matanya melebar seketika.“B-Bi Martha?” suaranya jatuh pelan, tidak percaya.Wanita tua itu menatapnya dengan lembut, tatapan itu benar-benar sama seperti dulu.“Iya…” jawabnya pelan. “Ini saya, Nona Jasmine.”Hening.Jasmine terdiam, tidak langsung mendekat, tidak langsung percaya.Tangannya perlahan terangkat, mengucek matanya berkali-kali, lalu berkedip cepat, menatap kembali. Ia takut pandangannya mengabur lagi seperti kemarin dan salah mengenali orang.Namun wajah itu tetap sama. Tidak mengabur, tidak hilang. Itu Nyata.“Tidak mungkin…” bisiknya. Dadanya mulai sesak. “Ini… bukan mimpi… kan…?”Martha tidak menjawab dengan kata-kata.Hanya menatap Jasmine dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca.Detik berikutnya, air mata Jasmine jatuh tanpa bisa ditahan.“Bi Martha…!”Ia langsung berlari, memeluk wanita itu erat, seolah takut sosok itu akan menghilang jika dilepaskan.Martha membalas pelukan itu dengan sama eratnya, tangannya mengusap punggung Jasm
Last Updated: 2026-03-19
Chapter: BAB. 107Malam sudah larut saat mobil hitam itu memasuki halaman mansion. Lampu-lampu taman menyala redup, memantulkan bayangan panjang di jalan setapak. Suasana sunyi, hanya beberapa pengawal yang berjaga. Mobil berhenti. Liam turun lebih dulu, lalu membuka pintu belakang. Zein keluar tanpa banyak bicara. Wajahnya kembali seperti biasa—tenang, dingin, dan tidak terbaca. Tidak ada sisa emosi yang sempat muncul di markas tadi. “Tuan,” ucap Liam singkat. Zein melangkah satu langkah, lalu berhenti. “Besok pagi,” katanya tanpa menoleh, “bawa dia ke mansion.” Liam tidak langsung menjawab, tapi hanya dalam satu detik ia mengerti. “Baik, Tuan.”Zein mengangguk tipis. Tanpa berkata lagi, ia melangkah masuk ke dalam mansion. Lorong panjang itu kembali menyambutnya dengan keheningan.Langkahnya pelan dan terukur, tapi kali ini ada tujuan yang lebih jelas. Tanpa singgah ke mana pun, ia langsung menuju lantai dua mansion itu—ke satu tempat, ke satu orang. Pintu kamar di hadapannya terbuka per
Last Updated: 2026-03-19
Chapter: BAB. 106Beberapa hari kemudian...Siang merambat pelan di balik dinding kaca tebal. Langit tampak cerah, tapi kehangatan itu seolah tidak pernah benar-benar masuk ke dalam ruangan itu.Ruang kerja Zein di markas Blackthorne Syndicate tetap sama seperti biasa—hening, rapi, dan dingin.Di balik meja besar berlapis kayu gelap, Zein duduk tegak. Jasnya masih sempurna, seolah waktu tidak pernah menyentuhnya sejak pagi.Beberapa berkas terbuka di hadapannya. Dokumen kerja sama, angka-angka, nama-nama sekutu, dan tanda tangan yang nilainya jauh melampaui sekadar bisnis.Zein menelusuri satu halaman dari berkas terakhir. Tatapannya bergerak perlahan, baris demi baris, tajam, teliti, tidak ada yang terlewat satu pun.Ujung jarinya mengetuk pelan permukaan meja. Sekali, dua kali, lalu berhenti. Seolah keputusan sudah terbentuk bahkan sebelum seluruh isi dokumen selesai dibaca.Keheningan menggantung, hanya suara halus kertas yang bergeser, lalu tiba-tiba pintu terbuka dari luar tanpa suara berlebihan.
Last Updated: 2026-03-19
Chapter: BAB. 105Jasmine terdiam beberapa detik.Tatapannya bertemu dengan mata Zein yang masih menatapnya—dalam, tanpa berpaling, seolah benar-benar menunggu. Ada sesuatu di sana, lembut namun juga tidak mau kalah.Jasmine menghela napas pelan.“Dasar kamu…” gumamnya lirih.Namun pada akhirnya, ia menunduk.Cup.Bibirnya menyentuh pipi Zein singkat, hangat, dan seharusnya cukup. Namun, Zein tidak menjauh, justru sudut bibirnya terangkat tipis.“Bukan di situ, Sayang...”Jasmine langsung mengernyit.“Zein kamu itu—”Zein menggeleng pelan, memotong kalimat Jasmine. Matanya tidak lepas darinya.“Yang ini,” katanya sambil tatapannya turun ke bibir Jasmine.Jasmine tercekat.“Nakal.”“Serius.”Jasmine menatap Zein beberapa detik, seperti sedang menimbang, atau mungkin hanya pura-pura bertahan. Namun pada akhirnya, ia menyerah.Perlahan, Jasmine mendekat. Jarak di antara mereka menghilang sedikit demi sedikit. Napas mereka bersentuhan hangat, dekat, dan saat bibir mereka akhirnya bertemu, tidak ada keragua
Last Updated: 2026-03-19