Chapter: BAB. 184“Akhem.”Darrel berdehem pelan, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.“Kamu... beneran nggak apa-apa, Cel? Nggak terpaksa karena Shaka?”Celine menggeleng pelan, senyumnya semakin melebar. “Beneran, Kak Darrel. Lagipula... aku juga udah lama banget nggak naik wahana itu.”“Sama seperti dulu saat Mama masih ada,” sambung Celine dalam hatinya, merasakan kehangatan yang perlahan mengalir menggantikan rasa dingin di dadanya malam ini.“Horeee! Naik kincir angin bertiga!” sorak Shaka heboh.Ia gegas melepaskan diri dari pangkuan Celine, melompat kecil sambil menarik tangan Celine dan Darrel agar segera berdiri.Darrel akhirnya terkekeh geli, rasa canggungnya menguap digantikan oleh perasaan hangat yang membuncah. Ia berdiri, berjalan di sisi Celine seraya menuntun langkah kecil Shaka menuju antrean wahana.Saat mereka berjalan beriringan di bawah pendar lampu taman yang temaram, dari kejauhan, mereka benar-benar terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang utuh, bahagia, dan
آخر تحديث: 2026-05-20
Chapter: BAB. 183Shaka yang berada di pangkuan Darrel tiba-tiba memiringkan kepala. Sepasang mata bulat anak kecil itu menatap lekat ke arah Celine. Bukannya takut atau bersembunyi di dada Darrel seperti biasanya saat bertemu orang asing, anak itu justru mengulurkan tangan kecilnya yang bebas dari balon. “Kakak cantik siapa?” tanya Shaka dengan suara cempreng khas anak kecil, wajahnya tampak begitu penasaran. “Kakak temannya Papa Darrel, ya?” Celine menoleh, melihat binar polos di mata Shaka. Senyuman kaku di bibirnya perlahan mencair menjadi senyuman tulus yang sangat hangat. “Hai, Sayang. Nama Kakak, Celine. Kamu lucu banget, sih.” “Kakak Celine...” Shaka mengeja nama itu dengan menggemaskan, lalu tiba-tiba ia menggeliat turun dari pangkuan Darrel. Tanpa diduga sama sekali, anak laki-laki berkemeja merah kotak-kotak itu melangkah mendekati Celine, lalu menepuk-nepuk paha Celine dengan percaya diri. “Kakak, Shaka mau duduk di sini boleh? Mau lihat kincir angin raksasa sama Kakak!” Melihat tin
آخر تحديث: 2026-05-20
Chapter: BAB. 182Celine terpaku menatap sosok pria yang berdiri tegap di hadapannya.Wajah pria itu tegas namun ramah, mengenakan mantel kasual yang membuatnya tampak matang dan berkarisma. Ingatan masa kuliah Celine berputar cepat.“...Kak Darrel?” bisik Celine, hampir tidak percaya.Pria itu langsung tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kehangatan.“Ternyata kamu beneran Celine. Astaga, aku kira aku salah lihat tadi.” Darrel melangkah mendekat, lalu menunjuk ruang kosong di bangku besi itu. “Boleh aku duduk?”Celine mengangguk kaku, masih sedikit terkejut. “B-boleh, Kak. Silakan.”Darrel duduk dengan sopan, memberi jarak yang nyaman di antara mereka. Ia menoleh, menatap lekat wajah Celine dengan tatapan penuh perhatian.Sebagai pria yang peka, Darrel menyadari hidung Celine yang memerah dan sisa-sisa air mata yang buru-buru dihapus perempuan itu tadi. Namun, Darrel memilih untuk berpura-pura tidak melihatnya demi menjaga kenyamanan Celine.“Lama banget ya nggak ketemu, Cel. Kamu apa kabar?” t
آخر تحديث: 2026-05-19
Chapter: BAB. 181Sementara itu, di tempat lain yang jauh dari Aldean, suara gelak tawa anak-anak, alunan musik riang dari komidi putar, dan aroma manis berondong jagung menyambut kedatangan Celine saat ia melangkah melewati gerbang Taman Ria Semesta. Tempat itu masih sama seperti belasan tahun lalu. Ramai, bising, dan penuh dengan binar kebahagiaan. Namun bagi Celine, semua keriuhan di sekitarnya terasa hambar. Dunia di sekelilingnya bergerak cepat, sementara dirinya seolah terkunci dalam ruang waktu yang sunyi dan membeku. Dengan langkah pelan, Celine berjalan menuju sebuah bangku panjang berbahan besi di sudut taman, tepat di bawah pohon rindang yang menghadap langsung ke wahana kincir ria—sebuah bianglala raksasa yang berputar lambat, memamerkan pendar lampu warna-warni yang cantik menantang langit malam. Celine mendudukkan tubuhnya yang lemas. Tatapannya terkunci pada salah satu gondola bianglala yang perlahan bergerak naik. Seketika, dinding pertahanan di kepalanya runtuh. Memori belasan ta
آخر تحديث: 2026-05-19
Chapter: BAB. 180Pertanyaan itu menguap begitu saja, tenggelam dalam kesunyian apartemen yang kian terasa mencekik. Aldean merogoh saku jasnya dengan gerakan kasar, menyambar ponselnya dengan tangan yang mulai bergetar hebat.Ia segera mendial nomor Celine, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan napas yang memburu. Tut... tut... tut...Nada sambung terdengar. Jantung Aldean berdegup kencang seirama dengan bunyi itu. Namun, hingga nada sambung itu habis dan panggilan terputus otomatis, tidak ada jawaban.“Angkat, Sayang... Please, angkat,” bisik Aldean frustrasi.Ia mencoba menekan tombol panggil ulang. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Pada percobaan keempat, kepanikan Aldean semakin memuncak saat suara operator dingin mengambil alih, menyatakan bahwa nomor yang ia tuju kini sudah tidak aktif.Celine sengaja mematikan ponselnya?Istrinya sengaja memutus akses dengannya?“Sialan!” Aldean mengumpat, suaranya meninggi memenuhi ruangan kosong itu.Dengan kasar, dia menjambak rambutnya sendiri.
آخر تحديث: 2026-05-18
Chapter: BAB. 179“Justru karena itulah, Evan... aku tidak akan membiarkan Kayra mengetahuinya sekarang,” kata Aldean dengan suara bariton yang tenang, namun penuh penekanan yang mutlak. Evan mengernyitkan alis. Keraguan dan rasa tidak mengerti tergambar jelas di wajah asisten itu. “Maksud Anda, Tuan? Bukankah itu jalan keluar paling cepat untuk memperbaiki semuanya?” Aldean melangkah mendekati meja laci di sudut ruangan, lalu bersandar di tepinya dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Tatapannya lurus menatap tajam ke mata Evan. “Aku tidak mau Kayra kembali bersikap baik atau merangkul Celine cuma karena dia merasa bersalah atas dosa-dosa mamanya,” tegas Aldean, setiap katanya diucapkan dengan penekanan yang dalam. “Aku tidak mau hubungan mereka membaik karena dasar kasihan, rasa utang budi, atau ketakutan karena merasa dirinya adalah anak seorang pembunuh.” Aldean menjeda kalimatnya, mengembuskan napas pendek yang terdengar begitu berat, matanya menerawang menatap langit-langit ruangan. “
آخر تحديث: 2026-05-18
Chapter: BAB. 110Sendok terakhir diletakkan perlahan. Jasmine menarik napas kecil, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Namun matanya tetap tertuju pada Martha, seolah tidak ingin kehilangan satu detik pun. Jeda beberapa detik, lalu Jasmine tiba-tiba berdiri. Gerakannya cepat dan antusias. “Ayo, Bibi!” katanya, suaranya langsung hidup, penuh semangat. “Ke kamarku. Kita ngobrol di sana.” Ia bahkan sudah menarik pergelangan tangan Martha sedikit. “Aku mau cerita banyak… dan aku juga mau dengar semua cerita dari Bibi. Aku akan tunjukkan kamarku juga—” “Nanti, ya Nona.” Kata-kata itu memotong dengan lembut, namun cukup untuk membuat langkah Jasmine terhenti. Jasmine menoleh cepat. “Maksudnya…?” Martha tersenyum kecil. Ada rasa bersalah di sana, tapi juga ketegasan. “Tidak sekarang, Nona…” Jasmine mengerutkan kening. “Tapi—” “Saya masih ada pekerjaan,” lanjut Martha pelan. “Tuan Zein sudah memberikan saya kesempatan bekerja di sini… saya tidak boleh menyia-nyiakannya.” Nada suarany
آخر تحديث: 2026-03-19
Chapter: BAB. 109Martha terdiam beberapa detik, lalu menggeleng pelan.“Bukan sekarang, Nona…”Jasmine langsung mengerutkan kening.“Kenapa?”Martha tersenyum lembut.“Akan saya ceritakan… nanti.”“Tapi Bi—”“Sekarang…” Martha menepuk pelan punggung tangan Jasmine, “…lebih baik Nona sarapan dulu.”Jasmine menatap Martha tidak percaya.“Aku tidak mau makan,” katanya cepat. “Aku cuma mau bicara sama Bibi.”“Jasmine...”Zein yang sejak tadi hanya dia, akhirnya mulai membuka suara. Nadanya tenang dan rendah, namun cukup untuk membuat Jasmine menoleh padanya.Zein melangkah mendekat.“Sarapan dulu,” ujarnya singkat sambil mengusap lembut puncak kepala Jasmine, penuh sayang.Jasmine menatapnya, masih ada sisa rasa penasaran di matanya.“Kamu tahu sesuatu, kan?” tanyanya langsung pada Zein. “Kamu harus jelasin ini—”“Iya, Sayang... nanti,” potong Zein tanpa menaikkan suara. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke Martha.“Bagaimana menurutmu, Martha?”Martha sedikit menunduk, lalu menjawab pelan, “Benar sekali,
آخر تحديث: 2026-03-19
Chapter: BAB. 108Jasmine menggeleng pelan, lalu matanya melebar seketika.“B-Bi Martha?” suaranya jatuh pelan, tidak percaya.Wanita tua itu menatapnya dengan lembut, tatapan itu benar-benar sama seperti dulu.“Iya…” jawabnya pelan. “Ini saya, Nona Jasmine.”Hening.Jasmine terdiam, tidak langsung mendekat, tidak langsung percaya.Tangannya perlahan terangkat, mengucek matanya berkali-kali, lalu berkedip cepat, menatap kembali. Ia takut pandangannya mengabur lagi seperti kemarin dan salah mengenali orang.Namun wajah itu tetap sama. Tidak mengabur, tidak hilang. Itu Nyata.“Tidak mungkin…” bisiknya. Dadanya mulai sesak. “Ini… bukan mimpi… kan…?”Martha tidak menjawab dengan kata-kata.Hanya menatap Jasmine dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca.Detik berikutnya, air mata Jasmine jatuh tanpa bisa ditahan.“Bi Martha…!”Ia langsung berlari, memeluk wanita itu erat, seolah takut sosok itu akan menghilang jika dilepaskan.Martha membalas pelukan itu dengan sama eratnya, tangannya mengusap punggung Jasm
آخر تحديث: 2026-03-19
Chapter: BAB. 107Malam sudah larut saat mobil hitam itu memasuki halaman mansion. Lampu-lampu taman menyala redup, memantulkan bayangan panjang di jalan setapak. Suasana sunyi, hanya beberapa pengawal yang berjaga. Mobil berhenti. Liam turun lebih dulu, lalu membuka pintu belakang. Zein keluar tanpa banyak bicara. Wajahnya kembali seperti biasa—tenang, dingin, dan tidak terbaca. Tidak ada sisa emosi yang sempat muncul di markas tadi. “Tuan,” ucap Liam singkat. Zein melangkah satu langkah, lalu berhenti. “Besok pagi,” katanya tanpa menoleh, “bawa dia ke mansion.” Liam tidak langsung menjawab, tapi hanya dalam satu detik ia mengerti. “Baik, Tuan.”Zein mengangguk tipis. Tanpa berkata lagi, ia melangkah masuk ke dalam mansion. Lorong panjang itu kembali menyambutnya dengan keheningan.Langkahnya pelan dan terukur, tapi kali ini ada tujuan yang lebih jelas. Tanpa singgah ke mana pun, ia langsung menuju lantai dua mansion itu—ke satu tempat, ke satu orang. Pintu kamar di hadapannya terbuka per
آخر تحديث: 2026-03-19
Chapter: BAB. 106Beberapa hari kemudian...Siang merambat pelan di balik dinding kaca tebal. Langit tampak cerah, tapi kehangatan itu seolah tidak pernah benar-benar masuk ke dalam ruangan itu.Ruang kerja Zein di markas Blackthorne Syndicate tetap sama seperti biasa—hening, rapi, dan dingin.Di balik meja besar berlapis kayu gelap, Zein duduk tegak. Jasnya masih sempurna, seolah waktu tidak pernah menyentuhnya sejak pagi.Beberapa berkas terbuka di hadapannya. Dokumen kerja sama, angka-angka, nama-nama sekutu, dan tanda tangan yang nilainya jauh melampaui sekadar bisnis.Zein menelusuri satu halaman dari berkas terakhir. Tatapannya bergerak perlahan, baris demi baris, tajam, teliti, tidak ada yang terlewat satu pun.Ujung jarinya mengetuk pelan permukaan meja. Sekali, dua kali, lalu berhenti. Seolah keputusan sudah terbentuk bahkan sebelum seluruh isi dokumen selesai dibaca.Keheningan menggantung, hanya suara halus kertas yang bergeser, lalu tiba-tiba pintu terbuka dari luar tanpa suara berlebihan.
آخر تحديث: 2026-03-19
Chapter: BAB. 105Jasmine terdiam beberapa detik.Tatapannya bertemu dengan mata Zein yang masih menatapnya—dalam, tanpa berpaling, seolah benar-benar menunggu. Ada sesuatu di sana, lembut namun juga tidak mau kalah.Jasmine menghela napas pelan.“Dasar kamu…” gumamnya lirih.Namun pada akhirnya, ia menunduk.Cup.Bibirnya menyentuh pipi Zein singkat, hangat, dan seharusnya cukup. Namun, Zein tidak menjauh, justru sudut bibirnya terangkat tipis.“Bukan di situ, Sayang...”Jasmine langsung mengernyit.“Zein kamu itu—”Zein menggeleng pelan, memotong kalimat Jasmine. Matanya tidak lepas darinya.“Yang ini,” katanya sambil tatapannya turun ke bibir Jasmine.Jasmine tercekat.“Nakal.”“Serius.”Jasmine menatap Zein beberapa detik, seperti sedang menimbang, atau mungkin hanya pura-pura bertahan. Namun pada akhirnya, ia menyerah.Perlahan, Jasmine mendekat. Jarak di antara mereka menghilang sedikit demi sedikit. Napas mereka bersentuhan hangat, dekat, dan saat bibir mereka akhirnya bertemu, tidak ada keragua
آخر تحديث: 2026-03-19