author-banner
Wisha Berliani
Wisha Berliani
Author

Novels by Wisha Berliani

Ah! Sentuh Aku Lagi, Om

Ah! Sentuh Aku Lagi, Om

Malam itu, Celine hanya ingin melupakan luka setelah memergoki pacarnya berselingkuh dengan cara paling gila dalam hidupnya. Namun siapa sangka, pria yang menemaninya malam itu identitasnya jauh lebih mengejutkan, dan sejak malam itu hidup Celine tak pernah sama lagi. “Ah—sentuh aku lagi, Om…” “Cel... kamu serius?” “Hm. Aku serius.” “Kalau kamu minta kayak gitu… aku nggak akan bisa berhenti.” “Aku nggak mau Om berhenti.”
Read
Chapter: BAB. 240
Celine terpaku, mengikuti arah pandang suaminya. Kayra masih berbicara dengan salah satu pelayan sambil melangkah menuju ruang tengah. Wajah gadis itu tampak jauh lebih hidup dibanding beberapa hari yang lalu.Celine mengerti. Rumah sebesar ini memang terlalu sepi jika hanya dihuni Kayra seorang diri. Lagi pula, ia juga tidak tega membiarkan sahabatnya sendiri dalam keadaan gadis itu yang seperti sekarang.“Gimana, Sayang? Kamu mau?” tanya Aldean lagi, seketika membuyarkan lamunan Celine.Perempuan itu tersenyum kecil. “Iya, Mas... aku mau,” jawabnya akhirnya.Mendengar jawaban itu, Aldean mengembuskan napas lega. “Terima kasih, Sayang.”Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan, Kayra tiba-tiba berbalik.“Kalian ngapain di situ?” Tatapannya bergantian mengarah pada Aldean dan Celine. “Kok nggak masuk?”Celine tertawa pelan. “Iya, Kay... ini juga mau masuk.”Kayra melangkah mendekati mereka, matanya penuh selidik.“Tapi bentar. Apa yang barusan kalian bicarain?”Aldean dan Celine sa
Last Updated: 2026-06-29
Chapter: BAB. 239
Gavin langsung menelan ludah. “M-maaf... saya salah ngomong, Om.” Aldean terdiam, menatap Gavin tajam sebelum berkata, “Saya tahu. Maksudmu... saya baru saja merestui hubungan kalian, begitu?” “E-eh...” Gavin terkekeh canggung. “Keceplosan, Om. Saya... salah pilih kosakata.” Tatapan Aldean tak berubah sedikit pun. “Menarik.” Deg. Gavin menelan ludah lagi. “Berarti... kamu sudah mulai memikirkan sejauh itu.” Mata Gavin langsung membulat. “B-bukan gitu maksud saya, Om! Belum sampai sana! Saya masih miskin! Saya bahkan belum berani manggil Om 'Papa'!” Hening. Aldean tetap menatap tanpa ekspresi. Gavin baru sadar, dia malah memperparah keadaan. “Saya pamit, Om.” Kalimat itu keluar jauh lebih pelan. Gavin lalu berbalik, hampir berlari meninggalkan koridor. Baru beberapa langkah, suara Aldean menghentikannya. “Gavin.” Deg. Pemuda itu langsung berhenti. Perlahan ia menoleh, wajahnya sudah seperti orang yang pasrah menerima takdir. Aldean berdiri tenang, sudut b
Last Updated: 2026-06-28
Chapter: BAB. 238
Gavin menutup pintu kamar rawat dengan perlahan. Begitu berbalik, langkahnya langsung terhenti.Di ruang tunggu yang sepi itu, Aldean sedang duduk bersedekap dada. Tatapan tajam pria matang itu langsung mengunci Gavin. Jantung Gavin seolah turun ke perut. Aura Aldean benar-benar tidak main-main saat ini.Koridor rumah sakit yang seharusnya tenang mendadak terasa seperti ruang interogasi. Gavin menelan ludah, lalu melangkah mendekat.“S-selamat sore menjelang malam, Om,” sapa Gavin, suaranya bergetar tipis.Aldean tidak langsung menjawab. Pria itu justru bangkit perlahan dari kursinya. Tingginya yang jauh di atas rata-rata membuat Gavin refleks menegakkan punggung.“Kamu tahu kenapa saya minta bicara berdua, Gavin?” suara Aldean rendah dan datar, namun cukup untuk membuat tengkuk Gavin menegang.“B-belum tahu, Om.”Aldean menatap Gavin beberapa saat.“Karena kamu sudah membuat kesalahan yang fatal.”Gavin langsung menunduk. Ia sudah menduga pembicaraan ini akan mengarah ke mana.“Maksu
Last Updated: 2026-06-26
Chapter: BAB. 237
Beberapa saat kemudian, Aldean dan Celine kembali melangkah menyusuri koridor lantai perawatan setelah menyelesaikan makan sore di kantin bawah. Sementara itu, di ruang rawat, Kayra masih ditemani oleh Gavin.​“V-Vin... kamu tahu?” bisik Kayra setengah terbata, melirik pintu kamar rawat dengan waswas. ​“Sebenernya Papa sama Celine tuh... udah nikah.”Uhuk!​Gavin tersedak ludahnya sendiri sampai matanya nyaris melompat keluar dari kelopak. Pemuda itu membeku di kursinya, menatap Kayra dengan raut wajah yang luar biasa syok.“K-kamu bercanda, kan, Kay? Celine?! Temen kita... sekarang jadi Ibu sambung kamu?!”“Sssttt! Pelanin suara kamu, Gavin Alistair!” sergah Kayra panik, tangan kirinya bergerak cepat mencubit lengan Gavin. “Ini rahasia besar! Jangan sampai bocor ke anak-anak kampus, awas aja kalau kamu keceplosan. Aku kasih tahu kamu sekarang biar kamu nggak salah bersikap.”​Gavin menelan ludah dengan susah payah, mendadak merasa pusing tujuh keliling. Jiwa humorisnya seketika meron
Last Updated: 2026-06-23
Chapter: BAB. 236
Gavin seketika membeku. Sepasang matanya melebar, terkejut mendengar ucapan Kayra barusan. Namun, keterkejutan itu hanya bertahan beberapa detik. Melihat kekasihnya histeris dengan tubuh yang gemetar hebat karena didera rasa bersalah, Gavin segera merengkuh Kayra dalam pelukan hangatnya, berusaha menenangkan.​“Ssst... dengerin aku, Kay,” bisik Gavin tegas namun teramat lembut tepat di telinga gadis itu. “Tuhan tuh nggak se-pendendam itu. Dan kamu juga lihat sendiri, kan? Celine bahkan senyum tulus banget ke kamu tadi. Dia pasti udah maafin kamu sepenuhnya, kan? Kalau dia aja udah buka lembaran baru, kenapa kamu masih sibuk ngehukum diri sendiri?”​Gavin mengurai pelukannya perlahan. Kedua tangannya bergerak lembut menangkup wajah pucat Kayra, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam manik matanya yang memancarkan keyakinan mutlak, membuat isak histeris Kayra terhenti.“Dan satu hal yang harus kamu tahu, Kay. Aku bakal selalu ada di sini buat nemenin kamu. Aku yakin, tanganmu past
Last Updated: 2026-06-23
Chapter: BAB. 235
Begitu pintu kamar rawat tertutup rapat, keheningan yang tersisa di dalam ruangan mendadak terasa jauh lebih ringan. Gavin masih berdiri mematung di posisi terakhirnya, menatap daun pintu dengan pandangan kosong. ​Perintah terakhir Aldean barusan benar-benar tidak bisa dibantah. ​“Gavin...” Panggilan lirih itu akhirnya memecah lamunan pemuda itu. Ia mengerjap, lalu perlahan memutar tubuh sepenuhnya menghadap brankar. Di sana, Kayra sedang menatapnya dengan binar mata yang campur aduk—antara cemas, bersalah, tapi juga tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. ​Gavin mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir sisa-sisa aura mengintimidasi Aldean yang seolah masih menggantung di udara. Ia melangkah lebih dekat, lalu duduk di kursi kosong yang berada tepat di sisi ranjang Kayra. ​“Papa kamu... auranya bener-bener nggak main-main, Kay,” cicit Gavin jujur, menyugar rambutnya yang sedikit berantakan. “Aku berasa lagi diuji mental buat masuk perusahaan multinasional.” ​Kayra tid
Last Updated: 2026-06-23
Jerat Obsesi Mafia Kejam

Jerat Obsesi Mafia Kejam

Jasmine Vancrosso diculik dan dikurung di mansion milik Zein Von Ravelli, penguasa dunia gelap, kejam, dan hidup dari dendam masa lalu. Bagi Zein, Jasmine bukan sekadar tawanan. Gadis itu membawa sesuatu yang berbahaya: aroma mawar-vanila yang terus mengusik ketenangannya. Di antara dendam dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, Zein harus memilih: menjadikan Jasmine alat pembalasan atau mengakui bahwa ia tak lagi mampu melepaskannya. “Aku bantu? Mau?” “Bantu? Dengan apa?” “Dengan mulutku.” Penasaran sama kelanjutan ceritanya? Baca hanya di sini ya... Follow IG-nya Author: @wisha.2728
Read
Chapter: BAB. 110
Sendok terakhir diletakkan perlahan. Jasmine menarik napas kecil, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Namun matanya tetap tertuju pada Martha, seolah tidak ingin kehilangan satu detik pun. Jeda beberapa detik, lalu Jasmine tiba-tiba berdiri. Gerakannya cepat dan antusias. “Ayo, Bibi!” katanya, suaranya langsung hidup, penuh semangat. “Ke kamarku. Kita ngobrol di sana.” Ia bahkan sudah menarik pergelangan tangan Martha sedikit. “Aku mau cerita banyak… dan aku juga mau dengar semua cerita dari Bibi. Aku akan tunjukkan kamarku juga—” “Nanti, ya Nona.” Kata-kata itu memotong dengan lembut, namun cukup untuk membuat langkah Jasmine terhenti. Jasmine menoleh cepat. “Maksudnya…?” Martha tersenyum kecil. Ada rasa bersalah di sana, tapi juga ketegasan. “Tidak sekarang, Nona…” Jasmine mengerutkan kening. “Tapi—” “Saya masih ada pekerjaan,” lanjut Martha pelan. “Tuan Zein sudah memberikan saya kesempatan bekerja di sini… saya tidak boleh menyia-nyiakannya.” Nada suarany
Last Updated: 2026-03-19
Chapter: BAB. 109
Martha terdiam beberapa detik, lalu menggeleng pelan.“Bukan sekarang, Nona…”Jasmine langsung mengerutkan kening.“Kenapa?”Martha tersenyum lembut.“Akan saya ceritakan… nanti.”“Tapi Bi—”“Sekarang…” Martha menepuk pelan punggung tangan Jasmine, “…lebih baik Nona sarapan dulu.”Jasmine menatap Martha tidak percaya.“Aku tidak mau makan,” katanya cepat. “Aku cuma mau bicara sama Bibi.”“Jasmine...”Zein yang sejak tadi hanya dia, akhirnya mulai membuka suara. Nadanya tenang dan rendah, namun cukup untuk membuat Jasmine menoleh padanya.Zein melangkah mendekat.“Sarapan dulu,” ujarnya singkat sambil mengusap lembut puncak kepala Jasmine, penuh sayang.Jasmine menatapnya, masih ada sisa rasa penasaran di matanya.“Kamu tahu sesuatu, kan?” tanyanya langsung pada Zein. “Kamu harus jelasin ini—”“Iya, Sayang... nanti,” potong Zein tanpa menaikkan suara. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke Martha.“Bagaimana menurutmu, Martha?”Martha sedikit menunduk, lalu menjawab pelan, “Benar sekali,
Last Updated: 2026-03-19
Chapter: BAB. 108
Jasmine menggeleng pelan, lalu matanya melebar seketika.“B-Bi Martha?” suaranya jatuh pelan, tidak percaya.Wanita tua itu menatapnya dengan lembut, tatapan itu benar-benar sama seperti dulu.“Iya…” jawabnya pelan. “Ini saya, Nona Jasmine.”Hening.Jasmine terdiam, tidak langsung mendekat, tidak langsung percaya.Tangannya perlahan terangkat, mengucek matanya berkali-kali, lalu berkedip cepat, menatap kembali. Ia takut pandangannya mengabur lagi seperti kemarin dan salah mengenali orang.Namun wajah itu tetap sama. Tidak mengabur, tidak hilang. Itu Nyata.“Tidak mungkin…” bisiknya. Dadanya mulai sesak. “Ini… bukan mimpi… kan…?”Martha tidak menjawab dengan kata-kata.Hanya menatap Jasmine dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca.Detik berikutnya, air mata Jasmine jatuh tanpa bisa ditahan.“Bi Martha…!”Ia langsung berlari, memeluk wanita itu erat, seolah takut sosok itu akan menghilang jika dilepaskan.Martha membalas pelukan itu dengan sama eratnya, tangannya mengusap punggung Jasm
Last Updated: 2026-03-19
Chapter: BAB. 107
Malam sudah larut saat mobil hitam itu memasuki halaman mansion. Lampu-lampu taman menyala redup, memantulkan bayangan panjang di jalan setapak. Suasana sunyi, hanya beberapa pengawal yang berjaga. Mobil berhenti. Liam turun lebih dulu, lalu membuka pintu belakang. Zein keluar tanpa banyak bicara. Wajahnya kembali seperti biasa—tenang, dingin, dan tidak terbaca. Tidak ada sisa emosi yang sempat muncul di markas tadi. “Tuan,” ucap Liam singkat. Zein melangkah satu langkah, lalu berhenti. “Besok pagi,” katanya tanpa menoleh, “bawa dia ke mansion.” Liam tidak langsung menjawab, tapi hanya dalam satu detik ia mengerti. “Baik, Tuan.”Zein mengangguk tipis. Tanpa berkata lagi, ia melangkah masuk ke dalam mansion. Lorong panjang itu kembali menyambutnya dengan keheningan.Langkahnya pelan dan terukur, tapi kali ini ada tujuan yang lebih jelas. Tanpa singgah ke mana pun, ia langsung menuju lantai dua mansion itu—ke satu tempat, ke satu orang. Pintu kamar di hadapannya terbuka per
Last Updated: 2026-03-19
Chapter: BAB. 106
Beberapa hari kemudian...Siang merambat pelan di balik dinding kaca tebal. Langit tampak cerah, tapi kehangatan itu seolah tidak pernah benar-benar masuk ke dalam ruangan itu.Ruang kerja Zein di markas Blackthorne Syndicate tetap sama seperti biasa—hening, rapi, dan dingin.Di balik meja besar berlapis kayu gelap, Zein duduk tegak. Jasnya masih sempurna, seolah waktu tidak pernah menyentuhnya sejak pagi.Beberapa berkas terbuka di hadapannya. Dokumen kerja sama, angka-angka, nama-nama sekutu, dan tanda tangan yang nilainya jauh melampaui sekadar bisnis.Zein menelusuri satu halaman dari berkas terakhir. Tatapannya bergerak perlahan, baris demi baris, tajam, teliti, tidak ada yang terlewat satu pun.Ujung jarinya mengetuk pelan permukaan meja. Sekali, dua kali, lalu berhenti. Seolah keputusan sudah terbentuk bahkan sebelum seluruh isi dokumen selesai dibaca.Keheningan menggantung, hanya suara halus kertas yang bergeser, lalu tiba-tiba pintu terbuka dari luar tanpa suara berlebihan.
Last Updated: 2026-03-19
Chapter: BAB. 105
Jasmine terdiam beberapa detik.Tatapannya bertemu dengan mata Zein yang masih menatapnya—dalam, tanpa berpaling, seolah benar-benar menunggu. Ada sesuatu di sana, lembut namun juga tidak mau kalah.Jasmine menghela napas pelan.“Dasar kamu…” gumamnya lirih.Namun pada akhirnya, ia menunduk.Cup.Bibirnya menyentuh pipi Zein singkat, hangat, dan seharusnya cukup. Namun, Zein tidak menjauh, justru sudut bibirnya terangkat tipis.“Bukan di situ, Sayang...”Jasmine langsung mengernyit.“Zein kamu itu—”Zein menggeleng pelan, memotong kalimat Jasmine. Matanya tidak lepas darinya.“Yang ini,” katanya sambil tatapannya turun ke bibir Jasmine.Jasmine tercekat.“Nakal.”“Serius.”Jasmine menatap Zein beberapa detik, seperti sedang menimbang, atau mungkin hanya pura-pura bertahan. Namun pada akhirnya, ia menyerah.Perlahan, Jasmine mendekat. Jarak di antara mereka menghilang sedikit demi sedikit. Napas mereka bersentuhan hangat, dekat, dan saat bibir mereka akhirnya bertemu, tidak ada keragua
Last Updated: 2026-03-19
You may also like
Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan
Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan
Romansa · Rina Safitri
321.2K views
SWEET MY LOVE (INDONESIA)
SWEET MY LOVE (INDONESIA)
Romansa · Jezlyn
319.2K views
ISTRI CERDAS PURA-PURA BODOH
ISTRI CERDAS PURA-PURA BODOH
Romansa · YATI CAHAYA HATI
316.0K views
Desahan di Kamar Pembantu
Desahan di Kamar Pembantu
Romansa · Davian
306.4K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status