author-banner
Wisha Berliani
Wisha Berliani
Author

Romans de Wisha Berliani

Ah! Sentuh Aku Lagi, Om

Ah! Sentuh Aku Lagi, Om

Malam itu, Celine hanya ingin melupakan luka setelah memergoki pacarnya berselingkuh dengan cara paling gila dalam hidupnya. Namun siapa sangka, pria yang menemaninya malam itu identitasnya jauh lebih mengejutkan, dan sejak malam itu hidup Celine tak pernah sama lagi. “Ah—sentuh aku lagi, Om…” “Cel... kamu serius?” “Hm. Aku serius.” “Kalau kamu minta kayak gitu… aku nggak akan bisa berhenti.” “Aku nggak mau Om berhenti.”
Lire
Chapter: BAB. 153
Mobil Aldean melaju pelan menyusuri jalanan pagi yang masih lengang. Cahaya matahari menyelinap di antara gedung-gedung, memantul lembut di kaca mobil.Celine duduk diam di samping Aldean. Tangannya bertaut di pangkuan, jemarinya saling meremas tanpa sadar. Sejak tadi Aldean hampir tidak bicara.Celine menoleh. Menatap wajah pria di sampingnya yang terlihat tenang. “Om…” panggilnya ragu.“Hm?” Aldean melirik sekilas tanpa melepaskan fokus dari jalan.“Om lagi gugup?” tanyanya pelan.Aldean tersenyum tipis. “Kenapa nanya gitu?”“Soalnya Om dari tadi diem,” jawab Celine jujur. “Biasanya Om nggak kayak gini.”Aldean menarik napas pelan. Ada jeda singkat sebelum ia menjawab, seolah menimbang kata-katanya sendiri.“Aku cuma lagi mikir,” katanya akhirnya.“Mikir apa?” Celine mengejar, suaranya pelan, tapi ada rasa penasaran sekaligus kecemasan yang tak ia sembunyikan.Aldean tidak menjawab.Mobil melambat dan akhirnya berhenti.“Sudah sampai, Sayang,” ucap Aldean sambil menatap sang kekasi
Dernière mise à jour: 2026-02-12
Chapter: BAB. 152
Pagi itu, cahaya matahari menyusup pelan melalui celah tirai apartemen.Celine terbangun perlahan. Tubuhnya masih terasa ringan dalam balutan selimut, napasnya tenang. Aroma Aldean masih melekat, hangat dan menenangkan. Ia menoleh ke samping.Aldean sudah duduk di tepi ranjang, mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan tergulung rapi. Punggungnya tegak, sikapnya tenang, terlalu tenang, seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu sejak lama.“Om…” panggil Celine pelan, suaranya masih serak karena baru bangun.Aldean menoleh. Senyum kecil muncul di wajahnya, lembut tapi penuh makna.“Udah bangun?”Celine mengangguk, lalu mengerutkan dahi kecil.“Om bilang semalam punya kejutan. Apa Kejutannya?”Aldean berdiri tanpa menjawab langsung. Ia melangkah ke arah lemari, membuka pintunya, lalu mengeluarkan sebuah kotak besar berwarna putih gading. Tangannya memegang kotak itu dengan hati-hati, seolah benda rapuh yang tak boleh terguncang.“Kita pergi pagi ini,” katanya akhirnya. Nada suar
Dernière mise à jour: 2026-02-05
Chapter: BAB. 151
Malam itu, Celine duduk di tepi ranjang apartemen, mengenakan sweater kebesaran yang hampir menelan tubuhnya dan celana pendek bermotif boneka. Rambutnya masih sedikit kusut, wajahnya polos tanpa riasan, terlihat tenang, tapi rapuh.Aldean menuangkan air hangat ke dalam gelas, lalu menyerahkannya bersamaan beberapa butir obat.“Minum obatnya dulu, Sayang.”Celine menerimanya, menelan obat pemulihan luka di lengannya tanpa banyak protes. Setelah itu, ia menatap Aldean sebentar sebelum memanggil lirih, “Om…”“Hm?” Aldean menoleh.“Om… beneran nggak mau pulang?”Aldean duduk di sampingnya. “Iya.”Hening sesaat. Rahangnya mengeras samar sebelum ia melanjutkan, “Kayra ngajak Mamanya tinggal di rumah.”Tubuh Celine menegang. “Om…”“Aku nggak bisa tinggal di sana kalau Amira juga ada,” potong Aldean tenang, tanpa ragu. “Aku akan tetap di sini.”Celine menoleh cepat. “Tapi Om—”“Sayang,” Aldean menyela pelan, tapi tegas. Tangannya meraih jemari Celine, menggenggamnya erat seolah menahan sesua
Dernière mise à jour: 2026-02-02
Chapter: BAB. 150
Malam itu, Celine tertidur pulas di ranjang rumah sakit. Napasnya teratur, wajahnya tampak jauh lebih tenang dibanding pagi tadi. Selimut menutup tubuhnya hingga dada. Aldean duduk di kursi samping ranjang. Satu tangannya membelai rambut Celine perlahan, sementara tangan lainnya menggenggam jemarinya. Ibu jari Aldean bergerak pelan, seolah memastikan Celine benar-benar ada di sana. Hangat dan Nyata. Ia menatapnya lama. Hingga suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu. Aldean menoleh. Ia berdiri perlahan, memastikan selimut Celine rapi sebelum melangkah dan membuka pintu. Evan berdiri di depan ruang perawatan, membawa map cokelat tebal di tangannya. “Maaf mengganggu malam-malam, Tuan,” ucapnya rendah. Aldean mengangguk singkat. “Tidak apa-apa. Celine sedang tidur. Kita bicara di luar.” Mereka berpindah ke ruang tunggu yang sepi. Aldean duduk di salah satu kursi, sementara Evan berdiri di sampingnya. Evan membuka map dan menyerahkan beberapa berkas. “Ini dokumen y
Dernière mise à jour: 2026-01-23
Chapter: Rencana Amira
Kayra terkekeh kecil, hampa. Ia bangkit perlahan, dadanya terasa diremas dari dalam. Matanya basah, bukan karena jatuh barusan, tapi karena sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Ia lalu menatap Celine sekali lagi. Tatapan itu penuh benci, cemburu, dan kehilangan yang tak bisa diperbaiki. Tanpa sepatah kata pun, Kayra berbalik. BRAK. Pintu tertutup keras. Aldean tetap memeluk Celine, menahan tubuhnya yang gemetar. Suaranya merendah saat berbisik di telinga Celine. “Maaf,” katanya pelan. “Aku seharusnya bisa jaga kamu lebih baik.” Ia memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aldean Devantara sadar bahwa ia baru saja kehilangan anaknya sendiri. Namun, ia juga tahu bahwa ia tak lagi mampu melepaskan rumah dan masa depannya: Celine. . . Kayra berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah goyah. Lampu-lampu putih di langit-langit terasa terlalu terang. Suara langkah kaki orang lain, derit troli medis, bisikan perawat, semuanya berbaur menjadi deng
Dernière mise à jour: 2026-01-20
Chapter: Emosi Aldean
Kayra tertawa kecil lagi, kali ini lebih keras. Suaranya menggema di ruangan itu. “Tau nggak?” katanya sambil melangkah masuk. Pintu ruang perawatan itu dibiarkannya terbuka lebar. “Kondisi Mama aku sekarang kayak apa?” Celine langsung menegang. Punggungnya menempel di sandaran ranjang, jantungnya berdegup tak karuan. “Apa maksud kamu, Kay…?” suaranya lirih, ragu. Kayra berhenti tepat di depan ranjang. Matanya merah dan basah, tapi yang paling menakutkan adalah sorotnya—liar, penuh luka yang berubah menjadi amarah. “Mama aku kehilangan kakinya,” ucapnya pelan, lalu suaranya berubah lebih tajam, “Kakinya diamputasi.” Deg. Dunia Celine seolah runtuh seketika. Wajahnya pucat pasi, matanya membesar tak percaya. “A-apa…?” napasnya tercekat. “Kay… aku—aku beneran nggak tahu…” Kata-katanya terputus di tenggorokan. Sementara Aldean, tetap diam. Wajahnya tenang, terlalu tenang. Hanya rahangnya yang mengeras tipis, hampir tak terlihat. Kayra menangkap ekspresi itu. Ia meli
Dernière mise à jour: 2026-01-20
Jerat Obsesi Mafia Kejam

Jerat Obsesi Mafia Kejam

Jasmine Vancrosso diculik dan dikurung di mansion milik Zein Von Ravelli, penguasa dunia gelap, kejam, dan hidup dari dendam masa lalu. Bagi Zein, Jasmine bukan sekadar tawanan. Gadis itu membawa sesuatu yang berbahaya: aroma mawar-vanila yang terus mengusik ketenangannya. Di antara dendam dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, Zein harus memilih: menjadikan Jasmine alat pembalasan atau mengakui bahwa ia tak lagi mampu melepaskannya. “Aku bantu? Mau?” “Bantu? Dengan apa?” “Dengan mulutku.” Penasaran sama kelanjutan ceritanya? Baca hanya di sini ya... Follow IG-nya Author: @wisha.2728
Lire
Chapter: BAB. 58
Zein tetap di posisinya, tidak menjauh sedikit pun. Bibirnya tersungging tipis. Dengan setelan piyama hitam yang dikenakan dan rambutnya yang sedikit berantakan, ia tampak terlalu santai untuk seorang pria yang tiba-tiba muncul di kamar seorang gadis tengah malam.“Zein—!” Jasmine memukul ringan lengannya. “Kau bikin aku kaget! Bisa tidak masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu?!”Zein hanya mengangkat satu alis. “Pintunya tidak dikunci—”“Itu bukan berarti kamu boleh masuk seenaknya!” Wajah Jasmine memerah, entah karena marah atau karena jantungnya memang berdetak terlalu kencang. “Kamu tahu tidak? Jantungku hampir copot!”Zein menatap Jasmine dari samping, sebentar. Lalu sudut bibirnya terangkat lebih jelas. Sama sekali tidak terlihat bersalah, malah terkesan terhibur.“Tenang. Kalau copot, aku pasang lagi.”“Zein, kamu itu—” Belum sempat Jasmine menyelesaikan omelannya, pelukan Zein di pinggangnya mengerat. Jasmine langsung terkunci dalam lingkaran hangat yang kokoh.“Zein!” protesn
Dernière mise à jour: 2026-02-19
Chapter: BAB. 57
Malam turun perlahan. Kamar Jasmine gelap, hanya diterangi cahaya lampu tidur yang temaram. Detik jam di dinding terdengar begitu jelas, terlalu keras untuk ruangan yang sunyi.Ia sudah mencoba memejamkan mata hampir satu jam, namun kantuk tak kunjung datang. Setiap kali kesadarannya mulai mengabur, suara Zein kembali bergema di kepalanya.“Mulai sekarang… kau harus lebih berhati-hati.”“Pada orang yang mulai memperhatikanmu terlalu serius.”Jasmine menghela napas pelan, lalu membalikkan tubuhnya ke sisi lain ranjang.“Aku harus berhati-hati…?” gumamnya lirih. “Pada siapa?”Di mansion ini, lingkarannya kecil. Para pelayan menjaga jarak, sementara para penjaga bahkan tak pernah berani menatapnya lama. Liam terlalu formal untuk dianggap ancaman.Dan Zein?Pikirannya terhenti di sana. Ia menatap kosong ke langit-langit.“Tidak. Pasti bukan dia.”Pikiran Jasmine berkecamuk tak menentu. Mustahil Zein memperingatkannya tentang dirinya sendiri—itu terasa sangat tidak masuk akal. Pria itu ter
Dernière mise à jour: 2026-02-17
Chapter: BAB. 56
Sekarang Zein mengerti, Jasmine benar-benar tidak tahu. Dan fakta itu menggeser sesuatu dalam dirinya. Bukan sekadar rasa ingin tahu, tapi dorongan untuk mengendalikan kapan dan bagaimana gadis itu akan mengetahui kebenarannya. Zein menatap sketsa di pangkuan Jasmine. Garis-garisnya tegas, tidak ragu, tidak goyah. Gadis ini bukan boneka, tapi seseorang telah membentuk hidupnya dengan presisi.“Gambarmu bagus,” ucap Zein akhirnya.“Aku tahu.”Jawaban itu membuat sudut bibir Zein terangkat tipis. Percaya diri. Tidak haus validasi. Dan Zein suka itu.“Kau menggambar apa yang kau lihat?”“Kadang.”“Kadang?”“Kadang apa yang kulihat berbeda dari yang orang lain lihat.”Zein menatap Jasmine lebih dalam.“Kau sering merasa berbeda dari orang lain?”“Semua orang berbeda.”Jawaban yang aman, tapi cara Jasmine mengucapkannya tidak terdengar defensif.“Katamu keluargamu tidak pernah mengizinkanmu keluar,” ucap Zein ringan. “Mereka cukup protektif.”Pensil di tangan Jasmine berhenti sejenak, lal
Dernière mise à jour: 2026-02-16
Chapter: BAB. 55
Zein tidak langsung bergerak. Tatapannya lurus dan dingin. “Cari alasan sebenarnya,” ucapnya akhirnya tanpa menoleh pada Liam. “Mengapa Michael mengadopsinya, dan mengapa dia disembunyikan.” Nada suaranya datar, tidak meninggi maupun tergesa-gesa. Namun perintah itu mutlak. “Segera.” “Baik, Tuan.” Liam menundukkan kepala singkat. “Saya mulai sekarang.” “Gunakan jalur yang tidak biasa,” tambah Zein. “Jika dokumen resminya bersih, berarti jawabannya ada di tempat lain.” “Saya mengerti.” Liam tidak bertanya lagi. Ia tahu, saat Zein sudah menyebut kata “segera,” itu berarti tidak ada ruang untuk kegagalan. Beberapa detik kemudian, pintu ruang kerja tertutup pelan. Sunyi kembali mengambil alih. Zein tetap berdiri, matanya menatap dinding kaca, namun pikirannya bergerak jauh lebih cepat dari yang terlihat. Michael bukan pria yang bertindak berdasarkan belas kasih. Mengadopsi seorang anak perempuan, menyembunyikannya dari publik, dan menjaganya seperti sesuatu yang sangat b
Dernière mise à jour: 2026-02-16
Chapter: BAB. 54
Jasmine menangkap perubahan di wajah Zein, tapi ia memilih untuk tidak bertanya. Tatapan pria itu bergeser, bukan panik atau marah, melainkan seperti seseorang yang baru saja menemukan potongan terakhir dari teka-teki yang sudah lama ia cari. Dengan perlahan, ia berdiri. “Kita bicara di ruang kerja,” ucapnya pada Liam, suaranya rendah dan tetap terkendali. Liam mengangguk singkat. Sebelum melangkah pergi, Zein sempat memandang Jasmine. Dalam, terukur, dan menghitung. Seolah ia sedang menilai ulang sesuatu yang sejak tadi duduk di hadapannya. Lalu ia berbalik dan pergi. Keheningan kembali menyelimuti ruang makan. Namun kali ini bukan keheningan yang tertata, melainkan keheningan yang menyimpan sesuatu di balik permukaan. Dan pagi yang tampak biasa itu, diam-diam berubah arah. Zein dan Liam sudah sampai di ruang kerja. Begitu pintu ruangan itu tertutup, dunia luar teredam sepenuhny
Dernière mise à jour: 2026-02-15
Chapter: BAB. 53
Tok. Tok. Ketukan terdengar di pintu kamar Zein. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa di baliknya. “Masuk.” Pintu terbuka tanpa suara berlebihan. Liam masuk dengan langkah terukur. Wajahnya terkendali seperti biasa, hanya sorot matanya yang sedikit lebih waspada malam ini. Zein duduk santai di sofa. Botol minuman terletak di meja. Segelas whisky di tangannya belum tersentuh. “Katakan,” ucapnya, sudah tahu laporan apa yang akan disampaikan asistennya. Liam mengangguk singkat. “Para Ravelli bisa ditenangkan, Tuan. Mereka menerima penjelasan saya. Tidak ada yang mencurigai Nona Jasmine.” Zein mengangguk pelan. “Tapi,” Liam melanjutkan. Tatapan Zein terangkat, diam menunggu. “Nico,” ujar Liam akhirnya. “Dia tertarik pada Nona Jasmine.” Sunyi turun, berat. Ekspresi Zein tetap tidak berubah, justru semakin fokus. “Dia membaca situasi,” gumamnya pelan. “Dan selalu tertarik pada sesuatu yang seharusnya tidak boleh disentuh.” “Ya, Tuan.” Liam menahan jeda singkat. “Dia... jug
Dernière mise à jour: 2026-02-14
Vous vous intéresseriez aussi à
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status