Mag-log inMalam itu, Celine hanya ingin melupakan luka setelah memergoki pacarnya berselingkuh dengan cara paling gila dalam hidupnya. Namun siapa sangka, pria yang menemaninya malam itu identitasnya jauh lebih mengejutkan, dan sejak malam itu hidup Celine tak pernah sama lagi. “Ah—sentuh aku lagi, Om…” “Cel... kamu serius?” “Hm. Aku serius.” “Kalau kamu minta kayak gitu… aku nggak akan bisa berhenti.” “Aku nggak mau Om berhenti.”
view more“Engh… ah… pelan-pelan.”
Suara lirih gadis itu pecah di antara helaan napas dan desis seprai yang berdesir. Lampu temaram memantulkan bayangan dua tubuh yang saling menyesap panas malam. Pria di atasnya menatap lekat wajah polos yang menahan malu. Keringat menetes di pelipis, tapi gerakannya tetap lembut, seolah membaca setiap reaksi tubuh gadis itu. “Apa aku terlalu kasar?” bisiknya rendah. Gadis itu hanya menggeleng, matanya terpejam rapat. Nyeri samar yang tadi terasa kini berubah menjadi sensasi aneh yang memabukkan. Hening sejenak. Lalu pria itu tersenyum kecil. “Bertahanlah,” bisiknya di telinga. “Aku akan membuatmu melupakan rasa sakitnya.” ** “Ah, sepertinya aku sudah gila…” Celine Arsyila menatap pria asing yang masih terlelap di sebelahnya. Semalam ia kehilangan kendali dan tanpa pikir panjang menyewa seorang gigolo. Semua berawal dari rasa sakit hatinya setelah sang kekasih mencium wanita lain. Meski Kayra—sahabatnya—sudah berusaha menghiburnya dengan mengajaknya berpesta, Celine masih nekat melancarkan aksinya hingga akhirnya menghabiskan malam bersama seorang gigolo yang disewanya dalam keadaan emosi dan mabuk. “Aish! Mampus aku...” gumam Celine pelan, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Kalau Kayra sampai tahu soal ini, sahabatnya itu pasti akan menguliahinya selama berhari-hari. Oh tidak! Mungkin seminggu... atau bahkan berbulan-bulan. Celine mengembuskan napas berat, mengusap wajahnya dengan tangan. Seharusnya ia mendengarkan Kayra semalam. Bukan malah melarikan diri ke keputusan paling bodoh yang pernah ia buat. Pandangan Celine tanpa sadar kembali jatuh pada wajah pria itu. Rahangnya tegas. Bulu matanya bahkan lebih lentik dari miliknya. Sial… Kenapa pria ini malah terlihat tampan sekali? Drrtt. Drrtt. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Celine segera mencari sumbernya dan mendapati benda itu tergeletak di sisi ranjang, sedikit tertindih lengan pria di sampingnya. Dengan hati-hati ia mengulurkan tangan, ujung jarinya nyaris menyentuh ponsel itu ketika pria tersebut tiba-tiba bergerak pelan. Celine langsung membeku dan menahan napas. Namun begitu tidak ada gerakan lagi, ia segera mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan itu. “Cel, kamu kemana aja semalem?! Aku telponin kamu berkali-kali tapi nggak kamu angkat. Aku khawatir tau, nggak?!” suara Kayra langsung menggelegar begitu panggilan tersambung. Celine buru-buru menjauhkan ponselnya dari telinga, lalu melirik pria yang masih tertidur di sampingnya dengan jantung berdebar kencang. Untungnya, pria itu tampak tidak terganggu. “Kan aku bilang jangan jauh-jauh dari aku. Kamu maksain ketemu gigolo itu ya?!” Celine refleks menoleh kembali ke pria di sampingnya. Jantungnya langsung mencelos. Karena untuk pertama kalinya sejak membuka mata, ia benar-benar memperhatikan wajah pria itu lebih jauh. Dan entah kenapa, ada sesuatu yang terasa tidak masuk akal. Semakin lama diperhatikan, semakin pria itu tidak terlihat seperti gigolo. Celine buru-buru menggeleng. “Enggak. Jangan mikir aneh-aneh, Celine...” batinnya sebelum fokusnya kembali ke Kayra. “Entar dulu ya, Kay. Nanti aku ceritain langsung. Aku ke rumah kamu sekarang.” “Jangan sekarang, aku lagi sibuk banget. Papaku baru pulang dari luar negeri. Entar malam aja ya kamu ke rumah, sekalian kita makan malam.” “Ya udah deh. Aku ke rumah kamu nanti.” Klik. Panggilan itu pun terputus. Celine mengembuskan napas panjang. Setidaknya ia masih punya waktu beberapa jam untuk menenangkan diri dari kebodohan yang baru saja ia lakukan. Tanpa ingin berlama-lama lagi di sana, Celine buru-buru menyingkap selimut dan turun dari ranjang. “Ahh—” Tubuhnya langsung menegang. Nyeri di paha atasnya yang sebelumnya tertahan mendadak menjalar begitu kedua kakinya menyentuh lantai. Refleks, ia mencengkeram tepi ranjang untuk menjaga keseimbangan. Wajah Celine seketika memerah. Potongan-potongan adegan panas semalam kembali menyerbu kepalanya tanpa ampun. “Ya ampun...” desisnya pelan. Dengan jantung yang kembali berdebar tak karuan, Celine buru-buru menggelengkan kepala. Ia tidak mau mengingatnya lagi. Pandangannya lalu menyapu lantai kamar yang berantakan. Gaun hitamnya, sepatu hak tingginya, dan tas kecilnya berserakan di sana. Celine menatap barang-barang itu dengan sorot mata nanar. Sungguh, ini benar-benar kesalahan yang tidak bisa ia jelaskan dengan alasan apapun. Satu per satu barang-barangnya ia pungut, lalu dengan gerakan cepat, ia mulai mengenakan kembali pakaiannya. Setelah memastikan penampilannya kembali rapi, Celine meraih dompet dari dalam tas. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan meletakkannya di atas meja nakas. “Anggap saja ini pembayaran,” gumamnya pelan. Setelah itu, tanpa berani menoleh lagi, Celine melangkah cepat keluar dari kamar hotel. Ia berharap malam paling memalukan dalam hidupnya itu berakhir sampai di sana. Sayangnya, harapan itu tidak terkabul. Sepanjang hari, wajah pria itu terus muncul di kepalanya. Semakin diingat, semakin janggal rasanya. Pembawaan pria itu terlalu tenang, cara bicaranya terlalu berkelas—sama sekali tidak sesuai dengan gambaran seorang gigolo yang selama ini ia bayangkan. Hingga sore menjelang, satu pertanyaan masih mengusiknya tanpa henti… Kalau pria itu memang gigolo, kenapa rasanya tidak seperti itu? Malam pun tiba. Mobil yang dikendarai Celine berhenti tepat di depan rumah megah dengan halaman luas, diterangi lampu taman berwarna hangat. “Ya ampun... aku bener-bener nggak siap nyeritain semuanya ke Kayra. Tapi... mau kayak gimanapun, aku harus ngomong.” Ia menarik napas pelan, berusaha menenangkan diri sebelum melangkah keluar. Ting tong. Jari Celine menekan tombol bel rumah itu. Tak butuh waktu lama, pintu pun terbuka. Deg! Saat itu juga, jantung Celine berdetak dua kali lebih cepat, napasnya tertahan, dan dunianya seolah berhenti berputar. Pria yang sekarang berdiri di hadapannya adalah pria yang semalam tidur dengannya. Mata mereka saling mengunci. Sama-sama membeku. Sama-sama terkejut. Untuk sesaat, tak ada satu pun yang berbicara. Hingga akhirnya, suara riang Kayra terdengar dari dalam rumah. “Papa, itu pasti temen aku ya?” Beberapa detik kemudian, Kayra muncul di samping pria itu. Tatapan Celine langsung berpindah dari pria itu ke Kayra, lalu kembali lagi ke pria itu. Seolah otaknya menolak apa yang sedang dilihatnya. Pria yang semalam tidur dengannya… papa sahabatnya sendiri?! *****Celine terpaku, mengikuti arah pandang suaminya. Kayra masih berbicara dengan salah satu pelayan sambil melangkah menuju ruang tengah. Wajah gadis itu tampak jauh lebih hidup dibanding beberapa hari yang lalu.Celine mengerti. Rumah sebesar ini memang terlalu sepi jika hanya dihuni Kayra seorang diri. Lagi pula, ia juga tidak tega membiarkan sahabatnya sendiri dalam keadaan gadis itu yang seperti sekarang.“Gimana, Sayang? Kamu mau?” tanya Aldean lagi, seketika membuyarkan lamunan Celine.Perempuan itu tersenyum kecil. “Iya, Mas... aku mau,” jawabnya akhirnya.Mendengar jawaban itu, Aldean mengembuskan napas lega. “Terima kasih, Sayang.”Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan, Kayra tiba-tiba berbalik.“Kalian ngapain di situ?” Tatapannya bergantian mengarah pada Aldean dan Celine. “Kok nggak masuk?”Celine tertawa pelan. “Iya, Kay... ini juga mau masuk.”Kayra melangkah mendekati mereka, matanya penuh selidik.“Tapi bentar. Apa yang barusan kalian bicarain?”Aldean dan Celine sa
Gavin langsung menelan ludah. “M-maaf... saya salah ngomong, Om.” Aldean terdiam, menatap Gavin tajam sebelum berkata, “Saya tahu. Maksudmu... saya baru saja merestui hubungan kalian, begitu?” “E-eh...” Gavin terkekeh canggung. “Keceplosan, Om. Saya... salah pilih kosakata.” Tatapan Aldean tak berubah sedikit pun. “Menarik.” Deg. Gavin menelan ludah lagi. “Berarti... kamu sudah mulai memikirkan sejauh itu.” Mata Gavin langsung membulat. “B-bukan gitu maksud saya, Om! Belum sampai sana! Saya masih miskin! Saya bahkan belum berani manggil Om 'Papa'!” Hening. Aldean tetap menatap tanpa ekspresi. Gavin baru sadar, dia malah memperparah keadaan. “Saya pamit, Om.” Kalimat itu keluar jauh lebih pelan. Gavin lalu berbalik, hampir berlari meninggalkan koridor. Baru beberapa langkah, suara Aldean menghentikannya. “Gavin.” Deg. Pemuda itu langsung berhenti. Perlahan ia menoleh, wajahnya sudah seperti orang yang pasrah menerima takdir. Aldean berdiri tenang, sudut b
Gavin menutup pintu kamar rawat dengan perlahan. Begitu berbalik, langkahnya langsung terhenti.Di ruang tunggu yang sepi itu, Aldean sedang duduk bersedekap dada. Tatapan tajam pria matang itu langsung mengunci Gavin. Jantung Gavin seolah turun ke perut. Aura Aldean benar-benar tidak main-main saat ini.Koridor rumah sakit yang seharusnya tenang mendadak terasa seperti ruang interogasi. Gavin menelan ludah, lalu melangkah mendekat.“S-selamat sore menjelang malam, Om,” sapa Gavin, suaranya bergetar tipis.Aldean tidak langsung menjawab. Pria itu justru bangkit perlahan dari kursinya. Tingginya yang jauh di atas rata-rata membuat Gavin refleks menegakkan punggung.“Kamu tahu kenapa saya minta bicara berdua, Gavin?” suara Aldean rendah dan datar, namun cukup untuk membuat tengkuk Gavin menegang.“B-belum tahu, Om.”Aldean menatap Gavin beberapa saat.“Karena kamu sudah membuat kesalahan yang fatal.”Gavin langsung menunduk. Ia sudah menduga pembicaraan ini akan mengarah ke mana.“Maksu
Beberapa saat kemudian, Aldean dan Celine kembali melangkah menyusuri koridor lantai perawatan setelah menyelesaikan makan sore di kantin bawah. Sementara itu, di ruang rawat, Kayra masih ditemani oleh Gavin.“V-Vin... kamu tahu?” bisik Kayra setengah terbata, melirik pintu kamar rawat dengan waswas. “Sebenernya Papa sama Celine tuh... udah nikah.”Uhuk!Gavin tersedak ludahnya sendiri sampai matanya nyaris melompat keluar dari kelopak. Pemuda itu membeku di kursinya, menatap Kayra dengan raut wajah yang luar biasa syok.“K-kamu bercanda, kan, Kay? Celine?! Temen kita... sekarang jadi Ibu sambung kamu?!”“Sssttt! Pelanin suara kamu, Gavin Alistair!” sergah Kayra panik, tangan kirinya bergerak cepat mencubit lengan Gavin. “Ini rahasia besar! Jangan sampai bocor ke anak-anak kampus, awas aja kalau kamu keceplosan. Aku kasih tahu kamu sekarang biar kamu nggak salah bersikap.”Gavin menelan ludah dengan susah payah, mendadak merasa pusing tujuh keliling. Jiwa humorisnya seketika meron












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore