MasukMalam itu, Celine hanya ingin melupakan luka setelah memergoki pacarnya berselingkuh dengan cara paling gila dalam hidupnya. Namun siapa sangka, pria yang menemaninya malam itu identitasnya jauh lebih mengejutkan, dan sejak malam itu hidup Celine tak pernah sama lagi. “Ah—sentuh aku lagi, Om…” “Cel... kamu serius?” “Hm. Aku serius.” “Kalau kamu minta kayak gitu… aku nggak akan bisa berhenti.” “Aku nggak mau Om berhenti.”
Lihat lebih banyak“Engh… ah… pelan-pelan.”
Suara lirih gadis itu pecah di antara helaan napas dan desis seprai yang berkeresek. Lampu temaram memantulkan bayangan dua tubuh yang saling menyesap panas malam. Pria di atasnya menatap lekat wajah polos yang menahan malu dan rasa asing. Keringat menetes di pelipis, tapi gerakannya tetap terukur, lembut, seolah tengah membaca setiap reaksi tubuh gadis itu. “Aku terlalu kasar?” suaranya serak, bergetar di antara detak jantung mereka. Gadis itu hanya menggeleng, matanya terpejam rapat. Nyeri samar yang tadi terasa kini berubah menjadi sensasi aneh yang mengaduk perasaannya—antara takut, bingung, dan candu yang tak bisa ia pahami. Hening sejenak. Lalu pria itu tersenyum kecil. “Kau berbeda,” bisiknya di telinga. “Tidak seperti yang kubayangkan.” Gadis itu menatap balik, jantungnya berdebar tanpa alasan. Ada yang salah. Pria itu bukan sekadar gigolo—dan itu justru yang membuatnya takut. . . “Ah… sepertinya aku sudah gila…” Celine Arsyila, menatap jemarinya yang masih menggenggam erat setir mobil. Sudah seminggu berlalu sejak malam itu—malam ketika ia kehilangan kendali dan tanpa pikir panjang menyewa seorang gigolo. Semua bermula dari amarah dan sakit hati setelah memergoki pacarnya mencium wanita lain. Dan malam ulang tahun sahabatnya yang seharusnya penuh tawa justru berubah jadi titik paling kacau dalam hidupnya. Bukannya pulang dengan senyum, ia malah menghabiskan malam itu dengan pria asing yang kini terus muncul di pikirannya. Bayangan malam itu datang kembali tanpa diundang... malam panas penuh gairah yang seharusnya tak pernah terjadi. Suara desahan, napas berat yang saling berdekatan, dan sentuhan hangat itu terus menghantuinya selama seminggu terakhir. “Kenapa sih aku masih mikirin malam itu…” gumamnya lirih, mengutuk diri sendiri. Ia menghembuskan napas berat, menegakkan tubuh, berusaha mengusir bayangan itu, tapi yang datang justru bayangan lain. Wajah tampan dengan rahang tegas, suara rendah yang tenang, dan sorot mata teduh pria itu. Sosok yang sama sekali tak pantas disematkan label “cowok bayaran.”Jauh dari kesan gigolo. Pria itu terlalu tenang, terlalu berkelas. “Sial…” desisnya lagi, semakin kesal. Seolah semesta belum puas mempermainkannya, layar ponselnya tiba-tiba bergetar di dashboard. Sebuah notifikasi pesan masuk dari seseorang. Celine mengerutkan kening, membuka pesan itu dengan malas. Velvet Dating App: [Cantik... kamu serius ninggalin aku gitu aja minggu lalu? Aku udah nungguin kamu sampe pagi, tahu nggak? Please next time jangan PHP kayak gitu.] Mata Celine membulat. Tangannya refleks mencengkeram ponsel kuat-kuat. “PHP!” ulangnya tak percaya. “Loh PHP apaan? Aku sama dia bahkan udah—” Ia buru-buru menutup mulutnya sendiri. Napasnya tercekat, amarah dan rasa bingung bertabrakan di dadanya. Hatinya berdegup cepat. ‘Berarti... pria malam itu bukan gigolo yang sebenarnya?’ pikirnya, panik. Ia menelan ludah, memejamkan mata sejenak. “Aku bener-bener gila waktu itu…” bisiknya getir. “Kalau cowok malam itu bukan dia, lalu siapa?” Keheningan memenuhi kabin mobil. Hanya suara dentuman pelan dari jantungnya yang kacau. Drrt... Drrt. Ponsel Celine kembali bergetar, membuat pikirannya yang masih penuh dengan bayangan pria itu buyar seketika. Dengan cepat ia menatap ponsel di tangannya, nama sahabatnya muncul di layar. Kayra. Celine menarik napas pelan sebelum menekan tombol hijau. “Ya, Kay?” suaranya lembut, meski masih tersisa nada lelah di ujungnya. “Cel! Kamu di mana sih?” suara riang Kayra langsung terdengar dari seberang. “Aku sama Papa udah nungguin kamu di rumah! Kita kan udah janjian makan malam buat nyambut Papaku yang baru pulang dari luar negeri. Jangan bilang kamu lupa?” Celine menegakkan tubuh, berusaha terdengar tenang. “Nggak kok. Aku nggak lupa. Ini aku udah mau jalan.” “Yaudah, buruan, ya!” Suara Kayra terdengar makin antusias. “Iya. Aku ke sana sekarang.” “Oke! Aku tunggu. Jangan lama-lama!” Klik. Begitu sambungan terputus, keheningan kembali menyelimuti kabin mobil. Celine menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum menaruhnya kembali di dashboard. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Sudah cukup. Kesalahan malam itu, tepatnya satu minggu lalu, seharusnya terkubur bersama semua kebodohannya. “Lupakan, Cel…” gumamnya lirih, menepuk pipinya pelan. “Fokus aja ke acara Papanya Kayra.” Ia menyalakan mobil. Suara deru mesin mengisi kabin yang sejak tadi sunyi. Kedua tangannya menggenggam setir, tapi pikirannya masih sempat melayang pada wajah pria itu, yang entah kenapa sulit ia singkirkan dari kepala. Ia menggeleng keras, mencoba menepis bayangan itu. “Udah, Cel… jangan bego lagi,” bisiknya, setengah menegur diri sendiri. “Itu cuma kesalahan. Titik.” Pelan-pelan, ia menekan pedal gas, meninggalkan halaman rumah. Untuk sekarang, Celine memilih menepis semua kegilaan itu dan memaksa dirinya fokus pada acara malam ini. Beberapa saat kemudian, Celine tiba di rumah Kayra. Mobilnya berhenti tepat di depan halaman luas yang diterangi lampu taman berwarna hangat. Ia menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri sebelum melangkah keluar. Tok. Tok. Ketukan ringan dari tangannya terdengar di pintu besar rumah mewah itu. Tak butuh waktu lama, pintu terbuka. Kayra muncul dengan senyum lebarnya yang khas. “Cel! Akhirnya kamu datang juga. Ayo masuk!” serunya ceria, langsung menarik tangan Celine dan membawanya masuk ke ruang tengah yang elegan namun terasa akrab. “Aduh, maaf ya telat,” ucap Celine canggung sambil melepas tas kecil dari pundaknya. “Nggak apa-apa, kok!” sahut Kayra ringan. “Kamu duduk dulu aja ya, aku panggil Papa. Beliau masih di kamarnya.” Celine mengangguk, mengedarkan pandang ke sekeliling ruang keluarga yang sudah tak asing lagi baginya. Baru saja Kayra berbalik hendak naik ke lantai dua, langkahnya terhenti ketika terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Langkah berat itu terdengar mantap, dari arah atas seorang pria turun perlahan. Kemeja putihnya tergulung di lengan, kancing atas terbuka memperlihatkan sedikit lehernya. Rambut hitam legamnya agak berantakan, wajahnya teduh namun penuh wibawa. Aura tenang dan dominan yang terpancar darinya sulit dijelaskan... justru karena itu, pandangan sulit lepas darinya. “Papa!” seru Kayra spontan. “Ternyata Papa udah turun. Nih, kenalin… Celine, sahabat aku di kampus.” Celine otomatis ikut menoleh. Pandangannya jatuh pada sosok pria yang sedang menunduk, sibuk merapikan lipatan lengan kemejanya. Rambut depannya sedikit menutupi wajahnya, sehingga membuatnya belum terlihat jelas. Hingga akhirnya... pria itu mengangkat kepala. Dan dalam sekejap saja. Deg. Dunia Celine seolah berhenti berputar. Jantungnya seakan kehilangan detak. Napasnya tercekat. Segalanya mendadak redup di matanya, menyisakan hanya sosok pria itu. Pria itu… kenapa ada di rumah sahabatnya?! *****“Akhem.”Darrel berdehem pelan, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.“Kamu... beneran nggak apa-apa, Cel? Nggak terpaksa karena Shaka?”Celine menggeleng pelan, senyumnya semakin melebar. “Beneran, Kak Darrel. Lagipula... aku juga udah lama banget nggak naik wahana itu.”“Sama seperti dulu saat Mama masih ada,” sambung Celine dalam hatinya, merasakan kehangatan yang perlahan mengalir menggantikan rasa dingin di dadanya malam ini.“Horeee! Naik kincir angin bertiga!” sorak Shaka heboh.Ia gegas melepaskan diri dari pangkuan Celine, melompat kecil sambil menarik tangan Celine dan Darrel agar segera berdiri.Darrel akhirnya terkekeh geli, rasa canggungnya menguap digantikan oleh perasaan hangat yang membuncah. Ia berdiri, berjalan di sisi Celine seraya menuntun langkah kecil Shaka menuju antrean wahana.Saat mereka berjalan beriringan di bawah pendar lampu taman yang temaram, dari kejauhan, mereka benar-benar terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang utuh, bahagia, dan
Shaka yang berada di pangkuan Darrel tiba-tiba memiringkan kepala. Sepasang mata bulat anak kecil itu menatap lekat ke arah Celine. Bukannya takut atau bersembunyi di dada Darrel seperti biasanya saat bertemu orang asing, anak itu justru mengulurkan tangan kecilnya yang bebas dari balon. “Kakak cantik siapa?” tanya Shaka dengan suara cempreng khas anak kecil, wajahnya tampak begitu penasaran. “Kakak temannya Papa Darrel, ya?” Celine menoleh, melihat binar polos di mata Shaka. Senyuman kaku di bibirnya perlahan mencair menjadi senyuman tulus yang sangat hangat. “Hai, Sayang. Nama Kakak, Celine. Kamu lucu banget, sih.” “Kakak Celine...” Shaka mengeja nama itu dengan menggemaskan, lalu tiba-tiba ia menggeliat turun dari pangkuan Darrel. Tanpa diduga sama sekali, anak laki-laki berkemeja merah kotak-kotak itu melangkah mendekati Celine, lalu menepuk-nepuk paha Celine dengan percaya diri. “Kakak, Shaka mau duduk di sini boleh? Mau lihat kincir angin raksasa sama Kakak!” Melihat tin
Celine terpaku menatap sosok pria yang berdiri tegap di hadapannya.Wajah pria itu tegas namun ramah, mengenakan mantel kasual yang membuatnya tampak matang dan berkarisma. Ingatan masa kuliah Celine berputar cepat.“...Kak Darrel?” bisik Celine, hampir tidak percaya.Pria itu langsung tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kehangatan.“Ternyata kamu beneran Celine. Astaga, aku kira aku salah lihat tadi.” Darrel melangkah mendekat, lalu menunjuk ruang kosong di bangku besi itu. “Boleh aku duduk?”Celine mengangguk kaku, masih sedikit terkejut. “B-boleh, Kak. Silakan.”Darrel duduk dengan sopan, memberi jarak yang nyaman di antara mereka. Ia menoleh, menatap lekat wajah Celine dengan tatapan penuh perhatian.Sebagai pria yang peka, Darrel menyadari hidung Celine yang memerah dan sisa-sisa air mata yang buru-buru dihapus perempuan itu tadi. Namun, Darrel memilih untuk berpura-pura tidak melihatnya demi menjaga kenyamanan Celine.“Lama banget ya nggak ketemu, Cel. Kamu apa kabar?” t
Sementara itu, di tempat lain yang jauh dari Aldean, suara gelak tawa anak-anak, alunan musik riang dari komidi putar, dan aroma manis berondong jagung menyambut kedatangan Celine saat ia melangkah melewati gerbang Taman Ria Semesta. Tempat itu masih sama seperti belasan tahun lalu. Ramai, bising, dan penuh dengan binar kebahagiaan. Namun bagi Celine, semua keriuhan di sekitarnya terasa hambar. Dunia di sekelilingnya bergerak cepat, sementara dirinya seolah terkunci dalam ruang waktu yang sunyi dan membeku. Dengan langkah pelan, Celine berjalan menuju sebuah bangku panjang berbahan besi di sudut taman, tepat di bawah pohon rindang yang menghadap langsung ke wahana kincir ria—sebuah bianglala raksasa yang berputar lambat, memamerkan pendar lampu warna-warni yang cantik menantang langit malam. Celine mendudukkan tubuhnya yang lemas. Tatapannya terkunci pada salah satu gondola bianglala yang perlahan bergerak naik. Seketika, dinding pertahanan di kepalanya runtuh. Memori belasan ta












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak