LOGINMalam itu, Celine hanya ingin melupakan luka setelah memergoki pacarnya berselingkuh dengan cara paling gila dalam hidupnya: menyewa seorang gigolo. Namun siapa sangka, pria yang menemaninya malam itu bukanlah gigolo seperti yang dia kira. Identitasnya jauh lebih mengejutkan, dan sejak malam itu hidup Celine tak pernah sama lagi. Terjerat dalam hubungan yang tabu dan terlarang, Celine perlahan menyadari bahwa pria itu justru menjadi kunci untuk membuka rahasia kelam di balik kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya. Siapakah sebenarnya pria itu? Dan kebenaran apa yang tersembunyi di balik masa lalu Celine?
View More“Engh… ah… pelan-pelan.”
Suara lirih gadis itu pecah di antara helaan napas dan desis seprai yang berkeresek. Lampu temaram memantulkan bayangan dua tubuh yang saling menyesap panas malam. Pria di atasnya menatap lekat wajah polos yang menahan malu dan rasa asing. Keringat menetes di pelipis, tapi gerakannya tetap terukur, lembut, seolah tengah membaca setiap reaksi tubuh gadis itu. “Aku terlalu kasar?” suaranya serak, bergetar di antara detak jantung mereka. Gadis itu hanya menggeleng, matanya terpejam rapat. Nyeri samar yang tadi terasa kini berubah menjadi sensasi aneh yang mengaduk perasaannya—antara takut, bingung, dan candu yang tak bisa ia pahami. Hening sejenak. Lalu pria itu tersenyum kecil. “Kau berbeda,” bisiknya di telinga. “Tidak seperti yang kubayangkan.” Gadis itu menatap balik, jantungnya berdebar tanpa alasan. Ada yang salah. Pria itu bukan sekadar gigolo—dan itu justru yang membuatnya takut. . . “Ah… sepertinya aku sudah gila…” Celine Arsyila, menatap jemarinya yang masih menggenggam erat setir mobil. Sudah seminggu berlalu sejak malam itu—malam ketika ia kehilangan kendali dan tanpa pikir panjang menyewa seorang gigolo. Semua bermula dari amarah dan sakit hati setelah memergoki pacarnya mencium wanita lain. Dan malam ulang tahun sahabatnya yang seharusnya penuh tawa justru berubah jadi titik paling kacau dalam hidupnya. Bukannya pulang dengan senyum, ia malah menghabiskan malam itu dengan pria asing yang kini terus muncul di pikirannya. Bayangan malam itu datang kembali tanpa diundang... malam panas penuh gairah yang seharusnya tak pernah terjadi. Suara desahan, napas berat yang saling berdekatan, dan sentuhan hangat itu terus menghantuinya selama seminggu terakhir. “Kenapa sih aku masih mikirin malam itu…” gumamnya lirih, mengutuk diri sendiri. Ia menghembuskan napas berat, menegakkan tubuh, berusaha mengusir bayangan itu, tapi yang datang justru bayangan lain. Wajah tampan dengan rahang tegas, suara rendah yang tenang, dan sorot mata teduh pria itu. Sosok yang sama sekali tak pantas disematkan label “cowok bayaran.”Jauh dari kesan gigolo. Pria itu terlalu tenang, terlalu berkelas. “Sial…” desisnya lagi, semakin kesal. Seolah semesta belum puas mempermainkannya, layar ponselnya tiba-tiba bergetar di dashboard. Sebuah notifikasi pesan masuk dari seseorang. Celine mengerutkan kening, membuka pesan itu dengan malas. Velvet Dating App: [Cantik... kamu serius ninggalin aku gitu aja minggu lalu? Aku udah nungguin kamu sampe pagi, tahu nggak? Please next time jangan PHP kayak gitu.] Mata Celine membulat. Tangannya refleks mencengkeram ponsel kuat-kuat. “PHP!” ulangnya tak percaya. “Loh PHP apaan? Aku sama dia bahkan udah—” Ia buru-buru menutup mulutnya sendiri. Napasnya tercekat, amarah dan rasa bingung bertabrakan di dadanya. Hatinya berdegup cepat. ‘Berarti... pria malam itu bukan gigolo yang sebenarnya?’ pikirnya, panik. Ia menelan ludah, memejamkan mata sejenak. “Aku bener-bener gila waktu itu…” bisiknya getir. “Kalau cowok malam itu bukan dia, lalu siapa?” Keheningan memenuhi kabin mobil. Hanya suara dentuman pelan dari jantungnya yang kacau. Drrt... Drrt. Ponsel Celine kembali bergetar, membuat pikirannya yang masih penuh dengan bayangan pria itu buyar seketika. Dengan cepat ia menatap ponsel di tangannya, nama sahabatnya muncul di layar. Kayra. Celine menarik napas pelan sebelum menekan tombol hijau. “Ya, Kay?” suaranya lembut, meski masih tersisa nada lelah di ujungnya. “Cel! Kamu di mana sih?” suara riang Kayra langsung terdengar dari seberang. “Aku sama Papa udah nungguin kamu di rumah! Kita kan udah janjian makan malam buat nyambut Papaku yang baru pulang dari luar negeri. Jangan bilang kamu lupa?” Celine menegakkan tubuh, berusaha terdengar tenang. “Nggak kok. Aku nggak lupa. Ini aku udah mau jalan.” “Yaudah, buruan, ya!” Suara Kayra terdengar makin antusias. “Iya. Aku ke sana sekarang.” “Oke! Aku tunggu. Jangan lama-lama!” Klik. Begitu sambungan terputus, keheningan kembali menyelimuti kabin mobil. Celine menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum menaruhnya kembali di dashboard. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Sudah cukup. Kesalahan malam itu, tepatnya satu minggu lalu, seharusnya terkubur bersama semua kebodohannya. “Lupakan, Cel…” gumamnya lirih, menepuk pipinya pelan. “Fokus aja ke acara Papanya Kayra.” Ia menyalakan mobil. Suara deru mesin mengisi kabin yang sejak tadi sunyi. Kedua tangannya menggenggam setir, tapi pikirannya masih sempat melayang pada wajah pria itu, yang entah kenapa sulit ia singkirkan dari kepala. Ia menggeleng keras, mencoba menepis bayangan itu. “Udah, Cel… jangan bego lagi,” bisiknya, setengah menegur diri sendiri. “Itu cuma kesalahan. Titik.” Pelan-pelan, ia menekan pedal gas, meninggalkan halaman rumah. Untuk sekarang, Celine memilih menepis semua kegilaan itu dan memaksa dirinya fokus pada acara malam ini. Beberapa saat kemudian, Celine tiba di rumah Kayra. Mobilnya berhenti tepat di depan halaman luas yang diterangi lampu taman berwarna hangat. Ia menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri sebelum melangkah keluar. Tok. Tok. Ketukan ringan dari tangannya terdengar di pintu besar rumah mewah itu. Tak butuh waktu lama, pintu terbuka. Kayra muncul dengan senyum lebarnya yang khas. “Cel! Akhirnya kamu datang juga. Ayo masuk!” serunya ceria, langsung menarik tangan Celine dan membawanya masuk ke ruang tengah yang elegan namun terasa akrab. “Aduh, maaf ya telat,” ucap Celine canggung sambil melepas tas kecil dari pundaknya. “Nggak apa-apa, kok!” sahut Kayra ringan. “Kamu duduk dulu aja ya, aku panggil Papa. Beliau masih di kamarnya.” Celine mengangguk, mengedarkan pandang ke sekeliling ruang keluarga yang sudah tak asing lagi baginya. Baru saja Kayra berbalik hendak naik ke lantai dua, langkahnya terhenti ketika terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Langkah berat itu terdengar mantap, dari arah atas seorang pria turun perlahan. Kemeja putihnya tergulung di lengan, kancing atas terbuka memperlihatkan sedikit lehernya. Rambut hitam legamnya agak berantakan, wajahnya teduh namun penuh wibawa. Aura tenang dan dominan yang terpancar darinya sulit dijelaskan... justru karena itu, pandangan sulit lepas darinya. “Papa!” seru Kayra spontan. “Ternyata Papa udah turun. Nih, kenalin… Celine, sahabat aku di kampus.” Celine otomatis ikut menoleh. Pandangannya jatuh pada sosok pria yang sedang menunduk, sibuk merapikan lipatan lengan kemejanya. Rambut depannya sedikit menutupi wajahnya, sehingga membuatnya belum terlihat jelas. Hingga akhirnya... pria itu mengangkat kepala. Dan dalam sekejap saja. Deg. Dunia Celine seolah berhenti berputar. Jantungnya seakan kehilangan detak. Napasnya tercekat. Segalanya mendadak redup di matanya, menyisakan hanya sosok pria itu. Pria itu… kenapa ada di rumah sahabatnya?! *****Napas Celine terengah-engah. Tubuhnya menyesuaikan diri, menanggapi setiap sentuhan yang membuat seluruh tubuhnya bergetar namun tak mampu menolak.Di ruang tengah yang diterangi cahaya temaram lampu gantung, Aldean dan Celine masih terbenam dalam kehangatan sentuhan yang tak terburu-buru.Aldean perlahan membalikkan tubuh mereka, kini Celine yang terbaring di bawah, napasnya bergetar halus.Bibir mereka bersentuhan erat. Aldean mulai menyesap bibir bawah Celine dengan lembut, lalu berpindah ke bibir atasnya, sesekali menggigitnya pelan. Desah lembut keluar dari bibir Celine, memperlihatkan betapa bergairah dia.Merasakan sentuhan itu, Celine membuka sedikit mulutnya, memberi jalan bagi Aldean menyelinapkan lidahnya, menjelajah setiap lekuk dan ruang hangat dalam mulutnya. Lidah mereka saling menyentuh, menari dalam irama penuh gairah yang mengalir tanpa kata.Tangan Aldean tak henti menjelajahi tubuh Celine, bukan hanya bibir dan lidahnya yang bergerak penuh hasrat. Jari-jarinya pun
Mata Celine basah, tapi kali ini bukan karena takut, melainkan karena rasa aman.Ia mengangguk pelan. “Iya, Om…”Aldean menariknya kembali ke pelukan yang lebih erat. Namun jauh di dalam dirinya, Aldean tahu waktu mereka untuk bersembunyi mulai menipis.Aldean melepaskan pelukannya, lalu berbaring di sofa panjang itu. Dengan gerakan tenang, ia menarik Celine agar ikut berbaring bersamanya. Celine menurut. Selimut tipis membungkus tubuh mereka, terasa begitu dekat dan hangat.Punggung Celine bersandar di dada Aldean. Tubuhnya otomatis merapat ke Aldean, seolah sudah hafal ke mana harus kembali.Sejenak, hening menyelimuti mereka, hingga Celine membuka suara.“Om…” panggil Celine pelan, nyaris ragu.“Hm?” jawab Aldean lembut.“Aku nggak pernah nyangka bisa sejauh ini sama Om.”Aldean tersenyum tipis. Tangannya mengusap lengan Celine perlahan.“Aku juga,” jawabnya jujur. “Dan mungkin itu yang paling bikin aku takut sekaligus bikin aku nggak pengin ngelepasin kamu.”Celine menelan ludah.
Sore itu, langit mulai meredup ketika Celine berdiri di depan rumah Kayra. Tangannya terangkat, ragu, sebelum akhirnya mengetuk pintu.Tok. Tok. Tok.Ketukan itu terasa lebih berat dari biasanya.Tak lama kemudian, pintu terbuka.Kayra berdiri di sana dengan pakaian santai, rambutnya terikat asal. Wajahnya terlihat terlalu tenang, dan justru itu yang membuat dada Celine semakin sesak.“Cel,” sapa Kayra sambil tersenyum kecil. “Yuk, masuk.”Celine mengangguk dan melangkah masuk. Aroma rumah itu langsung menyergapnya, terlalu familiar. Terlalu penuh kenangan.Mereka duduk di ruang tengah. Sunyi menggantung di antara mereka beberapa detik terlalu lama.Celine menggenggam tasnya, berusaha mengatur napas.“Katanya kamu mau minta bantuan?” tanyanya akhirnya, suaranya terdengar lebih tenang dari perasaannya.Kayra mengangguk. Ia menyandarkan punggung, menatap langit-langit sebentar, lalu kembali menatap Celine. Tatapannya serius. Tidak bercanda.“Aku pengin kamu bantu aku, cari tahu semua te
Malam semakin larut.Lampu kamar hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur di sisi ranjang. Celine tertidur di samping Aldean, napasnya teratur, wajahnya damai, seolah dunia di luar sana tak pernah menyentuhnya.Aldean masih terjaga.Satu lengannya memeluk tubuh Celine erat, sementara tangan yang lain membelai rambutnya pelan, berulang kali, seakan takut jika ia berhenti, ketenangan ini ikut menghilang.Pandangan Aldean tertambat pada wajah itu. Wajah Celine yang kini menjadi pusat hidupnya.Aldean menarik napas panjang.Bayangan Kayra kembali menyusup ke pikirannya. Nada suara putrinya di telepon tadi, pelan, menahan rindu. Aldean menutup mata sejenak. Ia bukan ayah yang tak peduli. Justru karena peduli, ia terjebak di antara dua hal yang sama-sama penting: Kayra dan Celine.“Maafin Papa, Kay...” gumamnya hampir tak terdengar.Ia tahu, ini tak bisa berlangsung selamanya. Kayra bukan anak kecil yang bisa terus dibohongi. Cepat atau lambat, putrinya harus tahu tentang Celine. Te












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore