Share

64. Luka dan Rasa bersalah

Author: W.M.G
last update publish date: 2025-12-19 22:34:16
Gavin masih mematung di tengah dapur, menatap tangannya yang menggantung di udara dengan tatapan kosong. Bayangan wajah ngeri Sira dan bagaimana tubuh wanita itu gemetar hebat saat ia sentuh tadi, terus berputar-putar di kepalanya bagaikan mimpi buruk yang nyata.

"Apa yang sudah aku lakukan?" bisiknya lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.

Ia merutuki dirinya sendiri. Alkohol mungkin membuat kesadarannya menipis, tapi itu bukan alasan untuk berubah menjadi monster. Ia telah menghancurkan satu-
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    162. Rahasia dalam Kebisuan

    Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai, membawa kehangatan yang kontras dengan dinginnya pendingin ruangan rumah sakit. Sira terbangun lebih dulu. Kesadarannya kembali perlahan, namun kali ini tanpa sentakan ketakutan seperti semalam. Perasaanya sudah lebih tenang, dan hal pertama yang ia rasakan adalah beban hangat yang menindih jari-jarinya.Gavin.Lelaki itu tertidur dengan posisi yang pasti sangat tidak nyaman, duduk di kursi dengan kepala bersandar di tepi ranjang. Sira memandangi wajah suaminya dalam diam. Gurat kelelahan tercetak jelas di sana, lingkaran hitam di bawah mata dan dahi yang bahkan dalam tidur pun tampak berkerut gelisah.Sira menarik tangannya perlahan, berusaha tidak membangunkan Gavin. Matanya kemudian tertuju pada lengan kiri Gavin yang tergeletak di atas sprei. Kemeja hitam yang dikenakan suaminya tampak robek di bagian bahu hingga siku. Ada noda darah kering yang tersamar oleh warna gelap kainnya, namun yang paling mencolok adalah perban p

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    161. Runtuhnya Sang Pilar

    Malam semakin larut, menyisakan kesunyian di dalam ruang perawatan itu. Sira akhirnya kembali tertidur, kelelahan setelah badai trauma yang menguras seluruh tenaganya. Namun, meski dalam lelap, jemari kecilnya masih menggenggam erat telapak tangan Gavin. Cengkeramannya begitu kuat, seolah-olah jika ia melonggarkan genggaman itu sedetik saja, Gavin akan meninggalkannya dan Andre akan muncul dari kegelapan untuk menyeretnya kembali ke neraka.Gavin tertegun menatap tangan mereka yang bertaut. Ia bisa merasakan sisa-sisa getaran di tangan Sira. Hatinya perih, seperti disiram cuka di atas luka yang menganga."Penderitaan apa saja yang sudah kamu alami, Sira... hingga kamu bahkan takut untuk bicara?" bisik Gavin pelan, suaranya pecah di udara yang dingin.Air mata yang tadinya sempat mengering kini kembali mengalir, jatuh satu per satu membasahi sprei rumah sakit. Gavin menunduk, menempelkan keningnya pada punggung tangan Sira. Di bawah temaram lampu nakas, Gavin mulai merapal rentetan pen

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    160. Suara yang Terperangkap

    Malam merayap masuk melalui celah jendela rumah sakit, membawa kesunyian yang menyakitkan. Lampu ruangan diredupkan, hanya menyisakan temaram yang jatuh tepat di atas wajah Sira. Gavin tidak bergerak sedikit pun dari posisinya sejak siang tadi. Ia duduk di kursi di samping ranjang, membungkuk dengan punggung yang kaku, seolah-olah jika ia berkedip, Sira akan lenyap lagi dari pandangannya.Tangan kanannya menggenggam jemari Sira yang tidak terpasang infus. Genggamannya tidak terlalu kuat agar tidak menyakiti, namun cukup erat untuk menunjukkan bahwa ia tidak akan melepaskannya lagi. Sementara itu, jemari tangan kirinya yang gemetar bergerak perlahan, hampir tidak menyentuh kulit, saat menyusuri pipi Sira yang mulai membiru.Ada memar yang kontras di kulit pucat itu. Di ujung bibir Sira, terdapat luka kecil yang mengering, jejak kekerasan yang ditinggalkan Andre. Bajingan itu pasti sempat menamparnya saat Sira mencoba melawan. Setiap kali mata Gavin terpaku pada luka itu, hatinya sepert

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    159. Sisa-Sisa Badai

    Raungan sirene ambulans dan mobil polisi memecah kesunyian gang sempit yang lembap itu secara bersamaan.Cahaya strobo merah dan biru berpendar liar, memantul di dinding-dinding kontrakan kusam yang selama beberapa jam terakhir menjadi saksi bisu sebuah penyekapan yang mengerikan. Namun, bagi Gavin, kebisingan itu hanyalah dengung jauh yang tidak berarti. Dunianya telah menyempit drastis, hanya sebatas tubuh rapuh dalam balutan selimut tebal yang kini berada dalam dekapannya.Begitu pintu belakang ambulans dihempaskan terbuka, Gavin segera membopong Sira dengan langkah yang tergesa namun penuh kehati-hatian. Ia melangkah dengan kaki yang terasa seberat timah, mengabaikan lengan bawahnya yang terluka serta darah yang mulai mengering dan menghitam di kemejanya.Petugas medis mencoba mengambil alih, namun Gavin menolak melepaskan dekapannya. Ia seolah tidak lagi mempercayai siapa pun. Hanya setelah ia sendiri yang meletakkan Sira di atas tandu dan memastikan istrinya aman di dalam kabin

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    158. Hancur dalam Pelukan

    Udara pagi di gang sempit itu mendadak membeku. Baru saja kaki Gavin menyentuh tanah setelah melompat dari mobil, sebuah jeritan melengking terdengar pendek, tajam, dan penuh penderitaan, menyayat kesunyian dari arah dalam kontrakan tanpa pagar itu. Jeritan itu tidak selesai, seolah diputus oleh bungkaman tangan yang kejam."SIRA!" teriak Gavin sekuat mungkin.Dunia Gavin seakan runtuh seketika. Tanpa menunggu Prabu atau Maya, ia berlari menerjang pintu kayu usang itu. Pikirannya tidak lagi mampu memproses logika. Yang ia tahu, suara itu adalah suara istrinya, suara penuh harap ditengah sisa-sisa kekuatannya untuk meminta tolong.Gavin menghantamkan bahunya ke pintu kayu kontrakan yang terkunci rapat. Brak! Pintu itu bergeming. Gavin tidak menyerah. Ia mundur selangkah, mengabaikan rasa nyeri yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya yang bahkan belum sepenuhnya pulih akibat kecelakaan maut beberapa bulan lalu. Tapi baginya, rasa sakit fisik itu tidak ada artinya dibandingkan dengan ket

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    157. Di Ujung Kegelapan

    Dinding-dinding kayu kontrakan yang sempit itu seolah merapat, menghimpit napas Sira yang kian tersengal. Di dalam kamar yang pengap oleh bau obat-obatan dan kecemasan, suasana berubah menjadi neraka yang nyata. Matahari pagi yang seharusnya membawa harapan, justru menjadi saksi bisu atas horor yang sedang berlangsung di balik pintu terkunci.Andre tidak lagi tersenyum lembut. Topeng orang baik yang ia kenakan sejak kemarin telah retak, menampakkan monster obsesif yang selama ini bersembunyi di balik kacamata dan sikap sopannya. Di tangannya, semangkuk bubur itu bukan lagi simbol perhatian, melainkan alat penyiksaan."Makan, Sira! Aku bilang makan!" geram Andre. Suaranya bukan lagi bisikan, melainkan perintah rendah yang sarat akan ancaman.Sira menggeleng kuat, air matanya membasahi pipi yang kini dihiasi noda lipstik merah yang mulai berantakan akibat gesekan. "Lepaskan aku, Mas Andre... Tolong, jangan begini..."Kemarahan Andre meledak. Ia meletakkan mangkuk itu dengan kasar di ata

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    80. Labirin Cinta

    Hari demi hari berlalu, namun SMA Cendekia Nusantara seolah tidak pernah kehabisan bahan untuk membuat cerita baru, bahkan ujian akhir semester pun tetap tidak mampu mengalihkan fokus dan perhatian orang-orang. Bisik-bisik kebencian yang melabeli Sira sebagai "pelakor" perlahan mulai mendingin, terk

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    79. Retak Sempurna

    Keheningan kembali merayap di antara sela-sela napas mereka yang memburu. Dalam pelukan yang masih melingkar erat itu, Gavin seolah tak ingin membiarkan celah udara sedikit pun memisahkan mereka. Dunianya sedang runtuh, dan Sira adalah satu-satunya fondasi yang tersisa."Apa pernah... kamu mencinta

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    78. Pelukan di Ambang Kehancuran

    Pertanyaan yang menggema di benak Sira saat rapat tadi terus berputar layaknya kaset rusak, mengoyak sisa-sisa ketenangannya. Rasa dingin dari tatapan Gavin membuatnya merasa bersalah dan membencinya di saat yang sama. Kenapa semuanya menjadi salah ketika ia bersama Gavin? Mengapa cinta yang seharu

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    77. Benarkah Kamu Mencintaiku?

    Pagi kembali menyapa SMA Cendekia Nusantara, namun suasananya tak lagi sama. Secara administratif, masalah Sira telah selesai. Surat klarifikasi resmi telah ditempel di papan pengumuman sekolah dan disebarluaskan ke grup wali murid melalui sekretaris komite.Reputasi Sira sebagai guru memang telah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status