LOGINMenikahi cinta pertama adalah impian setiap wanita… tapi tidak untukku. Aku menikahi Muhammad Gavin Rusdhan karena sebuah kondisi yang memojokkan ku demi memenuhi wasiat terakhir ayah. Masalahnya, dia sebentar lagi akan menikahi wanita lain—sementara aku terjebak sebagai istri pertama yang tak dianggap. Setiap hari harus bertemu dengannya di kantor, menahan rindu sekaligus sakit hati, membuatku semakin hancur. Apalagi ketika Arwan Kin Dhananjaya, sahabat yang sudah kuanggap kakak sendiri, tiba-tiba mengungkapkan cinta. Belum selesai dengan luka itu, aku kembali terjebak dalam permainan baru: menjadi calon istri pura-pura seorang duda karismatik, direktur utama perusahaan besar sekaligus ayah dari muridku sendiri. Cinta, pengkhianatan, dan rahasia… mampukah aku bertahan dalam pernikahan yang bahkan sejak awal bukan milikku?
View More[Dek, sudah gajian, 'kan? Kirimin Ibu uang, dong! Ibu harus bayar hutang. Bekal adikmu juga sudah habis.]
[Oke, Bu. Nanti aku transfer ke rekening Ibu.]Huft. Embun menghela nafas kasar setelah membaca percakapan antara suami dan mertuanya. Pesan yang selalu datang tiap awal bulan. Dan permintaan ini tak hanya datang sekali dalam sebulan, tapi berkali-kali. Ada saja alasan dari ibu mertuanya. Beras habis, bayar arisan, sampai dengan keinginannya yang wajib membeli baju baru tiap bulan. Semua itu, harus Bumi yang menanggung.Lalu, dimana gaji pensiunan mendiang Ayah Bumi? Apakah selalu habis dalam sekejap? Hingga Retno, selaku Ibunda Bumi selalu membebankan kebutuhan rumah tangganya pada anak ketiganya itu."Sayang …."Bumi yang baru keluar dari kamar mandi, heran melihat istrinya berdiri di samping nakas tempat tidurnya."Dek, kenapa?"Karena tak kunjung mendapat jawaban, Bumi pun mendekati Embun agar bisa melihat wajah istrinya itu dari arah depan. Sedari tadi, Embun tak menyahut dan terus membelakanginya."Dek … dari tadi gak nyahut-nyahut."Kini Bumi telah berhasil menyentuh istrinya. Seketika Embun terkesiap dan gugup hingga tak sengaja melemparkan ponsel suaminya ke atas tempat tidur."Nah … kepo sama isi di handphone Mas, ya?"Bumi menggoda istrinya. Dia tak merasa tersinggung apalagi ketakutan saat tahu istrinya menggeledah ponselnya. Toh, di dalamnya tak ada bukti apapun yang akan membuat Embun marah. Bumi memang pria setia dan sangat menyayangi istrinya."Eh … e … enggak, Mas. Tadi gak sengaja aja."Embun masih terlihat gugup. Perbuatannya selama ini tertangkap basah oleh suaminya. Dia malu sekaligus tak enak hati pada sang suami. Padahal dia mengecek ponsel Bumi bukan karena curiga suaminya itu berkhianat. Hanya saja, Embun terlalu penasaran dengan isi pesan yang selalu mertuanya kirim.Bumi melihat ponsel yang tergeletak di ranjang. Pesan dari ibunya selama ini telah terbuka dan terlihat oleh mata. Dia baru tahu kalau sedari tadi istrinya terdiam karena melihat percakapannya dengan orang rumah via WA.Bumi mengambil ponselnya. Sempat terdiam sesaat. Namun dia kembali mengangkat wajah dan tersenyum ke arah istrinya."Maaf, ya, Sayang. Kalau tabungan serta penghasilan Mas selama ini harus dibagi lagi dengan orang rumah. Tapi bukankah Mas sudah izin denganmu?"Benar. Selama ini, Bumi memang izin pada Embun untuk membagi gajinya dan diberikan pada orang rumah. Tapi itu hanya untuk satu kali dalam sebulan. Bukan berkali-kali dan menjadikan Bumi sebagai penanggung jawab sepenuhnya untuk orang rumah. Padahal Ibu mertua Embun masih menerima pensiunan mendiang ayah mertua. Bukan mengandalkan Bumi selalu. Miris. Embun ingin berontak tapi takut dianggap tak berbakti pada mertua."Em … tapi, Mas." Embun sedikit ragu. Dia mencoba untuk menyusun kata agar sang suami tak salah paham dengan maksud ucapannya nanti."Tapi apa, Sayang? Katakan saja! Kamu keberatan? Nanti biar Mas berbicara sama Ibu."Inilah yang membuat Embun begitu menghormati suaminya. Walaupun dalam rumah tangganya, hanya Bumi yang menghasilkan uang, tapi pria itu tetap menghargai sang istri."Bukan, Mas. Kita harus pikirkan masa depan kita juga! Toh, Ibu juga ada uang pensiunan. Kenapa kita tak batasin dulu kiriman uang ke orang rumah?"Sesaat, Bumi terdiam. Ada perang batin dalam dirinya. Dia merasa perkataan Embun ada benarnya, tapi dia juga ingin membantu keluarganya yang kini tak punya kepala keluarga lagi setelah sang ayah meninggal.—--------------"Kok masih segini uangnya? Berarti Bumi belum transfer juga."Bu Retno, selaku Ibunda Bumi, merasa cemas karena saldo di ATM-nya tak kunjung bertambah. Tak ada transferan dari kemarin."Mana udah ditagih hutang sama tetangga. Beras dan kebutuhan rumah juga sudah habis. Mana sih, Bumi? Dari kemarin suruh transfer, gak juga dilakuin. Lelet banget jadi orang. Kalau gini, aku kan jadi pusing."Bu Retno mengacak-acak rambutnya. Ia terus menggerutu, menyalahkan anak ketiganya itu. Ia geram karena Bumi tak kunjung mengirimkan uang. Padahal masih banyak kebutuhan dirinya yang harus dipenuhi saat ini. Ia pun memutuskan menelpon Bumi.TuuuutTuuuutTuuuut"Ini tersambung, kok. Tapi kok gak diangkat terus sama si Bumi?" Bu Retno menggerutu. Ia pun kembali menelpon anaknya untuk kedua kalinya.Kali ini terangkat. Namun ini bukan suara Bumi."Halo, Bu." Ini adalah suara Embun."Loh … ini Embun?" tanya Bu Retno."Eh … iya, Bu. Mas Bumi masih sarapan.""Kok agak gak sopan, ya, kamu? Berani banget jawab telepon suami. Kalau ini dari bosnya, apa kamu angkat juga? Sekalian goda, ya?"Embun terdengar menghela nafas pelan. Pagi-pagi dia sudah dihadapkan dengan sindiran pedas dari sang mertua."Ada apa, Bu?" Embun terpaksa menelan bulat-bulat kata-kata menyakitkan dari mertuanya. Dia masih berusaha bersikap sopan."Kasi teleponnya ke Bumi! Malas sekali berbicara sama kamu. Ganggu mood-ku hari ini," ucap Bu Retno mengikuti gaya bicara anak muda masa kini."Memangnya mau bicara soal apa, Bu? Uang lagi? Mas Bumi bukan mesin ATM yang bisa memberikan ibu uang setiap saat."Tak terasa, Embun nekat melawan sang mertua. Dia sudah geram dengan sikap Bu Retno yang bisa dibilang memeras anak dan menantunya."Hah? Apa kamu bilang? Coba katakan sekali lagi!" Bu Retno berteriak dari seberang telepon. Embun tak mau kalah, dia pun mengulang perkataan yang barusan dia ucapkan."Mas Bumi bukan mesin ATM, Bu. Tolong bilang sama anak Ibu yang lainnya untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah. Kami juga punya mimpi untuk keluarga kecil kami. Selama ini, kami bahkan harus irit karena Mas Bumi menuruti keinginan ibu terus. Bagaimana kami bisa punya rumah dan yang lainnya jika Ibu terus menggerogoti kami? Bahkan hanya sekedar kendaraan pun, Mas Bumi tak punya. Dia masih memakai kendaraan milikku, padahal gajinya cukup besar."Embun menghela nafas kasar. Telepon dimatikan secara sepihak olehnya. Dia sudah tahu pasti sang mertua kini sedang memaki-makinya di tempat lain.Di sisi lain, Bumi mendengar percakapan istri dan ibunya sejak tadi. Kebetulan Embun lupa mematikan loudspeaker teleponnya. Dia kini mendekati Embun dan mengambil ponselnya dengan sedikit kasar. Embun terkejut."Kamu tak seharusnya berkata kasar seperti itu pada Ibu. Aku setuju dengan saranmu kemarin, untuk membatasi uang yang akan dikirimkan pada orang rumah. Tapi bukan begini caranya. Aku tersinggung."Bumi meninggalkan istrinya begitu saja. Embun serasa ingin berteriak. Suaminya kini justru kecewa terhadap dirinya. Apa mungkin Embun terlalu jahat? Ataukah ini wajar dilakukan pada mertua yang bahkan tak bisa menghargainya? Karena semakin nurut Embun, dia justru semakin diinjak-injak oleh mertuanya.Telepon kembali berdering. Itu dari Bu Retno, mertua Embun. Kini Bumi yang menerimanya. Tapi Embun ikut melebarkan kuping agar bisa mendengar percakapan mereka."Ibu sakit hati, Bumi. Istrimu keterlaluan. Tolong ajari sopan santun padanya! Jangan berbicara sembarangan sama Ibu! Jadi benalu aja belagu. Sekarang kirimkan uang yang ibu minta. Sekalian saja kirim sepuluh juta!"Deg! Embun merasakan sesak di dada. Sepuluh juta? Ibu mertuanya meminta sepuluh juta pada Bumi? Sedangkan Bumi hanya mendapat gaji sebesar dua belas juta rupiah per bulan.Haruskah Bumi menuruti permintaan ibunya dan membuat keluarganya sendiri kelaparan?Kekacauan di pesta pernikahan itu berubah menjadi tragedi dalam hitungan detik. Jeritan Sira membelah keheningan yang mencekam saat tubuh Ibu Mirna merosot ke lantai pelaminan yang dilapisi karpet merah. Wajah wanita tua itu pucat pasi, dengan bibir yang membiru dan napas yang satu-satu."Ibu! Bangun, Bu! Jangan begini, Sira mohon!" Sira memangku kepala ibunya, air matanya jatuh membasahi pipi wanita yang paling ia cintai itu. Tangannya gemetar hebat, ia tidak peduli lagi pada tatapan menghakimi dari puluhan pasang mata kerabatnya yang terus memandang mereka.Di sisi lain, Raina masih belum berhenti. Emosinya yang sudah di puncak gunung membuat nuraninya tertutup. "Bagus! Akting apalagi ini? Apa dengan pura-pura sakit begini kalian pikir aku akan luluh?!" teriak Raina dengan suara parau yang menyayat."RAINA, DIAM!" Gavin membentak dengan suara yang menggelegar, membuat semua orang tersentak.Gavin menatap Sira yang sedang menangis histeris memangku ibunya, lalu menatap Raina yang sud
Dunia seolah berhenti berputar bagi Gavin tepat setelah Andre mengucapkan kalimat itu. Namun, sebelum ia sempat mencerna kalimat tersebut, seorang perempuan cantik dengan pakaian mewah yang tampak menonjol diantara kerumunan masuk ke tempat acara. Ia menarik perhatian hampir separuh orang yang ada di sana.Ia mengenakan gaun putih tulang yang elegan, namun wajahnya sepucat kapas. Langkahnya tidak stabil, matanya liar mencari sesuatu di antara kerumunan tamu yang tampak asing baginya.Raina benar-benar datang.Sira, yang sejak tadi berdiri kaku di sudut pelaminan, merasa jantungnya seakan dicabut paksa dari rongganya. Ia melihat Raina masuk ke area pesta dengan napas memburu. Seluruh tamu undangan, termasuk Ibu Mirna, menoleh dengan bingung melihat kedatangan wanita cantik yang tampak sangat tidak tenang itu.Pandangan Raina menyapu seluruh ruangan hingga akhirnya berhenti di satu titik. Suaminya ada di sana seperti yang ia sangka, karena saat memarkirkan mobilnya tadi, ia melihat mobi
Begitu mereka menginjakkan kaki di area resepsi, suasana mendadak riuh. Kehadiran Sira yang menggandeng pria setampan dan semapan Gavin benar-benar mencuri perhatian. Musik dangdut yang tadinya memekakkan telinga seolah menjadi latar belakang saat pasang mata para kerabat dan tetangga tertuju pada mereka. Sira merasakan telapak tangannya dingin. Namun, Gavin seolah tahu kegelisahan itu, ia mengeratkan genggaman jemarinya, menyatukan telapak tangan mereka tanpa celah. "Sira! Ya ampun, ini suaminya?" seru Bibi Sarah, salah satu kerabat yang dikenal paling vokal. "Ganteng sekali, Ra! Pantas saja kemarin nikahnya diam-diam, takut diambil orang ya?" Sira hanya bisa tersenyum kaku. Pertanyaan-pertanyaan berikutnya mulai berhamburan layaknya peluru. "Kok belum ada resepsi? Kami nunggu lho!" tanya Paman Syarif sambil menepuk bahu Gavin. "Iya nih, tahu-tahu sah saja. Terus, sekarang Sira sudah isi belum? Jangan ditunda-tunda ya, Bibi Mirna sudah pengen nimang cucu itu," timpal keraba
Mobil melaju membelah jalanan pagi yang mulai ramai. Setelah menjemput Ibu Mirna di halte, suasana di dalam kabin mobil yang tadinya sunyi berubah menjadi riuh oleh suara khas seorang ibu yang penuh kecemasan. Ibu Mirna duduk di kursi belakang, matanya tak henti menatap punggung menantunya dan sesekali beralih pada Sira."Gavin, apa kabarmu, Nak? Sehat?" tanya Ibu Mirna, suaranya terdengar lembut namun penuh selidik."Alhamdulillah sehat, Bu," jawab Gavin ramah, sesekali melirik dari spion tengah.Ibu Mirna terdiam sejenak, lalu dengan nada ragu yang kentara, ia melanjutkan pertanyaannya yang membuat Sira seketika menegang. "Gavin... Gimana Sira selama ini? Apa dia sering cerewet dan membuatmu tidak nyaman? Apa dia sering mengganggumu atau membuat masalah? Kalian... benar-benar baik-baik saja, kan?"Mendengar kekhawatiran ibunya yang begitu mendalam, Sira tidak tahan untuk tidak bereaksi. Ia menoleh ke kursi belakang dengan wajah yang tampak lelah."Bu... sudah Sira bilang berkali-kal
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews