Mag-log inMenikahi cinta pertama adalah impian setiap wanita… tapi tidak untukku. Aku menikahi Muhammad Gavin Rusdhan karena sebuah kondisi yang memojokkan ku demi memenuhi wasiat terakhir ayah. Masalahnya, dia sebentar lagi akan menikahi wanita lain—sementara aku terjebak sebagai istri pertama yang tak dianggap. Setiap hari harus bertemu dengannya di kantor, menahan rindu sekaligus sakit hati, membuatku semakin hancur. Apalagi ketika Arwan Kin Dhananjaya, sahabat yang sudah kuanggap kakak sendiri, tiba-tiba mengungkapkan cinta. Belum selesai dengan luka itu, aku kembali terjebak dalam permainan baru: menjadi calon istri pura-pura seorang duda karismatik, direktur utama perusahaan besar sekaligus ayah dari muridku sendiri. Cinta, pengkhianatan, dan rahasia… mampukah aku bertahan dalam pernikahan yang bahkan sejak awal bukan milikku?
view morePagi itu, Rumah Sakit tidak lagi terasa mencekam bagi Sira. Meski aroma antiseptik masih memenuhi rongga hidungnya, kehadiran Gavin yang menggenggam erat tangannya membuat segalanya terasa berbeda. Hari ini adalah jadwal pemeriksaan USG untuk memastikan kondisi janin setelah ketegangan hebat yang mereka alami. Gavin mendorong kursi roda Sira dengan sangat hati-hati, seolah-olah guncangan sekecil apa pun bisa membahayakan harta karun mereka. "Gavin, aku bisa jalan sendiri," gerak bibir Sira terlihat di pantulan cermin lift, wajahnya sedikit mengerucut protes. Sebenarnya fisiknya sudah jauh lebih kuat, hanya suaranya saja yang masih enggan keluar. Gavin terkekeh, membungkuk sedikit untuk membisikkan sesuatu di telinga istrinya. "Anggap saja ini layanan sopir pribadi kelas VIP, Ny. Gavin. Lagipula, aku ingin menghemat tenagamu untuk nanti. Siapa tahu bayi kita ingin melihat ibunya pamer senyum paling cantik di depan layar monitor." Sira hanya bisa mencubit lengan Gavin pelan, membua
Sore itu, semburat jingga dari ufuk barat mulai mengintip masuk ke dalam ruang perawatan, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding. Di atas ranjangnya, Sira masih terbaring miring, memunggungi sisi tempat tidur, tempat suaminya biasa duduk. Pikirannya dipenuhi awan kelabu. Seharian ini ia hanya ditemani Tante Rita. Gavin menghilang tanpa kabar sejak pagi buta, tepat setelah Prabu membawanya pergi ke kantin. Ada rasa sesak yang kekanak-kanakan di dada Sira. Di tengah kerapuhannya, ia merasa takut akan ditinggalkan lagi setelah janji manisnya semalam. Ia tidak tahu bahwa sepanjang hari itu, Gavin sedang bertarung dengan tumpukan dokumen di kantor pengacara dan menghadapi kemarahan keluarganya demi satu tujuan, menyelesaikan perceraiannya dengan Raina secepat mungkin. Suara pintu yang terbuka pelan tidak membuat Sira bergeming. Ia mendengar langkah kaki yang sangat ia kenali, namun ia tetap memilih untuk menatap tembok putih di depannya. "Assalamualaikum, suamimu d
Suasana kantin rumah sakit pagi itu tidak terlalu ramai, namun dengung suara mesin kopi dan denting sendok menciptakan latar belakang yang pas untuk percakapan berat antara Gavin dan Prabu. Setelah Tante Rita datang untuk menjaga Sira, Prabu memberikan isyarat kepada Gavin untuk mengikutinya. Ada beban yang harus segera dilepaskan agar tidak menjadi duri di masa depan. Gavin duduk di hadapan Prabu, menatap cangkir kopi hitamnya yang mengepulkan uap. Prabu memulai dengan kabar mengenai hukum untuk Andre. "Andre Wijaya tidak akan lepas begitu saja," buka Prabu dengan nada dingin yang biasa ia gunakan dalam negosiasi bisnis. "Aku sudah menugaskan tim hukum terbaik. Dengan bukti penculikan, penganiayaan, dan paksaan medis, dia akan mendekam di penjara dalam waktu yang lama. Aku juga akan memastikan dia kehilangan segalanya." Gavin mengangguk pelan. "Terima kasih, Prabu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak ada di sana semalam." Hening sejenak. Gavin menatap buih yang
Sira duduk bersandar di atas ranjang rumah sakit yang ditinggikan. Setelah gejolak mual di kamar mandi mereda, fokusnya kembali tertuju pada perban putih yang melilit lengan kiri Gavin. Dengan gerakan yang sangat perlahan, ia mengulurkan jarinya, menyentuh tepian luka itu seolah-olah rasa sakitnya bisa berpindah jika ia menyentuhnya cukup lembut. Ia mendongak, menatap mata Gavin dengan pandangan yang dalam dan penuh selidik. Meski bibirnya terkatung dalam kebisuan, sorot matanya bicara lebih keras dari kata-kata apa pun. "Apa kamu baik-baik saja? Lukamu pasti sakit sekali?" Gavin terdiam sejenak, tenggelam dalam samudera kekhawatiran yang terpancar dari mata istrinya. Ia meraih tangan Sira yang baru saja menyentuh lukanya, lalu menarik kursi untuk duduk tepat di hadapan Sira. "Aku baik-baik saja, Ra. Ini tidak sakit. Jangan khawatirkan aku," ucap Gavin dengan suara rendah yang menenangkan. Ia memberikan seulas senyum tulus, jenis senyum yang sudah bertahun-tahun tidak ia tunjukkan
Malam semakin larut di Rumah Sakit Medika. Raina, yang wajahnya tampak kuyu meski polesan riasannya masih menempel sempurna, akhirnya berpamitan. Kelelahan setelah insiden pagi hari dan ketegangan yang ia ciptakan sendiri tampaknya mulai menguras energinya. Setelah memastikan Gavin meminum obatnya
Suara pintu yang terbuka perlahan biasanya menjadi pertanda kehadiran harapan, namun bagi Sira, setiap bunyi engsel kini terdengar seperti ancaman. Ia masih meringkuk, membelakangi pintu dengan tubuh yang bergetar hebat. Isak tangisnya diredam di balik bantal yang sudah basah kuyup, namun bahunya y
Malam telah larut, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam kamar VIP rumah sakit yang mewah itu. Jarum jam dinding menunjukkan pukul dua belas lebih lima belas menit, namun mata Gavin masih menatap langit-langit dengan hampa. Cahaya lampu tidur yang remang-remang menciptakan bayangan panjang d
Sira membeku di atas kursi rodanya, membiarkan sepasang matanya yang basah menjadi saksi bisu rasa sakit yang kini mendera Gavin. Sementara pria itu mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan, kruknya terjatuh ke lantai menciptakan dentuman logam yang memilukan. Sira ingin sekali mengulurkan tang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu