Diceraikan Karena Mandul, Anak Jeniusku Bikin CEO Berlutut

Diceraikan Karena Mandul, Anak Jeniusku Bikin CEO Berlutut

last updateHuling Na-update : 2026-07-08
By:  AphroditeKumpleto
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
5 Mga Ratings. 5 Rebyu
200Mga Kabanata
1.2Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Aku diceraikan Arka Dirgantara karena dianggap mandul, sementara ia tak pernah tahu bahwa aku pergi sambil mengandung anaknya. Lima tahun kemudian, aku kembali sebagai CEO perusahaan teknologi yang mampu menghancurkan Dirgantara Group bersama putraku, Arka Jr. Dan saat Arka terpaksa menikahiku lagi demi menyelamatkan perusahaannya, ia akhirnya harus menghadapi satu hal yang paling terlambat untuk disesali: kehilanganku.

view more

Kabanata 1

Surat Cerai Di Meja Marmer

Langit Jakarta hari ini kelabu.

Mendengar putusan hakim, Amara justru merasa langit di dadanya ikut runtuh perlahan, menyisakan puing-puing yang tak bersuara.

Palunya diketuk tiga kali.

Tiga kali itu pula jantung Amara dipaksa berhenti berharap.

"Pengadilan mengabulkan permohonan cerai Pemohon, Arka Dirgantara, terhadap Termohon, Amara Salsabila."

Suara hakim itu bulat dan dingin, menggema di ruang sidang yang terlalu sunyi untuk sebuah kehancuran.

Arka berdiri di seberang meja. Setelan jas hitamnya rapi, tanpa kusut sehelai pun.

Berbanding terbalik dengan Amara yang menggenggam ujung blazer lusuhnya sendiri, menahan gemetar yang sudah ia hafal selama tiga tahun pernikahan.

Pengacara Arka menyodorkan sebuah map biru tua ke hadapan Amara.

Di dalam map itu, kertas putih berlogo burung garuda terasa lebih berat daripada vonis penjara.

"Tanda tangan di sini, Bu Amara."

Pengacara itu bicara setengah berbisik, seolah takut membangunkan luka yang belum sempat mengering.

Amara menatap kertas itu.

Nama Arka Dirgantara tercetak tebal sebagai pemohon. Namanya sendiri, Amara Salsabila, tertulis sebagai termohon dengan status: mandul.

Kata mandul itu seperti pisau yang sengaja ditancapkan pelan-pelan.

Tidak untuk membunuh cepat, tapi untuk memastikan ia merasakan setiap sayatannya.

Arka menatap Amara dari jauh. Matanya datar.

Tidak ada sesal, tidak ada amarah, tidak ada apa-apa. Kosong seperti danau beku di musim mati.

Dulu, mata itu yang Amara puja tiap malam.

Dulu, mata itu yang berjanji akan menjaganya sampai tua.

Sekarang, mata itu hanya ingin Amara lenyap dari hidupnya.

"Amara, cepat tanda tangan."

Suara Arka akhirnya pecah juga. Rendah, tegas, dan tidak memberi ruang untuk tawar.

Itu suara yang sama yang tiga tahun lalu melamarnya di bawah gerimis Ciwidey.

Bedanya, dulu suara itu bergetar karena cinta. Hari ini, bergetar karena ingin cepat selesai.

Amara menarik napas. Udara ruang sidang terasa pahit di kerongkongan.

Tangannya bergerak mengambil pulpen yang disodorkan. Ujung jarinya dingin, padahal Jakarta sedang panas-panasnya.

Ia menunduk. Mencoba membaca sekali lagi alasan perceraian di lembar kedua.

"Termohon tidak dapat memberikan keturunan setelah tiga tahun pernikahan. Pemohon merasa dirugikan secara materil dan immateril."

Dirugikan.

Amara mengulang kata itu dalam hati.

Jadi tiga tahun air matanya, tiga tahun masakannya, tiga tahun doanya setiap sepertiga malam, semua itu dianggap kerugian?

Tiba-tiba mual itu datang lagi.

Sudah tiga minggu ini perutnya sering menolak nasi, kepalanya berputar tiap bangun tidur.

Amara pikir itu karena stres. Ternyata, mungkin karena hal lain yang belum sempat ia pastikan.

"Ada yang mau Ibu sampaikan sebelum tanda tangan?"

Hakim memberi kesempatan terakhir. Suaranya sedikit melunak melihat wajah Amara yang pucat.

Amara mendongak. Matanya mencari Arka.

Sesaat, ia berharap melihat ragu di sana. Setitik saja. Cukup untuk membuatnya bertahan.

Yang ia temukan hanya jam tangan Rolex yang diketuk-ketuk Arka ke meja.

Isyarat universal bahwa waktunya berharga, dan Amara hanya membuang-buang menit.

Amara tersenyum. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya.

"Tidak ada, Yang Mulia. Saya ikhlas."

Ikhlas. Kata itu mudah sekali ia ucapkan.

Padahal di dalam dadanya, sesuatu baru saja mati dan tidak akan pernah hidup lagi.

Pulpen itu akhirnya mendarat di atas kertas.

Amara menulis namanya huruf demi huruf. A-M-A-R-A.

Tinta hitam itu meresap, mengunci nasibnya di atas meterai sepuluh ribu.

Setelah titik terakhir, ia meletakkan pulpen.

Bunyi kecil itu terasa seperti lonceng kematian untuk pernikahannya.

"Terima kasih."

Arka menyambar map itu cepat, seolah takut Amara berubah pikiran.

Ia lalu menoleh ke pengacaranya. "Urus sisanya. Saya ada meeting."

Tanpa menoleh lagi, Arka melangkah keluar.

Punggungnya tegap. Langkahnya pasti. Tidak goyah sedikit pun.

Amara tetap duduk.

Ia menatap kursi kosong Arka. Masih hangat. Masih ada jejak lelaki yang ia cintai dengan seluruh napasnya.

Tiga tahun lalu, di kursi pelaminan, Arka menggenggam tangannya dan berbisik, "Kamu rumahku, Ra."

Hari ini, rumah itu merobohkan dirinya sendiri.

"Bu Amara, sidang sudah selesai. Ibu bisa pulang."

Panitera mengingatkan lembut.

Amara mengangguk. Kakinya ia paksa berdiri.

Dunia sedikit berputar, tapi ia menahannya dengan menggigit bibir sampai terasa asin.

Di luar ruang sidang, lobi pengadilan ramai.

Ada tawa, ada tangis, ada janji yang baru dimulai.

Amara berjalan lurus, menembus keramaian itu sendirian.

Di tangannya hanya ada tas kain yang sudah pudar dan surat cerai yang masih hangat dari printer.

Ponselnya bergetar. Nama Arka muncul di layar.

Untuk sedetik, jantung bodohnya berharap.

Diterimanya telepon itu dengan tangan gemetar.

"Halte di depan. Tunggu saya lima menit. Ada yang harus saya berikan."

Suaranya datar. Lalu mati.

Amara menurut. Ia berjalan ke halte seperti robot.

Di bawah terik, ia menunggu. Lima menit terasa seperti lima tahun.

Mobil hitam Arka berhenti. Kaca belakang turun sedikit.

Sebuah amplop cokelat diulurkan oleh tangan Arka dari dalam mobil. Tidak ada wajah, hanya tangan.

"Ini."

Satu kata itu saja.

Amara menerima amplop itu. Berat.

"Cek isinya. Jangan hubungi saya lagi setelah ini. Anggap kita tidak pernah kenal."

Kaca mobil naik. Mobil itu melaju, meninggalkan asap dan debu yang menampar wajah Amara.

Ia buka amplop itu di halte.

Isinya selembar cek dan satu surat kuasa.

Cek itu bernilai satu miliar rupiah.

Surat kuasa itu berisi: penyerahan satu unit apartemen di Kuningan atas nama Amara.

Di bagian bawah surat, ada catatan tulisan tangan Arka. Tegas dan kaku.

"Ganti rugi. Jangan cari aku lagi. Jangan muncul di depan keluargaku."

Amara tertawa. Pelan, lalu makin keras.

Orang-orang di halte menoleh, menatapnya seperti orang gila.

Satu miliar. Sebuah apartemen.

Harga yang Arka bayar untuk menghapus Amara dari hidupnya.

Amara memasukkan kembali cek dan surat itu ke amplop.

Tangannya lalu turun, tanpa sadar mengusap perutnya yang masih rata.

Mual itu datang lagi. Lebih kuat.

Dan untuk pertama kalinya, Amara berani mengakui pada dirinya sendiri.

Mungkin ia tidak mandul.

Mungkin, justru di dalam rahim yang dibilang cacat ini, sedang tumbuh sebuah kehidupan.

Kehidupan yang akan membuat Arka Dirgantara berlutut.

Amara menghapus air matanya. Ia tegakkan punggung.

Langkah pertamanya bukan pulang ke rumah kontrakan.

Langkahnya menuju bandara.

Karena malam ini, Amara Salsabila memutuskan untuk menghilang.

Bersama rahasia yang akan menjadi karma untuk Arka Dirgantara.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Rebyu

Vanilla Ice Creamm
Vanilla Ice Creamm
wah pembalasan dendam.. seruu!
2026-06-29 11:51:51
0
0
Pitt
Pitt
next dong kak
2026-05-29 11:35:26
1
0
Star
Star
Greget banget mau lihat amara sama arka saling cinta lagi
2026-05-29 08:51:24
1
0
Redezilzie
Redezilzie
wah kejam ini wkwkwk...
2026-05-28 10:22:09
1
0
Callme_Tata
Callme_Tata
Ceritanya seru, semangat update, Kak.
2026-05-28 10:03:30
1
0
200 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status