Mag-log inAku diceraikan Arka Dirgantara karena dianggap mandul, sementara ia tak pernah tahu bahwa aku pergi sambil mengandung anaknya. Lima tahun kemudian, aku kembali sebagai CEO perusahaan teknologi yang mampu menghancurkan Dirgantara Group bersama putraku, Arka Jr. Dan saat Arka terpaksa menikahiku lagi demi menyelamatkan perusahaannya, ia akhirnya harus menghadapi satu hal yang paling terlambat untuk disesali: kehilanganku.
view moreLangit Jakarta hari ini kelabu.
Mendengar putusan hakim, Amara justru merasa langit di dadanya ikut runtuh perlahan, menyisakan puing-puing yang tak bersuara. Palunya diketuk tiga kali. Tiga kali itu pula jantung Amara dipaksa berhenti berharap. "Pengadilan mengabulkan permohonan cerai Pemohon, Arka Dirgantara, terhadap Termohon, Amara Salsabila." Suara hakim itu bulat dan dingin, menggema di ruang sidang yang terlalu sunyi untuk sebuah kehancuran. Arka berdiri di seberang meja. Setelan jas hitamnya rapi, tanpa kusut sehelai pun. Berbanding terbalik dengan Amara yang menggenggam ujung blazer lusuhnya sendiri, menahan gemetar yang sudah ia hafal selama tiga tahun pernikahan. Pengacara Arka menyodorkan sebuah map biru tua ke hadapan Amara. Di dalam map itu, kertas putih berlogo burung garuda terasa lebih berat daripada vonis penjara. "Tanda tangan di sini, Bu Amara." Pengacara itu bicara setengah berbisik, seolah takut membangunkan luka yang belum sempat mengering. Amara menatap kertas itu. Nama Arka Dirgantara tercetak tebal sebagai pemohon. Namanya sendiri, Amara Salsabila, tertulis sebagai termohon dengan status: mandul. Kata mandul itu seperti pisau yang sengaja ditancapkan pelan-pelan. Tidak untuk membunuh cepat, tapi untuk memastikan ia merasakan setiap sayatannya. Arka menatap Amara dari jauh. Matanya datar. Tidak ada sesal, tidak ada amarah, tidak ada apa-apa. Kosong seperti danau beku di musim mati. Dulu, mata itu yang Amara puja tiap malam. Dulu, mata itu yang berjanji akan menjaganya sampai tua. Sekarang, mata itu hanya ingin Amara lenyap dari hidupnya. "Amara, cepat tanda tangan." Suara Arka akhirnya pecah juga. Rendah, tegas, dan tidak memberi ruang untuk tawar. Itu suara yang sama yang tiga tahun lalu melamarnya di bawah gerimis Ciwidey. Bedanya, dulu suara itu bergetar karena cinta. Hari ini, bergetar karena ingin cepat selesai. Amara menarik napas. Udara ruang sidang terasa pahit di kerongkongan. Tangannya bergerak mengambil pulpen yang disodorkan. Ujung jarinya dingin, padahal Jakarta sedang panas-panasnya. Ia menunduk. Mencoba membaca sekali lagi alasan perceraian di lembar kedua. "Termohon tidak dapat memberikan keturunan setelah tiga tahun pernikahan. Pemohon merasa dirugikan secara materil dan immateril." Dirugikan. Amara mengulang kata itu dalam hati. Jadi tiga tahun air matanya, tiga tahun masakannya, tiga tahun doanya setiap sepertiga malam, semua itu dianggap kerugian? Tiba-tiba mual itu datang lagi. Sudah tiga minggu ini perutnya sering menolak nasi, kepalanya berputar tiap bangun tidur. Amara pikir itu karena stres. Ternyata, mungkin karena hal lain yang belum sempat ia pastikan. "Ada yang mau Ibu sampaikan sebelum tanda tangan?" Hakim memberi kesempatan terakhir. Suaranya sedikit melunak melihat wajah Amara yang pucat. Amara mendongak. Matanya mencari Arka. Sesaat, ia berharap melihat ragu di sana. Setitik saja. Cukup untuk membuatnya bertahan. Yang ia temukan hanya jam tangan Rolex yang diketuk-ketuk Arka ke meja. Isyarat universal bahwa waktunya berharga, dan Amara hanya membuang-buang menit. Amara tersenyum. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. "Tidak ada, Yang Mulia. Saya ikhlas." Ikhlas. Kata itu mudah sekali ia ucapkan. Padahal di dalam dadanya, sesuatu baru saja mati dan tidak akan pernah hidup lagi. Pulpen itu akhirnya mendarat di atas kertas. Amara menulis namanya huruf demi huruf. A-M-A-R-A. Tinta hitam itu meresap, mengunci nasibnya di atas meterai sepuluh ribu. Setelah titik terakhir, ia meletakkan pulpen. Bunyi kecil itu terasa seperti lonceng kematian untuk pernikahannya. "Terima kasih." Arka menyambar map itu cepat, seolah takut Amara berubah pikiran. Ia lalu menoleh ke pengacaranya. "Urus sisanya. Saya ada meeting." Tanpa menoleh lagi, Arka melangkah keluar. Punggungnya tegap. Langkahnya pasti. Tidak goyah sedikit pun. Amara tetap duduk. Ia menatap kursi kosong Arka. Masih hangat. Masih ada jejak lelaki yang ia cintai dengan seluruh napasnya. Tiga tahun lalu, di kursi pelaminan, Arka menggenggam tangannya dan berbisik, "Kamu rumahku, Ra." Hari ini, rumah itu merobohkan dirinya sendiri. "Bu Amara, sidang sudah selesai. Ibu bisa pulang." Panitera mengingatkan lembut. Amara mengangguk. Kakinya ia paksa berdiri. Dunia sedikit berputar, tapi ia menahannya dengan menggigit bibir sampai terasa asin. Di luar ruang sidang, lobi pengadilan ramai. Ada tawa, ada tangis, ada janji yang baru dimulai. Amara berjalan lurus, menembus keramaian itu sendirian. Di tangannya hanya ada tas kain yang sudah pudar dan surat cerai yang masih hangat dari printer. Ponselnya bergetar. Nama Arka muncul di layar. Untuk sedetik, jantung bodohnya berharap. Diterimanya telepon itu dengan tangan gemetar. "Halte di depan. Tunggu saya lima menit. Ada yang harus saya berikan." Suaranya datar. Lalu mati. Amara menurut. Ia berjalan ke halte seperti robot. Di bawah terik, ia menunggu. Lima menit terasa seperti lima tahun. Mobil hitam Arka berhenti. Kaca belakang turun sedikit. Sebuah amplop cokelat diulurkan oleh tangan Arka dari dalam mobil. Tidak ada wajah, hanya tangan. "Ini." Satu kata itu saja. Amara menerima amplop itu. Berat. "Cek isinya. Jangan hubungi saya lagi setelah ini. Anggap kita tidak pernah kenal." Kaca mobil naik. Mobil itu melaju, meninggalkan asap dan debu yang menampar wajah Amara. Ia buka amplop itu di halte. Isinya selembar cek dan satu surat kuasa. Cek itu bernilai satu miliar rupiah. Surat kuasa itu berisi: penyerahan satu unit apartemen di Kuningan atas nama Amara. Di bagian bawah surat, ada catatan tulisan tangan Arka. Tegas dan kaku. "Ganti rugi. Jangan cari aku lagi. Jangan muncul di depan keluargaku." Amara tertawa. Pelan, lalu makin keras. Orang-orang di halte menoleh, menatapnya seperti orang gila. Satu miliar. Sebuah apartemen. Harga yang Arka bayar untuk menghapus Amara dari hidupnya. Amara memasukkan kembali cek dan surat itu ke amplop. Tangannya lalu turun, tanpa sadar mengusap perutnya yang masih rata. Mual itu datang lagi. Lebih kuat. Dan untuk pertama kalinya, Amara berani mengakui pada dirinya sendiri. Mungkin ia tidak mandul. Mungkin, justru di dalam rahim yang dibilang cacat ini, sedang tumbuh sebuah kehidupan. Kehidupan yang akan membuat Arka Dirgantara berlutut. Amara menghapus air matanya. Ia tegakkan punggung. Langkah pertamanya bukan pulang ke rumah kontrakan. Langkahnya menuju bandara. Karena malam ini, Amara Salsabila memutuskan untuk menghilang. Bersama rahasia yang akan menjadi karma untuk Arka Dirgantara.Angin sore berembus pelan di taman kecil itu. Cahaya matahari yang mulai tenggelam memantul di permukaan sungai. Arka dan Amara berdiri membisu di depan Junior dengan mata yang masih dipenuhi air mata.Junior menarik napas panjang sebelum mengangkat wajahnya. Tatapannya bergantian mengarah kepada Arka dan Amara. Bibirnya bergetar pelan sebelum akhirnya ia mulai berbicara."Aku capek," ucap Junior lirih. Suaranya terdengar bergetar menahan tangis.Arka mengepalkan kedua tangannya. Amara langsung menutup mulutnya agar isaknya tidak pecah. Tidak ada satu pun dari mereka yang sanggup memotong ucapan Junior."Aku capek lihat Papa sama Mama terus bertengkar," lanjut Junior lirih. Air matanya mulai mengalir tanpa bisa dihentikan.Suasana taman mendadak berubah sangat sunyi. Hanya suara angin yang terdengar melewati pepohonan. Tidak ada lagi yang mampu mengalihkan perhatian dari pengakuan tulus seorang anak."Aku sayang sama Papa," ujar Junior pelan. Senyum kecil muncul di wajahnya yang basah
Mobil yang membawa Arka dan Amara berhenti di sebuah taman kecil di pinggir sungai Tokyo. Matahari mulai tenggelam di balik deretan gedung tinggi. Suasana di tempat itu terasa damai, sangat berbeda dengan hati mereka yang dipenuhi kecemasan.Kepala tim keamanan turun lebih dulu dari mobil. Ia memperhatikan layar tablet yang menampilkan titik lokasi terakhir Junior. Setelah memastikan koordinatnya sesuai, ia segera menoleh kepada Arka."Pak, lokasi terakhirnya ada di sekitar sini," ujar kepala tim dengan nada serius. Wajahnya terlihat tegang.Arka mengangguk pelan. Ia langsung melangkah memasuki taman tanpa membuang waktu. Tatapannya menyapu setiap sudut dengan penuh harapan.Amara berjalan beberapa langkah di belakangnya. Jantungnya berdegup sangat cepat. Napasnya terasa berat karena dihantui rasa takut.Beberapa anggota tim keamanan berpencar ke berbagai arah. Mereka memeriksa setiap bangku taman, jalur pejalan kaki, dan area di sekitar sungai. Semua bergerak dengan hati-hati agar ti
Langit Tokyo mulai berubah jingga ketika Arka dan Amara menghentikan pencarian untuk sementara. Keduanya duduk di sebuah taman yang tidak jauh dari kawasan teknologi tempat Junior terakhir terlihat. Tidak ada satu pun dari mereka yang masih memiliki tenaga untuk berbicara.Tim keamanan tetap melanjutkan penyisiran di berbagai titik. Beberapa anggota memeriksa stasiun kereta, sementara yang lain menelusuri hotel dan penginapan di sekitar distrik tersebut. Seluruh laporan terus masuk setiap beberapa menit."Pak, hasilnya masih nihil," ujar kepala tim keamanan pelan sambil menurunkan alat komunikasinya, ekspresinya terlihat kecewa.Arka hanya mengangguk kecil. Tatapannya tetap lurus ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya terus mengulang rekaman CCTV yang memperlihatkan Junior menangis sebelum pergi.Amara memegang surat kedua yang ditulis Junior. Jemarinya terus meremas kertas itu tanpa sadar. Dadanya kembali terasa sesak ketika mengingat kalimat terakhir putranya.Bebera
Ruangan mentor teknologi kembali dipenuhi keheningan. Arka berdiri mematung sambil menatap pintu yang baru saja ditunjukkan oleh pria paruh baya itu. Dadanya terasa sesak karena mengetahui mereka kembali terlambat.Amara memejamkan mata beberapa saat. Air matanya kembali jatuh tanpa bisa ditahan. Ia menggigit bibir bawahnya agar tangisnya tidak pecah di depan semua orang."Ke arah mana Junior pergi?" tanya Arka tegas sambil menatap sang mentor, sorot matanya dipenuhi harapan yang belum padam.Pria itu langsung menunjuk ke arah jalan utama. Wajahnya terlihat menyesal karena tidak mampu menahan Junior lebih lama. Ia benar-benar mengira anak itu hanya sedang berjalan-jalan."Dia keluar dari gedung ini sekitar lima belas menit yang lalu," jawabnya pelan sambil mengingat kembali kejadian tadi. "Dia membawa ransel hitam yang sama."Arka langsung berbalik."Ayo!" serunya cepat sambil berlari keluar gedung, langkahnya terdengar tergesa-gesa.Amara segera menyusul.Seluruh anggota tim keamanan
"Pak Supir, mobil investor Eropa sudah masuk basement. Cepat bukakan pintu." Satpam lobby menepuk bahu Arka pelan sambil menunjuk layar CCTV, wajahnya canggung setengah mati.Arka membeku. Kalimat itu pendek. Tapi, rasanya lebih tajam daripada berita bangkrut di headline media kemarin.Basement Dir
"Om Botak, duduk yang lurus. CEO nggak boleh bungkuk kayak udang rebus." Jr mengetuk meja dengan pensilnya, wajah kecilnya serius seperti dosen killer. Pagi baru jam enam lewat dua puluh menit, tapi hidupnya sudah terasa seperti sidang skripsi neraka. Ruang makan mansion berubah jadi ruang kelas d
"Pak Supir, mobil Bu A sudah siap?" tanya seorang satpam sambil membungkuk sopan, tetapi matanya jelas menyimpan gugup. Arka menoleh pelan dengan rahangnya mengeras. Tangannya yang sedang memegang kunci Alphard ikut menegang sampai buku jarinya memutih. Pagi baru jam tujuh. Namun halaman Dirgant
Jam 05.00. Pagi buta. Udara Jakarta masih dingin dan lengket. Brak! Brak! Brak! Pintu kamar Arka di mess OB Dirgantara Group digedor kencang. Bukan ketukan sopan. Bukan juga tendangan debt collector. Ini ketukan berirama, konsisten, dan menyebalkan. Ketukan sendok. Arka membuka pintu dengan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu