LOGINLangkah kaki Sira terasa menyeret saat ia menyusuri lorong dingin menuju ruang perawatan ibunya. Setelah memastikan keluarga Gavin dan Raina datang dari kejauhan, Sira memutuskan mundur dan menghindar tanpa banyak drama demi ketenangan semuanya. Perasaannya kacau, tubuhnya lelah dan jiwanya kosong. bagaimana tidak, saat ini di satu sisi gedung, suaminya tengah bertaruh nyawa dalam kegelapan koma, sementara di lantai ini, wanita yang melahirkannya sedang berjuang melewati masa kritis akibat syok yang ia ciptakan. Sira berhenti di depan kaca besar ruang ICU. Di balik sana, Ibunya tampak begitu kecil dan rapuh di tengah kepungan alat-alat medis. Kabel-kabel menempel di dada ibunya, dan suara monitor jantung yang berbunyi teratur menjadi satu-satunya melodi yang memuakkan bagi pendengaran Sira. Ia menempelkan telapak tangannya pada kaca yang dingin. Air matanya kembali luruh, membasahi pipi yang sudah terasa perih. "Maafin Sira, Bu..." bisiknya lirih, suaranya tercekat di tenggo
Lampu merah di atas pintu ruang operasi akhirnya padam setelah lebih dari dua jam. Bagi Sira, pemadaman itu terasa seperti vonis yang dijatuhkan setelah berjam-jam ia disiksa oleh ketidakpastian. Tubuhnya yang lemas dipaksa berdiri oleh Tante Rani saat seorang pria paruh baya dengan jubah hijau dan masker yang menggantung di leher melangkah keluar. Wajah dokter itu tampak kuyu, guratan kelelahan tercetak jelas di keningnya.Sira membuka suara dengan napas tertahan. "Dokter... bagaimana? Bagaimana suami saya—maksud saya, bagaimana keadaan mereka?"Dokter itu tidak langsung menjawab. Ia melepas sarung tangan karetnya dengan gerakan lambat, matanya menatap Sira dengan dahi berkerut. Ada kilatan menyelidik di sana. "Maaf, sebelumnya saya harus bertanya. Anda ini siapanya pasien? Istri? Adik? Atau keluarga dari pihak mana?"Pertanyaan itu kembali menghantam Sira, membuatnya harus kembali pada fakta menyakitkan, bahwa hubungannya dengan Gavin hanya sebatas rahasia. Lidahnya mendadak kelu. I
Lorong rumah sakit itu beraroma karbol yang menusuk, sebuah bau yang selamanya mungkin akan Sira ingat sebagai sebuah penyesalan, lebih dari ingatan saat ayahnya meninggal dulu di rumah sakit yang sama ini. Di kursi besi yang dingin, Sira duduk meringkuk. Tubuhnya terasa kaku, seolah-olah jiwanya telah keluar meninggalkan raga yang kini hanya tersisa kulit dan tulang. Di sampingnya, Tante Rani yang tadi sempat mengurus administrasi rumah sakit, kini sudah berada disampingnya, ia terus mengusap punggung Sira, mencoba memberikan kekuatan yang ia sendiri pun hampir tidak memilikinya. "Sabar, Ra. Ibumu pasti kuat. Beliau orang baik, Tuhan tidak akan membiarkan beliau pergi secepat ini," bisik Tante Rani dengan suara yang serak. Sira tidak menjawab. Matanya yang sembap menatap kosong ke lantai marmer yang mengilat. sebagian pikirannya masih tertinggal pada tragedi pesta di kampung tadi. Ingatannya masih jelas menggambarkan bagaimana tamparan Raina pada Gavin, ia masih bisa mendengar je
Hujan tiba-tiba turun seolah-olah langit baru saja kehilangan penyangganya. Derasnya air yang tumpah menyapu aspal kota, menciptakan kabut tipis yang mengaburkan pandangan. Di dalam mobil sedan mewah itu, suasana jauh lebih badai daripada cuaca di luar. Di dalam ruang sempit yang beraroma parfum maskulin dan kemarahan yang pekat, Gavin memacu kendaraannya menembus batas kewarasan.Tangannya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, seluruh hidupnya akan terbang terbawa angin. Di sampingnya, Raina sudah bukan lagi wanita anggun yang selama ini ia jaga. Raina adalah perwujudan dari luka, pengkhianatan, dan amarah yang meluap-luap."Kamu pengkhianat, mas! Kamu pembohong! Selama ini aku selalu berusaha berbaik sangka pada kalian, tapi justru ini yang aku dapatkan. Kamu memang bajingan, mas!" Raina memukul bahu Gavin berkali-kali. Suaranya sudah parau, pecah di sela-sela isakan yang menyayat. "Kamu selingkuh! Kamu mengkhianatiku!
Kekacauan di pesta pernikahan itu berubah menjadi tragedi dalam hitungan detik. Jeritan Sira membelah keheningan yang mencekam saat tubuh Ibu Mirna merosot ke lantai pelaminan yang dilapisi karpet merah. Wajah wanita tua itu pucat pasi, dengan bibir yang membiru dan napas yang satu-satu."Ibu! Bangun, Bu! Jangan begini, Sira mohon!" Sira memangku kepala ibunya, air matanya jatuh membasahi pipi wanita yang paling ia cintai itu. Tangannya gemetar hebat, ia tidak peduli lagi pada tatapan menghakimi dari puluhan pasang mata kerabatnya yang terus memandang mereka.Di sisi lain, Raina masih belum berhenti. Emosinya yang sudah di puncak gunung membuat nuraninya tertutup. "Bagus! Akting apalagi ini? Apa dengan pura-pura sakit begini kalian pikir aku akan luluh?!" teriak Raina dengan suara parau yang menyayat."RAINA, DIAM!" Gavin membentak dengan suara yang menggelegar, membuat semua orang tersentak.Gavin menatap Sira yang sedang menangis histeris memangku ibunya, lalu menatap Raina yang sud
Dunia seolah berhenti berputar bagi Gavin tepat setelah Andre mengucapkan kalimat itu. Namun, sebelum ia sempat mencerna kalimat tersebut, seorang perempuan cantik dengan pakaian mewah yang tampak menonjol diantara kerumunan masuk ke tempat acara. Ia menarik perhatian hampir separuh orang yang ada di sana.Ia mengenakan gaun putih tulang yang elegan, namun wajahnya sepucat kapas. Langkahnya tidak stabil, matanya liar mencari sesuatu di antara kerumunan tamu yang tampak asing baginya.Raina benar-benar datang.Sira, yang sejak tadi berdiri kaku di sudut pelaminan, merasa jantungnya seakan dicabut paksa dari rongganya. Ia melihat Raina masuk ke area pesta dengan napas memburu. Seluruh tamu undangan, termasuk Ibu Mirna, menoleh dengan bingung melihat kedatangan wanita cantik yang tampak sangat tidak tenang itu.Pandangan Raina menyapu seluruh ruangan hingga akhirnya berhenti di satu titik. Suaminya ada di sana seperti yang ia sangka, karena saat memarkirkan mobilnya tadi, ia melihat mobi







