LOGINSofia merasa hidupnya tidak berarti sama sekali. Demi balas budi pada keluarga Carmen yang telah mengadopsinya, ia rela menikah dengan Dexter Carmen. Tapi pria itu begitu membencinya. Kejadian yang menimpa Lucia Carmen sepenuhnya dilimpahkan pada Sofia. Ketika mereka berusia 5 tahun, Mereka pergi bermain di danau. Pada saat itu Lucia mengalami kecelakaan. Dia tenggelam, Sofia dituduh sebagai pelakunya. Kebencian Dexter begitu besar. Satu wasiat dari kakeknya memberikan peluang baginya untuk membalas dendam pada Sofia. Dia menikahi Sofia, membuat hidupnya menderita. Dan ketika tunangannya mengalami gagal ginjal, dia memaksa Sofia untuk mendonorkan ginjalnya. “Kau lakukan itu, maka semua hutang lunas dan aku akan melepaskanmu!” Sofia yang sudah tak tahan lagi akhirnya bersedia melakukannya. Dia ditendang keluar dari keluarga Carmen, dibiarkan hidup menderita. Dia melarikan diri, membawa benih yang tanpa mereka sadari. Namun, takdir mempertemukan mereka lagi setelah beberapa tahun berlalu. Tapi kali ini, dia tidak lagi sendirian karena seorang laki-laki kejam yang mencintainya dengan tulus berada di sampingnya.
View More“Apa kau pikir setelah aku menikmati tubuhmu, semua hutangmu lunas? Apa kau pikir semua sudah selesai? Selama kau menjadi istriku, selama itu pula kau akan menjalani hidupmu bagaikan di Neraka. Aku tidak akan memberikan sedikit kebahagiaan padamu. Hutang Nyawa itu, harus kau bayar seumur hidupmu!”
*** Gaun putih itu terasa terlalu berat di tubuh Sofia Carmen. Bukan karena payet dan renda yang menjuntai indah di sepanjang kainnya, melainkan karena makna di baliknya. Sebuah ikatan yang tak pernah ia inginkan, namun tak mampu ia tolak. Di depan cermin besar kamar pengantin, Sofia menatap bayangannya sendiri. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar meski ia berusaha tersenyum. Di balik riasannya yang sempurna, ada sepasang mata yang menyimpan ketakutan dan kepasrahan. Pernikahan itu, tidak seharusnya terjadi. Karena dia tahu, tak ada kebahagiaan mengingat siapa yang akan menjadi suaminya. Sofia Carmen, diadopsi oleh Marie Carmen dan David Carmen. Dia diambil di sebuah panti asuhan saat usianya tiga tahun. Pasangan suami istri itu telah memiliki seorang Putra dan seorang putri. Putra mereka bernama Dexter Carmen, dan putri mereka bernama Lucia Carmen. Usia Sofia dengan Lucia tidak terpaut jauh. Hubungan mereka harmonis, layaknya saudara. Dexter menyayangi Sofia seperti menyayangi adiknya. Tapi sayang, kejadian tragis yang terjadi saat Sofia berusia 5 tahun mengubah segalanya. Saat itu Sofia dan Lucia sedang bermain di danau. Tanpa sengaja, Lucia yang tidak bisa berenang terjatuh dan tenggelam. Dialah orang yang dituduh sebagai pelaku utamanya. Kasih sayang Dexter mulai berubah, dia tidak lagi menganggap Sofia sebagai adiknya. Meski lambat laun keluarga Carmen mulai bisa menerima kematian Lucia, dan tidak menyalahkannya lagi. Tapi tidak bagi Dexter, dia sangat membenci Sofia sampai mendarah daging. Baginya, Sofia adalah orang yang telah membunuh adiknya sampai kapanpun. Pria yang dia anggap sebagai kakak selama ini, selalu menatapnya dengan penuh kebencian dan sekarang, dia berdiri di sana, sebagai pengantin Dexter. Semua itu terjadi, karena wasiat sang kakek, yang menginginkannya menikah dengan Dexter. Sofia menggenggam gaunnya. Dia sangat ingin menolak, ingin pernikahan itu batal tapi dia tidak punya keberanian. Pintu kamar itu terbuka. Marie Carmen dan suaminya masuk ke dalam. Wanita itu menatapnya dengan penuh bangga. “Apa kau sudah siap, Sayang?” Marie melangkah mendekat, merapikan rambut Sofia yang sedikit berantakan. “Mom, apakah ini sudah benar?” Sofia menatapnya, wajahnya memelas. Berharap mereka berubah pikiran. “Ini keputusan yang terbaik, Sofia,” ujar ibunya pelan, namun nadanya tegas, seolah tak memberi ruang untuk bantahan. “Hanya kau yang pantas menikah dengan Dexter. Ini wasiat Kakek, jangan lupakan itu.” Sofia menunduk. Dia tahu itu wasiat, tapi menikah dengan Dexter? Semua orang tahu betapa Dexter membenci dirinya, begitu juga dengan kedua orang tuanya. “Aku... aku tidak yakin dengan ini,” Sofia memberanikan diri, “Dexter sudah punya calon tunangan. Tidak seharusnya—” “Sofia,” ayahnya memotong ucapannya, “Kami membesarkanmu untuk ini, agar kau pantas menjadi pendamping Dexter.” “Tapi dia membenciku, Dad. Apa tidak akan jadi masalah?” “Sofia,” Marie memegang tangannya, “Setelah kalian berdua menikah nanti, Dexter akan segera tahu kebenarannya. Dia akan tahu jika semuanya bukan salahmu. Mommy percaya, kau bisa mengambil hatinya.” Sofia menunduk dan mengigit bibir. “Ini tidak saja permintaan Kakek, tapi ini juga permintaan kami,” ucap ibunya, penuh permohonan. Sofia mencoba tersenyum. Dia tidak bisa menolak, dia berhutang banyak pada mereka. Dan sekarang saatnya membalas budi. Dua kalimat yang selalu menghantuinya sejak kecil, membuatnya tak bisa menolak dan selalu patuh. “Meski Dexter membencimu, tapi kalian tumbuh bersama dan saling mengenal dengan baik. Bagi kami, tidak ada yang pantas, apalagi calon tunangannya yang tidak pernah kami suka.” “Lalu bagaimana hubungan mereka?” “Untuk apa kau memikirkannya? Aku hanya ingin kau melakukannya.” Sofia diam, rasanya ingin mengatakan kalau dia tidak mau. Rasanya ingin melarikan diri. Tapi ia tak punya keluarga lain. Tak punya tempat pulang. Hidupnya sepenuhnya berada di tangan keluarga Carmen. *** Di luar kamar, denting musik pernikahan mulai terdengar. Para tamu telah memenuhi aula megah rumah besar itu. Hari ini, ia akan resmi menjadi istri Dexter Carmen—pria yang sejak kecil menatapnya penuh kebencian. Langkah kakinya terasa gontai saat ia digiring menuju altar. Jantungnya berdebar semakin kencang ketika ia melihat Dexter berdiri di sana, mengenakan setelan hitam rapi. Wajahnya tampan, rahangnya tegas, namun sorot matanya dingin—sedingin es yang menusuk tulang. Tak ada sedikit pun kehangatan di sana. Tatapan mereka bertemu sesaat. Sofia menelan ludah. Sementara Dexter memalingkan wajah, seolah keberadaan Sofia di sampingnya adalah sesuatu yang menjijikkan. Upacara berlangsung cepat. Kata-kata pendeta terdengar sayup di telinga Sofia. Yang ia dengar hanya detak jantungnya sendiri, dan suara dalam kepalanya yang terus bertanya: Apakah ini sudah benar? “Sekarang, pengantin pria boleh mencium pengantin wanita.” Ruangan mendadak hening. Dexter mendekat, berhenti tepat di hadapannya. Nafas pria itu menyentuh telinganya saat ia berbisik dengan suara rendah namun tajam. “Jangan salah paham, Sofia. Pernikahan ini bukan karena aku menginginkanmu.” Tubuh Sofia menegang. “Aku menikahimu hanya karena wasiat kakek. Dan karena aku ingin kau merasakan apa arti penderitaan.” Bibir Dexter melengkung dingin. “Ini balasanku atas apa yang kau lakukan pada Lucia.” Dunia Sofia seakan runtuh seketika. “A-aku tidak—” bisiknya nyaris tak terdengar. “Diam.” Suara Dexter mengeras. “Mulai hari ini, hidupmu milikku. Dan aku bersumpah di sini, di depan semua orang dan di depan Tuhan, aku tak akan pernah memberimu kebahagiaan.” Lalu, di depan semua orang, ia menempelkan bibirnya di dahi Sofia—bukan ciuman di bibir seperti yang seharusnya, hanya sebuah ciuman sebagai simbol, cap kepemilikan yang dingin. Tepuk tangan pun bergema. Semua orang tersenyum, tak tahu bahwa di balik senyum pengantin wanita, hatinya sedang menangis tanpa suara. Namun, di antara para tamu, berdiri Karen dengan tatapan sinis. Dialah calon unangan Dexter. Karen menatap penuh kebencian. Wanita yang merebut calon tunangannya, tidak akan dia biarkan. Sofia berdiri kaku, menahan air mata. Ingin berteriak pada Dexter bahwa ia tidak bersalah. Ingin mengatakan bahwa ia juga kehilangan Lucia hari itu di danau. Namun ia tak punya hak. Tak punya pilihan. Dan dengan satu kalimat sakral yang terucap dari bibirnya tadi, Sofia Carmen resmi menjadi istri seorang pria yang membencinya sepenuh jiwa. Dexter meninggalkannya begitu saja, masih berdiri di depan altar seolah dia tidak berarti sama sekali. Dan memang, dia tidak berarti. Sofia menggenggam buket bunga dengan kuat, mati-matian menahan air mata. Yang bahagia dari pernikahan itu hanya kedua orang tuanya. Bahkan beberapa tamu bisa melihat, dia adalah pengantin paling menyedihkan. Marie menghampiri, “Kemarilah, kenapa hanya berdiri di sana?” Marie menggandeng tangannya, membantunya turun dari altar. “Kami sangat senang, tidak saja menjadi putri angkat kami, tapi kau sudah menjadi menantu keluarga kami,” Marie tersenyum, senyuman tulus yang tak dapat dihancurkan oleh Sofia. Sofia berusaha tersenyum, tapi matanya tidak. Meski banyak ucapan selamat dan hadiah, tapi dia tahu itu bukan pernikahan yang ia dapatkan— melainkan awal dari neraka yang panjang.Marie sedang sibuk membersihkan kamar Sofia bersama berapa pelayan. Barang-barang yang sudah usang dikeluarkan. Ranjang dibersihkan, sprei diganti dengan yang bersih.Semuanya sibuk, Dexter sangat heran saat dia kembali. Ibunya tidak pernah sesibuk itu sebelumnya, dia bahkan sudah lama tidak bersemangat seperti itu.Dexter melangkah menuju kamar, melihat ibunya sedang sibuk mengatur beberapa barang yang baru dibeli.“Apa yang Mommy lakukan?” dia melangkah masuk, “Apa ada tamu yang akan datang?”“Dex, akhirnya kau pulang,” ibunya menghampirinya, “Mommy hanya ingin membersihkan kamar ini saja.”“Tidak ada yang menempati, lalu untuk apa dibersihkan? Bukankah pada akhirnya akan kotor lagi?”“Siapa bilang tidak akan ditempati?” “Jadi ada tamu?” Dexter melepaskan dasinya dan duduk di sisi ranjang, “Siapa?”“Sofia,” jawab ibunya singkat.Dexter terkejut, “Sofia mau pulang?”“Ya, dia akan pulang bersama anak-anak. Mommy harap kau tidak keberatan karena Mommy ingin dia menginap di sini. Kau m
Andrew melompat turun dari kursi, lalu mengambil piring berisi buah-buahan yang baru saja dipotong oleh kakeknya.Karena Sofia sedang hamil, Charles memutuskan untuk tinggal sedikit lebih lama di tempat itu. Dia menemani Andrew bermain, mengajarinya belajar, dan mengantarnya ke sekolah. Dia bahkan membuatkan makanan untuk menantunya sampai membuat Sofia tidak enak hati.Dan buah-buahan itu, dia yang membelinya sendiri, memilih yang terbaik dan memotongkannya untuk menantunya. Sedikit pun dia tidak membiarkan Sofia masuk ke dapur. Tiba-tiba saja dia menjadi pria tua yang cerewet. Karem sampai tidak luput dari ocehannya.“Kakek, sudah boleh dibawa?”“Tunggu,” dia meletakkan anggur yang telah dicuci, “Bilang pada ibumu harus dihabiskan.”“Lalu untuk Andrew mana?” wajahnya tampak murung, “Andrew juga mau, Kakek.”“Kakek potongkan lagi, antarkan itu dulu untuk Ibumu.”“Baik, Kakek,” dia berlari kecil.“Jangan lari, pelan-pelan saja!” bentakannya membuat Andrew terkejut.“Maaf, Kakek,” d
Kedatangan Ayah Karem mengejutkan Sofia. Dia sedang tidak enak badan, tapi dia harus menyambut kedatangan ayah mertuanya.Karem tidak ada di rumah, dia mengantar Andrew ke sekolah. Dan kedatangan pria tua itu tidak juga diketahui Karem karena memang ayahnya tidak memberitahu.Sofia yang berniat beristirahat mengurungkan niatnya. Dia keluar dari kamar, menyambut kedatangan ayah mertuanya yang sudah duduk di ruang tamu.“Dad, Kenapa tidak bilang mau datang?”“Kenapa?” pria tua itu menatapnya tajam, “Apa aku tidak boleh mengunjungi kalian?”“Bukan begitu. Kalau kami tahu—”“Mana Karem?” Ayah mertuanya menyela, “Apa dia tidak ada di rumah?”“Karem sedang mengantar Andrew, aku akan menghubunginya agar dia cepat kembali.”“Tidak usah. Duduk saja!”“Ka- kalau begitu aku akan buatkan minuman.”“Aku bilang duduk!” Pria tua itu membentak.Sofia terkejut. Nyalinya jadi ciut. Takut dimarahi Ayah mertuanya lagi, dia memilih duduk.Kepalanya menunduk, dia tidak berani memandangi Ayah mertuanya itu
Selama di perjalanan pulang, Sofia hanya menghabiskan waktu dengan termenung. Tidak dia pungkiri kalau dia juga sedih berpisah dengan kedua orang tuanya.Tapi sejak awal, mereka memang sudah dipisahkan dengan keadaan. Apa lagi sekarang, dia telah menikah dan memiliki seseorang yang mencintainya.Dia duduk sendirian, menatap keluar tanpa berpaling. Karem menemani Andrew yang ingin tidur, tapi sesungguhnya ada yang ingin diberikan Andrew padanya.“Papa, Daddy memberikan Andrew banyak mainan,” Andrew berbaring di sampingnya. Dia tidak lupa dengan apa yang diberikan ayahnya.“Papa sudah melihatnya tadi.”“Daddy memberikan Andrew begitu banyak mainan, Apa itu berarti Daddy menyayangi Andrew?”“Bagaimana menurut Andrew? Apa kau tidak bisa merasakan kasih sayangnya?”“Andrew tidak tahu, Papa. Tapi Daddy memberikan banyak barang. Daddy juga memberikan ini untuk Andrew,” dia mengeluarkan kartu yang diberikan ayahnya, “Daddy bilang akan mengirimkan uang untuk Andrew, supaya Andrew bisa bayar ua
Pernikahan mereka benar-benar dilakukan dengan begitu sederhana. Setelah perceraian Sofia dan Dexter selesai, pernikahan pun langsung disiapkan.Tidak ada tamu undangan, hanya dihadiri oleh keluarga saja karena Sofia tidak ingin pernikahannya menjadi bahan tontonan.Dia pun tidak ingin ada gunjinga
Pagi-pagi sekali, Karem mendapat telepon dari ayahnya. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja ayahnya berkata dia tidak perlu membawa Sofia pulang lagi.Meski dia merasa sedikit aneh. Tapi dia tidak mau memikirkannya karena dia tahu ayahnya pasti berubah pikiran, tidak ingin bertemu dengan Sofia.T
Adrew tak henti mengoceh disepanjang jalan. Dia menceritakan bagaimana takutnya dia saat dipeluk oleh ayahnya. Dia juga menceritakan bagaimana kakek dan neneknya begitu menyayanginya, dan memberikan begitu banyak permen untuknya.Sofia tersenyum tipis mendengar ocehan putranya itu. Dia sangat bersy
Kakek dan neneknya sangat sedih karena Andrew sudah ingin pulang. Padahal mereka belum puas menghabiskan waktu bersama, tapi keinginan Andrew tidak dapat ditolak. Mereka takut Andrew membenci mereka dan tak mau datang lagi.Meski dia sudah mau berbicara dengan ayahnya, tapi dia belum mau berdekatan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore