LOGINNayaka adalah seorang guru sekolah menengah pertama, usianya hampir berkepala tiga tahun ini. Dia memiliki dua sisi yang sangat berbeda. Orang bilang itu lah Gemini! Siang dia menjelma bak Malaikat dengan pekerjaannya sebagai guru namun malam jelas berbeda, dia memainkan musik dari bar ke bar dan bergelut di dunia malam yang hitam pekat. Salah satu murid nakalnya bernama Carmen! Bagi Nayaka Carmen itu seperti iblis kecil yang mengesalkan. Namun juga menyedihkan. Nayaka tidak tahu jika ternyata orangtuanya menjodohkan dengan duda tampan yang sialnya adalah ayah dari Carmen! Apakah dia bisa mengubah Carmen menjadi lebih baik? atau … menyeretnya kian dalam seperti dunianya? Entahlah. Karena pernikahan ini baginya hanyalah Kawin Gantung yang sewaktu-waktu bisa diputuskannya! (Warning cerita mengandung kontent 21+ harap bijaksana membacanya
View More“Ibu!! Ada yang merokok di toilet!!” adu seorang wanita yang memakai pakaian seragam putih biru, membuat seorang wanita yang mencepol rambutnya itu menghela napas panjang dan mengambil penggaris kayu berukuran satu meter.
“Grrrrr! Siapa lagi sih!” ujarnya. Nayaka Shainara, seorang wanita dewasa yang usianya hampir tiga puluh tahun. Tubuhnya tinggi semampai, namun dibalut seragam kerja yang tidak fit body meskipun tubuhnya bisa dibilang indah. Namun ... baginya tubuh itu tidak untuk dipamerkan di lingkungan persekolahan. Langkahnya cepat dan panjang menuju toilet di belakang gedung sekolah, toilet yang memang jarang dihuni karena katanya angker, mungkin kata angker hanyalah karangan dari para ‘murid’ turun temurun, agar tempat itu jarang didatangi dan mereka bisa melakukan hal yang dilarang dilakukan di lingkungan sekolah. Usia remaja memanglah usia pencarian jati diri, sangat rawan karena pengaruh lingkungan. Nayaka melihat ke atas ventilasi udara, ada asap yang melewati celahnya. Dia sangat paham dunia seperti ini. Bahkan ... dia memiliki sisi gelap lain yang hanya diketahuinya seorang diri! Jauh dari lingkungannya. Nayaka mengambil ember dan mengisi dengan air yang berada di belakang kelas. Dia letakkan penggaris kayunya dan dalam hitungan ketiga dia melemparkan air itu ke dalam ventilasi, yang dalam sekejap saja teriakan nyaring dari para murid terdengar. “Sialan!!! Siapa itu!!!” jeritnya membuat Nayaka tersenyum puas, diambil lagi penggarisnya dan dia berdiri di depan toilet, menunggu mereka keluar dengan wajah judes yang dibuat-buat. Satu ... dua ... tiga orang wanita berseragam putih biru yang bagian atas seragamnya basah pun keluar. “Good!” ujar Nayaka. “I-ibu,” ujar mereka takut, menyembunyikan puntung rokok di belakang tubuhnya. “Kalian ini sudah kelas sembilan, bukannya belajar yang benar!” gerutu Nayaka. Membaca satu persatu nama murid itu, bahkan salah satunya adalah murid kelasnya. “Carmen Vilova Wardana! Kamu!!!” ujar Nayaka, “ini kasus kedua kamu ya, untuk merokok!” ujar Nayaka. Gadis cantik dengan rambut di keriting gantung itu hanya mendengus. “Kali ini ibu enggak akan tinggal diam, ibu akan panggil ibu kamu!” ujar Nayaka. Carmen maju dan tersenyum miring, “saya akan sangat senang jika ibu bisa memanggil ibu saya yang entah berada di mana?” ujar Carmen seperti menantang. Sementara kedua teman lainnya hanya bisa mengkerut ketakutan. “Ayo ikut ibu ke ruang guru!” ujar Nayaka. Dia tahu Carmen hanya tinggal bersama ayahnya yang hanya bisa memanjakan dengan uang! Tanpa tahu anak seusianya butuh perhatian lebih. Hampir tiga puluh menit Nayaka menceramahi mereka dan meminta mereka membawa orang tua jika tidak mau diskorsing. Ketiga anak itu hanya terdiam mendengarkan, kedua teman Carmen menangis memohon ampun, namun Nayaka tidak gentar dengan tangisan buaya mereka. Sementara Carmen bersikap lebih santai. Setelah membuat dua surat untuk orang tua teman Carmen, kini giliran Carmen yang duduk di hadapan Nayaka. “Siapa nama ayah kamu,” ujar Nayaka. “Aku bingung, kira-kira nama pak sopir atau pak penjaga kebun ya?” ujar Carmen. “Carmen, stop it! Ibu serius.” “Saya enggak punya orang tua!” “Carmen!” ujar Nayaka membentak anak remaja yang tahun ini genap berusia lima belas tahun itu. Carmen berdecih, “Nuansa Bayu Wardana, tapi saya enggak yakin pria tua itu akan datang. Dia saja enggak ingat kalau sudah punya anak,” ucap Carmen. Nayaka hanya menggelengkan kepalanya dan mengetik nama itu, “kirim nomor orang tua kamu, biar ibu yang memintanya datang,” ucap Nayaka. Carmen mengirim nomor ponsel ayahnya yang membuat Nayaka tak percaya, dia menamainya ‘Donatur Dingin.’“Mas apa yang kamu lakukan!” Jerit Carmen pecah di tengah malam yang sunyi.Dia terbangun dengan napas tersengal, jantungnya berdetak sangat cepat. Rasa sesak langsung menyerang ketika dia menyadari ada tangan yang mencengkeram lehernya cukup kuat. Pandangannya masih kabur, namun siluet tubuh di atasnya sangat jelas, Keanu.“Mas!” suaranya melemah, mencoba meraih kesadaran penuh, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.Namun yang dia lihat justru membuat tubuhnya membeku.Keanu berada di atasnya dengan tatapan yang asing. Bukan tatapan yang dulu membuatnya jatuh cinta. Bukan tatapan hangat yang dulu selalu ia rindukan. Tatapan itu … dingin, liar, dan entah mengapa terasa seperti kebencian yang dipendam terlalu lama.“Aku susah napas … kita bisa lakukan pelan-pelan kan?” mohon Carmen, berusaha meraih tangan Keanu yang mencengkeram lehernya.Namun Keanu tidak menjawab. Cengkeramannya tidak me
Saat ini Carmen tengah melihat ponsel keluaran terbaru yang dibeli seminggu sebelum mereka menikah, harganya mungkin sama dengan motor besar yang baru rilis. Jemarinya yang halus mengusap layar itu perlahan, seolah benda tersebut adalah satu-satunya hal yang masih terasa “miliknya” di tempat asing ini.Di rumah lamanya, ponsel seperti ini bukan sesuatu yang istimewa, dia bahkan sering berganti model setiap beberapa bulan sekali. Namun di sini, benda itu terasa seperti simbol dari dunia yang perlahan menjauh darinya.Perutnya sangat lapar. Bukan sekadar lapar biasa, tapi perih yang menusuk hingga ke ulu hati. Namun dia tidak berani meminta izin kepada ibu mertuanya karena tadi saja dia sudah dihadiahi tatapan dingin yang begitu tajam, seolah kehadirannya adalah beban. Carmen menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa tidak nyaman itu.Sebuah pesan masuk ke ponselnya, dari Amora, sahabat Carmen.Nama itu langsung membuat hatinya menghangat.
Meninggalkan Carmen yang masih berjongkok.Sunyi seketika terasa di dapur pengap itu. Carmen menatap ke arah yang ditunjuk Tia tadi.Sebuah dingklik kecil. Tersandar di sudut dapur. Dadanya terasa sesak.Betapa bodohnya dia. Di rumah, mbok Sumi selalu menggunakan dingklik saat mencuci lap atau melakukan pekerjaan di lantai. Hal sederhana itu bahkan tidak terpikirkan olehnya sekarang.Dan ingatan itu …Membawanya kembali ke malam sebelum dia pergi dari rumah.“Jangan bawa semua perhiasan, Non, dan kalau bisa barang berharga sembunyikan di tempat aman. Barangkali suatu saat Non butuh. Non juga enggak perlu terlalu terbuka dengan simpanan itu ke suami, kita tidak tahu pikiran seseorang kan?”Suara Mbok Sumi masih terngiang jelas di kepalanya.Wanita tua itu berdiri di sampingnya, menatapnya dengan penuh kekhawatiran.Carmen yang sedang menata barang di atas ranjang hanya mendengus pelan.“Mas
“Dia beneran enggak bawa apa-apa? Coba kamu cari barang berharga siapa tahu dia bawa,” ujar ayah Keanu sambil menyandarkan punggungnya ke tiang teras yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Catnya mengelupas di sana-sini, memperlihatkan kayu yang mulai menghitam.“Nanti saja lah, aku capek, lagian dia juga enggak kemana-mana. Aku enggak akan kasih izin dia pergi sejauh radius lima ratus meter dari rumah ini,” tutur Keanu sambil menguap lebar. Pria yang berparas tampan itu memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan, terdengar bunyi kecil dari lehernya yang terasa sangat pegal setelah semalaman hampir tidak tidur.Dia mengusap wajahnya kasar, matanya berat, tapi pikirannya masih penuh dengan potongan-potongan masa lalu yang membuat dadanya sesak.Tidak sia-sia perjuangan Keanu selama setahun mendekati Carmen. Semua yang dia lakukan kesabaran, perhatian, bahkan uang yang dia keluarkan semuanya bukan tanpa tujuan. Dia membeli kepercayaan Carmen, pe






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.