Share

Bab 2. Gereget Aku

Setelah Ibu mertua pulang, kulihat raut wajah Mas Rizwan seperti sedang gelisah. Dia sepertinya tertampar dengan semua keberanianku padanya barusan. Kubiarkan dia sementara untuk berfikir, mungkin dengan berfikir sejenak otaknya bisa kembali normal.

"Laila buatkan aku makan malam!" kesal sekali saat Mas Rizwan memintaku membuatkan makan malam. Padahal sudah jelas jika aku meminta semua kepada Ibu mertua untuk merawat Mas Rizwan. Enak saja minta buatkan makan, memberi nafkah sebagai kewajibannya saja pelit.

"Aku tidak pegang uang, Mas. Minta saja sama ibumu! Masa sih kamu tidak punya uang untuk beli makanan dan kalau tidak ada makanan, beli dong!" jawabku saat melihat Mas Rizwan nampak gusar.

Mungkin dia akan semakin pusing mendengar pertanyaan bertubi-tubi padanya. Baru kali ini aku melihatnya gusar seperti ini. Biasanya lagaknya kayak orang kaya dan tak butuh siapapun meski saat ini aku benar-benar ingin tertawa melihatnya dilanda rasa gundah.

"Belikan nasi ayam dan ini uangnya!" Mas Rizwan memberikanku uang dan menyuruhku pergi membelikan dia makanan.

"Yaelah! uang sepuluh ribu dapat apa, Mas? tempe penyet saja dua belas ribu. Beli sendiri sana, aku mau tidur! Lelah dihina kamu sama ibumu terus," ucapku dan segera menutup kamar. Kuambil selimut untuk membungkus tubuhku supaya segera terlelap dalam keheningan malam meski saat ini masih sore.

Tok tok tok

"Kamu tidak makan?" tanya Mas Rizwan sambil mengetuk pintu kamarku. Enggan sekali aku membuka pintu kamar namun aku juga tak bisa membiarkan suamiku di luar. Akhirnya dengan terpaksa aku berjingkat untuk membuka pintu kamar

Ceklek

"Aku sudah kenyang dan tidak lapar karena sudah kenyang dengan hinaanmu! belanjakan saja uangmu untuk dirimu sendiri dan juga ibumu, asal jangan merepotkanku" ucapku dengan ketus. Segera kututup kembali pintu kamarku daripada harus melihat suamiku dan membuatku sangat kesal. Baru mau menutup pintu, Mas Rizwan menahan supaya tidak tertutup.

"Kamu kenapa jadi begini sih? kamu tau apa, capeknya mencari uang," ucap Mas Rizwan sepertinya ingin mengungkit lelahnya mencari uang padahal menjadi Ibu rumah tangga bagiku sudah cukup melelahkan.

"Mas Rizwan yang baik hati dan sangat dermawan. Apa kamu tidak ingat aku berhenti bekerja karena perintahmu. Asal kamu tahu, gajiku dulu lebih banyak dari pada gajimu tetapi aku bersedia berhenti bekerja karena aku mengabdikan diri padamu. Dan mulai besok, jangan lagi menyuruhku berhenti kerja karena kamu sendiri tak memberiku nafkah yang layak!"

"Ayo sini kutunjukkan. Lihat isi lemariku!" kuajak suamiku menghadap ke lemari kayu jati. Lemari yang menjadi saksi ketidak adilan atas perlakuan Mas Rizwan padaku.

"Semua bajuku terlihat seperti gembel, beda denganmu dan ibumu yang selalu berpenampilan serba bagus dan baru. Jika aku mendapatkan nafkah yang layak, tidak mungkin bajuku seperti gembel begini," pungkasku sambil memperlihatkan isi lemariku. Kuambil satu dasterku yang sudah robek di bagian ketiaknya dan kutunjukkan padanya.

"Laila berani sekali kamu denganku!" bentak Mas Rizwan. Aku memutar bola mataku dengan malas ke arahnya, dia belum paham juga rasanya. Andai saja ada centong nasi, pasti aku sudah getok kepalanya biar tidak lama-lama konsletnya.

"Kamu saja bisa sesukanya padaku, masa aku gak bisa. Kalau tidak terima, silahkan ditalak, aku udah siap kok. Aku juga tidak akan minta harta gono gini dari suami pelit sepertimu!" ucapku menantang Mas Rizwan. Dia saja rumah memilih ngontrak, padahal aku sudah menyarankan dari dulu untuk menyisihkan sebagian uangnya yang nantinya bisa digunakan membeli rumah impian kami.

"Aku tak akan menceraikanmu!" bentak Mas Rizwan.

"Ya sudah kalau kamu masih tetap seperti ini sekalian genapkan tiga bulan, biar aku bisa gugat kamu," ucapku sambil berlalu.

Segera beranjak ke kamar dan membuka aplikasi hijauku. Gemes aku rasanya punya lelaki modelam begini. Selalu tak pernah berpikir pakai otak. Entah dipakai untuk apa otaknya.

"|Kak penjualan online kamu banyak banget bulan ini. Besok aku transfer komisimu ditambah bonusnya|" pesan dari Lika adik kelasku dulu. Lumayan buatku bisa sedikit punya tabungan dari berjualan online tanpa menyetok barang atau bahsa kerennya dropship.

"|Wah, Lika. Terimakasih banyak. Semoga semakin lancar saja usahamu|" balasku.

"|Amin|" balas Lika.

Lega rasanya usaha jualan onlineku laris manis, segera keluar kamar dan menuju dapur. Perutku lapar dan perlu di isi, untung saja aku tadi beli mie instan telur sama sawi, lumayan untuk pengganjal perut malam ini. Sebenarnya ada uang, cuma malas saja keluar, nanti Mas Rizwan bisa curiga denganku.

"Masak apa kamu?" tanya Mas Rizwan.

"Mie Instan, kenapa?" tanyaku balik.

"Bikinkan aku juga dong!" ucap Mas Rizwan. Benar-benar tidak tahu malu dan tidak tahu diri sama sekali.

"Mie Instan cuma satu bungkus, telur juga satu tidak cukup kalau dimakan berdua. Lagian kamu habis gajian, masa tidak mampu beli makanan. Tadi uangnya sudah aku berikan kamu semua padamu, Mas. Kalau lapar minta ibu sana, jangan merepotkan aku!" pungkasku sambil mengaduk mie instan yang mulai melemas di panci.

"Uangnya dipinjam Mbak Rina jadi tinggal uang bensin buat satu bulan," ucap Mas Rizwan dengan entengnya mengatakan jika uangnya dipinjam saudaranya.

"Ya sudah! itu resiko kamu. Lagian kamu juga tidak berpikir dulu kebutuhan kamu. Main memberi saja, kamu sendiri yang repot kan?"

"Kamu tidak ada uang?" tanya Mas Rizwan. Benar - benar lelaki tau malu, bahkan makan malam saja minta padaku.

"Tidak ada, kalau ada uang pasti aku makan yang enak - enak lah, bukan malah makan mie instan. Lagian ya, kamu seorang manager. Masa minta uang ke aku yang cuma buruh cuci, sehari dapatnya lima belas ribu," ucapku pura - pura tidak punya uang meski aku memiliki tabungan yang kusimpan dalam rekening yang kurahasiakan. Menjadi Dropshiper membawa keberuntungan padaku.

Di waktu senggang aku menerima jasa mencuci pakaian dari tetangga. Meski tidak besar tapi aku bersyukur masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Ya sudah, aku makan ke Ibu saja malam ini," Mas Rizwan mengalah juga akhirnya. Mas Rizwan berdiri dan merapikan beberapa hwlai rambut yang dirasa berantakan.

"Jangan malam ini aja, kalau bisa seterusnya karena penghasilanku sehari cumal lima belas ribu dan tidak cukup untuk makan berdua," pungkasku.

"Tapi aku tidak bisa bawakan makanan buat kamu ya," ucap Mas Rizwan membuatku tertawa. Sama sekali aku tidak ingin makan masakan Ibu mertuaku.

"Mas, apa aku pernah minta apapun ke ibumu? Ya sudah pergi saja kesana, aku tidak minta makanan juga. Mending lima belas ribu perhari tapi tenang," heran deh punya suami pelit amat.

"Oh ya, sekalian tanyakan Mbak Rina kapan uangku dikembalikan. Memang tidak besar, cuma dua ratus ribu. Tapi itu bisa buat aku makan satu minggu. Ngakunya kaya tapi utangnya tidak dibayar-bayar," ucapku sambil melirik Mas Rizwan yang hanya terdiam menatapku bicara tanpa henti.

"Mbak Rina punya utang ke kamu?" tanya Mas Rizwan. Sepertinya dia terkejut saat aku bilang padanya atas kelakuan cantik kakaknya. Ah! apa peduliku.

"Iya Mas, tolong tagih, karena aku juga butuh makan," ucapku pura-pura memelas supaya uangku segera dikembalikan.

'sekeluarga pada doyan duit semua'

Yuk saksikan kisah part selanjutnya dan jangan lupa follow cerita ini!

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status