Share

Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan
Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan
Penulis: ime-chan

01. Ayesha

Penulis: ime-chan
last update Tanggal publikasi: 2025-01-20 13:16:46

Kawasan Tanjong Pagar diserbu hujan deras malam itu, genangan-genangan air terbentuk yang memantulkan cahaya lampu neon dari gedung-gedung tinggi berkilauan. Tetesan air yang jatuh dengan cepat dan deras menciptakan suara gemuruh yang konstan, seperti ribuan drum kecil yang dipukul secara bersamaan. Bunyi klakson kendaraan dan deru kereta MRT (Mass Rapid Transit) yang melintas di atas viaduk menciptakan irama kota yang tak pernah tidur. Di antara hiruk-pikuk ini, ada bagian kota yang tampak sedikit lebih sunyi, jauh dari pusat keramaian. Sebuah gedung tua teguh berdiri dengan pintu masuk yang disembunyikan oleh bayangan gedung-gedung modern di sekitar. Tepatnya ada di lantai dasar gedung itu, cahaya kuning redup memancar dari sebuah jendela kecil, menandakan aktivitas di dalamnya.

Di sana, Ayesha berdiri di depan meja kerjanya, mengenakan jas lab putih yang tampak kebesaran, seolah dia terlalu sibuk untuk peduli pada detail penampilannya. Rambut hitam panjangnya diikat rapi ke belakang, menonjolkan wajah tirus dengan sorot mata tajam yang penuh konsentrasi. Tangannya lincah memindahkan tabung reaksi dari satu alat ke alat lainnya, sementara layar komputer di sebelahnya menampilkan grafik dan angka-angka kompleks yang hanya bisa dimengerti oleh seseorang dengan keahlian tinggi di bidang biologi. Di sekitarnya, terdapat peralatan pendukung canggih lain berupa mikroskop elektron, inkubator termal, dan kandang-kandang kecil yang terbuat dari kaca tebal.

Di salah satu kandang, segerombol tawon dengan tubuh besar yang bagian caput dan toraksnya berwarna oranye, sementara abdomen hitam dengan beberapa garis oranye tampak bergerak gelisah. Mereka adalah Vespa mandarinia, spesies tawon raksasa Asia yang terkenal karena sengatannya yang mematikan, karena dapat menyuntikkan racun dalam jumlah besar. Mereka biasa tinggal di hutan atau pegunungan berketinggian rendah. Namun, mengapa sekarang terkurung di dalam kandang?

Ayesha menatap serangga-serangga itu dengan penuh perhatian, mencatat setiap gerakan mereka di buku catatan yang sudah penuh dengan tulisan tangan rapi dan diagram. 

“Spesimen ke-17 ini menunjukkan respons lebih baik terhadap lingkungan dingin,” gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam dentingan alat di laboratorium, “Jika ini berhasil, mereka bisa survive di iklim ekstrim mana pun.”

Dia mengambil salah satu tawon dengan pinset khusus, memasukkannya ke dalam tabung kecil berisi penuh gas anestesi. Serangga itu bergerak semakin pelan, sayapnya berkedut sebelum akhirnya kaku seperti batu. Dengan hati-hati, Ayesha meletakkan tubuh tawon itu di atas meja mikroskop.

“Struktur tubuh mereka luar biasa,” ujarnya sambil memperbesar gambar di layar monitor.

“Sayap yang dirancang untuk penerbangan jarak jauh, rahang kuat untuk menyerang mangsa, dan kemampuan mereka bertahan hidup luar biasa. Make sense kalau mereka disebut predator puncak di dunia serangga.”

Triiing... triiing... triiing...

Ponsel di saku jas lab Ayesha bergetar dan berdering tiba-tiba, menggeser perhatiannya pada objek di layar monitor. Suara itu bergema memenuhi seisi laboratorium, ia mendesah pelan. Saat melihat layar ponsel, ekspresi wajahnya kain berubah. Sebuah nama terpampang di sana ‘Daren’. Seketika, tangan Ayesha terhenti, seperti terjebak antara keinginan untuk abai atau menjawab panggilan. Ingatan tentang pria itu menyeruak ke pikirannya, membawa serta kembali rasa sakit yang selama ini dia coba singkirkan. Namun, keraguannya telak dikalahkan oleh rasa penasaran bercampur keheranan, dan dia mengangkat telepon itu.

“Ayesha,” suara Daren terdengar lembut, penuh keakraban yang terasa pahit bagi Ayesha. “Aku tahu ini mendadak, tapi aku perlu bicara denganmu.”

Ayesha menekan bibir bawahnya, menarik emosi yang mulai muncul ke permukaan. “Apa yang kau mau, Daren? Aku pikir kita sudah selesai,” suaranya dingin, hampir tanpa emosi, meskipun hatinya terguncang.

“Aku hanya ingin menjelaskan,” jawab Daren. “Aku tahu aku telah membuat kesalahan, tapi semua yang kulakukan waktu itu adalah untuk karirku. Aku tahu Kau mengerti betapa pentingnya pemilihan ini bagiku.”

Ayesha tertawa kecil, tetapi tawa itu penuh kepahitan, “Kesalahan? Kau meninggalkan aku untuk wanita lain yang keluarganya mendukung ambisi politikmu, lalu menyebutnya kesalahan? Tidak, Daren. Itu adalah keputusan. Kau memilih jalanmu, jadi jangan cari alasan!”

Hening menyelimuti sambungan telepon mereka sejenak. Suara hujan di luar terdengar semakin mengganas, seolah-olah mendukung gejolak emosi di dalam diri Ayesha. Dan akhirnya dia memutus panggilan itu tanpa peduli apa yang Daren coba katakan lebih lanjut. Tangannya gemetar saat meletakkan ponsel ke meja. Dia menutup kelopak mata, mencoba mengatur serta nafasnya. Kata-kata Daren terus terngiang di telinganya, mengantarkan kembali luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.

“Aku tidak akan membiarkan kamu menghancurkan aku lagi, Daren,” bisiknya pelan. 

Ayesha membuka matanya dan kembali fokus pada objek di layar monitor. Inilah pelariannya, dunia yang dia ciptakan sendiri dalam laboratorium. Dunia yang memberinya kendali penuh, sesuatu yang tak pernah ia miliki selama terjebak dalam hubungan mereka – bersama Daren.

Pandangannya mengarah pada layar komputer. Data yang dikumpulkan belakangan menunjukkan bahwa modifikasi genetik pada tawon-tawon ini telah melampaui ekspektasinya. Mereka tidak hanya dapat bertahan dalam lingkungan ekstrim, tetapi juga mengembangkan kemampuan resistensi terhadap hampir semua jenis insektisida komersial. 

This is more than science,” gumamnya, “this is power.”

Dia berdiri dari kursinya, bergerak perlahan menuju jendela kecil di laboratorium itu. Di baliknya, hujan masih mengguyur deras. Singapura, dengan segala gemerlap dan hiruk-pikuknya, tampak seperti panggung besar di mana setiap orang berjuang demi kekuasaan. Ayesha tahu, dia sama saja. Dia juga menginginkan kekuasaan, tidak untuk menghancurkan orang lain, tetapi untuk memastikan dirinya tidak pernah dihancurkan lagi. Itulah alasan mengapa meninggalkan pekerjaannya di institusi besar dan memilih untuk bekerja sendiri. Dia tidak ingin berlutut di bawah kendali siapa pun, tidak lagi.

“Kau akan melihat, Daren,” katanya pelan, hampir seperti janji pada dirinya sendiri, “Aku akan memastikan bahwa aku lebih dari sekadar bayang-bayang ambisimu.”

Malam semakin menggurita, tetapi Ayesha tidak berhenti bekerja. Di salah satu sisi keheningan malam yang hanya dipecahkan oleh berisik suara hujan diluar jendela, dia tetap terpaku pada pekerjaannya. Meskipun lelah mulai merayap di tubuhnya, bagi Ayesha, malam yang panjang ini merupakan kesempatan untuk melarikan diri. Di dalam laboratorium kecil itu, di tengah suara hujan yang terus mengguyur, dia merancang masa depan yang hanya dia sendiri yang tahu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   60. Keputusan Sebelum Fajar

    Fajar belum benar-benar datang ketika langit di atas pegunungan masih berwarna biru keabu-abuan. Kabut menggantung rendah di antara batang-batang pinus, membungkus tempat persembunyian itu dalam kesunyian yang hampir sempurna. Embun menetes perlahan dari ujung dedaunan, sementara udara dingin menusuk hingga ke tulang.Dari jendela kamar kecilnya, Ayesha memandang garis cakrawala yang mulai memucat. Ia tidak tidur semalaman. Di atas meja masih tergeletak laporan-laporan mengenai dampak Operasi Vespa, foto-foto korban, catatan ilmiah yang dahulu ia banggakan, Ayesha merasa bahwa ia tidak lagi memiliki hak untuk bersembunyi di balik alasan balas dendam.Ia menarik napas panjang, lalu menutup layar komputer satu per satu. Pantulan wajahnya tampak semakin pucat di permukaan monitor yang menghitam. Luka-luka kecil di tangannya—bekas bekerja berjam-jam di kamar dan insiden beberapa waktu lalu—belum sepenuhnya hilang. Kulit manusia memiliki kemampuan memperbaiki dirinya melalui proses regener

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   59. Pengakuan yang Mengubah Segalanya

    Malam turun perlahan menyelimuti tempat persembunyian mereka di pegunungan. Hujan yang sejak sore mengguyur kawasan itu kini hanya menyisakan rintik-rintik halus yang memukul permukaan atap logam dengan irama pelan. Udara menjadi jauh lebih dingin. Kabut mulai turun dari lereng-lereng hutan pinus, menelan sedikit demi sedikit jalan setapak. Dari jendela ruang kerja yang menghadap lembah, Ayesha berdiri memandangi gelapnya malam. Pantulan wajahnya terlihat samar pada kaca, seolah memperlihatkan dua sosok berbeda yang hidup di dalam dirinya. Yang pertama adalah Ayesha, ilmuwan muda yang dahulu percaya bahwa ilmu pengetahuan dapat memperbaiki dunia. Yang kedua adalah perempuan yang menciptakan Operasi Vespa dan tanpa sadar membuka pintu bagi bencana yang jauh lebih besar daripada dendam pribadinya. Semakin lama ia memandang bayangannya sendiri, semakin sulit ia menentukan mana yang masih benar-benar dirinya.Pintu ruangan terbuka perlahan tanpa suara. Alexei masuk dengan langkah tenang

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   58. Monster yang Bercermin

    Pagi datang tanpa benar-benar membawa ketenangan. Kabut tipis masih menyelimuti lereng pegunungan tempat persembunyian baru Alexei, sementara embun menggantung di ujung dedaunan pinus yang mengelilingi bangunan beton berarsitektur minimalis itu. Dari balik jendela, Ayesha memandang hamparan hutan yang seolah tidak tersentuh dunia luar. Burung-burung kecil mulai berkicau, menciptakan kontras yang menyakitkan dengan kekacauan yang sedang melanda Singapura. Baginya, alam selalu memiliki cara menjaga keseimbangan. Setiap spesies memiliki fungsi, setiap predator memiliki batas, dan setiap kehidupan berjalan mengikuti mekanisme yang dibentuk selama jutaan tahun evolusi. Namun, ia tahu bahwa keseimbangan itu telah ia ganggu dengan tangannya sendiri.Di atas meja kerja terbentang puluhan laporan digital yang dikirim melalui jaringan terenkripsi organisasi Alexei. Layar holografik menampilkan peta kota yang dipenuhi titik-titik merah, masing-masing melambangkan lokasi serangan terbaru, kawasa

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   57. Luka yang Tak Pernah Sembuh

    Malam pertama di tempat persembunyian baru itu terasa jauh lebih sunyi daripada yang dibayangkan Ayesha. Hujan yang sejak sore mengguyur kawasan hutan akhirnya mereda, menyisakan aroma tanah basah yang masuk melalui celah ventilasi berfilter udara. Sistem pemurnian oksigen di dalam rumah bekerja secara otomatis, menghasilkan dengungan halus yang nyaris menyerupai napas manusia. Cahaya lampu di kamar sengaja diredupkan hingga hanya menyisakan semburat keemasan di sudut ruangan, tetapi suasana yang tenang justru membuat pikirannya semakin sulit beristirahat. Ayesha berbaring di atas ranjang tanpa benar-benar memejamkan mata. Setiap kali ia mencoba tidur, bayangan laboratorium yang ditinggalkan, wajah-wajah korban Operasi Vespa, dan tatapan Daren saat malam sebelumnya kembali bermunculan. Tubuhnya memang berada di tempat yang aman, tetapi pikirannya masih terjebak di antara reruntuhan masa lalu yang belum pernah benar-benar ia tinggalkan.Entah kapan rasa lelah akhirnya mengalahkan kesa

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   56. Persimpangan Jalan

    Langit dini hari masih diselimuti awan kelabu ketika kendaraan lapis baja berwarna hitam melaju meninggalkan kawasan industri yang telah berubah menjadi lokasi pengepungan besar-besaran. Lampu rotator kendaraan militer yang berkilauan di kejauhan perlahan menghilang dari kaca spion, berganti dengan jalanan sempit yang membelah kawasan perbukitan di pinggiran Singapura. Hujan tipis membasahi kaca depan, membentuk pola-pola acak yang diterangi cahaya lampu jalan. Ayesha duduk membisu di kursi belakang, tubuhnya masih mengenakan jas laboratorium yang kusut dan bercak debu dari laboratorium yang baru saja mereka tinggalkan. Rambut hitam panjangnya tergerai berantakan, sebagian menempel di pipinya yang pucat. Kedua tangannya saling menggenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di kursi depan, Alexei duduk tanpa banyak bicara. Tatapan pria bermata abu-abu itu tetap lurus ke jalan, tetapi sesekali ia memperhatikan pantulan wajah Ayesha melalui cermin tengah. Tidak ada kemenangan di wa

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   55. Pilihan Terakhir Ayesha

    Malam itu, pusat komando investigasi milik pemerintah berubah menjadi tempat yang penuh tekanan. Hanya suara langkah kaki para petugas, dengungan komputer analisis, dan bunyi notifikasi dari berbagai layar yang memenuhi ruangan. Di salah satu layar utama terpampang hasil pencocokan data terakhir yang selama berminggu-minggu dicari oleh tim Daren. Semua potongan kecil akhirnya membentuk satu gambar besar."Ayesha adalah dalangnya."Namun bagi Daren, nama itu bukan hanya nama tersangka. Itu adalah seseorang yang pernah ia cintai. Seseorang yang pernah berdiri di sampingnya ketika ia belum memiliki kekuasaan apa pun. Seseorang yang pernah percaya bahwa dirinya bisa mengubah dunia."Apa perintah Anda?" tanya Marcus.Daren terdiam cukup lama. Sebagai walikota, jawabannya jelas. Tangkap pelaku. Hentikan ancaman. Lindungi masyarakat. Namun sebagai seseorang yang mengenal Ayesha, ia tahu ada sesuatu yang lebih rumit dari sekadar penangkapan."Siapkan operasi," akhirnya kata Daren.Marcus meng

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   25. Target Serangan

    Ruang pertemuan di markas Alexei dipenuhi oleh atmosfer yang tegang, seolah-olah setiap molekul udara membawa beban dari rencana besar yang akan segera dieksekusi. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang yang terbuat dari kayu mahoni gelap terlihat kokoh dan berwiba

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   23. Serangan Terkendali

    Malam itu, di sebuah gudang tua yang terletak jauh di perbatasan kota, Ayesha berdiri dengan tenang, matanya meneliti kandang kaca besar yang berada di tengah ruangan. Di dalamnya, puluhan Vespa mandarinia

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   22. Eksperimen Genetik Berbahaya

    Laboratorium rahasia yang disediakan Alexei terletak di sebuah bunker bawah tanah, tersembunyi di pinggiran kota Singapura. Dinding-dinding baja dingin memantulkan cahaya putih dari lampu-lampu neon di langit-langit, menciptakan suasana yang steril dan penuh ketegangan. Di tengah ruangan, berbagai

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   20. Misi Pertama

    Sebuah ruangan tampak gelap, hanya diterangi oleh cahaya redup dari lampu meja, dimana Ayesha berdiri dengan nafas dalam, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tak jauh di depannya, Alexei duduk dengan santainya di kursi yang terbungkus kulit hitam. Sebuah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status