Share

Bab 2

Auteur: Gorilla
“Pelatih, pelan-pelan, aku sudah tidak tahan ....”

Suara sahabatku terdengar terputus-putus dari dalam.

“Kamu sudah tidak kuat? Padahal aku baru mulai.”

Sepertinya itu suara dari seorang pelatih pria ....

Setelah cukup lama, pria itu masih belum berhenti. Gerakannya malah semakin kasar dan perkataannya pun semakin brutal.

“Dasar jalang kecil, mau sekalian panggil sahabatmu untuk menemanimu? Kamu juga ingin memuaskan diriku, ya?”

“Ja … jangan berbicara sembarangan .…”

Terdengar lagi suara sahabatku yang terputus-putus.

Kriet ... Kriet ....

Suara gesekan bangku di ruang ganti terdengar semakin keras.

Setelah lama mendengar “siaran langsung” itu, akhirnya aku tak bisa lagi mengendalikan diri.

Satu tanganku meraih bagian bawah tubuhku, meremas dan menggosok celah pahaku dengan kuat, maju mundur tanpa henti .…

Tangan yang lain meraih dadaku yang akhir-akhir ini membengkak, payudara besar yang kini berukuran 34G.

Aku memencet putingku, ASI-ku langsung menyembur dan mengenai pintu. Karena takut ketahuan, aku menariknya lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Dulu dadaku tidak sebesar ini. Tapi setelah membengkak, aku hanya bisa mengurusnya sendiri.

Kenikmatan semakin memuncak. Tiba-tiba kilatan putih melintas, dan cairan menyembur deras membasahi lantai.

Untungnya suara itu bersamaan dengan suara hentakan dari dalam ruangan, jadi tidak ada yang menyadarinya.

Aku sudah selesai, tetapi dua orang di dalam masih terus “beraksi”. Bahkan aku sudah beberapa kali mendengar sahabatku menangis memohon ampun. Sepertinya stamina pelatih itu benar-benar luar biasa.

Tanpa sadar aku pun berkhayal ... andai saja aku yang berada di bawah tubuh pelatih itu. Ingatanku melayang ke masa lalu, saat aku mendesah di bawah para sugar daddy.

Meski ada yang tidak terlalu tampan, tetapi semua yang kupilih pasti besar, tebal, dan tahan lama.

Para sugar daddy punya segudang cara yang selalu memuaskanku. Jika bukan demi suamiku, aku tidak akan berpisah dari mereka. Sayangnya dia hebat di luar.

Tanpa sadar kedua kakiku terjepit rapat. Baju renang di selangkanganku sudah basah kuyup. Aku pun diam-diam kembali dan mengganti satu set bikini lain.

Setelah mengenakan bikini, aku menatap diriku di cermin dengan saksama.

Meski baru melahirkan, tubuhku tidak ada lemak berlebih sedikit pun. Dada yang penuh menekan kain bikini yang minim, bagian atasnya hanya cukup menutupi putingku. Ini adalah bikini model tiga titik, bawahannya hanya cukup menutupi celah tengah agar tidak terlihat.

Di bagian bawah, tampak sepasang kaki yang putih dan ramping yang bagaikan pilar giok yang disinari cahaya bulan. Halus berkilau, hingga tiap pijakan meninggalkan semburat cahaya suci.

Siapa pun yang melihat tubuhku pasti mengira aku gadis muda berusia delapan belas tahun yang belum pernah melahirkan.

Kriet ....

Pintu terbuka. Sahabatku dan pelatihnya keluar dari ruangan. Saat menatapku, wajahnya mendadak memerah dan ia pun menyapaku.

“Aurel, ini Pelatih James yang kuceritakan. Dia jago sekali mengajar renang. Kalau kamu belajar darinya, bentuk tubuhmu pasti akan semakin bagus dan memudahkanmu ketika mendapat peran adegan renang. Kamu harus belajar dengan serius, ya.”

Ucapannya membuatku berkhayal. Jika aku belajar dengan serius, mungkinkah aku juga bisa dekat dengan pelatih itu?

“Halo, cantik. Sahabatmu bilang bahwa kamu adalah bintang besar! Ternyata benar, postur tubuhmu memang luar biasa. Untuk latihan selanjutnya, aku yang akan melatihmu.”

Selesai berbicara, Pelatih James mengulurkan tangan ke arahku untuk bersalaman, dan seketika memutus lamunanku.

“Halo, halo, Pelatih James. Panggil saja aku Aurel.”

Saat sedang bersalaman, aku merasakan kekuatan di telapak tangannya dan refleks menatapnya.

Dari jauh, pelatih itu terlihat seperti menara baja hitam. Lengannya lebih tebal daripada paha kebanyakan orang. Saat didekati, kulit kecoklatannya menyerupai warna jelaga yang memancarkan aura liar.

Dari jarak sedekat ini, aku seolah bisa mencium aroma hormon maskulinnya yang bisa membuat lutut terasa lemas.

Sahabatku lalu berkata, “Aurel, kamu belajarlah dulu. Aku ada urusan di lokasi syuting. Nanti aku kembali lagi.”

Selesai berbicara, dia pergi tergesa-gesa, meninggalkanku dan sang pelatih yang kini saling berhadapan.
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Aku dan Pelatih Renangku   Bab 8

    Aku duduk sendirian di sofa, meja di hadapanku meja dipenuhi botol-botol anggur kosong. Aroma alkohol menyeruak di udara.Aku menundukkan kepala dan sengaja menghela napas berkali-kali, setiap tarikan napas terasa seolah menguras seluruh tenaga. Setelah itu aku menenggak habis segelas anggur merah dan mengeluarkan isakan tertahan.Sahabatku memanfaatkan kesempatan itu untuk datang ke rumah, entah untuk menasihati atau sekadar berpura-pura menghibur. “Anakmu sudah sebesar ini, jangan bercerai karena emosi sesaat ….” katanya.Suamiku duduk di sofa tanpa berkata sepatah kata pun.Dari sudut mataku, aku melihat mereka saling bertukar senyum. Raut puas dalam senyum itu seperti jarum tajam yang menusuk hatiku.Namun aku hanya bisa mengubur amarah dan ketidakrelaan ini di dalam hati, berpura-pura menjadi sosok yang hidupnya benar-benar hancur dan telah menyerah. Kuku-kukuku menancap dalam di telapak tangan, sementara di dalam hati aku menghitung langkah demi langkah. Pertunjukan sebenarnya ba

  • Aku dan Pelatih Renangku   Bab 7

    Melihat sahabatku membiarkanku pergi, mau tak mau pelatih pun menyetujui dan mengembalikan sisa pakaianku, meski tatapannya masih enggan beranjak dari dadaku.Setelah merapikan pakaian, aku berbalik dan keluar. Aku mengambil kamera olahraga yang tadi kupasang, di dalamnya terekam jelas adegan sahabatku dan pelatih yang terjerat erat. Cukup dengan menghapus bagian saat aku masuk, rekamannya sudah bisa digunakan.Saat aku melangkah keluar, terdengar suara desahan sahabatku yang semakin keras. Meski sedikit cemburu, yang terpenting bagiku adalah langkah selanjutnya.Aku pun merapikan pakaianku, untungnya pelatih hanya meninggalkan bekas di putingku. Hatiku terasa perih karena dikhianati oleh suami dan sahabatku sendiri, sementara aku masih terbelenggu oleh sumpah yang terasa konyol hingga tak sanggup melangkah lebih jauh.Sesampainya di rumah, ibu mertua sudah menungguku di ruang tamu.“Dari mana saja kamu? Kenapa pulangnya lama sekali? Anakmu sudah lapar. Kalau bukan karena kamu sudah pu

  • Aku dan Pelatih Renangku   Bab 6

    Aku diliputi amarah dan rasa hina, namun aku tahu jelas, saat ini bertindak gegabah hanya akan memperburuk keadaan.Aku menahan tangis dan menelan semua rasa tidak rela itu. Tiba-tiba terlintas sebuah ide, aku akan merekam video perselingkuhan sahabatku sebagai bukti, lalu mengirimkannya secara anonim kepada suamiku untuk melihat bagaimana reaksinya .…Jika dia memutuskan hubungan dengan sahabatku, aku akan melanjutkan hidup bersamanya dan anakku. Aku tidak ingin bayiku yang baru lahir itu kehilangan ayahnya.Jika dia tetap keras kepala, bukti perselingkuhan ini akan memastikan aku dan anakku tidak hidup dalam kekurangan.Aku langsung bertindak tanpa ragu. Aku mengambil kamera olahraga yang biasa kupakai untuk merekam aktivitas bayiku, lalu memasangnya pada bagian kaca di atas pintu.Setelah memastikan posisinya aman, aku mengambil ponsel dan memasang alarm untuk menelepon ibu mertua.Saat semuanya sudah siap, sahabatku pun tiba.Sekarang dia adalah aktris besar yang sangat terkenal. I

  • Aku dan Pelatih Renangku   Bab 5

    “Dasar jalang kecil. Sahabatmu tidak bilang kalau ini kolam renang privat, ya? Tempat khusus untuk membantu wanita-wanita yang merasa hampa dan kesepian melampiaskan kegelisahan.”“Melihat dadamu sebesar ini, suamimu pasti tidak membantumu. Biar aku saja yang menyelesaikannya untukmu.”Sambil berkata begitu, dia mendorongku ke tepi kolam. Satu tangannya meraih ke bawah, meremas celah di antara kakiku, lalu berusaha membuka celana renangnya agar bagian bawah tubuh kami bisa saling menempel.Aku merasakan alatnya itu menekan celahku, bergeser naik turun dan menyentuh tempat yang membuatku gemetar.Tiba-tiba dia mendorong ke depan, tetapi malah tergelincir ke samping.Saat itu aku teringat suamiku. Meski tidak bisa memuaskanku, aku tetap tidak boleh mengkhianati dirinya, pernikahan kami dan anakku.Aku segera bertindak, mengulurkan tangan untuk menghentikannya.“Pelatih, aku tidak tahu ada tempat seperti ini. Aku kira ini hanya kolam renang biasa.”“Mana mungkin tidak tahu? Lalu mengapa s

  • Aku dan Pelatih Renangku   Bab 4

    Ketika pelatih sedang berenang, aku merasakan kesejukan di bagian depan tubuhku. Entah sejak kapan baju renang di dadaku terlepas dan mengapung jauh.Aku hanya bisa memeluknya erat-erat, namun hatiku diam-diam merasa senang. Kalau dia melihatnya, mungkinkah keinginanku akan terwujud?Aku dengan jelas merasakan kedua puting di dadaku mengeras. Gesekan yang terjadi menimbulkan sensasi kesemutan yang membuatku gelisah tak tertahankan.“Pelatih ... tunggu sebentar, baju renangku …”Pelatih pun berhenti. Saat itu kami baru saja tiba di tepi area air yang dalam.“Ada apa, Aurel? Apa aku terlalu cepat?”Aku kesulitan menjawabnya, “Pelatih … baju renangku hanyut .…”Dia mengikuti arah pandanganku dan melihat baju renang yang mengapung di kejauhan.“Tidak apa-apa. Di sini hanya kita berdua. Kalau kamu malu, tunggulah di sini, aku berenang ke sana untuk mengambilnya.”Di satu sisi aku memikirkan etika dan rasa malu, namun adegan sahabatku di ruang ganti tadi membuat hatiku berdebar.“Tidak apa-a

  • Aku dan Pelatih Renangku   Bab 3

    “Aurel?”“Kalau begitu, ayo kita mulai belajar renangnya.”Sambil berkata demikian, pelatih membawaku ke kolam renang yang ada di luar, yang awalnya kukira akan ada banyak orang di sana.Aku bahkan sempat berpikir, meski tidak mendapatkan perhatian dari suamiku, setidaknya dipandangi pria lain pun bisa membuatku merasa lebih baik. Namun sepertinya hanya ada aku dan pelatih di kolam renang besar itu.Aku mengikuti langkah pelatih, dia sesekali menoleh dan melirikku. Pandangannya bahkan berhenti cukup lama di beberapa bagian tubuhku.“Sudah sampai. Ayo kita pemanasan dulu, nanti baru masuk ke dalam air.”Aku yang memakai baju renang itu berdiri di tepi kolam, gugup sambil mencubit ujung kainnya. Pelatih melangkah mendekat, kaus olahraganya basah oleh keringat dan menempel erat di dada bidangnya yang berotot.“Jangan tegang.”Suara rendahnya terdengar di dekat telingaku, terasa sedikit menggoda.Tangannya yang besar menggenggam lembut pergelangan tanganku, kehangatannya menembus kulit. “A

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status