LOGINCatatan gadis 19 tahun, hadiah terindah di ulang tahun menginjak usia dewasa dari ayah tiriku adalah bagian bawahnya yang besar. "Chika, Ayah cuma mau kasih kejutan buat kamu," ucap ayah tiriku sambil merobek gaunku dengan kasar.
View MoreAruna berdiri di depan gedung Elion Group tanpa menengadah.
Ia tidak perlu melihat ke atas untuk tahu betapa tingginya bangunan itu. Selama tiga tahun terakhir, gedung ini sudah cukup sering muncul di kepalanya dalam potongan berita, laporan perusahaan, dan satu nama yang terus diulang oleh media. Ravian Elarion. CEO Elion Group. Nama itu selalu muncul setelah satu peristiwa yang tidak pernah selesai di hidup Aruna yaitu kematian adiknya. Aira. Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana hubungan itu dimulai. Aira tidak pernah menyebut nama, tidak pernah membawa pulang cerita. Ia hanya mengatakan satu hal, berulang kali, dengan nada yang selalu sama pelan dan tertahan namun tersenyum senang. “Aku lagi dekat sama orang kantor.” Aruna tidak bertanya lebih jauh. Ia baru tahu setelah Aira meninggal, setelah berita menyebar, setelah semua orang mulai berbisik: "Aira berpacaran dengan CEO Elion Group". Keadaan sang adik setelah proses autopsi begitu mengenaskan, dikatakan bahwa terdapat banyak kekerasan fisik dan cekikan di leher Aira adalah hal terakhir yang membunuhnya. Bagaikan disambar petir, orang-orang berkata ia meninggal karena sakit, bunuh diri, dan sebagainya. Namun yang didapatinya malah ternyata sang adik meninggal karena menjadi korban kekerasan? pihak rumah sakit mengatakan bahwa dari bekas cekikan itu sangat besar kemungkinan pelakunya adalah laki-laki. Seluruh matanya menjadi gelap, ia tahu bahwa tempat terakhir yang dikunjungi sang adik adalah kediaman pria itu, CEO Elion Group. Dan saat itu, nama yang tercatat sebagai CEO adalah Ravian Elarion. Tidak ada nama lain. Tidak ada penjelasan lain. Bagi Aruna, itu sudah cukup. Ia melamar sebagai sekretaris dengan persiapan matang dan niat yang tidak pernah ia tulis di mana pun. Ia tidak datang untuk membangun karier. Ia datang untuk mendekat. Wawancara berlangsung cepat. Terlalu cepat untuk posisi yang seharusnya krusial. Aruna menjawab semua pertanyaan seperlunya, tidak lebih, tidak kurang. Ia tidak berusaha terlihat istimewa. Ia hanya perlu diterima. “CEO akan menemui Anda sekarang,” kata staf HR singkat. Aruna berdiri, langkahnya stabil ketika memasuki ruang kerja Ravian Elarion. Ruang itu sunyi dan bersih, nyaris tanpa jejak kehidupan pribadi. Ravian berdiri di dekat jendela, membelakanginya, seperti seseorang yang terbiasa mengendalikan segalanya dari jarak aman. “Duduk,” katanya tanpa menoleh. Aruna pun duduk. “Kenapa melamar sebagai sekretaris pribadi saya?" Pertanyaan itu terdengar datar. Tidak ramah. Tidak tertarik. Aruna sudah hafal jawabannya. “Saya terbiasa bekerja langsung dengan pengambil keputusan,” katanya tenang. “Dan saya tidak tertarik pada posisi yang setengah-setengah.” Ravian berbalik. Tatapannya tajam dan dingin. Tidak ada emosi di sana, hanya penilaian. Aruna tidak menghindar. Ia sudah terlalu lama menunggu momen ini untuk merasa gentar. “Posisi ini menuntut loyalitas,” ujar Ravian. "Dan saya tidak menyukai orang yang membawa urusan pribadi ke pekerjaan.” “Saya datang untuk bekerja,” jawab Aruna. Hening. Beberapa detik berlalu sebelum Ravian mengangguk tipis. “Mulai hari ini,” katanya, “Anda sekretaris saya.” Tidak ada ucapan selamat. Tidak ada senyum. Namun Aruna tahu, ia sudah berada cukup dekat. Sore itu, Aruna duduk di meja kerjanya yang baru, tepat di luar ruang CEO. Ia membuka buku agenda kosong dan menulis satu kalimat pendek di halaman pertama. Tujuan: Ravian Elarion. Ia menutup buku itu perlahan. Aruna tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik kematian Aira. Namun satu hal yang ia yakini selama 3 tahun ini, bahwa pria itulah yang telah membunuh adiknya. Dengan aura dingin, mata berwarna biru dan tatapan yang tanpa ampun itu, membuat Aruna tersenyum tipis. "Benar-benar wajah seorang pembunuh."Dia mendengus remeh, lalu beri isyarat dengan dagunya agar aku segera ambilkan uang itu.Dengan sangat hati-hati aku menggendong Yesi yang terus menangis ketakutan. Setelah mendudukkannya di sofa, aku berbalik dan melangkah masuk ke dalam kamar.Ternyata dia membuntutiku tepat di belakang. Begitu aku membuka lemari pakaian untuk mencari kartu bank, dia tiba-tiba menerjang dan menindih tubuhku dengan paksa ke atas ranjang."Perempuan sialan! Mana mungkin aku melepaskanmu semudah itu? Aku mau uangnya, aku juga mau tubuhmu!" geramnya dengan nada bengis.Aku meronta sekuat tenaga, tapi tenaganya terlalu besar hingga aku sama sekali tidak bisa meloloskan diri.Isak tangis Yesi menggema di seluruh ruangan, membuatku merasa putus asa. Laki-laki terkutuk ini sebenarnya mau apa lagi sampai benar-benar mau melepaskan kami?Dia menekan tubuhku dengan kasar, sementara kedua tangannya dengan dominan meremas dadaku yang montok.Aku berusaha mati-matian untuk melepaskan diri, tapi dia justru makin ku
Suaraku bergetar menahan tangis. "Kalau lapor polisi, masalah ini bakal ketahuan semua orang. Aku nggak mau orang-orang sedesa tahu, aku juga nggak mau teman-teman kampus tahu. Kalau itu sampai terjadi, aku ...."Aku terisak dan tidak sanggup melanjutkan kata-kataku. Pergulatan batin dan rasa takut yang hebat membuatku bungkam.Meski aku sangat murka atas perbuatan ayah tiriku, aku tetap takut skandal ini akan menghancurkan segalanya. Aku takut menghancurkan hidup dan masa depan yang sudah kubangun.Aku mengernyitkan dahi. Melihat ekspresi Herry, aku tahu dia juga ikut terbebani dengan kerumitan masalah ini.Namun, aku tidak ingin membahasnya lebih panjang lagi. Aku hanya berucap lirih, "Kita pergi saja. Ayo tinggalkan tempat ini dan pergi ke mana pun."Aku tidak ingin lagi terseret urusan dengan ayah tiriku, apalagi sampai membiarkan kejadian ini merusak nama baikku.Begitu libur Natal berakhir, aku dan Herry memutuskan untuk keluar dari kampus.Berbekal identitas yang baru, aku memul
Jujur saja, aku sebenarnya sudah lama menantikan hari ini tiba.Dengan wajah memerah, aku memperhatikan bagaimana dia sesuka hati mempermainkan lubang bawahku yang terasa sensitif dan kosong. Sisa-sisa logikaku sudah menguap entah ke mana.Tepat pada saat itu, ponsel ayah berdering.Awalnya dia sama sekali tidak berniat mengangkatnya, karena terlalu asyik menikmati tubuhku.Namun, telepon itu terus berdering berkali-kali, menghancurkan suasana panas yang menyelimuti kamar ini.Dia pun meraih ponselnya sambil mengernyit. Orang di seberang sana terdengar sangat emosional. Kalau didengar dari suaranya, sepertinya itu Om Adi dan Om Johan.Ayah mencoba bicara baik-baik selama beberapa saat, tapi akhirnya dia tidak tahan lagi. Dia menyingkirkanku sejenak ke samping, lalu mulai berdebat sengit dengan orang di telepon tersebut."Adi, jangan pikir uangmu itu cukup buat biayai putriku!" bentaknya dengan gigi terkatup. "Kalau bukan karena aku yang merawatnya dengan teliti sampai dia jadi secantik
"Ingat nggak dulu waktu kecil? Ayah sering gendong kamu sambil makan begini. Hari ini kamu duduk di pangkuan Ayah saja, seperti dulu lagi, ya?Aku duduk menyamping di atas paha tegapnya, membuat dadaku berada tepat di depan wajahnya, sementara area di antara kedua kakiku menempel pada gairahnya yang mulai bangkit.Sambil bicara, ayah mengambil gelas dan mulai menyuapiku minum perlahan-lahan.Aroma alkohol itu menyengat indra penciumanku. Begitu seteguk cairan panas itu melewati kerongkongan, sisanya mengalir dari leher hingga ke dadaku. Aku pun bergidik dibuatnya."Sudah besar kok minumnya masih berantakan begini? Nggak apa-apa, biar Ayah yang bersihkan."Ayah pun mendekat. Dia menempelkan wajahnya di tulang selangkanganku, lalu dengan teliti menjilat tetesan minuman yang mengalir di sana. Sensasi geli yang menjalar membuat seluruh tubuhku gemetar.Gerakannya terasa lembut. Namun, aku bisa merasakan kekuatan otot tubuhnya yang seolah ingin memaksa kedua kakiku terbuka."Aduh ... Ayah,
Ayah tiri memperhatikanku dengan saksama, lalu tangannya menekan pelan payudaraku."Sini terlalu ketat, Ayah bantu tekan sedikit ya biar pas."Dia berbisik pelan sementara jemarinya mulai menjelajahi bagian sensitifku. Aku mendesah lirih, tak mampu menahan getaran yang merambat ke seluruh tubuh."Ah
Namaku Chika Andita, seorang mahasiswi baru. Aku memiliki paras yang polos dan cantik, ditambah dengan ukuran dada 36E yang menonjol. Sejak awal, penampilanku sudah menarik perhatian Herry.Herry Liman adalah pacarku. Dia selalu ingin berhubungan intim denganku, tetapi aku mematuhi peringatan ayah t
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore