Short
Hadiah Menginjak Usia Dewasa

Hadiah Menginjak Usia Dewasa

By:  LiamCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
30 ratings. 30 reviews
6Chapters
529.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Catatan gadis 19 tahun, hadiah terindah di ulang tahun menginjak usia dewasa dari ayah tiriku adalah bagian bawahnya yang besar. "Chika, Ayah cuma mau kasih kejutan buat kamu," ucap ayah tiriku sambil merobek gaunku dengan kasar.

View More

Chapter 1

Bab 1

Aruna berdiri di depan gedung Elion Group tanpa menengadah.

Ia tidak perlu melihat ke atas untuk tahu betapa tingginya bangunan itu. Selama tiga tahun terakhir, gedung ini sudah cukup sering muncul di kepalanya dalam potongan berita, laporan perusahaan, dan satu nama yang terus diulang oleh media.

Ravian Elarion.

CEO Elion Group.

Nama itu selalu muncul setelah satu peristiwa yang tidak pernah selesai di hidup Aruna yaitu kematian adiknya.

Aira.

Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana hubungan itu dimulai. Aira tidak pernah menyebut nama, tidak pernah membawa pulang cerita. Ia hanya mengatakan satu hal, berulang kali, dengan nada yang selalu sama pelan dan tertahan namun tersenyum senang.

“Aku lagi dekat sama orang kantor.”

Aruna tidak bertanya lebih jauh.

Ia baru tahu setelah Aira meninggal, setelah berita menyebar, setelah semua orang mulai berbisik: "Aira berpacaran dengan CEO Elion Group".

Keadaan sang adik setelah proses autopsi begitu mengenaskan, dikatakan bahwa terdapat banyak kekerasan fisik dan cekikan di leher Aira adalah hal terakhir yang membunuhnya.

Bagaikan disambar petir, orang-orang berkata ia meninggal karena sakit, bunuh diri, dan sebagainya. Namun yang didapatinya malah ternyata sang adik meninggal karena menjadi korban kekerasan? pihak rumah sakit mengatakan bahwa dari bekas cekikan itu sangat besar kemungkinan pelakunya adalah laki-laki.

Seluruh matanya menjadi gelap, ia tahu bahwa tempat terakhir yang dikunjungi sang adik adalah kediaman pria itu, CEO Elion Group.

Dan saat itu, nama yang tercatat sebagai CEO adalah Ravian Elarion.

Tidak ada nama lain.

Tidak ada penjelasan lain.

Bagi Aruna, itu sudah cukup.

Ia melamar sebagai sekretaris dengan persiapan matang dan niat yang tidak pernah ia tulis di mana pun.

Ia tidak datang untuk membangun karier. Ia datang untuk mendekat.

Wawancara berlangsung cepat. Terlalu cepat untuk posisi yang seharusnya krusial. Aruna menjawab semua pertanyaan seperlunya, tidak lebih, tidak kurang. Ia tidak berusaha terlihat istimewa.

Ia hanya perlu diterima.

“CEO akan menemui Anda sekarang,” kata staf HR singkat.

Aruna berdiri, langkahnya stabil ketika memasuki ruang kerja Ravian Elarion.

Ruang itu sunyi dan bersih, nyaris tanpa jejak kehidupan pribadi. Ravian berdiri di dekat jendela, membelakanginya, seperti seseorang yang terbiasa mengendalikan segalanya dari jarak aman.

“Duduk,” katanya tanpa menoleh.

Aruna pun duduk.

“Kenapa melamar sebagai sekretaris pribadi saya?" Pertanyaan itu terdengar datar. Tidak ramah. Tidak tertarik.

Aruna sudah hafal jawabannya.

“Saya terbiasa bekerja langsung dengan pengambil keputusan,” katanya tenang. “Dan saya tidak tertarik pada posisi yang setengah-setengah.”

Ravian berbalik.

Tatapannya tajam dan dingin. Tidak ada emosi di sana, hanya penilaian. Aruna tidak menghindar. Ia sudah terlalu lama menunggu momen ini untuk merasa gentar.

“Posisi ini menuntut loyalitas,” ujar Ravian. "Dan saya tidak menyukai orang yang membawa urusan pribadi ke pekerjaan.”

“Saya datang untuk bekerja,” jawab Aruna.

Hening.

Beberapa detik berlalu sebelum Ravian mengangguk tipis.

“Mulai hari ini,” katanya, “Anda sekretaris saya.”

Tidak ada ucapan selamat.

Tidak ada senyum.

Namun Aruna tahu, ia sudah berada cukup dekat.

Sore itu, Aruna duduk di meja kerjanya yang baru, tepat di luar ruang CEO.

Ia membuka buku agenda kosong dan menulis satu kalimat pendek di halaman pertama.

Tujuan: Ravian Elarion.

Ia menutup buku itu perlahan. Aruna tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik kematian Aira. Namun satu hal yang ia yakini selama 3 tahun ini, bahwa pria itulah yang telah membunuh adiknya. Dengan aura dingin, mata berwarna biru dan tatapan yang tanpa ampun itu, membuat Aruna tersenyum tipis.

"Benar-benar wajah seorang pembunuh."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ratings

10
100%(30)
9
0%(0)
8
0%(0)
7
0%(0)
6
0%(0)
5
0%(0)
4
0%(0)
3
0%(0)
2
0%(0)
1
0%(0)
10 / 10.0
30 ratings · 30 reviews
Write a review

reviewsMore

Ingkaliza Hendrawan Chuang
Ingkaliza Hendrawan Chuang
ceritanya bagus
2026-07-23 09:05:56
0
0
Nur Diana
Nur Diana
sangat bagus
2026-07-14 17:22:54
0
0
Yughee II
Yughee II
good banget ceritanya
2026-05-20 13:15:58
0
0
jauharlatifah9
jauharlatifah9
bagus ceritanya
2026-04-24 11:31:15
0
0
Farnita Sari
Farnita Sari
Bagusssssssss
2026-03-31 00:20:34
1
0
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status