Share

Aku dan Pelatih Renangku
Aku dan Pelatih Renangku
Author: Gorilla

Bab 1

Author: Gorilla
Namaku Aurel, seorang ibu yang baru saja melahirkan.

Bayiku baru berusia tiga bulan, dan saat ini dirawat oleh pengasuh di rumah.

Sebelum hamil, aku adalah seorang aktris. Aku pernah membintangi banyak karya. Karena menikah dengan suami dari keluarga kaya dan memiliki anak, aku pun mundur dari dunia hiburan.

Hasratku sangat besar. Aku pernah memiliki beberapa sugar daddy sebelum menikah dengan suamiku.

Bahkan aku pernah menjalin hubungan dengan empat sugar daddy sekaligus, semuanya orang yang berbeda. Bahkan terkadang orang di paruh malam pertama dan paruh malam kedua pun berbeda.

Aku bertemu dengan suamiku yang sekarang pada dua tahun yang lalu di sebuah pesta penutupan syuting. Kami jatuh cinta pada pandangan pertama.

Aku sempat mengira kami akan memiliki masa depan yang manis.

Dia adalah presdir sebuah perusahaan hiburan, yang sangat paham berbagai permainan dan intrik di industri hiburan.

Namun dia tidak mempermasalahkan masa laluku dan memintaku berjanji untuk keluar dari industri hiburan dan fokus tinggal di rumah.

Sejak bersama suamiku, aku memutus semua hubungan dengan mereka. Namun, aku kerap tidak mendapatkan kepuasan dari suamiku.

Aku mengira suamiku yang berwajah tampan, setinggi 188 cm, dan berbadan penuh otot itu performanya di ranjang juga pasti luar biasa.

Tak kusangka, di balik penampilannya yang menawan, ternyata bagian bawahnya tidak begitu berguna.

Hampir setiap usai bersama suamiku, aku masih perlu menggunakan mainan kecil yang ada di meja samping tempat tidurku.

Sejak hamil, hormonku melonjak tajam dan membuat hasratku semakin kuat, tetapi tak pernah terpenuhi.

Tak lama setelah aku hamil, suamiku pindah tidur ke ruang kerjanya.

Selama sepuluh bulan, aku terus menahan diri. Jika sudah tidak tahan, aku hanya bisa menggunakan mainan kecil untuk sekadar menenangkan diri.

Setelah melahirkan, bentuk tubuhku jelas sudah kembali seperti sebelum hamil. Berkali-kali aku pun meminta suamiku kembali tidur di kamarnya, tetapi dia selalu mencari alasan untuk menolak.

Bagian dadaku sering membengkak dan nyeri hingga sulit tertidur dan aku hanya bisa memerasnya sendiri dengan kuat.

Hal ini justru menambah pesona yang sulit ditolak pada wajahku yang sejak awal sudah cantik dan memikat.

Aku baru saja selesai masa nifas dan tubuhku masih sangat lemah. Aku pun harus beristirahat di tempat tidur untuk memulihkan diri, karena berjalan beberapa langkah saja seluruh tubuh sudah terasa pegal dan nyeri.

Hari ini aku benar-benar bosan, jadi aku membuka ponsel dan membaca berita.

Ada sebuah berita hiburan yang seolah menarik mataku. Di foto itu, suamiku berdiri dan berdempet mesra dengan seorang artis kecil.

Setelah melihatnya, kepalaku langsung berdengung. Muncul berbagai pikiran buruk dan hatiku dipenuhi kekecewaan, kemarahan, dan ketidakrelaan.

Selama kehamilan, aku tersiksa oleh mual muntah yang hebat dan bentuk tubuhku berubah drastis, Setiap kali bercermin, hatiku terasa perih.

Ketika melahirkan, aku berjuang di ambang kematian, seolah separuh nyawaku sudah berada di atas langit.

Ironisnya, dia bahkan tidak berada di sisiku ketika anaknya lahir. Dia malah punya waktu untuk berselingkuh dengan artis kecil! Janji-janji manis dan sumpah setianya dulu ternyata hanyalah dusta!

Aku pun memutuskan untuk mulai berolahraga dan kembali ke dunia akting. Seorang perempuan tetap harus mempunyai kariernya sendiri.

Sahabatku merekomendasikan sebuah kolam renang privat. Katanya, para pelatih di sana sangat hebat dan semua yang pernah datang memberikan ulasan bagus.

Ini hari pertama aku datang untuk mendaftar sebagai anggota. Setelah itu sahabatku tiba-tiba menghilang, jadi aku harus pergi sendiri ke ruang ganti.

“Ah, jangan begitu ... pelan-pelan ....”

Saat sedang berganti pakaian, aku mendengar suara desahan manja yang terasa sangat familiar.

Itu suara sahabatku, kan?

Bukankah dia punya pacar? Kenapa dia mengeluarkan suara seperti itu?

Aku mengikuti arah suara itu dan menemukan sebuah ruangan dengan pintu tertutup rapat.

Suara itu jelas berasal dari dalam sana.

Aku mengikuti suara sahabatku dan terhenti di depan pintu.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku dan Pelatih Renangku   Bab 8

    Aku duduk sendirian di sofa, meja di hadapanku meja dipenuhi botol-botol anggur kosong. Aroma alkohol menyeruak di udara.Aku menundukkan kepala dan sengaja menghela napas berkali-kali, setiap tarikan napas terasa seolah menguras seluruh tenaga. Setelah itu aku menenggak habis segelas anggur merah dan mengeluarkan isakan tertahan.Sahabatku memanfaatkan kesempatan itu untuk datang ke rumah, entah untuk menasihati atau sekadar berpura-pura menghibur. “Anakmu sudah sebesar ini, jangan bercerai karena emosi sesaat ….” katanya.Suamiku duduk di sofa tanpa berkata sepatah kata pun.Dari sudut mataku, aku melihat mereka saling bertukar senyum. Raut puas dalam senyum itu seperti jarum tajam yang menusuk hatiku.Namun aku hanya bisa mengubur amarah dan ketidakrelaan ini di dalam hati, berpura-pura menjadi sosok yang hidupnya benar-benar hancur dan telah menyerah. Kuku-kukuku menancap dalam di telapak tangan, sementara di dalam hati aku menghitung langkah demi langkah. Pertunjukan sebenarnya ba

  • Aku dan Pelatih Renangku   Bab 7

    Melihat sahabatku membiarkanku pergi, mau tak mau pelatih pun menyetujui dan mengembalikan sisa pakaianku, meski tatapannya masih enggan beranjak dari dadaku.Setelah merapikan pakaian, aku berbalik dan keluar. Aku mengambil kamera olahraga yang tadi kupasang, di dalamnya terekam jelas adegan sahabatku dan pelatih yang terjerat erat. Cukup dengan menghapus bagian saat aku masuk, rekamannya sudah bisa digunakan.Saat aku melangkah keluar, terdengar suara desahan sahabatku yang semakin keras. Meski sedikit cemburu, yang terpenting bagiku adalah langkah selanjutnya.Aku pun merapikan pakaianku, untungnya pelatih hanya meninggalkan bekas di putingku. Hatiku terasa perih karena dikhianati oleh suami dan sahabatku sendiri, sementara aku masih terbelenggu oleh sumpah yang terasa konyol hingga tak sanggup melangkah lebih jauh.Sesampainya di rumah, ibu mertua sudah menungguku di ruang tamu.“Dari mana saja kamu? Kenapa pulangnya lama sekali? Anakmu sudah lapar. Kalau bukan karena kamu sudah pu

  • Aku dan Pelatih Renangku   Bab 6

    Aku diliputi amarah dan rasa hina, namun aku tahu jelas, saat ini bertindak gegabah hanya akan memperburuk keadaan.Aku menahan tangis dan menelan semua rasa tidak rela itu. Tiba-tiba terlintas sebuah ide, aku akan merekam video perselingkuhan sahabatku sebagai bukti, lalu mengirimkannya secara anonim kepada suamiku untuk melihat bagaimana reaksinya .…Jika dia memutuskan hubungan dengan sahabatku, aku akan melanjutkan hidup bersamanya dan anakku. Aku tidak ingin bayiku yang baru lahir itu kehilangan ayahnya.Jika dia tetap keras kepala, bukti perselingkuhan ini akan memastikan aku dan anakku tidak hidup dalam kekurangan.Aku langsung bertindak tanpa ragu. Aku mengambil kamera olahraga yang biasa kupakai untuk merekam aktivitas bayiku, lalu memasangnya pada bagian kaca di atas pintu.Setelah memastikan posisinya aman, aku mengambil ponsel dan memasang alarm untuk menelepon ibu mertua.Saat semuanya sudah siap, sahabatku pun tiba.Sekarang dia adalah aktris besar yang sangat terkenal. I

  • Aku dan Pelatih Renangku   Bab 5

    “Dasar jalang kecil. Sahabatmu tidak bilang kalau ini kolam renang privat, ya? Tempat khusus untuk membantu wanita-wanita yang merasa hampa dan kesepian melampiaskan kegelisahan.”“Melihat dadamu sebesar ini, suamimu pasti tidak membantumu. Biar aku saja yang menyelesaikannya untukmu.”Sambil berkata begitu, dia mendorongku ke tepi kolam. Satu tangannya meraih ke bawah, meremas celah di antara kakiku, lalu berusaha membuka celana renangnya agar bagian bawah tubuh kami bisa saling menempel.Aku merasakan alatnya itu menekan celahku, bergeser naik turun dan menyentuh tempat yang membuatku gemetar.Tiba-tiba dia mendorong ke depan, tetapi malah tergelincir ke samping.Saat itu aku teringat suamiku. Meski tidak bisa memuaskanku, aku tetap tidak boleh mengkhianati dirinya, pernikahan kami dan anakku.Aku segera bertindak, mengulurkan tangan untuk menghentikannya.“Pelatih, aku tidak tahu ada tempat seperti ini. Aku kira ini hanya kolam renang biasa.”“Mana mungkin tidak tahu? Lalu mengapa s

  • Aku dan Pelatih Renangku   Bab 4

    Ketika pelatih sedang berenang, aku merasakan kesejukan di bagian depan tubuhku. Entah sejak kapan baju renang di dadaku terlepas dan mengapung jauh.Aku hanya bisa memeluknya erat-erat, namun hatiku diam-diam merasa senang. Kalau dia melihatnya, mungkinkah keinginanku akan terwujud?Aku dengan jelas merasakan kedua puting di dadaku mengeras. Gesekan yang terjadi menimbulkan sensasi kesemutan yang membuatku gelisah tak tertahankan.“Pelatih ... tunggu sebentar, baju renangku …”Pelatih pun berhenti. Saat itu kami baru saja tiba di tepi area air yang dalam.“Ada apa, Aurel? Apa aku terlalu cepat?”Aku kesulitan menjawabnya, “Pelatih … baju renangku hanyut .…”Dia mengikuti arah pandanganku dan melihat baju renang yang mengapung di kejauhan.“Tidak apa-apa. Di sini hanya kita berdua. Kalau kamu malu, tunggulah di sini, aku berenang ke sana untuk mengambilnya.”Di satu sisi aku memikirkan etika dan rasa malu, namun adegan sahabatku di ruang ganti tadi membuat hatiku berdebar.“Tidak apa-a

  • Aku dan Pelatih Renangku   Bab 3

    “Aurel?”“Kalau begitu, ayo kita mulai belajar renangnya.”Sambil berkata demikian, pelatih membawaku ke kolam renang yang ada di luar, yang awalnya kukira akan ada banyak orang di sana.Aku bahkan sempat berpikir, meski tidak mendapatkan perhatian dari suamiku, setidaknya dipandangi pria lain pun bisa membuatku merasa lebih baik. Namun sepertinya hanya ada aku dan pelatih di kolam renang besar itu.Aku mengikuti langkah pelatih, dia sesekali menoleh dan melirikku. Pandangannya bahkan berhenti cukup lama di beberapa bagian tubuhku.“Sudah sampai. Ayo kita pemanasan dulu, nanti baru masuk ke dalam air.”Aku yang memakai baju renang itu berdiri di tepi kolam, gugup sambil mencubit ujung kainnya. Pelatih melangkah mendekat, kaus olahraganya basah oleh keringat dan menempel erat di dada bidangnya yang berotot.“Jangan tegang.”Suara rendahnya terdengar di dekat telingaku, terasa sedikit menggoda.Tangannya yang besar menggenggam lembut pergelangan tanganku, kehangatannya menembus kulit. “A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status