Share

Bab 3

Auteur: Gorilla
“Aurel?”

“Kalau begitu, ayo kita mulai belajar renangnya.”

Sambil berkata demikian, pelatih membawaku ke kolam renang yang ada di luar, yang awalnya kukira akan ada banyak orang di sana.

Aku bahkan sempat berpikir, meski tidak mendapatkan perhatian dari suamiku, setidaknya dipandangi pria lain pun bisa membuatku merasa lebih baik. Namun sepertinya hanya ada aku dan pelatih di kolam renang besar itu.

Aku mengikuti langkah pelatih, dia sesekali menoleh dan melirikku. Pandangannya bahkan berhenti cukup lama di beberapa bagian tubuhku.

“Sudah sampai. Ayo kita pemanasan dulu, nanti baru masuk ke dalam air.”

Aku yang memakai baju renang itu berdiri di tepi kolam, gugup sambil mencubit ujung kainnya. Pelatih melangkah mendekat, kaus olahraganya basah oleh keringat dan menempel erat di dada bidangnya yang berotot.

“Jangan tegang.”

Suara rendahnya terdengar di dekat telingaku, terasa sedikit menggoda.

Tangannya yang besar menggenggam lembut pergelangan tanganku, kehangatannya menembus kulit. “Ayo, gerakkan pergelangan tanganmu dulu.”

Sambil berbicara, ia membimbing tanganku berputar perlahan. Napas hangatnya menyapu telingaku, membuat pipiku memanas.

“Kencangkan perut, jaga keseimbangan.”

Ia meletakkan tangannya di sisi pinggangku, kehangatannya sangat terasa.

Lalu ia berjongkok, telapak tangannya yang kasar menempel di betisku dan memijat pergelangan kakiku hingga ke atas. “Langkah ini untuk mencegah kram.”

Aku menunduk melihat wajahnya yang fokus. Jantungku berdegup kencang, tanpa sadar aku merapatkan kedua kaki, seolah takut ada sesuatu yang akan mengalir keluar .…

Kemudian ia menggenggam kedua tanganku dan menarikku untuk melakukan peregangan dada. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa mendengar detak jantung masing-masing. Dada berototnya menempel di punggungku, dan di area bawah, aku bisa dengan jelas merasakan sesuatu yang besar menekan lekuk pinggangku.

Pandangan matanya tak pernah lepas dariku, tersembunyi emosi panas yang sulit dijelaskan di tatapan yang dalam itu.

Saat ia membungkuk dan menggerakkan pergelangan kakiku, rambutnya menyapu ringan betisku. Sensasi geli dan kesemutan langsung menyebar ke seluruh tubuh. Rasa gatal itu membuatku ingin sekali menekan kepalanya ke bagian bawah tubuhku agar membantu mengatasi kegelisahan ini.

Rangkaian pemanasan ini membuat kakiku sangat lemas. Aku hanya bisa bersandar pada ototnya yang besar sambil terengah-engah.

“Ayo kita masuk ke dalam air. Aku akan membimbingmu agar terbiasa, setelah itu kamu bisa belajar berenang sendiri.”

Pelatih pun membimbingku perlahan masuk ke kolam.

Air yang dingin membuatku takut. Pengalaman tenggelam saat kecil meninggalkan bayangan kelam di hatiku.

Mungkin karena merasakan kegelisahanku, pelatih meraih tanganku.

“Tidak apa-apa, pelan-pelan saja. Aku akan memegangimu.”

Aku tidak percaya bahwa kami benar-benar masuk ke dalam air. Genggaman tangannya memberiku rasa aman. Kami berjalan perlahan di dalam air, dan rasa takutku pada berenang mulai berkurang.

Pelatih membawaku selangkah demi selangkah menuju area yang lebih dalam.

Aku sangat ketakutan hingga memohon, “Pelatih, tidak bisa … aku takut. Kita ke bagian yang dangkal saja.”

“Cantik, kamu harus mengatasinya. Kalau tidak, bagaimana bisa kamu belajar? Begini saja, jepit pinggangku dengan kakimu, aku yang akan membawamu.”

Mendengar itu, wajahku langsung memerah. Celana renang yang kupakai nyaris hanya menutupi celahku. Jika aku menjepit pinggangnya, bukankah rasanya seperti tak mengenakan apa-apa?

Perasaan aneh langsung menyerbu pikiranku.

“Baiklah, Pelatih .… Kalau tidak, aku akan takut terus.”

Pelatih membimbing kakiku menjepit pinggangnya. Otot perutnya terasa keras di bagian intimku, membayangkan dipijat dengan itu saja sudah terasa nyaman.

Tanpa kusadari, sudut pandang pelatih tepat mengarah ke dadaku yang penuh. Tertekan bagaikan dua piring giok putih yang terbalik di hadapanku.

Pandangannya sedikit bergeser, lalu tangannya menopang punggungku.

“Ayo kita mulai berenang. Jepit aku erat-erat, jangan sampai jatuh.”

Aku mengencangkan kedua kakiku dan menikmati sensasi ototnya yang kokoh.
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Aku dan Pelatih Renangku   Bab 8

    Aku duduk sendirian di sofa, meja di hadapanku meja dipenuhi botol-botol anggur kosong. Aroma alkohol menyeruak di udara.Aku menundukkan kepala dan sengaja menghela napas berkali-kali, setiap tarikan napas terasa seolah menguras seluruh tenaga. Setelah itu aku menenggak habis segelas anggur merah dan mengeluarkan isakan tertahan.Sahabatku memanfaatkan kesempatan itu untuk datang ke rumah, entah untuk menasihati atau sekadar berpura-pura menghibur. “Anakmu sudah sebesar ini, jangan bercerai karena emosi sesaat ….” katanya.Suamiku duduk di sofa tanpa berkata sepatah kata pun.Dari sudut mataku, aku melihat mereka saling bertukar senyum. Raut puas dalam senyum itu seperti jarum tajam yang menusuk hatiku.Namun aku hanya bisa mengubur amarah dan ketidakrelaan ini di dalam hati, berpura-pura menjadi sosok yang hidupnya benar-benar hancur dan telah menyerah. Kuku-kukuku menancap dalam di telapak tangan, sementara di dalam hati aku menghitung langkah demi langkah. Pertunjukan sebenarnya ba

  • Aku dan Pelatih Renangku   Bab 7

    Melihat sahabatku membiarkanku pergi, mau tak mau pelatih pun menyetujui dan mengembalikan sisa pakaianku, meski tatapannya masih enggan beranjak dari dadaku.Setelah merapikan pakaian, aku berbalik dan keluar. Aku mengambil kamera olahraga yang tadi kupasang, di dalamnya terekam jelas adegan sahabatku dan pelatih yang terjerat erat. Cukup dengan menghapus bagian saat aku masuk, rekamannya sudah bisa digunakan.Saat aku melangkah keluar, terdengar suara desahan sahabatku yang semakin keras. Meski sedikit cemburu, yang terpenting bagiku adalah langkah selanjutnya.Aku pun merapikan pakaianku, untungnya pelatih hanya meninggalkan bekas di putingku. Hatiku terasa perih karena dikhianati oleh suami dan sahabatku sendiri, sementara aku masih terbelenggu oleh sumpah yang terasa konyol hingga tak sanggup melangkah lebih jauh.Sesampainya di rumah, ibu mertua sudah menungguku di ruang tamu.“Dari mana saja kamu? Kenapa pulangnya lama sekali? Anakmu sudah lapar. Kalau bukan karena kamu sudah pu

  • Aku dan Pelatih Renangku   Bab 6

    Aku diliputi amarah dan rasa hina, namun aku tahu jelas, saat ini bertindak gegabah hanya akan memperburuk keadaan.Aku menahan tangis dan menelan semua rasa tidak rela itu. Tiba-tiba terlintas sebuah ide, aku akan merekam video perselingkuhan sahabatku sebagai bukti, lalu mengirimkannya secara anonim kepada suamiku untuk melihat bagaimana reaksinya .…Jika dia memutuskan hubungan dengan sahabatku, aku akan melanjutkan hidup bersamanya dan anakku. Aku tidak ingin bayiku yang baru lahir itu kehilangan ayahnya.Jika dia tetap keras kepala, bukti perselingkuhan ini akan memastikan aku dan anakku tidak hidup dalam kekurangan.Aku langsung bertindak tanpa ragu. Aku mengambil kamera olahraga yang biasa kupakai untuk merekam aktivitas bayiku, lalu memasangnya pada bagian kaca di atas pintu.Setelah memastikan posisinya aman, aku mengambil ponsel dan memasang alarm untuk menelepon ibu mertua.Saat semuanya sudah siap, sahabatku pun tiba.Sekarang dia adalah aktris besar yang sangat terkenal. I

  • Aku dan Pelatih Renangku   Bab 5

    “Dasar jalang kecil. Sahabatmu tidak bilang kalau ini kolam renang privat, ya? Tempat khusus untuk membantu wanita-wanita yang merasa hampa dan kesepian melampiaskan kegelisahan.”“Melihat dadamu sebesar ini, suamimu pasti tidak membantumu. Biar aku saja yang menyelesaikannya untukmu.”Sambil berkata begitu, dia mendorongku ke tepi kolam. Satu tangannya meraih ke bawah, meremas celah di antara kakiku, lalu berusaha membuka celana renangnya agar bagian bawah tubuh kami bisa saling menempel.Aku merasakan alatnya itu menekan celahku, bergeser naik turun dan menyentuh tempat yang membuatku gemetar.Tiba-tiba dia mendorong ke depan, tetapi malah tergelincir ke samping.Saat itu aku teringat suamiku. Meski tidak bisa memuaskanku, aku tetap tidak boleh mengkhianati dirinya, pernikahan kami dan anakku.Aku segera bertindak, mengulurkan tangan untuk menghentikannya.“Pelatih, aku tidak tahu ada tempat seperti ini. Aku kira ini hanya kolam renang biasa.”“Mana mungkin tidak tahu? Lalu mengapa s

  • Aku dan Pelatih Renangku   Bab 4

    Ketika pelatih sedang berenang, aku merasakan kesejukan di bagian depan tubuhku. Entah sejak kapan baju renang di dadaku terlepas dan mengapung jauh.Aku hanya bisa memeluknya erat-erat, namun hatiku diam-diam merasa senang. Kalau dia melihatnya, mungkinkah keinginanku akan terwujud?Aku dengan jelas merasakan kedua puting di dadaku mengeras. Gesekan yang terjadi menimbulkan sensasi kesemutan yang membuatku gelisah tak tertahankan.“Pelatih ... tunggu sebentar, baju renangku …”Pelatih pun berhenti. Saat itu kami baru saja tiba di tepi area air yang dalam.“Ada apa, Aurel? Apa aku terlalu cepat?”Aku kesulitan menjawabnya, “Pelatih … baju renangku hanyut .…”Dia mengikuti arah pandanganku dan melihat baju renang yang mengapung di kejauhan.“Tidak apa-apa. Di sini hanya kita berdua. Kalau kamu malu, tunggulah di sini, aku berenang ke sana untuk mengambilnya.”Di satu sisi aku memikirkan etika dan rasa malu, namun adegan sahabatku di ruang ganti tadi membuat hatiku berdebar.“Tidak apa-a

  • Aku dan Pelatih Renangku   Bab 3

    “Aurel?”“Kalau begitu, ayo kita mulai belajar renangnya.”Sambil berkata demikian, pelatih membawaku ke kolam renang yang ada di luar, yang awalnya kukira akan ada banyak orang di sana.Aku bahkan sempat berpikir, meski tidak mendapatkan perhatian dari suamiku, setidaknya dipandangi pria lain pun bisa membuatku merasa lebih baik. Namun sepertinya hanya ada aku dan pelatih di kolam renang besar itu.Aku mengikuti langkah pelatih, dia sesekali menoleh dan melirikku. Pandangannya bahkan berhenti cukup lama di beberapa bagian tubuhku.“Sudah sampai. Ayo kita pemanasan dulu, nanti baru masuk ke dalam air.”Aku yang memakai baju renang itu berdiri di tepi kolam, gugup sambil mencubit ujung kainnya. Pelatih melangkah mendekat, kaus olahraganya basah oleh keringat dan menempel erat di dada bidangnya yang berotot.“Jangan tegang.”Suara rendahnya terdengar di dekat telingaku, terasa sedikit menggoda.Tangannya yang besar menggenggam lembut pergelangan tanganku, kehangatannya menembus kulit. “A

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status