LOGINAt 18, she desperately wanted to meet her wolf, but to her dismay, never shifted. She's 22 now, still haven't met her wolf and labeled "The ruined", "The wolfless" by her own pack and hasn’t found her mate. To make up for all she lacked, she trained herself to the core, becoming a weapon on two legs in order to protect her pack and prevent history from repeating itself. Until her own brother, the new Alpha of crescent Island Pack sends away with a ribbon on the head, to the one feared alpha of the South, A man with hatred rooted so deep within him, A man whose secrets are enough to bring down a nation. And a man who will uncover hidden secrets about herself. Eden finds herself in a whole new world where the existence of supernaturals lies on her shoulders. Will she live happily with her new cold-hearted husband, or will the card of fate of fate subject her to unending suffering and cruelty at the hands of the man she is supposed to spend the rest of her life with?
View MoreAda tiga sejarah:
Alkisah terdapat suatu negara yang mempunyai cita - cita akan datangnya masa keemasan setelah seratus tahun kemerdekaanya. Berbagai harapan, visi, dan misi selalu dilontarkan oleh pemerintah negara tersebut melalui banyak media. Bahkan biarpun berulang kali berganti kepemimpinan, harapan itu tetap ada.
Masa itu adalah masa dimana negara tersebut mencapai target sasaran mereka di bidang ekonomi, teknologi, sosial, dan budaya. Namun harapan itu hanyalah sebuah harapan.
Berbagai rencana telah dibentuk bertahun – tahun demi terciptanya masa keemasan tersebut. Bahkan mereka berencana menjadi negara yang berpendapatan tinggi di tahun ke 90 kemerdekaannya. Cita – cita untuk menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar ke-5 di dunia telah disebarluaskan dengan didukung prediksi – prediksi oleh para ahli.
Kondisi negara mereka yang terdiri dari kepulauan sering menjadi kendala pembangunan sumber daya manusia dan ekonomi yang merata. Berbagai upaya telah dilakukan, namun tetap saja kendala tersebut tidak bisa diselesaikan karena konflik kepentingan di dalam pemerintahan tersebut. Masyarakat negara tersebut menjadi korban akan kepentingan politik dari penguasa.
Pemimpin negara telah berulang kali berganti, namun tidak ada perubahan signifikan di dalamnya. Janji – janji manis ketika kampanye hanyalah gimmick menjelang pemilihan umum. Inilah negara yang stagnan dimana kebobrokan telah mengakar bertahun – tahun hingga menjadi budaya di negara tersebut.
------------------------------
100 Tahun Kemerdekaan
Dunia telah mengalami kemajuan yang signifikan. Seluruh teknologi berkembang pesat yang menyebabkan persaingan antar manusia semakin ketat. Setiap manusia meningkatkan kemampuan akademis dan non-akademisnya untuk memenangkan persaingan global. Jumlah manusia yang menghuni Bumi berkurang drastis dibandingkan dengan tahun – tahun sebelumnya. Pola pikir manusia telah berubah. Mereka mengutamakan karir daripada hidup berkeluarga. Hampir semua negara dimana manusia yang berpikir seperti itulah yang semakin cepat berkembang. Negara tersebut mampu menciptakan teknologi yang benar – benar dibutuhkan oleh negara yang masih berkembang. Hal itu tidak terlepas dari tingkat pendidikan manusianya yang sangat terkualifikasi.
Dengan sedikitnya penduduk di negara yang maju tersebut menyebabkan minimnya pengangguran. Meskipun ada masyarakat yang menganggur, mereka tetap mendapat jaminan sosial dari pemerintah. Namun dengan mental yang dibentuk oleh negara yang sudah maju tersebut, para pengangguran merasa terhina bila mendapatkan bantuan dari pemerintah. Mereka memiliki tingkat kesadaran yang tinggi untuk bekerja dan mandiri, sehingga mereka giat mencari pekerjaan atau membuka usaha sendiri.
Namun negara yang seperti itu bukanlah latar di cerita ini. Inilah negara Nuswan, negara yang menjadi latar dari cerita ini. Negara yang tertinggal dari negara lainnya. Negara yang dahulu dihuni oleh kaum dengan kemampuan khusus. Namun seiring berjalannya waktu, kaum tersebut menghilang keberadaanya. Sejarah tentang keberadaan kaum tersebut seperti hilang ditelan Bumi. Hanya peninggalan sejarah yang dapat mengungkapkan bahwa mereka pernah ada di wilayah itu.
------------------------------
10 Tahun sebelum 100 tahun kemerdekaan Nuswan
Sesosok pria sedang berdiri di puncak salah satu gedung. Dia melihat kondisi negara tersebut jauh tertinggal dibandingkan negara lainnya, bahkan bila dibandingkan negara tetangganya yang selalu menjadi musuh besar negara tersebut.
Dia hanya memakai blazer dan celana hitam berkain tipis tanpa jahitan. Tidak ada inner maupun pakaian dalam. Jam tangan yang dia pakai memang tidak lazim digunakan oleh manusia yang berada di jamannya. Wujudnya seperti jam tangan mainan atau yang biasa digunakan oleh kamen rider namun tidak berhiaskan aksesories yang berlebihan.
“Seperti yang aku duga, negara ini tidak ada bedanya dengan ketika ia masih hidup.”
Sosok itu tampak berbicara sendiri di tengah keramaian kota. Saat ini ia berada di kota yang dahulunya menjadi ibukota negara Nuswan. Kota yang tenggelam oleh muka air tanah akibat pembangunan yang masif. Kenaikan air laut yang sangat drastis juga menambah cepatnya kota tersebut tenggelam. Dia melihat langit yang saat ini tidak dapat diprediksi karena perubahan iklim yang sangat kacau.
“Apa yang kau harapkan dari negara seperti ini?” Tiba – tiba suara muncul dari sampingnya. Muncul asap hitam yang membentuk suatu sosok. Itu adalah entitas yang ikut bersamanya menjelajahi negara tersebut. Entitas itu paham bahwa sosok yang ia ikuti tersebut sedang membuat rencana.
Seharusnya wilayah kota yang ia datangi saat ini tidak ada di peta di masanya. Karena kota tersebut seharusnya telah tenggelam oleh air di masa depan. Beruntung reklamasi membantu beberapa wilayah tertunda waktu tenggelamnya. Namun penyedotan air tanah yang masif tetap saja dilakukan oleh para pengembang di kota tersebut. Ijin pembangunan yang sarat akan korupsi membuatnya makin merajalela. Dia sangat kesal melihat keadaan kota tersebut. Sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan jamannya.
“Beruntung ibukota negara ini sudah dipindahkan. Setidaknya pembangunan sudah bisa lebih merata,” ucapnya sedikit mereda meskipun dalam hatinya masih terasa dongkol. “Apakah dunia alternatif itu nyata? Bila aku tidak mengubahnya, mungkinkah kondisi tidak akan seperti sekarang?”
“Tidak. Apapun yang kau ubah tetap akan berlangsung seperti sekarang. Itu sudah dituliskan.”
“Aku berharap tanggul tersebut segera selesai. Bila tidak, musnahlah manusia di sini,” ia mengarahkan matanya ke suatu konstruksi di dekatnya.
Pria itu terjun dari atas gedung, namun dengan teknologi yang ia miliki di sepatunya, ia dapat mendarat di tanah tanpa cedera sedikitpun. Orang – orang sekitar kaget melihat ia yang jatuh dari atas gedung. Pria tersebut tidak mempedulikan pandangan orang – orang di sekitarnya. Beberapa orang merekamnya melalui ponsel mereka.
Dia adalah manusia dari masa depan. Dia kembali melangkahkan kakinya di tengah – tengah keramaian. Beberapa orang meliriknya karena pakaian yang ia gunakan sangat tidak umum bila dibandingkan dengan pakaian masa itu. Orang – orang sekitar berpikir dia sedang cosplay menjadi karakter tertentu dari anime. Sekali lagi, pria tersebut tidak mempedulikan lirikan orang – orang di sekitarnya. Ia terus saja melangkahkan kakinya dengan tegas. Seketika pria tersebut berhenti di depan sebuah tempat duduk di area trotoar. Di kursi tersebut duduklah seorang pria yang berumur setengah abad sedang memainkan smartphonenya.
Pria dari masa depan menggunakan kursi tersebut untuk beristirahat sejenak usai mengelilingi beberapa kawasan di kota tersebut. Duduklah pria dari masa depan dan pria setengah abad tersebut di kursi yang sama. Sesekali pria masa depan itu tertawa sendiri ketika membaca artikel. Hal itu membuat orang sekitarnya kaget dan mengira orang tersebut gila. Pria di sebelahnya tersebut sesekali memperhatikan pria dari masa depan itu.
“Apa yang kau tertawakan?” tanya entitas yang bersamanya.
“Ternyata para akademisi sok tahu dengan masa depan. Prediksi mereka semua salah.”
Tiba – tiba pria setengah abad tersebut bertanya kepada pria dari masa depan karena kalimat yang dia ucapkan, “Permisi, anda sedang berbicara dengan siapa?”
Pria dari masa depan itu menatap pria di sebelahnya itu dengan pandangan sinis, “Aku berbicara dengan diriku sendiri. Ada masalah?” jawabnya ketus.
Pria setengah abad itu hanya tersenyum mendengar jawaban ketus dari pria masa depan tersebut, “Tidak apa – apa. Kalau kulihat dari penampilanmu, kamu bukan berasal dari sini. Kamu berasal dari mana?”
“Hm... kau bisa mengetahui dari cara berpakaianku?” pria itu melirik
“Tentu. Pasti di dunia asalmu sangat panas sehingga cara berpakaianmu seperti itu.”
Pria dari masa depan tersebut sedikit merasa aneh dengan cara penilaian orang yang baru ia temui. Dalam hati dia bertanya kepada entitas yang sedang bersamanya, “Apakah dia tahu bahwa aku berasal dari masa depan?”
“Dia tahu. Dia memiliki ikatan denganmu.”
Mendapat jawaban seperti itu, pria dari masa depan segera berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan pria setengah abad tersebut.
“Kalau aku boleh tau, siapa namamu?” sahut pria setengah abad itu sebelum pria dari masa depan beranjak pergi.
Pria dari masa depan tidak menjawab pertanyaan itu dan segera meninggalkan pria yang masih duduk di kursi tersebut dengan wajah sedikit kesal. Setelah pria dari masa depan cukup jauh dari darinya, pria setengah abad mulai berkomunikasi dengan entitas yang bersama dengannya. Asap hitam muncul di sebelahnya membentuk suatu sosok.
“Aku rasa dialah orangnya. Aku merasakan hawa manusia yang unik pada dirinya.”
“Aku juga merasa seperti itu. Hawa manusianya mirip sekali denganmu. Tapi bagaimana mungkin dia bisa datang kesini. Apa yang akan ia ubah di masa sekarang ini?”
“Aku tidak tahu. Semoga itu bukan hal yang buruk, Dark.”
Chapter 58: visitorRIFTAN POVShe was back. There was no denying all of that. I mean the first time she woke up, she wanted me so bad the scent of her arousal could be smelled from every room in the pack house; and the sweet taste of her orgasm still lingered on my tongue. Even now, sitting a good distance from the alcove, I could feel the warmth of her laugh as she conversed softly with her beta and some ladies, casually sipping tea. The wash of her stare would brush my side intermittently, letting me know she was aware of my existence as I was hers.But something didn’t feel right. She laughed and talked like Eden, but it felt like a piece of her was missing; like she was here, yet she wasn’t.I couldn't quite put a finger onto the feeling, and I blamed it on the bitter contrition from having not being able to save her, from having to rely on my brother who sure as hell could have disappointed me a great deal. “A penny for your thoughts?” Khalil drawled slipping beside me and ya
EDEN POV The following days passed with a murky blur. I was still recovering from having my blood sucked out of me and fed to Mr. Charcoal, and the dust was beginning to settle. There were still a lot of things that didn’t make sense, gaps that needed filling, and cracks that needed to be closed; but one thing I was thankful for was how my life was back to normal. And yes, my normal involved watching my wolf play with Lucifel out of my body like little puppies in love. “You are getting better.” A familiar voice countered from above me. I spun around to find Khalil watching me intently, his face a mixture of complacency and peace. It’s been a few days since he was welcomed back to the pack with a grand feast and opened arms, everyone wanting to grace the skin of the savior who delivered their luna from the lands of torture and pain. I didn’t need to be told, but the color on his face told me he was adjusting just fine. And he liked it here. “That was not enough to shake me
RIFTAN POV“Because he’s Riftan’s brother. Family, no matter how rotten it is, is still family. And as Riftan’s mate, I have got to uphold the peace in this family. Khalil isn’t going anywhere; because he is my mate’s brother.” The words seeped through the cracks of the door and into my soul like a white fog, clouding my senses with a foreign sensation. I had just arrived from Moon Logistics when I couldn’t find Eden anywhere, and the rage climbed to the peak when her rosy scent led me to the guest room she first lodged in when she arrived here.I mean, we were way past that, and it didn't make sense why she had to choose the guest room when she could have used my chambers, her chambers. But hearing those words as I stood before the door made me realize one thing;Eden was more than I bargained for.She was a holy grail in my blemished world and nothing I could ever do would ever make me worthy of her. She was everything perfect; from the color of her unusually black eyes to the sil
UNKNOWN POV I found myself yet in another land of the unknown! Unlike all places I have seen in my recent dreams, this one gave me unforgiving chills. The gothic brown interior brought into being, a classic view of a huge, ancient, frigid, and dark hall, with candles flickering to give a bit of light! The light wasn't much, so it left room for everything that lurked in the shadows to go all out and reign freely! Some murmurs and whispers could be heard from the shadows; I turned around to find nothing but me, and my own shadow that was amplified and zoomed by the candles. Another violent shiver tore through me causing my toes to curl, and at that very moment, I realized I had no shoes on! I braced my ground and tried to take a step forward! I don't know why but I felt very unsettled and very disturbed about the vision I was having. It didn't feel like any other of the ones I have had all my life! “Remiel!” A lifeless, cold voice called out, sending a shiver through my spine. I sp
Chapter 46EDEN POV The following day, Blair found me parading the vast corridors of lines and shelves of books that seemed to contain a history that spanned for at least ten millennia. Some of the artifacts in the Giants Library were big scrolls, placed neatly on wooden stands like they held a secre
EDEN POV I wish I could fucking disappear! Just vanish into thin air without even leaving a puff of smoke behind because, at this point, Grace would just fucking track me with it and haul my ass back here. My throat was scratchy and cracked, my muscles sore, my voice hoarse, and it felt like I had
EDEN POV The closest thing I had to a formal wear was one tiny black dress Riftan had gifted me my first night here. The thing didn’t even reach the knee, and had a lace trimming that moved from my neck down my down my navel, revealing everything inside. That and black and white stiletto heels that
EDEN POV The first sign of life came with me lying on my back and facing upwards and this time, with a smooth, soft blanket draped over my body. A tiny moan slipped out of me, as I wiggled out of the thick haze of dreamless sleep, then came into contact with a soft hand that caught mine in a tight


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.