Alpha’s Cursed Luna: The rise of the Giborim

Alpha’s Cursed Luna: The rise of the Giborim

last update최신 업데이트 : 2024-06-30
작가:  RARE 연재 중
언어: English
goodnovel18goodnovel
순위 평가에 충분하지 않습니다.
64챕터
3.6K조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

At 18, she desperately wanted to meet her wolf, but to her dismay, never shifted. She's 22 now, still haven't met her wolf and labeled "The ruined", "The wolfless" by her own pack and hasn’t found her mate. To make up for all she lacked, she trained herself to the core, becoming a weapon on two legs in order to protect her pack and prevent history from repeating itself. Until her own brother, the new Alpha of crescent Island Pack sends away with a ribbon on the head, to the one feared alpha of the South, A man with hatred rooted so deep within him, A man whose secrets are enough to bring down a nation. And a man who will uncover hidden secrets about herself. Eden finds herself in a whole new world where the existence of supernaturals lies on her shoulders. Will she live happily with her new cold-hearted husband, or will the card of fate of fate subject her to unending suffering and cruelty at the hands of the man she is supposed to spend the rest of her life with?

더 보기

1화

Chapter 1a

"Ibu dengar dari orang-orang, kalian masih belum dapat kabar baik, ya. Padahal sudah lima tahun loh." Suara Bu Maria, ibu mertua Melia, terdengar ringan, tapi langsung menusuk tepat ke hati.

Melia menelan ludah, mencoba mempertahankan senyumnya. "Iya, Bu. Kami masih berusaha..."

Tiba-tiba Anin, adik ipar perempuan Melia, menimpali dengan nada geli, "Lho, di keluarga kita nggak ada yang susah punya anak, kok. Aku aja, begitu nikah, langsung hamil."

Melia meremas jemarinya di pangkuan. Napasnya terasa berat, tapi ia tetap berusaha tenang. Di ruang tamu keluarga Jordy yang seharusnya hangat, udara di sekeliling Melia terasa berbeda, penuh tekanan yang tidak diucapkan.

"Iya, mungkin Melia perlu periksa lebih lanjut," Bu Maria menambahkan sambil tertawa kecil. "Siapa tahu ada sesuatu yang perlu diperbaiki."

Melia menoleh sejenak ke arah suaminya, Radit, berharap dia akan membela dirinya. Namun, Radit tetap sibuk berbincang dengan Pak Darma, ayahnya, juga Jordy, pamannya, seolah tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi di depan mereka.

Dengan suara tertahan, Melia tersenyum kecil. "Kami sudah periksa, Bu. Dan hasilnya... yang perlu lebih berusaha sebenarnya Mas Adit."

Hening. Suasana ruangan tiba-tiba berubah sunyi. Ekspresi kaget tampak di wajah Bu Maria, dan Anin hanya terdiam. Radit, yang sedang menyeruput teh, tiba-tiba terbatuk kecil.

"Ah, masa?" Bu Maria terkekeh, tapi wajahnya terlihat tidak nyaman. "Dokter bisa salah, lho. Adit itu sehat dari kecil sampai remaja, nggak pernah sakit parah."

"Iya, Bu, tapi yang diperiksa bukan soal itu," Melia menjelaskan lembut tapi tegas. "Dokter bilang, faktor kualitas benih juga mempengaruhi peluang kehamilan."

Radit menatap Melia dengan tatapan peringatan, seolah meminta istrinya untuk berhenti berbicara. Namun, kali ini Melia tak peduli. Sudah terlalu lama hanya dia yang menanggung beban dan tekanan. Kali ini, ia ingin suaminya juga merasakan tanggung jawab itu.

"Ah, dokter zaman sekarang terlalu banyak maunya. Mungkin Mas Adit cuma kurang makan yang sehat aja," Arin terkekeh, mencoba mengalihkan.

Melia tersenyum getir. Rasa sesak dalam dadanya semakin dalam. Di sisi lain, Radit tetap diam.

Di tengah ketegangan itu, pintu depan terbuka dan Bude Yati, kakak ipar Bu Maria, masuk tanpa mengetuk. "Lho, kok tegang gini? Lagi ngomongin apa?" tanyanya sambil duduk di sebelah Bu Maria.

"Ini lagi ngobrolin Melia sama Adit yang belum dikasih momongan," jawab Bu Maria sambil terkekeh ringan.

Bude Yati tersenyum lebar. "Kenapa nggak bilang ke Bude dari dulu? Ada Gus Bokis di kampung sebelah, lho. Banyak yang sudah berhasil. Begitu datang ke sana, langsung hamil dalam hitungan bulan."

Melia menatap Radit, berharap kali ini suaminya akan segera menolak usulan tersebut. Tapi seperti biasa, Radit tetap diam.

Melia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan tegas, "Maaf, Bude. Saya dan Mas Adit lebih percaya pada pengobatan medis. Kami sudah periksa ke dokter dan tahu apa yang perlu dilakukan."

Namun, Bude Yati tidak menyerah. "Jangan sombong, Neng. Usaha kan bisa dari berbagai cara. Tetangga Bude yang divonis mandul sama dokter aja akhirnya bisa punya anak setelah ke Gus Bokis."

"Iya, kenapa nggak dicoba, Mel? Jangan terlalu kaku," sahut Bu Maria setuju.

Melia menggigit bibir. Ini sudah kelewatan. Tapi sebelum ia sempat berkata apa-apa, Radit akhirnya angkat bicara, meski dengan nada ragu. "Kami akan tetap jalani pengobatan sesuai rekomendasi dokter, Bude. Terima kasih sarannya."

Melia sedikit terkejut, namun merasa lega karena setidaknya Radit akhirnya bersuara. Tetapi Bude Yati hanya mendengus, "Ya sudah, kalau nggak mau nurut, semoga aja nggak nyesel."

Suasana menjadi canggung setelah itu. Tak lama kemudian, Radit mengajak Melia pulang.

Dalam perjalanan pulang dengan motor, Melia duduk diam. Tangannya tak melingkar di pinggang suaminya seperti biasa. Angin malam menerpa wajahnya, tapi tak cukup dingin untuk meredakan panas di dalam dadanya. Ia menatap lurus ke depan, seolah mencoba menahan lautan emosi yang siap meledak.

Radit bisa merasakan perubahan sikap istrinya. Tapi seperti biasa, ia memilih diam.

Sesampainya di rumah, Melia langsung turun tanpa sepatah kata. Langkahnya cepat masuk ke dalam, membiarkan pintu terbuka begitu saja. Radit menghela napas berat, lalu memarkir motor dengan perasaan tak menentu.

Di ruang tengah, Melia berdiri dengan tangan gemetar, melepaskan kerudungnya dengan kasar. Matanya merah bukan karena ingin menangis, tapi karena marah yang sudah mencapai puncaknya.

"Kenapa kamu diam aja tadi, Mas?" tanyanya. Suaranya pelan, tapi tajam seperti pisau yang menyayat.

Radit menutup pintu perlahan dan menguncinya. "Aku nggak mau ribut sama Ibu, Mel."

Melia tertawa pendek, getir. "Oh, jadi biar kamu tetap kelihatan anak baik, aku harus terus-terusan dijadikan sasaran? Kamu denger sendiri kan tadi mereka bilang apa? Seolah-olah aku ini... mandul!"

Radit mengusap wajah. "Aku cuma nggak pengin keributan di rumah orang tua sendiri, Mel."

Melia mendekat, matanya menyala. "Tapi kamu tega biarin aku dilecehkan begitu? Lima tahun, Mas. Lima tahun aku disindir, dibanding-bandingkan. Dan kamu selalu... DIAM!" Melia tak kuasa lagi menahan gejolak dalam dadanya,

"Aku capek, Mel," jawab Radit, nada suaranya mulai meninggi. "Kamu pikir aku nggak ngerasa bersalah? Aku juga malu!"

"Kalau kamu malu, kenapa kamu biarin aku terus yang dihina?" suara Melia mulai bergetar, tapi bukan karena tangis, karena kemarahan yang tak lagi bisa ditahan. "Aku ini istri kamu, Mas. Tapi aku merasa seperti orang asing di keluargamu sendiri!"

Radit menunduk. "Aku nggak tahu harus gimana..."

"Kamu tinggal ngomong! Satu kalimat, Mas. ‘Tolong jangan salahin Melia, ini bukan salah dia.’ Sesederhana itu! Tapi kamu nggak pernah punya nyali!" Suara Melia makin meninggi, dadanya naik-turun.

Radit terpaku. Suara Melia menggema di antara dinding yang dingin.

"Setiap kali kita pulang dari rumah orang tuamu, aku selalu ngerasa kecil. Terhina. Tapi kamu... kamu selalu bilang 'biarin aja', 'nggak usah dipikirin'. Apa kamu pikir hatiku ini batu? Aku ini manusia Mas, punya perasaan? Coba kalau kamu dihina dan direndahkan oleh keluargaku, terus aku diam saja, kamu mau gimana?" Melia benar-benar lepas kontrol.

Radit menggigit bibirnya. "Aku cuma... bingung harus hadapin mereka gimana."

Melia menatapnya dalam. "Kamu itu laki-laki, Mas. Kamu cuma takut jadi anak durhaka. Tapi kamu nggak pernah takut kehilangan aku sebagai istrimu, kan?"

Radit menegang. Tidak ada bantahan.

Melia menarik napas panjang, suaranya melemah, tapi lebih dalam. "Aku butuh suami, Mas. Seseorang yang berdiri di sampingku, bukan di belakang ibunya. Bagaiman kalu hinaan itu datang dari orang lain, apakah kamu juga akan membiarkanm istrimu direndahkan?"

Melia berbalik, melangkah ke kamar, meninggalkan Radit yang berdiri membeku, diliputi rasa bersalah dan kekosongan yang menggigit.

Ketika Radit mengetuk pintu kamar, Melia justru memberikan Ultimatum, “Kalau kamu belum siap menjadi suami, sebaiknya kita tidak perlu tidur bareng, Mas!”

“Melia….”

“Aku ingin sendirian dulu, Mas!” potong Melia tegas.

Radit hanya bisa pasrah.

^*^

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

댓글 없음
64 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status