LOGINEmelia Clark has been under her parent's rule for her whole life until she went to university then it all changed. She met Keegan David. She thought she found the one until one dark night her whole life change. Trying to pick up the pieces of her life she met Derric Taylor Alpha of the Dark moon pack. She realized that werewolves, vampires, and fairies are no fairy tale. Will she be able to be the Luna she was meant to be? --- Book1: The Alpha's Human Mate. Book2: The werewolf and his princess. Book 3: Traveling the world to find my mate
View More“Kakak! Apa yang kamu sembunyikan di dalam celanamu?”
Sepuluh tahun berlalu, akhirnya Kiara kembali ke Nusantara. Kerinduan akan kehangatan pelukan kakaknya, membuatnya begitu bersemangat akan pertemuan mereka. Sengaja ia tidak memberitahu rencana kedatangannya, hanya untuk memberikan sebuah kejutan. Kiara menghela napas dengan kasar. Ia menatap tubuh lelaki yang terbaring tenang di atas sofa. Perlahan ia melangkah berusaha tak menimbulkan suara. Ia menatap wajah Hanson Luminto yang terpejam kelelahan. Dada bidangnya naik turun dengan teratur, memperlihatkan betapa lelap tidurnya. Perlahan ia mendekat dan menyentuhkan jemarinya di garis rahangnya yang terpahat indah tanpa cela bak dewa yunani. Cahaya lampu seolah menempa kulitnya hingga berwarna keemasan. Kiara menggigit bibirnya sendiri, tak dapat menahan gemuruh yang berisik di dalam hatinya. Perlahan ia mendekatkan bibirnya dan mengecup kening lelaki muda itu. “Kakak, lama tak bertemu. Apa … kakak juga merindukanku?” gumamnya nyaris seperti sebuah doa. Hanson mengerjapkan matanya. Dan sesaat kemudian dengan separuh kesadarannya, ia mendorong tubuh ramping itu menjauh dari hadapannya, sebuah reaksi yang dilakukannya pada setiap wanita yang berusaha mendekatinya. “Siapa kamu?” Kiara mengerucutkan bibirnya, sementara kedua tangannya bersedekap di dada. Gaya khas yang tak pernah berubah saat ia merasa kesal. “Kakak! Jadi kakak beneran sudah lupa sama aku?” Suara manja itu spontan membuat Hanson teringat pada gadis manis yang terus menempel padanya saat kecil dulu. Matanya membulat, seperti terkejut melihat sosok yang kini ada di hadapannya. Wajah ayu itu terlihat begitu mungil, rambutnya yang hitam tergerai bebas. Dan … tubuh mungil yang dulu kerap digendongnya, kini telah menjelma menjadi tubuh indah seorang wanita dengan lekuk khasnya. “Kakak. Jangan bilang kalau kakak sudah nggak sayang lagi sama aku. Kakak hampir nggak pernah kirim kabar,” cicit Kiara dengan suara manjanya, “apa susahnya sih, balas chat Kiara.” Hanson menelan kasar ludahnya. Matanya mengerjap, seolah tak bisa membedakan antara kenyataan dan sebuah mimpi. Kiara menatap lelaki di hadapannya dari ujung kepala menurun hingga … suara teriakan itu terdengar. “Kakak! Apa yang kamu sembunyikan di dalam celanamu?” Hanson segera memegang pundak Kiara dan memutar badannya dengan cepat. “Kiara, keluar dari kamarku!” perintahnya, “dan jangan pernah masuk tanpa seijinku lagi!” “Tapi Kak–” Hanson mendorong si pemilik tubuh ramping itu keluar dari kamarnya tanpa ingin mendengarkan protes apapun. Pintu berdebum keras dan Hanson bernapas dengan lega. Dan saat menunduk, ia dapat melihat dengan jelas sesuatu sedang menampakkan keperkasaannya di bawah sana. “Sial! Kenapa kamu justru bereaksi ke adik sendiri,” kesalnya pada bagian tubuhnya yang menonjol di bawah sana. Selama ini tak ada satupun gadis yang bisa mencuri perhatiannya. Bahkan ia dikenal sedingin kulkas di Luminto Group. Beberapa sekretarisnya bahkan diberhentikan hanya karena berusaha mendekatinya. Air dingin yang mengguyur tubuh Hanson, seolah mengurangi pening di kepalanya. Napasnya mulai teratur seperti aliran darah yang mengalir di tubuhnya. Sementara itu, Kiara mendekap kimono dan pakaian dalamnya. Ia kembali masuk ke dalam kamar Hanson. Matanya tertuju pada kaca es yang membatasi ruangan itu dengan kamar mandi. Bayangan maskulin itu seolah memancingnya melangkah mendekat atau sekedar mengintip sosok di baliknya. Tapi Hanson menyadari seseorang masuk ke dalam ruangan yang sedang ia gunakan. Dan saat ia menoleh, matanya justru menangkap sosok Kiara berdiri dengan mata membulat menatapnya. “Ka – kakak! Maaf!” teriaknya dengan gugup sebelum menutup kembali pintu kamar mandi. Namun belum sempat Kiara menutup kembali pintu itu, Hanson sudah menangkap tangannya. Ia tidak akan membiarkan siapapun yang melihat tubuh telanjangnya pergi begitu saja. “Kamu dengar kataku, jangan sembarangan masuk ke dalam kamarku!” hardik Hanson. Ia tak dapat memahami perilaku adiknya. “Apa kamu memang sudah terbiasa masuk ke kamar pria tanpa ijin?” Hanson melepaskan tangan Kiara. Ia meraih handuk di rak kamar mandi untuk membalut sebagian tubuhnya yang terbuka. Namun saat ia berbalik, matanya justru melihat pundak si pemilik tubuh ramping itu terguncang. Kiara terisak. “Kakak, maaf. Tadi Kiara pikir … mau numpang mandi di kamar kakak. Kamar mandi di kamar Kiara nggak bisa nyala. Mungkin karena terlalu lama nggak dipakai.” “Kakak boleh marah sama Kiara. Kiara emang salah. Kiara emang pantas dihukum,” lanjut Kiara masih dengan isakan manjanya, “Kiara mau lakuin apa saja asal kakak nggak marah lagi sama Kiara.” Hanson memutar tubuh Kiara hingga berhadapan langsung dengannya. Ia menatap mata bulat yang berair itu dengan perasaan kacau. Mata itu begitu cantik, berpadu dengan hidungnya yang tinggi dan bibir merahnya yang terlihat mungil. Lelaki itu menelan kasar ludahnya, saat matanya tak dapat berpaling dari bibir mungil yang justru terlihat seperti mengundang sebuah kecupan. “Kamu … mau melakukan apapun?” ulang Hanson seperti tak percaya pada apa yang didengarnya. Kiara menganggukkan kepalanya. Ia menelan ludahnya dengan sekuat tenaga, seolah melakukannya butuh segenap keberaniannya. “Kalau gitu, aku mau kamu tidak masuk lagi ke dalam kamarku, tanpa seijinku,” ucap Hanson dengan menekan suaranya, “mengerti!” Kiara menganggukkan kepalanya. Tapi sesaat kemudian tangisnya meledak. Kimono dan pakaian dalam yang dipeluknya, dibiarkannya jatuh begitu saja. “Diam! Diam Kiara!” kesal Hanson. Lelaki itu meraupkan tangannya ke wajahnya sendiri dengan perasaan frustasi. “Kakak nggak suka dengar tangisan!” Kiara menutup mulutnya rapat-rapat. Tapi bahunya masih berguncang dan cairan bening itu terus melintas di pipinya. Hanson tak dapat mengendalikan diri. Tangannya terangkat, meraih dagu Kiara dan ibu jarinya menyapu sisa cairan bening itu. “Sudah, Kakak nggak marah. Asal kamu nggak ulang lagi,” ucap Hanson dengan suara lebih lembut, yang bahkan tak pernah dilakukan pada siapapun. Kiara menyeka sisa air matanya dengan punggung tangannya. Ia menarik sudut bibirnya, menyuguhkan seulas senyumannya. “Kakak … Kiara paling takut kalau Kakak nggak sayang lagi sama Kiara. Kiara takut Kakak nggak peduli dan nggak mau lagi sama Kiara,” ucap Kiara. Ucapan itu seperti mengaduk-aduk jiwa Hanson. Ia tahu, setelah kedua orang tuanya meninggal, hanya dirinyalah sandaran Kiara. Hanson mengusap puncak kepala adiknya. Ia balas memberikan senyuman – yang terlihat canggung – pada Kiara. “Kakak paling sayang sama Kiara. Tapi … kita sudah dewasa. Kiara nggak boleh sembarangan masuk kamar Kakak. Dan … Kakak juga nggak bisa sembarangan masuk kamar Kiara.” “Tapi Kak –” Lidah Kiara terasa kelu seketika. “Sekarang Kiara mandi. Kakak mau buat sup ayam kesukaan kamu untuk makan malam,” lanjut Hanson tanpa memberikan kesempatan Kiara untuk membantah. Gadis itu menganggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba kedua tangannya melingkar begitu saja di pinggang Hanson. Kepalanya bersandar di dada bidangnya. ‘Kakak memang satu-satunya yang paling baik sama Kiara,” ucapnya sementara pelukan itu semakin mengetat di pinggang Hanson. Tiba-tiba saja handuk yang membalut separuh bagian tubuhnya melorot. Jantung Hanson seperti berhenti seketika. Ia tidak ingin Kiara tahu bahwa bagian tubuhnya di bawah sana telah mengeras sempurna. Tapi ….Emelia POV (10 years later)Today is Grayson's 10 birthday. I have been blessed with another 2 babies. Twins to be exact. One boy one girl. We haven't picked out names yet but we still have a couple of days left before we need to decide.Mason and Ann got married 6 years ago and had a baby girl themselves 4years ago. Everyone has come together for Grayson's birthday.I finally told my parents about Derric and Grayson and to say they were not happy was an understatement. They were furious. They have completely written me off after I told them but I don't care actually. I have my family with me."Honey can you stop for a minute. You are pregnant and can't climb on ladders."
Derric POVOur whole honeymoon went by too fast. This whole week was a week was full of discovery for both of us. I just wished I knew beforehand that she is afraid of water. I spend the whole week making up for my mistake.I have been up since 4 am. I went through my emails just checking that everything is still fine at home. I really wish we can stay here but it is time we returned back to reality. I hear Emelia stir next to me. This whole week I did try not to wake her up. I didn't want to land on my ass again."Morning handsome. What time is it?""Good morning beautiful. It's 7 am. We need to get up and get ready our plane leaves in 5 hours."
Emelia POVI woke up well-rested. I kind of miss my son. This is the first time I have been away from him this long. I hope Skylar and Sam are coping with him. I look to my left and see Derric is still peacefully sleeping. I turn towards him and see some of his hair has fallen onto his face. I run my hand's through his hair. He grabs my hand and kisses my wrist."Morning love. How did you sleep?" Derric turns towards me."I actually slept like a log. I can't remember when was the last time I slept so soundly. O no wait I can. Just before Grayson was born.""You miss him don't you?""Is it that obvious?" I ask him
Derric POVThe mating ritual is completed now. I know I used a condom but Emelia just gave birth. I don't think she will be quite impressed with me if she gets pregnant again so soon. Emelia fell asleep last night but I was too excited to fall asleep. I look at the clock on the wall. We have an hour before the plane leaves. we have a 16-hour flight in front of us.I tried to wake up Emelia. I land on the floor. I didn't anticipate that she will kick me off the bed. Emelia sits up and looks at me. She starts laughing st me."Derric I am so sorry. It was just reflexes." She says between her laugh. I just look up at her making a mental note never to wake her up again."It is oka
Emelia POVWe are currently at the reception. The dining hall is looking like a winter wonderland. There are blue Fairy lights hanging from the ceilings. I feel like I am transp
Emelia POV (Three months later)I am almost at my due date. I can't wait for my son to be born. Yes, my son. We found out last month the gender of the baby. I honestly cannot wa
Emelia POVWhen Derric marked me it felt so good for a while but then the pain started. The pain was unbearable. I tried to stay awake but the darkness took over and I let it ho
Derric POVI have called for a meeting between all the Alphas. I know I have to do something about this revenge stuff.






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore