Mag-log inEverything is not what it seems, True love is never easy as It comes with a price, ......................... I will taste death willingly , If that's what it takes to love you -Catalina She had everything you could possibly wish for, the money, the beauty, the perfect job, the 'perfect' family, the 'perfect' fiance, one thing Catalina underestimated and felt she could live without was "love," So when he came along, she fell desperately and madly in love with the young Stiliyan . In this life time, in the next, or the next after, no matter how many times I am to be reborn, I would love you like I have always loved you, "Always and Forever" -Stiliyan Dimitro
view more"Minimal jadi bidan atau sarjana lah, baru Abang mau nikah sama kamu, Dek. Kalau cuma lulusan SMA kayak kamu gini, maaf-maaf aja, Dek. Kita nggak setara. Aku ini tentara, loh."
Kata-kata itulah yang selalu diingat Nilam dalam hidupnya. Kata-kata yang memotivasi dirinya hingga akhirnya lulus menjadi Sarjana muda di usianya yang baru 22 Tahun. Ia mengambil jurusan bahasa Inggris di universitas ternama dengan jalur beasiswa. Berkat kegigihannya, ia lulus dengan gelar cumlaude. Nilam bukan berasal dari keluarga mampu, ia berasal dari keluarga miskin yang ayah dan ibunya bekerja menjadi seorang pembantu dan supir di rumah keluarga kaya raya. "Aku yakin, Bang Indra mau nerima aku sekarang," ucapnya percaya diri. Ia sudah membayangkan akan menikah dengan pria impiannya dan menjadi Cinderella di prosesi sangkur pora mereka nanti. Pria itu bernama Indra Sanjaya, seorang tentara berpangkat Sersan satu yang saat ini bertugas menjadi Caraka/Ajudan yang membantu Pak Danyon (Komandan Batalyon) di kesatuan tempatnya berdinas. Indra dan Nilam tinggal di satu kampung yang sama. Sejak kecil, pria itu selalu memberi harapan padanya kalau akan menikahi Nilam ketika dewasa nanti. Maka dari itu, saat Nilam lulus SMA, dia menanyakan hal tersebut kepada Indra. Sayangnya, kala itu Indra yang baru dilantik jadi tentara, malah menjawab kalau dirinya hanya akan menikahi Nilam jika wanita itu sudah memiliki gelar atau profesi. Karena katanya, dia ingin menikah dengan wanita yang setara dengannya. Nilam tidak tersinggung, ia justru makin semangat untuk melanjutkan pendidikannya. Meskipun saat itu ia juga kebingungan dari mana biayanya karena orang tuanya bukanlah keluarga mampu. Tetapi, seakan ia diberi keberuntungan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, Nilam dikabari oleh gurunya kalau ia mendapatkan beasiswa dari universitas ternama. Meskipun harus hidup merantau dan jauh dari orang tuanya karena universitas itu berada di luar kota, Nilam tetap mengambil beasiswa itu demi menjadi seorang sarjana dan memiliki gelar seperti yang diinginkan Indra. Perjuangannya di kota orang tidaklah mudah, Nilam harus bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhannya yang tidak ditanggung oleh beasiswa itu. Apalagi ayahnya juga sudah berhenti menjadi supir karena sakit-sakitan. Hanya ibunya lah yang menjadi tulang punggung keluarga mereka. Dreett Dreett Ponsel Nilam tiba-tiba berdering nyaring. Nilam mengambilnya dari dalam tasnya. Rupanya ada panggilan dari sang Ibu. Nilam pikir, ibunya ingin mengucapkan selamat atas kelulusan wisudanya karena memang beliau tidak bisa hadir dikarenakan harus menjaga ayahnya yang sedang sakit. "Hallo, Bu?" "Mbak Nilam..." Terdengar suara isakan dari sebrang telfon. Itu bukanlah suara ibunya. Melainkan suara Tiana, sepupunya. "Ti, ada apa? Kok kamu yang angkat?" Nilam mulai merasa cemas. "Mbak..." Tiana malah menangis. Perasaan Nilam menjadi semakin berkecamuk. "Ada apa, Ti? Kok kamu telfon pake nomer ibuku? Ibuku baik-baik aja 'kan?" "Bude baik Mbak, tapi Pakde...." Nilam membelalak. Jantungnya berdebar kencang. Ia merasakan firasat yang tidak bagus. "Bapakku kenapa, Ti?" tanya Nilam dengan suara bergetar. "Pakde meninggal, Mbak." Deg! Tubuh Nilam seketika lemas hingga terduduk ke lantai. Dunianya seakan runtuh saat itu juga. Nilam memandangi ijazah wisudanya yang masih ia pegang. Hatinya berdenyut begitu nyeri. Senyum di bibirnya tersimpul, tetapi matanya terus menangis. Ia meraih mimpinya, tetapi di waktu yang sama, ia kehilangan orang yang disayanginya. “Bapak....” panggilnya lirih. * Setelah kematian ayahnya. Nilam masih belum memutuskan apa yang akan ia lakukan kedepannya. Rasanya separuh hidupnya ikut dibawa pergi oleh sang Ayah. Nilam kehilangan semangat hidup. Sore itu, ketika Nilam memandangi rintik hujan gerimis dari balik jendela kamarnya, ia mendengar suara ketukan pintu dari pintu depan. Nilam buru-buru keluar dari kamarnya untuk membukakan pintu. Ternyata itu adalah ibunya yang baru pulang bekerja. Memang, belum ada empat puluh hari ayahnya meninggal, tetapi sang ibu harus kembali bekerja. Bosnya tidak mengizinkan ibunya libur lama-lama. “Ibu, sudah pulang? Mau minum dulu?” tawar Nilam. Membantu sang Ibu duduk di atas kursi, sementara ia mengambil air minum di dapur dan memberikannya pada Ibunya. Ia melihat wajah Ibunya lamat. Sepertinya wanita itu terlihat kelelahan, tubuhnya pun sudah mulai lemah. Tangannya yang keriput dan kasar sampai gemetar memegangi gelas di tangannya. Nilam mendekat dan duduk di depan ibunya sambil meraih tangannya. “Bu?” panggilnya lembut. Ibunya mendongak. “Mulai sekarang, biar Nilam aja yang kerja, ya, buat gantiin Ibu. Jadi Ibu nggak usah kerja lagi. Ibu istirahat aja di rumah.” Ibunya kaget. “Maksudnya?” Nilam tersenyum. “Biar Nilam aja yang kerja di sana untuk sementara.” “Jangan, Lam. Kamu itu sudah sarjana, mana mungkin ibu membiarkan kamu bekerja jadi pembantu. Kamu bisa cari kerjaan yang lebih baik, Nak.” Nilam tersenyum. “Opo to hubungannya gelar sarjana sama jadi pembantu, Bu? Kerjaan apa aja yang penting kan halal.” Ia berusaha meyakinkan ibunya. Namun, sang ibu masih terlihat ragu. “Nilam benar-benar nggak apa-apa, Bu. Lagipula, Ibu pasti masih terpukul sama kepergian Bapak. Jadi, sebaiknya Ibu istirahat aja di rumah. Nilam yang akan gantiin, untuk sementara aja kok Bu sampai Nilam dapat pekerjaan yang lain. Ya?” "Tapi Lam, Ibu nggak mau ngerepotin kamu, Nak." Nilam menggeleng. “Ibu enggak pernah merepotkan Nilam sama sekali.” Ibu Nilam masih kelihatan berat mengizinkan Nilam menggantikannya bekerja. "Boleh ya, Bu?" Nilam terus memohon. Akhirnya sang ibu luluh. Nilam tersenyum, lalu memeluk ibunya erat. Nilam sudah kehilangan ayahnya, ia tidak ingin ibunya bekerja terlalu keras di usianya yang sudah menginjak angka enam puluh tahun itu. Nilam ingin ibunya terus sehat dan bahagia di masa tuanya. * Keesokan harinya, Nilam mulai bekerja di rumah Nyonya Mona, majikan ibunya yang ada di desa sebelah. Nilam menjelaskan kondisi ibunya kepada Nyonya Mona. Beliau tidak masalah yang penting ada yang tetap bekerja. “Kamu sudah biasa bersih-bersih, ‘kan?” tanya Nyonya Mona. Nilam tersenyum. “Iya, Nyonya.” “Ya sudah, kalau begitu kamu buruan bersihkan seluruh rumah, jangan lupa juga dirapihkan. Nanti sore, ada calon suami anak saya yang mau datang. Yang bagian masak Mbok Dasimah, tapi kamu bantuin juga ya nanti, soalnya hari ini masak banyak karena ada tamu.” Nilam mengangguk. “Baik, Nyonya.” Nilam pun langsung bekerja. Hari itu, pekerjaannya lumayan banyak. Dia membersihkan rumah besar itu sendirian dari mulai mengelap perabotan rumah, menyapu, mengepel, dan juga menata semua perabotan yang ada supaya lebih rapi. Untungnya, Nilam sudah biasa bersih-bersih, jadi dia pun tidak merasa terlalu kewalahan. Menjelang sore, semua pekerjaan Nilam sudah selesai. Rumah sudah kinclong dan rapi. Ia juga tadi membantu Mbok Dasimah sedikit untuk memotong-motong bahan masakan, jadi ia menemui Nyonya Mona untuk pamit. “Nyonya, semua sudah saya kerjakan. Saya mau pamit pulang dulu.” Nyonya Mona mengernyit. “Kok pulang? ‘Kan sudah saya bilang kalau hari ini calon suami anak saya mau datang. Jadi, kamu di sini dulu saja sampai acaranya selesai. Nanti setelah acara ‘kan kamu harus beres-beres lagi. Setelah itu, baru kamu boleh pulang.” Nilam mengangguk patuh. “Oh, begitu. Baik, Nya.” Akhirnya, Nilam pun ke dapur untuk membantu menyiapkan semua suguhan yang akan disajikan untuk calon suami anak Nyonya Mona beserta keluarganya. Makanan yang disiapkan Mbok Dasimah sudah siap semua, paling-paling hanya tinggal menata saja dan mengantar ke depan nanti. Sekitar pukul tiga sore, rombongan keluarga calon suami anak Nyonya Mona datang. Sellina—anak Nyonya Mona juga sudah berdandan amat cantik dan siap menyambut mereka. Ruang tamu terdengar ramai. Nyonya Mona kelihatan antusias sekali menyambut calon menantu dan besannya. Lalu, Nilam yang diam di dapur menunggu komando selanjutnya dihampiri oleh Mbok Dasimah yang tergesa-gesa. “Lam, bawakan minuman sama gelasnya. Di depan ternyata kurang. Buruan ya, sudah ditunggu sama Nyonya dan tamu-tamu yang lain.” Nilam mengangguk dan langsung sigap membawa teko berisi minuman dan beberapa gelas bersih untuk dibawa ke depan. Perlahan, langkah kakinya semakin dekat. Namun, tiba-tiba tatapan matanya berhenti pada sosok pria yang sedang mengobrol dan saling tatap dengan Selina. Jantung Nilam seketika berdetak dengan keras, tubuhnya membeku di tempat. Prang!!! Nampan yang ia bawa di tangannya seketika jatuh. Membuat gelas-gelas itu pecah berserakan ke lantai. Semua mata menatap ke arahnya. Bibir Nilam bergetar menyebut nama pria itu. “B-bang, Indra...”In life, everything sadly comes to an end, my husband was diagnosed with lung cancer 4 years ago, I guess all that smoking finally caught up with him, we have spent so many beautiful years together, I don’t think I am willing to let him go, it’s a miracle he has lasted this long, but these days he seems worse, I know he is trying to look strong for me but I know my husband, and my husband is in pain. “a penny for your thought?”Stiliyan says in a low whisper, letting out a slight cough with blood stains on his handkerchief as he lay down, “Mum, dad, what is going on? You called, is everything okay? Dad, are you alright?” my two children, ‘Annabel and Christian’ say as they walk into the room with our grandkids, ‘Elena, Iglika and Naiden,’ Annabel is married with two children, “Elena who is 16years of age and Naiden who is 13 years of age,” Christian is happily married with a daughter ‘iglika, who is 15 years,’ I named my daughter afte
I look through the glass window, Everyone looks really busy, I see Anna talking to a few people, my mum is giving a young lady an earful, My Dad and Ryan are talking to a few people, children are running around, I can’t believe this is real, I feel like my heart is going to explode from this much happiness, I am so grateful beyond words. “it’s about to begin, cover your veil,” Anna says as she rushes into the room,“I can’t believe my baby is getting married,” she says giving me a hug, a drop of tear making its way out of my eyes, “oh come on, enough with water works, we are stuck with each other forever,” “Come on ladies, you can’t leave a man standing at the altar,” My dad says as he walked in looking really chirpy. I can hear the music as I slowly walk into the wedding grounds, my eyes are fixated on the ground, I am a little nervous, as I walk beside my father, our arms interlocked with each other, I am dressed in a really long white, lacey long slee
“Catalina!!!! My princess, how are you? Oh darling,” she says to me embracing me in a tight hug as she lets out a light sob, “mum I am okay, I am really okay” My dad and Ryan walk up to me as they embrace me in a tight hug too, this felt nice, I really missed my family, we finally break apart and my dad notices Stiliyan, “Thank you so much, thank you, we really appreciate and I am entirely grateful t..,” “You must be Stiliyan, you look so young? Thank you for saving my daughter, we are forever indebted to you,” “It was no big deal, you are welcome,” Stiliyan says with a smile on his face, but I could tell he is uneasy, I could see guilt in his eyes, My brother walks up to Stiliyan giving him a handshake thanking him too, “It was not all me, my best friend here played a very important role,” Stiliyan says gesturing towards john, “This is your lawyer; we’ve seen each other at the business meeting, 
“Why are you so lost in your thoughts?” Stiliyan says, as he sat next to me, legs crossed, ‘damn this man is sexy’, I mentally say to myself,“I have no idea how badly they are going to take all of this, the news regarding the death of the heir to the Montero Empire should be everywhere, the airport is probably swamped with reporters, awaiting my arrival, I wonder how much they know?All this is going to be really difficult.Stiliyan, what are you going to do about all this, you might get arrested?” I say to him, revealing my biggest fear,“Catalina, no one except your family knows we are on our way to Manhattan, I made sure of that,and Christian killed himself to save you, the only name the Montero’s can link to his death is Diego, and this is without prove, it will merely be an accusation without evidence, all the while you were locked up your dad, Sebastian, called me various times, plea






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Rebyu