Home / Fantasi / Ampun Tuan, Aku Lemas! / Bab 4 Manajer Sinta++

Share

Bab 4 Manajer Sinta++

Author: Tristar
last update publish date: 2025-12-31 04:17:35

Sinta menyandarkan tubuhnya di tubuh Ares, dengan gerakan yang menggoda.

"Nona, apa kamu sudah memiliki pasangan?" tanya Ares penasaran, karena dia bisa melihat menggunakan teknik matanya, jika Sinta sudah tidak suci lagi.

Sinta terdiam sejenak, lalu dia menjawab,

"Sebenarnya aku sudah bersuami, tapi beberapa bulan ini, suamiku jarang pulang ke rumah," jawan Sinta.

"Jadi begitu, tapi aku merasa nona memiliki hal lain selain itu!" ucap Ares, karena dia melihat ekspresi Sinta yang seperti ingin mengatakan sesuatu tapi sulit.

"Sebenarnya...aku...ingin meminta bantuan tuan muda," ucap Sinta dengan ragu.

"Bantuan apa? coba katakan!" balas Ares santai.

"Ibuku sakit parah, memerlukan biaya yang cukup banyak. Aku meminta uang kepada suamiku tapi dia malah memarahiku. Aku meminta bantuan ke petinggi hotel ini, mereka malah menginginkan tubuhku, aku tidak mau tidur dengan pria tua gemuk, dan memiliki tampilan buruk. Saat melihat anda yang masih sangat muda dan memiliki uang, saya rela jika tidur dengan tuan muda, tapi anda harus membantu saya melunasi tagihan rumah sakit!" Sinta menjelaskan niatnya.

Ares tersenyum, dia kagum kepada Sinta. Meskipun dia seorang petinggi perusahaan, dia masih menjaga kejujuran, jika orang lain mungkin sudah meng korupsi uang perusahaan, tidak perlu repot mencari uang dengan cara menyerang diri kepada pria.

"Kalau memang kamu membutuhkan uang, aku bisa membantumu. Tidak perlu menjual tubuhmu! aku gak mau memanfaatkan kesulitan orang lain," balas Ares dengan nada serius.

"A...apa be...nar tuan muda?" tanya Sinta dengan antusias, sampai tubuhnya menempel erat di tubuh Ares.

"Tentu saja! kamu butuh berapa, sebutkan saja!" balas Ares, sambil menahan hasratnya yang mulai membara.

"6 miliar tuan," ucap Sinta, sedikit ragu.

"Hanya 6 miliar, aku akan mentransfernya sekarang!" balas Ares.

Mendengar hal itu, beban di dalam hati Sinta seketika menghilang, di gantikan dengan rasa lega.

"Terima kasih tuan muda," ucap Sinta, dia langsung memeluk Ares dengan erat.

"Nona jika kamu terus seperti ini, saya tidak bisa menahan diri," ucap Ares dengan nada pahit.

Sinta mendekatkan bibirnya ke telinga Ares, lalu mengatakan sesuatu yang membuat Ares kepanasan.

"Kalau tuan muda menginginkannya, dengan senang hati aku akan melayani tuan muda!" bisik Sinta, dengan penuh godaan.

"Terus suamimu bagaimana? dan juga aku memiliki banyak wanita, aku tidak bisa memberikan status untuk sekarang," ucap Ares.

"Aku sudah tidak peduli dengan suamiku, karena aku curiga dia berselingkuh di belakangku, dan untuk status aku tidak memerlukannya," jawab Sinta, dengan nada serius, lalu mengecup leher Ares.

Ares tidak sungkan lagi, dia langsung memeluk Sinta, lalu melumat bibir merah ranum wanita itu. Sinta terkejut sesaat, lalu dia menanggapi permainan bibir Ares dengan penuh semangat.

Tangan Ares meremas dada besar wanita itu dengan penuh semangat. Suhu di dalam kamar mulai naik, Helai demi helai pakaian mereka terlepas dari tubuh mereka.

"Ahh...tuan muda kamu sangat ahh..pandai ahh!" desah Sinta, saat merasakan tangan Ares bermain di bagian gua basah miliknya.

"Kamu sudah sangat basah sayang," ucap Ares, sambil menatap wajah wanita itu dengan tatapan nakal penuh hasrat.

Setelah di rasa cukup pemanasan, mereka pun menyatukan tubuh mereka. Suara erangan nikmat bergema, menandakan permainan inti sudah di mulai.

Erangan kenikmatan dan benturan kulit pun bergema di dalam kamar, entah berapa lama suara suara itu bergema di dalam sana.

===

Pagi hari tiba.

Ares terbangun dari tidur, dia melihat Sinta masih berada di pelukannya, tertidur sangat nyenyak.

Ares mengelus rambut wanita dewasa itu dengan lembut. Beberapa menit kemudian, Sinta bangun karena merasakan gerakan yang di lakukan Ares di rambutnya.

Sinta menatap Ares yang sedang tersenyum ke arah ya, dengan tatapan sayu khas bangun tidur.

"Tuan muda, kamu sudah bangun," ucap Sinta.

Ares mengangguk sambil tersenyum,

"Tuan muda sangat perkasa! aku sampai lemas," Sinta memuji permainan Ares semalam.

"Kamu juga hebat kok, apalagi goyanganmu," balas Ares sambil tersenyum nakal.

"Apa tuan muda mau merasakannya lagi?" tanya Sinta, sambil menatap Ares dengan tatapan genit.

"Tentu saja, ayo main sekarang!" jawab Ares, dia langsung mengambil posisi.

Sinta tidak bisa menolak, diapun hanya mengikuti semua keinginan Ares.

Suasana pagi terasa panas untuk mereka berdua, karena olahraga pagi hari yang mereka lakukan.

Setelah selesai, mereka pergi mandi bersama.

Setelah selesai mandi, Ares pergi bersantai sambil menikmati kopi dan cerutu, sementara Sinta sedang merias wajahnya di depan cermin.

"Emang orang tua kamu sakit apa?" tanya Ares, karena dia belum sempat bertanya tentang hal ini.

"Orang tua ku memiliki penyakit tumor ganas, harus segera di operasi, jika tidak nyawanya akan terancam," jawab Sinta.

"Apa dengan jalan operasi sudah 100% akan berhasil?" tanya Ares.

Sinta menghela nafas,

"Aku pun tidak tau! tapi dokter mengatakan hanya sedikit kemungkinan berhasil," balas Sinta dengan nada tidak berdaya.

Ares berpikir sejenak, lalu mengambil keputusan.

"Aku menguasai sedikit keterampilan medis, aku akan ikut bersamamu untuk melihat kondisi ibumu!" ucap Ares.

"Apa benar tuan muda?" tanya Sinta, langsung menghampiri Ares.

"Tentu saja!" balas Ares.

"Kalo gitu terima kasih!" ucap Sinta, lalu mengecup pipi Ares, tanpa ada rasa canggung sama sekali.

Mereka pun pergi ke rumah sakit.

10 menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit, tempat ibu Sinta di rawat.

Semua orang kagum, melihat mobil sport pagani yang sangat keren itu. Saat Ares dan Sinta turun dari mobil, tatapan semua orang terfokus ke arah mereka, karena mereka kagum akan ketampanan Ares dan kecantikan Sinta.

Setelah berjalan di dalam rumah sakit cukup jauh, mereka sampai di ruangan tempat Ibunya Sinta di rawat.

Saat masuk ke dalam, Ares melihat wanita paruh baya usia 50 tahun lebih, sedang tertidur pulas.

Ares mengaktifkan teknik matanya, lalu menatap tubuh wanita patuh baya tersebut.

WUSS

Pupil mata Ares sedikit bercahaya, tapi Sinta tidak menyadarinya.

Beberapa detik kemudian, pupil mata Ares kembali normal.

Beberapa dokter masuk ke ruangan tersebut. Ares dan Sinta melirik ke arah para dokter itu:

"Nona Sinta, ibu anda harus segera di operasi! jika tidak, akan berakibat fatal!" ucap dokter yang terlihat sudah tua.

"Baik dok, saya akan segara membayar, agar ibu saya secepatnya bisa di operasi," balas Sinta.

"Mengapa kalian tidak mengambil tindakan terlebih dahulu? jika sudah mengetahui harus di segera mengambil tindakan," ucap Ares tiba-tiba yang membuat semua orang melirik kepada Ares.

"Tuan muda ini siapa?" tanya dokter tua itu.

"Dia teman saya," jawab Sinta singkat.

"Sebelumnya maafkan kami tuan muda, kamipun tidak berdaya, karena atasan kami tidak memberikan ijin mengambil tindakan, sebelum keluarga pasien membayar biaya yang diperlukan!" dokter tua itu menjelaskan.

"Sungguh konyol! etika medis rumah sakit ini sungguh buruk," ucap Ares.

Semua dokter menundukkan kepalanya, apa yang dikatakan Ares memang benar, mereka pun tidak berani menyangkalnya.

"Pindah rumah sakit saja!" ucap Ares, dengan nada kesal.

"Tapi rumah sakit ini yang termurah, jika di rumah sakit lainnya mungkin biayanya lebih mahal!" balas Sinta.

"Tidak perlu khawatir, aku akan membayarnya!" ucap Ares.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ampun Tuan, Aku Lemas!   Bab 124 Selesai

    Sampai di luar, Ares pergi ke parkiran mobil, masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya keluar dari tempat tersebut. Suara deru mesin mobil sport yang menggelegar bergema di sepanjang jalan yang di lewati mobil Ares. Ares kembali ke vila. Sampai di sana, Ares melihat ~ mobil milik Stevani sudah terparkir di garasi vila, tandanya wanita itu sudah pulang.Ketika dia masuk ke dalam vila, dia melihat wanita sudah berkumpul di ruang tamu. Bahkan, Tante Siska ada di sana."Sayang, kamu dari mana?" tanya Stevani dengan nada riang."Kepo banget sih..." balas Ares dengan nada main-main, lalu dia duduk di samping Stevani. Tangannya langsung melingkar di pinggang wanita itu."Ih, kok gitu sih!" Stevani cemberut lucu. Melihat ekspresi Stevani, semua wanita tertawa karena merasa geli."Tante, kamu ikut ke sini lagi," ujar Ares sambil menatap Tante Siska."Emangnya gak boleh kalau aku ikut ke sini?" tanya Tante Siska, ada sedikit keluhan di ekspresi wajahnya."Eh, enggak gitu kok tante! bole

  • Ampun Tuan, Aku Lemas!   Bab 123 Lanjut Yuk Tante

    "Tante... kamu malah menertawakanku," gerutu Ares dengan nada tak berdaya. "Hihi, maaf... Tante hanya merasa lucu saja!" ucap Tante Yuna. "Oh iya, kenapa Sandra gak bisa ikut?" tanya Tante Yuna. "Dia lagi sibuk! sama kayak tante," balas Ares. "Huh, sayang sekali! kalau janda itu bisa ikut, pasti kamu bisa mencicipinya," ucap Tante Yuna dengan nada main-main. "Tadi siang aku ke kantornya, dia memintaku membantunya menilai barang antik. Tadi, aku hampir saja bisa menidurinya... tapi sayangnya dia ada urusan mendesak," ucap Ares dengan nada lesu. Tante Yuna sedikit terkejut. "Benarkah? walaupun begitu... pasti kamu sudah berhasil dong mendapatkan beberapa keuntungan darinya?" tanya Tante Yuna ingin tahu. Ares menyeringai bangga, lalu dia berkata, "Tentu saja, aku sudah mencicipi tubuh bagian atasnya!" "Aku gak nyangka ~ dia akan semudah itu di taklukkan olehmu," ucap Tante Yuna dengan nada takjub. Setahu dia, temannya itu sulit di taklukkan pria. Setelah dia jadi janda,

  • Ampun Tuan, Aku Lemas!   Bab 122 Gak Kalah Dari Yang Muda++

    Tante Yuna menatap Ares dengan tatapan panas. Senyuman genit itu terlukis jelas di bibir seksinya. "Mau langsung... apa mau di kulum dulu?" tanya Tante Yuna dengan nada menggoda. "Terserah mertua saja," balas Ares sambil memeluk wanita itu, sehingga batangnya bergesekan langsung dengan apem wanita itu. "Langsung aja yah! kalau kelamaan, takutnya... ada yang datang," ucap Tante Yuna menyarankan. "Boleh... gak masalah," Ares langsung setuju. "Tante nungguin yah, aku main dari belakang," lanjutnya dengan nada nakal. Tante Yuna mengangguk setuju. Dia membalikkan tubuhnya, lalu sedikit membungkuk. Tante Yuna menopangkan tangannya di meja untuk menyeimbangkan tubuhnya. "Ayo.. masukin!" udang Tante Yuna dengan penuh godaan. "Oke. Aku masukin yah." Ares memosisikan batangnya di lubang apem wanita itu. Setelah posisinya pas, dia mendorongnya masuk ke dalam sana. "Ahhh... masuk!" Tante Yuna seketika mendesah keras sambil mendongakkan kepalanya saat merasakan benda besar itu me

  • Ampun Tuan, Aku Lemas!   Bab 121 Imbalan Satu Ronde

    Ares terkekeh pelan. "Hehe, aku bercanda! aku kesini mau kasih Tante sesuatu!" "Apa itu?" tanya Tante Yuna ingin tahu. Ekspresinya menjadi serius. Ares mengepalkan tangannya di hadapan Tante Yuna, saat tangannya di buka kembali, terlihat sebuah cincin dan gelang tergeletak di telapak tangannya. Mata Tante Yuna membelalak karena kaget. "Ares... cincin dan kalung ini sangat indah! gak kalah indah dari milik Keysha," ucap Tante Yuna. "Hey, ini kalung dan cincin yang sama kayak milik Keysha, hanya saja... desainnya aku ubah sedikit," balas Ares dengan santai. "Jadi... kalung dan cincin yang Keysha pakai, pemberian kamu?" "Iya. Itu pemberianku! cincin dan kalung ini bukan barang biasa... cincin ini sebuah cincin penyimpanan dan kalung ini sebuah kalung perlindungan!" ucap Ares menjelaskan. Mendengar itu, Tante Yuna sangat terkejut dan ragu. "Ares... bukannya... cincin menyimpan sudah langka, kenapa kamu me

  • Ampun Tuan, Aku Lemas!   Bab 120 Untuk Tante Sandra

    Ares mengeluarkan beberapa bahan langka yang akan digunakan untuk membuat kalung dan cincin penyimpanan. Potongan logam spiritual dan batu inti kecil tersusun rapi di hadapannya. Pertama, Ares membuat cincin penyimpanan terlebih dahulu. Semua bahan yang di butuhkan dia panaskan dengan api miliknya. Saat bahan tersebut sudah menyatu dan menggumpal menjadi cairan kental, Ares membentuknya menjadi bentuk cincin yang sangat indah. Setelah cincin terbentuk, Ares memberikan menerapkan beberapa susunan formasi di cincin tersebut. Tak lama kemudian, cincin tersebut telah selesai di jadikan cincin penyimpanan. Ares lanjut meleleh bahan untuk membuat kerangka kalung. Beberapa rapa menit kemudian, sebuah kalung indah selesai di buat oleh Ares. Ares meletakkan kalung tersebut, lalu dia mengambil sebuah batu berwarna biru gelap seukuran telapak tangan. Batu tersebut merupakan batu giok yang sangat langka. Ares ingin menggunakan batu tersebut untuk di jadik

  • Ampun Tuan, Aku Lemas!   Ban 119 Janji Desi

    Ares menatap Meli dan Sisil, lalu menjelaskan. "Kalau pakai cara biasa, akan membuang sia-sia bakatnya. Desi memiliki hal pendukung kultivasi yang sangat baik, bisa di bilang, sangat mirip dengan kalian berdua," Meli dan Sisil mengangguk paham. "Aku gak nyangka, ternyata Saudari Desi calon jenius," ucap Meli dengan antusias. "Iya... perkembangannya mungkin akan sangat cepat," tambah Sisil. "Kalau dia di bimbing sedari dulu, mungkin sekarang, dia sudah setara kalian," ucap Ares dengan santai. Meli dan Sisil mengangguk setuju. "Sangat banyak orang jenius, tapi sayangnya terpendam di kehidupan fana," ucap Meli dengan nada prihatin. Ucapan wanita itu di beri anggukan setuju oleh Ares dan Meli. === Beberapa menit kemudian, Desi membuka matanya. Dia telah selesai berkultivasi awal dan menyerap semua pengetahuan kultivasi yang di berikan oleh Ares. Desi bangkit berdiri, lalu menghampiri Ares dan langsung memeluk pria itu. Ekspresi wajahnya tampak sangat gembira. "Tuan muda, aku

  • Ampun Tuan, Aku Lemas!   Bab 104 Sembur Wajah Suami++

    Setelah sensasi nikmat itu berlalu, Tante Yuna mencabut batang Ares dari apemnya. "Tante... ayo kita lanjut!" ajak Ares sambil menarik Tante Yuna turun dari tempat tidur, lalu membawanya ke sisi suaminya. "Mau gaya apa yang kamu pakai menantuku?

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Ampun Tuan, Aku Lemas!   Bab 96 Pengkhianat

    “Nona, aku tahu… kamu pasti terpesona olehku, bukan?” goda Ares kepada Cantika. Sebelum Cantika sempat menjawab, Keysha langsung mencubit pipi Ares dengan keras. Wajah wanita itu tampak kesal. “Mulai lagi! Kamu mulai lagi menggoda wanita!” bentak Keysha. “Aduh, Sa

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Ampun Tuan, Aku Lemas!   Bab 88 Ramalan Kesedihan

    Beberapa menit kemudian, seorang pria bertubuh kekar dengan ekspresi dingin tiba di kediaman keluarga Xiyu. dia diantar oleh seorang asisten rumah tangga menuju aula utama. Saat melihat Ares, pria itu buru-buru membungkuk hormat. "Tuan muda," sapa pria itu. "Jangan t

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Ampun Tuan, Aku Lemas!   Bab 82 Keysha Takluk?

    "Sayang, kamu datang! aku kira kamu gak akan me menemuiku," ucap Keysha manja, sambil menatap Ares dengan tatapan penuh cinta. "Tentu saja aku datang, aku ingin melihat wanitaku yang cantik!" balas Ares sambil mencolek hidung Keysha. Tak lama, pelukan itu terlepas, Ares melingkarkan tangannya di

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status