MasukElara Wynslade tak menyangka kedatangannya ke Kerajan Asterion sebagai pelayan saudari tirinya justru membawanya berjumpa dengan takdir yang pahit. Dari sekian banyak putri kerajaan dari seluruh penjuru Benua Valtherra, Pangeran Kaelan Asterion justru menunjuknya secara langsung untuk dilantik. Hal itu bukan tanpa alasan, rasa tertarik pada Elara saat pertama kali mereka berjumpa yang mendasari keputusan Kaelan menunjuk Elara. Bukan hal mudah mendampingi pria sempurna idaman para wanita itu. Kaelan adalah perwujudan dari kesempurnaan yang beku, seorang pria berhati dingin yang sulit mempercayai siapapun. Berbanding terbalik dengan Elara--seorang gadis berhati lembut dengan segala luka batin yang membuatnya rapuh. Terikat oleh keputusan yang ditetapkan Raja, Elara harus menyertai Kaelan dalam perjalanan penuh rintangan yang sangat menguji kepatuhan dan juga keberaniannya. Tapi justru Elara melihat hal tersebut sebagai peluang untuk menunjukkan ketulusannya kepada Kaelan. Meski dia tahu bahwa tugas yang harus ia jalani akan menumpahkan darah, atau bahkan merenggut nyawanya. Tapi bagi Elara keputusan itu jauh lebih baik. Mati sebagai pendamping Pangeran Kaelan jauh lebih terhormat daripada mati perlahan karena siksaan yang dia terima dari keluarganya.
Lihat lebih banyak"Kyaaaaa!"
Suara jeritan lolos dari bibir mungil Elara saat air dingin menyentuh kulitnya. Ia terperanjat dan memeluk tubuhnya. Rasanya baru sebentar dia beristirahat dan memejamkan mata, meski dia tidak benar-benar menikmati waktu istirahatnya. "D-dingin..." lirih Elara sembari menggigil. Dinginnya air yang mengguyur tubuh Elara bukan sekadar kejutan fisik, melainkan pesan bahwa di istana Eldoria, ia tak lagi memiliki hak atas kehangatan dan kenyamanan. Sayup-sayup terdengar lonceng istana berdenting, diikuti derap suara kereta kuda masuk melewati gerbang istana. Elara tahu mereka yang datang adalah para pedagang dan perancang busana yang membawa kain-kain mewah dan perhiasan yang berkilau. Sesuatu sedang dipersiapkan, tapi apapun kemewahan yang sedang dipersiapkan tak pernah ditunjukkan untuknya. "Kenapa? Kaget?" Seraphine Valestra berdiri di depan ranjang, memegang bejana kosong dengan aura kemarahan seorang ratu yang baru saja mengeksekusi tahanan. Gadis berusia 18 tahun itu menatap ke arah ibu tirinya yang masih menatapnya tajam. "Prang!!" Sherapine melempar bejana kosong ke lantai. Suara bejana yang menghantam lantai terdengar menggema di dalam kamar Elara yang tampak seperti gudang dibandingkan sebuah kamar. Membuat Elara terperanjat kaget. "Bangun! Enak saja kau masih bisa tidur lelap sementara orang tua dan saudaramu kelaparan! Ck, aku bisa bayangkan kalau ibumu juga pasti dulunya wanita pemalas seperti dirimu," decak Sherapine sembari berjalan mondar-mandir di depan ranjang Elara. Menatap gadis itu bagi seekor rusa buruan. Elara memeluk kakinya semakin erat, menahan amarah setiap kali wanita paruh baya itu menghina ibunya di sela makian yang dialamatkan padanya. "Baik, Bu. Aku akan bangun. Beri aku sedikit waktu," ucap Elara, meminta dispensasi waktu untuk mempersiapkan diri sebelum melaksanakan semua tugas yang dibebankan padanya. Rahang tinggi Sherapine kian mengetat setiap kali menatap wajah Elara dengan seksama. "Sial, mengapa dia begitu mirip dengan ibunya. Aku harus membuat Thaddeus membenci gadis sialan ini, atau membunuhnya jika perlu," batin Seraphine. "Kau pikir dirimu masih putri? Kau hanyalah pengingat akan kelemahan dan masa lalu ayahmu. Aku memberi waktu 5 menit, segera pergi ke dapur, atau aku akan meminta ayahmu yang datang untuk menyeretmu keluar!" pekik Sherapine, lalu pergi meninggalkan kamar Elara yang terletak di kuil reyot yang terletak di belakang istana. "Selalu saja seperti ini ..." lirih Elara sembari menyeka air matanya. Elara bangkit dengan tubuh gemetar, mengabaikan rasa sakit yang meradang di otot-ototnya akibat kerja paksa yang tak pernah usai. Waktu istirahatnya tidak lebih dari 4 jam setiap malam. Namun, yang lebih menyakitkan dari siraman air pagi itu adalah bayangan ayahnya--Thaddeus Wynslade yang menantinya di ruang makan. Tidak ada makian dan pukulan yang lebih sakit dibandingkan pukulan dan makian dari ayahnya. Thaddeus Wynslade dulunya adalah seorang ayah yang baik dan penyayang. Tapi sikapnya berubah setelah pria itu menikahi Seraphine. Kehadiran Seraphine dan dua anaknya di kerajaan Eldoria membuat Elara hidup dalam bayang-bayang neraka. Elara segera memakai apron dan bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makanan bagi ayah dan keluarga tirinya. Memang menyakitkan, mengingat Thaddeus memiliki banyak pelayan, tapi dia tak dapat menolak permintaan istrinya yang menjadikan Elara pelayan khusus bagi mereka. Thaddeus dibutakan oleh cintanya terhadap Sherapine. "Dengar-dengar putri Calestra akan mengikuti sayembara pencarian permaisuri untuk pangeran Kerajaan Asterion." "Ya, aku sudah mendengar kabar itu. Tidak adil memang, Ratu Sherapine hanya mengajukan Putri Calestra, tapi tidak dengan Putri Elara yang jelas-jelas putri kandung Paduka Raja," "Kau benar, Lidia. Tak terhitung berapa banyak para pedagang perhiasan dan perancang busana itu datang untuk menyediakan semua yang dibutuhkan Putri Calestra." Percakapan para tukang masak istana terdengar oleh Elara saat langkahnya semakin dekat dengan dapur. "Oh, ternyata para pedagang dan perancang busana datang untuk mempersiapkan kebutuhan Calestra yang hendak ikut sayembara," batin Elara tanpa berpikir jauh. Karena perlakuan tidak adil orang tuanya sudah bukan hal tabu baginya. Lidia dan Amos yang melihat kedatangan Elara langsung menata ekspresi. Mereka tidak ingin perbincangan pagi mereka menambah luka hati putri kerajaan Eldoria yang sesungguhnya. "Selamat pagi, Putri Elara. Syukurlah anda sudah datang," sapa Amos berusaha terdengar hangat. Elara hanya membalas sapaan itu dengan senyum tulus, lalu mengambil sup panas untuk dia bawa ke ruang makan istana. "Hati-hati, Putri Elara. Sup ini masih sangat panas," bisik seorang pelayan mengingatkan Elara yang datang ke dapur dengan wajah lelah. "Baik, Bibi Lidia," jawab Elara sembari tersenyum sebelum berlalu. Dengan hati-hati Elara membawa sepanci sup yang masih mengepulkan asap ke atas meja. Semua tatapan orang yang mengelilingi meja makan panjang itu menatapnya dengan sinis, tetapi tidak dengan Darian Valestra. Saudara tiri laki-laki Elara yang selalu menatap Elara dengan tatapan melecehkan itu sedang memperhatikan Elara dengan tatapan seakan menelanjangi. Dari ekor mata Elara dapat melihat raut menjijikkan Darian. Cepat-cepat Elara kembali ke dapur untuk mengambil hidangan lain. "Kau lihat, Sayang. Elara baru saja bangun. Ck, gadis itu semakin hari bertambah malas," ucap Seraphine. Thaddeus Wynslade duduk di kepala meja dengan ekspresi datar menanti hidangan sarapan pagi itu. Elara mendekat dengan langkah ragu, membawa nampan perak beserta beberapa menu makanan yang terasa berat di tangan mungilnya. Ia mencuri pandang ke arah ayahnya, mencari sisa-sisa kasih sayang pria yang dulu sangat mencintai dan melindunginya bagai permata yang rapuh. Sangat disayangkan, Thaddeus bahkan tidak menatap putri kandungnya walau hanya sebentar. "Aku curiga, dia sengaja bangun terlambat lagi agar kita mati kelaparan." Sherapine melirik ke arah Elara dengan pandangan merendahkan. Elara mencengkram nampan dengan erat. Dia sangat ingin membela dirinya saat Sherapine kembali menuduhkan hal yang tidak benar atas dirinya. Tapi Elara sadar, Thaddeus hanya akan mendengarkan ucapan Sherapine. "Huh," Thaddeus menghela napas berat, sebuah suara yang menyakitkan bagi Elara. Hasutan Seraphine selama bertahun-tahun telah membangun tembok tebal di antara ayah dan anak tersebut. Tangan Elara gemetar menahan tangis saat ia menuangkan air ke gelas ayahnya. Namun, sebuah gerakan kasar dari Seraphine yang pura-pura memperbaiki posisi duduknya membuat teko yang dipegang Elara miring. Air tumpah, membasahi jubah kebesaran Thaddeus. Waktu seakan berhenti berputar bagi Elara. "Ceroboh!" bentak Thaddeus yang akhirnya menatap ke arah Elara. Dengan gerak cepat Elara mengelap jubah Thaddeus dengan kain serbet yang dia letakkan di pundak. "Maaf, Ayah... aku tidak sengaja," ucap Elara dengan panik. Thaddeus menepis kasar putrinya. "Ceroboh, dasar gadis ceroboh!" Thaddeus berdiri lalu mendorong kening Elara dengan kasar, hingga tubuh mungil Elara terhuyung ke belakang. "Nafsu makanku hilang karena kelakuanmu," ucapnya, lalu pergi meninggalkan ruang makan. Thaddeus melangkah pergi tanpa menoleh, meninggalkan Elara yang menangis dalam diam. Seraphine tersenyum puas, tawa kemenangan dari mulutnya menggema di ruang makan yang luas itu. Ia mendekati Elara dan menarik rambut panjang Elera mendekati wajahnya. "Kau lihat? Dia tidak lagi melihatmu sebagai anaknya," bisik Seraphine. Perempuan paruh baya itu mendaratkan tamparan keras di pipi Elara, hingga gadis malang itu tersungkur di lantai. Meninggalkan bekas memar merah di wajah cantik Elara. "Thaddeus sepenuhnya milikku sekarang, jangan coba-coba merayunya untuk mengasihimu, atau akan ku buat hidupmu sengsara," ucap Sherapine, lalu pergi meninggalkan Elara yang mulai terisak. Suara derap langkah Seraphine membuat hati Elara merasa teriris. Tak pernah terbayangkan jika suara derap kaki ibunya yang selalu menggema di setiap ruang istana, suara derap kaki yang selalu membuat Elara cepat menoleh, akan berganti dengan suara kaki yang selalu menghentak dan membuatnya bergidik ketakutan.Seruan bidan kerajaan menggema hingga ke lorong-lorong Istana Asterion.Pagi itu, seluruh penghuni istana yang sejak semalam menunggu di luar kamar calon permaisuri akhirnya mengembuskan napas lega.Tangis bayi yang nyaring memecah kesunyian.Seorang bayi laki-laki lahir dengan selamat, meski lahir lebih cepat dari perkiraan tabib kerajaan.Kaelan, yang sedari tadi berdiri mematung di depan pintu dengan kedua tangan menyilang di depan dada langsung melangkah begitu tabib menganggukkan kepala."Paduka."Tabib tua itu menunduk hormat. "Ibu dan bayinya selamat."Kalimat sederhana itu seketika meruntuhkan seluruh ketegangan di wajah Kaelan.Pria yang selama bertahun-tahun tak pernah gentar menghadapi ribuan musuh di medan perang itu justru merasakan lututnya hampir kehilangan tenaga.Ia masuk tanpa menunggu siapa pun mempersilakan.Di atas ranjang, Elara tampak sangat pucat. Rambut hitam kecokelatannya basah oleh keringat, sementara napasnya masih terdengar berat akibat persalinan yang m
Kereta kuda berlapis baja hitam dengan lambang serigala perak khas Valmorra akhirnya melewati gerbang besi raksasa. Istana Valmorra berdiri megah dan angkuh di atas bukit, dikelilingi oleh kabut tipis dan hutan pinus yang sunyi. Sangat kontras dengan Istana Asterion yang selalu terasa hangat dan dipenuhi cahaya matahari. Bagi Valeska, tempat ini adalah rumah barunya, sekaligus awal dari pembuktian bakti cintanya pada Aldric. Sebagai pengantin baru, Aldric memperlakukan Valeska dengan sangat terhormat. Sepanjang perjalanan hingga jamuan sambutan di istana barunya, Aldric tetap menampilkan sosok suami yang sempurna. Ia menggandeng tangan Valeska, membantunya menuruni kereta, dan memperkenalkan Valeska kepada para pelayan setianya sebagai Permaisuri masa depan Valmorra.Hingga malam semakin larut, dan mereka harus melalui malam pengantin di kamar utama.Di bawah temaram lilin-lilin aromaterapi, di atas ranjang bertabur kelopak mawar merah, Aldric memenuhi kewajibannya sebagai seorang s
Hari yang dinantikan Valeska tiba. Lonceng di menara bertalu sejak fajar menyingsing, suaranya menggema membelah langit musim semi yang cerah. Jalanan sepanjang istana dipenuhi oleh kelopak bunga mawar yang ditaburkan oleh rakyat, menyambut hari pernikahan Putri Valeska dengan Pangeran Aldric Varkashan dari Valmorra. Sebuah persatuan dua kekuatan besar yang sempat diragukan. Valeska berdiri di depan cermin besar setinggi manusia. Gaun pengantin putih bersih berlapis sutra melekat indah di tubuhnya, dihiasi ribuan mutiara kecil yang berkilau setiap kali ia bergerak. Tiara emas bertatahkan berlian sudah terpasang kokoh di atas rambut pirangnya yang disanggul anggun. Senyum bibirnya merekah saat menyadari hari itu ia akan menjadi ratu semalam. Pintu kamar rias terbuka perlahan setelah ketukan tiga kali.Melalui pantulan cermin, Valeska melihat sosok pria berbadan tegap melangkah masuk. Senyumnya seketika memudar, berganti dengan raut wajah datar. Kaelan datang mengenakan jubah pangl
Lampu gantung kristal di aula utama Istana Asterion berpendar megah, memantulkan cahaya keemasan pada piring-piring perak dan gelas berkilau. Aroma daging panggang berempah dan anggur manis memenuhi udara, berbaur dengan alunan musik dawai yang lembut. Malam itu, seluruh petinggi kerajaan berkumpul untuk merayakan jamuan penyambutan Aldric Varkashan. Namun, bagi sebagian orang, kehangatan di dalam ruangan itu terasa terlalu semu.Di meja utama, Aldric duduk tepat di sebelah Valeska. Pria berambut hitam kebiruan itu telah menanggalkan kemeja kasualnya tadi sore, dan menggantinya dengan jubah beludru hitam berbordir benang emas khas bangsawan Valmorra. Tangan prostetik besinya tersembunyi dengan di bawah sarung tangan kulit hitam yang elegan."Cobalah ini, Sayang. Daging rusa ini dimasak dengan madu hutan Asterion. Kau pasti menyukainya," ucap Valeska manis. Ia memotong seiris kecil daging dan mengarahkannya ke bibir Aldric.Tanpa ragu sedikit pun, Aldric mencondongkan tubuh menerima
Udara malam terasa menusuk hingga ke tulang. Elara berjalan di lorong bagian barat istana membawa nampan perak berisikan gaun sutra, botol parfum kristal, dan satu set perhiasan yang memiliki desain senada berhiaskan batu sapphire. Semua perhiasan itu adalah milik mendiang ibunya. Langkahnya berhe
Jantung Elara berdegup kencang. Tatapan dari mata abu-abu Pangeran Kaelan yang begitu intens menimbulkan getaran tak wajar di dalam dadanya. Elara memejamkan mata dan menarik napas untuk sesaat. "Sadar, Elara, pangeran itu sama sekali tidak melirikmu! Jangan terlalu percaya diri!" gumam Elara, beru
Hawa dingin menampar wajah Elara saat ia berlari tanpa menoleh ke belakang. Napasnya tersengal, dadanya terasa panas, keringat dingin membasahi sekujur tubuh, dan air mata memburamkan pandangannya. Namun langkahnya tak melambat. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin. Menjauh dari tempat tinggal ya
Rasa panas di pipi Elara akibat tamparan Seraphine benar-benar membuatnya merasa terhina. Perlakuan itu sangat tidak pantas karena sesungguhnya, dialah putri di kerajaan Eldoria. Bukankah ibu tiri dan saudara tiri seharusnya menghormati Elara? Mengingat keberadaan mereka di istana itu telah menggan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.