แชร์

Bab 3 Meli Dan Sisil ++

ผู้เขียน: Tristar
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-31 03:14:06

Tangan Ares melingkar di pinggang kedua wanita itu. Kedua wanita itu tidak menolak tindakan Ares, tapi sebaliknya mereka sangat senang, dan semakin menempelkan tubuh mereka di tubuh Ares.

"Tapi aku cukup salut sih, dengan ide kalian,

yang membuat anggota lainnya menjadi pegawai club," ucapan Ares membuat kedua wanita itu terkejut.

"Kenapa tuan muda bisa tau?" tanya Meli, karena rahasia ini, bahkan tidak tercatat di markas pusat.

"Tentu saja tau, aku sangat jeli, jadi kalian tidak mungkin bisa bersembunyi dariku," balas Ares, sambil tertawa kecil.

"Tuan muda memang hebat!" puji kedua wanita itu hampir bersamaan.

"Tuan muda, maaf ya, anggota yang lain belum bisa menemui Anda. Mereka masih harus memantau situasi klub. Bagaimanapun juga, sekarang sudah jam operasional," ucap Meli dengan sopan.

"Tidak masalah," jawab Ares santai, seolah hal itu memang sudah ia duga.

Dia lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa, menatap kedua wanita di hadapannya dengan tatapan tenang namun penuh wibawa.

"Ke depannya, aku akan ikut campur dalam misi organisasi di negara ini. Kalau ada misi sulit, hubungi aku," ucapnya tegas.

Kedua wanita itu saling berpandangan, lalu menatap Ares dengan antusias.

"Tuan muda serius?" tanya mereka hampir bersamaan.

Ares mengangguk mantap.

"Tentu saja. Jadi tak perlu lagi menghubungi markas pusat untuk meminta bantuan Linfei atau yang lain. Jika ada keluarga besar yang mengajukan misi, terutama dari kelas tiga ke atas, langsung hubungi aku."

"Baik, Tuan Muda," jawab mereka patuh tanpa banyak bertanya.

Beberapa detik kemudian, Ares teringat sesuatu. Ia belum memiliki tempat tinggal tetap.

"Aku ingin meminta bantuan kalian mencarikan vila mewah untuk tempat tinggalku," katanya lugas.

Sisil tersenyum tipis. "Ada gaya arsitektur tertentu yang Tuan Muda inginkan?"

Ares menyeringai samar. "Gaya apa pun tidak masalah… yang penting nyaman dan enak. Benar, kan?" Tatapannya berubah sedikit nakal saat menatap keduanya bergantian.

Meli dan Sisil tertawa kecil, memahami maksud tersirat di balik kata-katanya.

"Tuan muda nakal ya," goda Meli, mendekat sedikit dengan gerakan manja.

Sisil ikut menimpali, senyum tipis menghiasi bibirnya. "Tuan muda, aku dengar Anda menyukai wanita cantik. Apa Anda ingin ditemani wanita seperti kami?"

Ares mengangkat alisnya. "Tentu saja mau. Tapi tidak ada yang melarang kalian?"

"Melarang? Siapa yang melarang?" tanya Sisil heran.

"Maksudku… kalian punya pacar atau suami?" tanya Ares santai.

Kedua wanita itu menggeleng bersamaan.

"Tidak ada, Tuan Muda. Kami masih sendiri," jawab Meli dengan nada serius, meski ada semburat malu di wajahnya.

Ares tertawa pelan.

"Kalau begitu, bagus."

Dia menatap mereka lebih dalam, suaranya merendah. "Tapi apa kalian yakin dengan keputusan kalian?"

Tanpa ragu, kedua wanita itu mengangguk penuh tekad, seolah telah mantap dengan pilihan mereka.

Suasana ruangan pun berubah menjadi lebih hangat, dipenuhi ketegangan halus yang sulit diabaikan.

"Jika tuan muda memang menginginkan kami, tentu saja kami tidak keberatan. Walaupun kami di anggap hanya selir, kami sudah sangat puas!" jawab Meli, yang diberi anggukan oleh Sisil.

Mendengar keputusan kedua wanita yang terdengar tidak terpaksa sama sekali, Ares tidak sungkan lagi. kedua Tangannya hinggap di dada kedua wanita itu, lalu meremasnya sedikit keras.

"Ahh...tuan muda," suara desahan keluar dari mulut kedua wanita itu.

Ares yang sudah panas, langsung melumat bibir salah satu dari mereka, yaitu Meli. Wanita itu tidak menolak sama sekali, dia langsung menanggapi lumatan Ares. Setelah puas dengan Meli, Ares pindah melumat bibir Sisil.

Tangan Ares masuk ke dalam kerah gaun malam yang mereka gunakan, lalu meremas gunung mereka secara langsung, tanpa terhalang apapun.

"Emm...ahh...terus tuan muda! lebih keras ahh!" desah Meli menikmati permainan Ares.

Setelah dirasa cukup pemanasan, akhirnya mereka memulai permainan inti. Suara erangan kenikmatan dan benturan kulit terdengar sangat intens di dalam ruangan tersebut.

Ares dengan penuh semangat bermain bersama 2 wanita cantik dan menggoda itu. Walaupun 2 lawan 1, tapi Ares tidak kalah sama sekali, dia dengan terampil terus mendominasi permainan.

2 jam kemudian, terdengar suara erangan panjang, setelah itu ruangan tersebut menjadi sunyi.

Di dalam ruangan, Ares bersandar di sofa sambil menikmati anggur dan cerutu. Kedua wanita itu bersandar di dada Ares, tubuh mereka di penuhi keringat panas, dan terlihat ada beberapa jejak yang tertinggal saat bercinta.

"Tuan muda sangat hebat, jika kami tidak meminta ampun, mungkin kami akan pingsan," ucap Meli, jari lentik nya menggambar lingkaran di dada Ares.

"Kami masih segel, tapi tuan muda memainkan kami dengan keras, kami hampir pingsan karena lemas," sahut Sisil, dengan nada mengeluh.

Ares terkekeh, sambil mengelus kepala kedua wanita itu.

Setelah mengobrol sebentar, Ares pergi dari club tersebut, dan Ares pun menyuruh kedua wanita itu beristirahat. Ares sempat mengajak mereka ke hotel, tapi mereka menolak, karena mereka takut ada hal buruk terjadi di club.

===

Sampai di hotel, Ares langsung kembali ke kamarnya, dia langsung duduk bersila di atas kasur, matanya tertutup, dia masuk ke dalam mode meditasi. Ares memiliki tubuh spesial yang cukup unik, karena jika dia bercinta dengan wanita apalagi wanitanya masih suci, kultivasi miliknya akan meningkat.

Beberapa menit kemudian, Ares selesai bermeditasi, matanya terbuka, senyuman senang terlukis di bibirnya.

"Jika aku berhasil menemukan wanita yang memiliki tubuh spesial, kultivasiku pasti meningkat dalam sekala yang mengerikan," ucap Ares, lalu kembali menutup matanya, kembali bermeditasi.

Waktu hampir tengah malam, Ares sudah menyelesaikan meditasinya, sekarang dia sedang bersandar di sofa sambil menikmati cerutu, dan bermain ponsel.

Tiba-tiba pesan masuk ke dalam ponselnya, itu adalah pesan dari Sinta. Saat Ares membaca pesan tersebut, dia langsung menyeringai nakal. Di pesan tersebut, Sinta ingin ke kamar Ares, dengan alasan ingin mengobrol. Tapi siapa yang percaya jika seorang wanita mengajak mengobrol tengah malam kepada pria.

"Hehe, apa wanita ini Sudah tidak tahan?" ucap Ares, sambil terkekeh nakal.

Tanpa pikir panjang Ares membalas pesan Sinta, kalo dia tentu saja setuju.

Tidak lama pintu kamar di ketuk, Ares pun membuka pintu, terlihatlah Sinta yang sangat cantik dan menggoda, sudah menggunakan pakaian tidur tipis, membuat mata Ares tidak bisa berhenti menatapnya dengan tatapan panas.

Sinta yang melihat Ares diam sambil menatapnya dengan tatapan panas, dia pun bertanya dengan nada menggoda.

"Boleh saya masuk tuan muda?" tanya Sinta.

Ares tersadar, dia buru-buru mengangguk, mempersilakan wanita itu masuk ke dalam

kamar.

Di dalam kamar, Ares kembali duduk di sofa, Sinta pun duduk di samping Ares dengan pose anggun. Sinta mengambil inisiatif menuangkan anggur ke dalam gelas untuk mereka berdua.

"Datang nya nona pada malam hari, apa sudah tau konsekuensi yang harus di terima?" tanya Ares,

sambil menyeringai nakal.

"Tentu sudah tau," balas Sinta sambil memberikan gelas berisi anggur kepada Ares.

Ares mengambil gelas itu lalu menyesapnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Ampun Tuan, Aku Lemas!   Bab 124 Selesai

    Sampai di luar, Ares pergi ke parkiran mobil, masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya keluar dari tempat tersebut. Suara deru mesin mobil sport yang menggelegar bergema di sepanjang jalan yang di lewati mobil Ares. Ares kembali ke vila. Sampai di sana, Ares melihat ~ mobil milik Stevani sudah terparkir di garasi vila, tandanya wanita itu sudah pulang.Ketika dia masuk ke dalam vila, dia melihat wanita sudah berkumpul di ruang tamu. Bahkan, Tante Siska ada di sana."Sayang, kamu dari mana?" tanya Stevani dengan nada riang."Kepo banget sih..." balas Ares dengan nada main-main, lalu dia duduk di samping Stevani. Tangannya langsung melingkar di pinggang wanita itu."Ih, kok gitu sih!" Stevani cemberut lucu. Melihat ekspresi Stevani, semua wanita tertawa karena merasa geli."Tante, kamu ikut ke sini lagi," ujar Ares sambil menatap Tante Siska."Emangnya gak boleh kalau aku ikut ke sini?" tanya Tante Siska, ada sedikit keluhan di ekspresi wajahnya."Eh, enggak gitu kok tante! bole

  • Ampun Tuan, Aku Lemas!   Bab 123 Lanjut Yuk Tante

    "Tante... kamu malah menertawakanku," gerutu Ares dengan nada tak berdaya. "Hihi, maaf... Tante hanya merasa lucu saja!" ucap Tante Yuna. "Oh iya, kenapa Sandra gak bisa ikut?" tanya Tante Yuna. "Dia lagi sibuk! sama kayak tante," balas Ares. "Huh, sayang sekali! kalau janda itu bisa ikut, pasti kamu bisa mencicipinya," ucap Tante Yuna dengan nada main-main. "Tadi siang aku ke kantornya, dia memintaku membantunya menilai barang antik. Tadi, aku hampir saja bisa menidurinya... tapi sayangnya dia ada urusan mendesak," ucap Ares dengan nada lesu. Tante Yuna sedikit terkejut. "Benarkah? walaupun begitu... pasti kamu sudah berhasil dong mendapatkan beberapa keuntungan darinya?" tanya Tante Yuna ingin tahu. Ares menyeringai bangga, lalu dia berkata, "Tentu saja, aku sudah mencicipi tubuh bagian atasnya!" "Aku gak nyangka ~ dia akan semudah itu di taklukkan olehmu," ucap Tante Yuna dengan nada takjub. Setahu dia, temannya itu sulit di taklukkan pria. Setelah dia jadi janda,

  • Ampun Tuan, Aku Lemas!   Bab 122 Gak Kalah Dari Yang Muda++

    Tante Yuna menatap Ares dengan tatapan panas. Senyuman genit itu terlukis jelas di bibir seksinya. "Mau langsung... apa mau di kulum dulu?" tanya Tante Yuna dengan nada menggoda. "Terserah mertua saja," balas Ares sambil memeluk wanita itu, sehingga batangnya bergesekan langsung dengan apem wanita itu. "Langsung aja yah! kalau kelamaan, takutnya... ada yang datang," ucap Tante Yuna menyarankan. "Boleh... gak masalah," Ares langsung setuju. "Tante nungguin yah, aku main dari belakang," lanjutnya dengan nada nakal. Tante Yuna mengangguk setuju. Dia membalikkan tubuhnya, lalu sedikit membungkuk. Tante Yuna menopangkan tangannya di meja untuk menyeimbangkan tubuhnya. "Ayo.. masukin!" udang Tante Yuna dengan penuh godaan. "Oke. Aku masukin yah." Ares memosisikan batangnya di lubang apem wanita itu. Setelah posisinya pas, dia mendorongnya masuk ke dalam sana. "Ahhh... masuk!" Tante Yuna seketika mendesah keras sambil mendongakkan kepalanya saat merasakan benda besar itu me

  • Ampun Tuan, Aku Lemas!   Bab 121 Imbalan Satu Ronde

    Ares terkekeh pelan. "Hehe, aku bercanda! aku kesini mau kasih Tante sesuatu!" "Apa itu?" tanya Tante Yuna ingin tahu. Ekspresinya menjadi serius. Ares mengepalkan tangannya di hadapan Tante Yuna, saat tangannya di buka kembali, terlihat sebuah cincin dan gelang tergeletak di telapak tangannya. Mata Tante Yuna membelalak karena kaget. "Ares... cincin dan kalung ini sangat indah! gak kalah indah dari milik Keysha," ucap Tante Yuna. "Hey, ini kalung dan cincin yang sama kayak milik Keysha, hanya saja... desainnya aku ubah sedikit," balas Ares dengan santai. "Jadi... kalung dan cincin yang Keysha pakai, pemberian kamu?" "Iya. Itu pemberianku! cincin dan kalung ini bukan barang biasa... cincin ini sebuah cincin penyimpanan dan kalung ini sebuah kalung perlindungan!" ucap Ares menjelaskan. Mendengar itu, Tante Yuna sangat terkejut dan ragu. "Ares... bukannya... cincin menyimpan sudah langka, kenapa kamu me

  • Ampun Tuan, Aku Lemas!   Bab 120 Untuk Tante Sandra

    Ares mengeluarkan beberapa bahan langka yang akan digunakan untuk membuat kalung dan cincin penyimpanan. Potongan logam spiritual dan batu inti kecil tersusun rapi di hadapannya. Pertama, Ares membuat cincin penyimpanan terlebih dahulu. Semua bahan yang di butuhkan dia panaskan dengan api miliknya. Saat bahan tersebut sudah menyatu dan menggumpal menjadi cairan kental, Ares membentuknya menjadi bentuk cincin yang sangat indah. Setelah cincin terbentuk, Ares memberikan menerapkan beberapa susunan formasi di cincin tersebut. Tak lama kemudian, cincin tersebut telah selesai di jadikan cincin penyimpanan. Ares lanjut meleleh bahan untuk membuat kerangka kalung. Beberapa rapa menit kemudian, sebuah kalung indah selesai di buat oleh Ares. Ares meletakkan kalung tersebut, lalu dia mengambil sebuah batu berwarna biru gelap seukuran telapak tangan. Batu tersebut merupakan batu giok yang sangat langka. Ares ingin menggunakan batu tersebut untuk di jadik

  • Ampun Tuan, Aku Lemas!   Ban 119 Janji Desi

    Ares menatap Meli dan Sisil, lalu menjelaskan. "Kalau pakai cara biasa, akan membuang sia-sia bakatnya. Desi memiliki hal pendukung kultivasi yang sangat baik, bisa di bilang, sangat mirip dengan kalian berdua," Meli dan Sisil mengangguk paham. "Aku gak nyangka, ternyata Saudari Desi calon jenius," ucap Meli dengan antusias. "Iya... perkembangannya mungkin akan sangat cepat," tambah Sisil. "Kalau dia di bimbing sedari dulu, mungkin sekarang, dia sudah setara kalian," ucap Ares dengan santai. Meli dan Sisil mengangguk setuju. "Sangat banyak orang jenius, tapi sayangnya terpendam di kehidupan fana," ucap Meli dengan nada prihatin. Ucapan wanita itu di beri anggukan setuju oleh Ares dan Meli. === Beberapa menit kemudian, Desi membuka matanya. Dia telah selesai berkultivasi awal dan menyerap semua pengetahuan kultivasi yang di berikan oleh Ares. Desi bangkit berdiri, lalu menghampiri Ares dan langsung memeluk pria itu. Ekspresi wajahnya tampak sangat gembira. "Tuan muda, aku

  • Ampun Tuan, Aku Lemas!   Bab 117 Di Akui Sebagai Wanitanya

    Sampai di dalam, Ares menyuruh wanita itu duduk di sofa. Setelah Desi duduk, Ares pergi mengambil minuman di dapur. Desi merasa tak enak hati saat melihat Ares yang justru melayaninya. Tak lama kemudian, Ares kembali membawa dua gelas jus buah untuk dirinya dan untuk Desi. "Silakan di minum,

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-04
  • Ampun Tuan, Aku Lemas!   Bab 104 Sembur Wajah Suami++

    Setelah sensasi nikmat itu berlalu, Tante Yuna mencabut batang Ares dari apemnya. "Tante... ayo kita lanjut!" ajak Ares sambil menarik Tante Yuna turun dari tempat tidur, lalu membawanya ke sisi suaminya. "Mau gaya apa yang kamu pakai menantuku?

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-02
  • Ampun Tuan, Aku Lemas!   Bab 88 Ramalan Kesedihan

    Beberapa menit kemudian, seorang pria bertubuh kekar dengan ekspresi dingin tiba di kediaman keluarga Xiyu. dia diantar oleh seorang asisten rumah tangga menuju aula utama. Saat melihat Ares, pria itu buru-buru membungkuk hormat. "Tuan muda," sapa pria itu. "Jangan t

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-30
  • Ampun Tuan, Aku Lemas!   Bab 82 Keysha Takluk?

    "Sayang, kamu datang! aku kira kamu gak akan me menemuiku," ucap Keysha manja, sambil menatap Ares dengan tatapan penuh cinta. "Tentu saja aku datang, aku ingin melihat wanitaku yang cantik!" balas Ares sambil mencolek hidung Keysha. Tak lama, pelukan itu terlepas, Ares melingkarkan tangannya di

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-29
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status