Se connecterAres menelepon Meli, menyuruhnya datang ke rumah sakit, membawa mobil yang cukup nyaman untuk membawa Ibunya Sinta. Ares bahkan tidak sudi, menyewa ambulans dari rumah sakit tersebut.
Saat Ares dan Sinta sedang membayar uang rawat inap ibunya Sinta. Tiba-tiba seorang Dokter pria dewasa, memimpin para dokter menghampiri Ares. Ares mengerutkan kening. "Maaf, apakah anda keluarga pasien pengidap tumor ganas itu?" tanya pria tersebut. "Ya ada apa?" balas Ares, tidak sopan sama sekali. "Saya merasa tersinggung! pasien di rawat di rumah sakit ini, tetapi akan di operasi di rumah sakit lain. Bukankah itu seperti menghina rumah sakit ini?" ucap dokter pria tersebut, dengan ekspresi muram. "Jika memang menyinggung, kalian bisa apa?" balas Ares, dengan perkataan menantang. Pria tersebut seketika terdiam wajahnya semakin gelap. Dia menatap Ares dengan tatapan tajam. "Apakah anda tidak tau siapa saya?" tanya pria tersebut, dengan nada sedikit keras. "Saya tidak tau! walaupun anda mempunyai latar belakang kuat, aku tidak takut sama sekali!" balas Ares. "Ka kamu!" teriak dokter pria itu, sambil menunjuk wajah Ares. "Jangan menunjukku seperti itu! kalo tidak, tanganmu sebagian gantinya!" ucap Ares, dengan nada dingin. "Kau berani, aku akan," sebelum perkataan pria tersebut selesai, Ares menendang tangannya yang di pakai menunjuk wajah Ares. BUGH KRAKK "ARGGH" Teriakan memilukan di ikuti tubuh yang terpental ke belakang. "Kau tidak mendengar perkataanku! aku sangat muak melihat orang yang so berkuasa sepertimu! aku tau kau lah yang menyuruh kami dokter disini agar tidak mengambil tindakan operasi karena masalah biaya, kau begitu kejam!" kritik Ares, dengan nada keras. Sinta menatap kejadian tersebut dengan tatapan tercengang, dan begitu pula dengan para dokter dan pengunjung rumah sakit. "Tuan muda, sudah sudah tidak apa apa! aku tidak mau kamu mendapatkan masalah!" Sinta buru-buru menenangkan Ares. Ares menatap Sinta, sambil tersenyum. "Tidak masalah! aku paling suka mendapatkan masalah!" balas Ares, sambil menepuk kepala Sinta. Sinta terdiam tidak bisa berkata-kata. Sebuah mobil ferrari merah dan mobil rolls royce, berhenti di depan pintu masuk rumah sakit. Meli dan Sisil keluar dari mobil ferrari, lalu seorang pria dewasa keluar dari mobil rolls royce. Meli dan Sisil menghampiri Ares dengan langkah cepat, karena mereka melihat sepertinya ada keributan. "Halo tuan muda," sapa Meli dan Sisil, menyapa dengan anggun. Saat para dokter dan pria yang di pukuli Ares terkejut, saat melihat kedatangan dua wanita tersebut, Karena mereka mengenali kedua wanita itu. "Maaf merepotkan kalian!" ucap Ares, sambil tersenyum. "Tidak masalah! lagi pula kami bawahan anda!" balas Sisil sambil tersenyum menggoda. Meli mengeringkan kening melihat pria terkapar dengan tangan patah, dia pun menanyakan apa yang terjadi. Sinta menjelaskan kepada Meli dan Sisil. Setelah mengetahui masalah tersebut, kedua wanita itu sangat marah. "Anda seorang petinggi dari keluarga sien sangat berani. Mariku lihat sampai kapan rumah sakit ini akan berdiri!" ucap Meli, dengan nada dingin. "Tuan muda, apakah kamu ingin perang dengan keluarga kecil itu? jika iyah aku akan mengumumkannya secara langsung," sahut Sisil, dengan nada santai tapi kejam. "Tidak perlu! tapi jika mereka mencari ulah, bantai saja!" balas Ares dengan nada santai. Semua orang termasuk Sinta yang mendengar obrolan Ares bersama kedua wanita itu, sangat terkejut dan penasaran. Apalagi Sinta, dia sangat penasaran siapa sebenarnya Ares. Mengingat karu Bank VIP milik Bank Dunia, dia sudah bisa menebak secara kasar, bahwa identitas Ares tidaklah sederhana. Merekapun pergi dari rumah sakit itu, Ibunya Sinta di bawa dengan mobil rolls royce bersama Sinta, yang lainnya menggunakan mobil masing-masing. "Nak, siapa sebenarnya tuan muda tadi? dia sangat tampan dan berkuasa," tanya Ibunya Sinta. "Bu, dia temanku, uang untuk mengobati ibu, aku pinjam darinya!" jawab Sinta. Mendengar hal itu, Ibunya Sinta menjadi sedih, "Nak maafkan ibu, selalu merepotkan mu!" ucap Ibu Sinta. "Ibu jangan bilang seperti itu! ibu dan adik adalah keluargaku yang berharga, aku hanya memiliki kalian, aku tidak ingin kehilangan kalian!" balas Sinta. "Nak, tuan muda tadi sangat baik kepadamu, dan juga dia sangatlah menjunjung tinggi kebenaran. Ibu sangat kagum kepadanya. Di jaman sekarang jarang sekali orang kaya mau melirik orang biasa seperti kita!" ucap Ibunya Sinta. "Tuan muda kami sangat baik, walaupun dia yah sedikit nakal!" sahut sopir mobil dengan nada bercanda. "Pak sopir sangat mengenal tuan muda?" tanya Sinta penasaran. "Aku tidak terlalu mengenalnya Nona, karena aku hanya bawahan biasa. Aku tahu kepribadian tuan muda dari rekan rekan yang sering bersama tuan muda di luar negeri!" balas Sopir itu menjelaskan. "Berati identitas tuan muda sangat lah besar?" tanya Sinta penasaran. Tapi sopir itu hanya tersenyum tidak menjawabnya. Lebih dari 30 menit, mereka baru sampai di rumah sakit terbaik di kota moon. Sinta cukup terkejut, karena Ares membawa Ibunya ke rumah sakit terbaik milik keluarga nomor 1 yaitu keluarga libo. Beberapa perawat langsung membawa Ibunya Sinta menggunakan brankar atau tempat tidur dorong. Ares dan kelompoknya mengikuti para perawat itu dari belakang. Sampai di ruangan, seorang dokter yang sudah tua langsung memeriksa ibunya Sinta. Setelah memeriksa, dokter tersebut menghela nafas berat. "Ada apa dok?" tanya Sinta khawatir. "Nona tumor ibu anda sudah sangat parah. Jika di operasi sekalipun kemungkinan berhasil hanya 20%!" dokter tersebut menjelaskan. "Dok, aku yang mengambil tindakan pengobatan, apakah bisa?" tanya Ares. "Maksud anda?" dokter itu kebingungan. "Sayapun ahli medis, saya hanya butuh peralatan operasi!" ucap Ares. "Apakah anda seorang dokter?" tanya dokter tua itu, dengan ekspresi tidak percaya. "Silakan cek saja ijin medis saya! nama saya Ares Sword, bisa di cek di internet!" balas Ares. Dokter tua itu buru-buru menyuruh perawat mengecek data ijin medis Ares. "Dok, tuan muda ini memang seorang dokter. Dia lulusan universitas luar negeri, dengan nilai terbaik, bahkan keterampilan medisnya sangat menakjubkan. Selain pengobatan modern, tuan muda ini ahli dalam pengobatan tradisional," ucap perawat tersebut. Semua orang terkejut, karena Ares masihlah sangat muda, tapi dia sudah sangat menakjubkan dalam hal medis. "Jika begitu, saya memberikan ijin kepada anda untuk mengambil tindakan!" Dokter tua itu memutuskan dengan tegas. "Dan perkenalkan saya Yaozi Libo," ucap dokter tua itu, dengan ramah. "Saya Ares Sword, salam kenal," balas Ares. "Apa anda ingin mengambil tindakan sekarang?" tanya Dokter Yaozi. "Sebentar, saya akan memberi akupunktur terlebih dahulu, untuk mengoptimalkan energi di tubuhnya," balas Ares. "Baik!" Dokter Yaozi mengangguk. Dia tidak banyak bertanya, karena dia tau Ares seorang ahli medis tradisional juga. Ares meminta jarum akupunktur kepada perawat. Perawat tersebut pergi mengambilnya, dan tidak lama perawat itu kembali.Ares menarik wajahnya dari area apem wanita itu. Dia pun duduk sambil menonton Desi yang sedang menikmati puncaknya itu.Setelah rasa nikmat itu berlalu, Desi membuka matanya, bangkit, lalu duduk.Ares menyandarkan tubuhnya, lalu memberi kode kepada wanita itu, dengan cara menunjuk batangnya.Desi berpikir sejenak untuk memahami kode itu, akhirnya dia mengerti apa maksud dari kode tersebut.Desi menyunggingkan senyuman tipis. Dia bergerak turun dari sofa, lalu berlutut di hadapan Ares. Mata indahnya itu terus menatap Ares dengan sorot mata panas. Kemudian tangan lembutnya mencengkeram batang Ares, lalu mulai mengocoknya naik turun."Aku kira... kamu gak ngerti," ucap Ares dengan nada main-main."Aku banyak belajar dari video dewasa! tentu saja mengerti," balas Desi dengan nada genit."Aku ingin melihat.... seberapa jauh kamu belajar! kalau kamu berhasil membuatku nikmat, berati kamu sudah sangat pandai," ujar Ares."Baiklah, akan aku tunjukkan," balas Desi.Desi menjulurkan lidahnya,
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Ares dengan nada santai. Dia tak keberatan dengan permintaan wanita itu. "Sebenarnya aku ingin membuka usaha sendiri. Aku ingin berkembang, tidak mau selamanya menjadi pekerja," ucap Desi dengan tegas. "Itu bukan masalah! sebutkan saja berapa yang kamu butuhkan! aku akan memberikannya," ujar Ares dengan nada santai. Tangan nakal pria itu sudah merambat area payudara wanita itu, dan perlahan membuka kancing kemeja di area tersebut. Desi membiarkan apa yang di lakukan Ares, dia tampak fokus berpikir. "Aku ingin membuka tempat pemandian air hangat dan sekaligus tempat pijat! aku belum sih kalau masalah modalnya," ucap Desi. "Gak masalah! aku akan memberikan modal yang cukup untukmu membangun tempat pemandian dan tempat pijat yang mewah," Ares berkata dengan serius. Desi menggelengkan kepalanya. "Gak perlu terlalu mewah, tempat sederhana sudah cukup! kalau terlalu mewah, aku akan sulit mengembalikan uang tuan muda," ucap Desi buru-buru. Be
Ares mengambil ponselnya di kantungnya celananya, kemudian dia mengambil beberapa foto token tersebut, lalu mengirimkannya ke anggota di pusat Organisasi Star Moon.Ares menelepon seorang anggota pusat. Dia memberi instruksi untuk mencari tahu tentang token kunci tersebut.Tak lama, telepon berakhir."Masalah token selesai. Sekarang tinggal mengatasi masalah hasratku ini! kalau gak di atasi bisa bahaya," ucapnya dengan nada nakal.Ares bangkit, lalu melangkah pergi keluar dari ruangan tersebut. Tak lupa, dia menutup pintu ruangan itu.====Ares berkeliling di dalam gedung perusahaan. Sepanjang jalan dia bertemu banyak karyawan wanita, namun tak ada satupun yang menarik perhatiannya."Gak ada satupun yang menggugah selera," gumam Ares di dalam hati dengan nada pahit.Ares berpikir, jika dia tak menemukan wanita cantik di sini, dia akan pergi ke Club Moon Light untuk meminta jatah kepada Meli atau Sisil.Saat dia hendak masuk ke dalam lift dan turun ke lantai bawah, tiba-tiba ada seoran
Tiba-tiba, notifikasi pesan memecah suasana. Notifikasi pesan tersebut berasal dari ponsel Cantika. Cantika segera meraih ponselnya dan membuka pesan yang baru saja masuk itu. Setelah membacanya, Cantika berkata, "Ares, aku harus pergi! ada pekerjaan yang harus aku urus," ucap Cantika dengan nada lesu. Ares mengelus rambut bergelombang wanita itu dengan lembut sambil membalas, "Kalau kamu merindukanku, hubungi saja aku! aku pasti menemuimu." Cantika mengangguk, sambil menyunggingkan senyuman cerah. Cantika melepaskan pelukannya, mengambil tasnya, lalu bangkit. "Bu, aku pergi yah!" ucap Cantika kepada Tante Sandra. "Iya, hati-hati di jalan," balas Tante Sandra dengan nada lembut. "Dah... pria tampan, sampai berjumpa kembali," Cantika melambaikan tangannya ke arah Ares, lalu melangkah pergi dari ruangan tersebut. Cantika tak menanyakan kenapa Ares masih berada di sana. Entah karena dia lupa, tau tidak memedulikan hal tersebut. ==== Setelah Cantika sudah pergi jauh.
Ares terus mengamati patung itu dengan hati-hati. Setelah selesai mengamati patung tersebut, dia meletakkannya di meja. Ekspresi wajahnya tampak serius. Melihat ekspresi serius Ares, Tante Sandra dan Cantika menjadi penasaran. "Ada apa?" tanya Cantika penasaran. "Apa ada yang salah?" tanya Tante Sandra. "Patung kecil ini memiliki energi jahat. Patung ini berasal dari para kultivator jahat di jaman kuno," balas Ares dengan nada serius. Mendengar itu, Tante Sandra dan Cantika menjadi sedikit takut. "Apa kamu serius? kamu gak bohong kan?" Cantik memastikan kembali. "Aku serius! aku pun pernah menemukannya dulu saat sedang menjelajahi situs kuno," tegas Ares. "Ares... apa patung ini berbahaya?" tanya Tante Sandra dengan nada waspada. "Sangat bahaya! tapi... itu pun, kalau patung ini terus di simpan di dekat pemiliknya. Patung ini mengandung energi kematian. Kalau energi kematian terus meresap ke tubuh seseorang, energi kehidupan seseorang tersebut pasti terus melemah,
Ares menurunkan pandangannya ke arah payudara besar wanita dewasa itu. Tante Sandra mengikuti arah pandang Ares. Saat melihat posisi tubuhnya apalagi payudaranya yang menempel erat di tubuh Ares. Saat Tante Sandra ingin menarik jarak, Ares terburu-buru melingkarkan tangannya di pinggang Tante Sandra, agar wanita itu tak bisa menjauh darinya. Tante Sandra sangat terkejut dengan tindakan berani Ares. "Ares... kamu mau apa?" tanya Tante Sandra dengan nada sedikit waspada. "Tante, jangan menjauh... ini sangat nyaman," ucap Ares dengan nada nakal. "Ares, jangan gini... tante gak bisa seperti ini," ucap Tante Sandra diburu-buru sambil memberontak. Ares memperkuat kuncian tangannya di pinggang wanita itu. Ares mengeluarkan aura penggoda agar dirinya tampak lebih memikat. "Aku sangat menyukai tante," goda Ares dengan nada berani. Mendengar itu, Tante S







