LOGINAmira Cross’ brother is suffering from an ancient curse that's driving him mad, so she enrolls in Madland the magic academy, under the name of Alice Abbott, searching for a cure. Upon arrival, Amira meets a vampire professor who takes her under his wing. But as Amira delves deeper into the academy's secrets, she realizes that not everything is as it seems. Strange occurrences, eerie whispers, and a growing sense of dread follow her every step. Amira finds herself caught in a web of dark secrets and forbidden desires. With each passing moment, the lines between right and wrong become blurred, leaving her questioning everything she knows about herself and the academy, and if her vampire mentor is really her protector or if he has a sinister agenda of his own. Will Amira find the cure she seeks, or will she become trapped in the darkness of the academy's secrets? Discover the truth in this gripping tale of magic, love, madness, and the pursuit of knowledge.
View MoreKaki dalam balutan Louboutin itu tidak menghambat langkah cepatnya. Rok cream span selutut dengan balutan kemeja lengan panjang berwarna pink blush masih rapi di tubuh rampingnya. Tangannya terulur mengambil jas dari tangan Sella, asistennya, lalu tanpa berkata apa-apa langsung memakainya. Rambut panjangnya ia rapikan juga. Tangan lentiknya mengibaskan rambutnya dengan ringan dan menyelipkan ke belakang telinga kanan.
Cahaya Anindiya Suwira, anak kedua dari Surya Suwira itu menghentikan langkahnya. “Papa pasti nanyain lagi soal Arya, kan?” tanya Aya kembali melangkah saat pintu lift terbuka di depannya. “Bukan, Bu, kalau soal Pak Arya, Pak Surya gak akan bilang mau kenalin seseorang ke Bu Aya,” jawab Sella yang sudah menekan tombol basement. “Terus Papa gak bilang apa-apa lagi?” Sella mengangguk. “Misterius banget sih Pak Surya,” Aya terkekeh pelan lalu merogoh saku jasnya, mencari ponsel. “Kalau gitu jadwal saya siang ini dimundurin dua jam lagi ya, Sel,” pintanya kemudian sambil menandai alarm di ponselnya. “Siap, Bu,” jawab Sella sambil mengulurkan Chanel 25 milik Aya, saat tangan bosnya itu terulur padanya. Pintu lift terbuka, “Saya pergi dulu,” pamit Aya sambil keluar dari lift dan berjalan menuju Maserati GranTusimo miliknya. Masuk dengan luwes dan segera meluncur meninggalkan gedung Suryas Corporation. -*- Membelokkan mobil ke gerbang rumah yang sudah dibukakan, Aya menurunkan jendela dan tersenyum ramah, “Makasih, Pak Dayat,” katanya pada satpam rumah. Pak Dayat mengangguk hormat, namun tatapannya kali ini berbeda. Aya menangkap tatapan itu tapi ia tidak bertanya. Ia lurus membawa mobilnya masuk ke dalam parkiran luas di depan pintu garasi yang terbuka setengah. Menghentikan mobil diluar pintu, Aya melirik ke dalam garasi. Di dalamnya Aya bisa melihat Mercy milik mamanya, juga Bentley milik Papa. Matanya memincing, “Siang gini Mama juga udah pulang?” Merasa aneh. Mama dan Papanya adalah dua orang yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Mama menjadi CEO di Mahkota Skincare yang sekarang sedang sibuk dengan pengembangan Skin Clinic-nya, yang biasanya tidak bisa diganggu sampai jam pulang nanti. Papa juga yang masih menjabat sebagai Komisaris di Suryas Corp biasanya masih punya jadwal super padat. Aya saja yang mendampingi Papa sebagai CFO sibuknya bukan main. Meraih tasnya, ia membuka pintu. Langkahnya kembali terhenti saat melihat Ferrari yang dikenalnya masuk ke halaman. Senyumnya mengembang saat pemilik mobil merah itu keluar. Lelaki dengan setelan jas yang rapi itu berjalan ke arahnya dan memeluk Aya dengan luwes. “Kakak dipanggil pulang juga?” tanya Aya sambil membalas pelukan singkat itu. Lelaki yang dipanggil kakak itu mengangguk. Chandra Arjuna Suwira, Si Sulung keluarga Suwira itu melepaskan pelukannya, “Kamu belum dapet bocoran apa-apa dari Sella?” tanyanya. Aya menggeleng pelan. Wajah keduanya sama-sama mempesona, tampan dan cantik yang terawat dengan sangat baik. Meski dari sudut manapun, keduanya tidak punya kesamaan sebagai kakak-adik. Namun keduanya adalah anak dari Surya Suwira dan Meilani Hidayat. Pasangan pengusaha sukses dalam bidangnya masing-masing. Mempersilakan Aya menaiki tangga batu lebih dulu untuk sampai ke pintu depan, Chandra mengekorinya dari belakang. “Jangan sampai kejutannya adalah Mama hamil adik kita, ya, Ya?” Aya terkikik, berbalik, dan menepuk pelan lengan Chandra. Bagaimana bisa kakaknya berpikir seperti itu. “Kak, Mama udah menopouse, gak mungkin hamil dong,” jawabnya dengan kening sama berkerutnya. Tertular tawa mengikik Aya, Chandra tersenyum, “Ayo kita lihat kebenarannya,” ajaknya yang segera dijawab dengan anggukan penuh semangat dari Aya. Melewati taman depan rumah yang membuat udara sejuk di teras, dengan pohon-pohon palem, melati belanda yang merambat dan berbunga lebat, juga rimbunnya monstera di pojok teras. Chandra menyamakan langkah dengan adiknya yang terpaut jarak empat tahun darinya itu. Tangannya terangkat dan dengan jahilnya mengacak rambut Aya yang setiap pagi diblowdry sejak subuh. “Kakak!” gelegar Aya dengan kesal. Kakinya menyentak lantai sambil meraih rambut berantakannya. Yang berbuat jahil sudah lebih dulu berlari ke dalam rumah dalam tawa berderai. Aya tidak peduli ia masih memakai Louboutin delapan centi, ia berlari mengejar Chandra yang sudah tidak terlihat, ikut masuk ke dalam rumah mewah bernuansa kayu dan alam itu. Membiarkan pintu depan terbuka begitu saja. Berbelok di tembok yang memisahkan ruang tamu dan ruang keluarga, Ia melihatnya, punggung Chandra yang berhenti tepat beberapa langkah di depannya. “Kakak jail banget sih, aku masih ada meeting sesudah dari si—“ Suara Aya berhenti. Chandra juga tidak berusaha melarikan diri lagi. Mengikuti arah pandang kakaknya, Aya menatap Papa dan Mama di depannya. Berdiri menyambut Aya dan Chandra. Senyum merekah di wajah keduanya. Namun bukan pemandangan itu yang menyita perhatian kakak-adik itu yang kompak diam mematung. Di depan mereka, di antara kedua orang tuanya, diapit oleh Mama dan Papa mereka, berdiri seorang gadis yang tersenyum kaku pada keduanya. Aya berkedip. Chandra yang lebih dulu pulih dari keterkejutannya. “Ada apa ini, Mah? Pah?” tanyanya. Mei dan Surya tersenyum, namun baik Chandra atau Aya, keduanya bisa melihat binar terharu di mata mereka. “Kami menemukannya,” ucap Papa. Lelaki hampir enam puluh itu tersenyum menoleh pada gadis di sampingnya. Menatap dengan penuh cinta dan haru. Mei mengangkat tangan menyeka ujung matanya, lalu tangan kanannya merangkul pundak gadis itu. Aya memerhatikannya, sepertinya mereka seumuran. Hanya saja, penampilan gadis di samping Mei terlihat sangat sederhana. Rambut panjang lurusnya berwarna hitam menyampir di bahunya. Blouse knit hitam dan celana jeansnya sesederhana wajahnya yang tanpa riasan. “Mah?” suara Chandra membuat Aya menoleh pada kakak lelakinya itu. Setelah mengusap kembali sudut matanya, Mei tersenyum, “Kami menemukan adik kamu yang asli, Chandra.” Deg! Aya mengalihkan padangannya pada Mamanya yang mengangguk, pada Papanya yang tersenyum, lalu pada Chandra yang sama-sama terkejut dengan dirinya. Kepala Aya menoleh kembali pada gadis di depannya. “Mama?” tanya Aya dengan suara tercekat. “Ini Carita, anak Mama yang tertukar sama kamu, Sayang,” jawab Mei dengan senyuman yang sama. Mata cokelat Aya berkedip. Senyuman dari wanita yang biasa ia panggil Mama masih hangat seperti biasa. Namun, kenapa hatinya perih begini? -*-I hesitated for a moment, unsure of how to respond. Sophie is my classmate. I remember seeing her in the class looking at me with concern when professor Darking asked me to be the representative. She looked gentle and good. Yet I thought I got myself in trouble! Taking a deep breath, I nodded and gently stroked the bunny's soft fur. "Yes, it is," I admitted, my voice filled with a mix of guilt and excitement. "I found this bunny in a forbidden area, and I couldn't leave it behind. I've been keeping it as a secret pet." Sophie's eyes widened even more, but instead of expressing surprise or confusion, a smile spread across her face. "That's amazing! I always knew there was something special about you. Can I hold it?" seemed that our shared secret had created a unique bond, an opportunity for us to become closer friends. I smiled at her, appreciating her gentle and compassionate nature. "I trust you, Sophie," I said, my voice filled with gratitude. "Thank you for being so accepting.
"Come on, darling," Mr. Darking said, extending his hand towards the Chronically Delayed Bunny. The bunny hopped onto his palm with a grateful smile. "We should go back to school. They are searching for you everywhere. It's no longer safe to continue our magical trip.""May I bring the bunny?" I asked shyly."Of course, honey," Mr. Darking replied, his voice filled with warmth and reassurance. Mr Darking touched my forhead gently casting e sleeping spell on me. And I felt even dizzier.As we floated down from the teapot saucer, I felt exhaustion wash over me. The adrenaline of the chase had finally caught up, and I couldn't fight off the weariness any longer. Mr. Darking noticed my drooping eyelids and gently lifted me into his arms."You've had quite an adventure, my dear," he whispered softly. "It's time to rest now."He carried me through the enchanting land of tea-induced madness, past the peculiar creatures and the chaos of the chase. As we wa
As I twirled in the magical tea cups with the Chronically Delayed Bunny, the room around us transformed into a whimsical wonderland. The walls contorted and morphed into fantastical shapes, the cupcakes sprouted wings and flapped about like mischievous butterflies, and the tea cups elongated into flying saucers.Giggles erupted from me as I embraced the sheer absurdity of it all. "Bunny, it seems we have stumbled upon a land of tea-induced madness!"The Chronically Delayed Bunny nodded, his eyes sparkling with childlike wonder. "Indeed, dear Amira! This tea has whisked us away to a realm where whimsy reigns supreme!"As we soared through the air on our makeshift saucers, we were joined by an array of peculiar creatures. Mischievous Cheshire cats with wide grins trailed behind us, a flock of winged teapots poured tea on unsuspecting passersby, and a dapper mouse led a parade of dancing playing cards.Unable to resist, I joined the merriment and began to da
"Ladies and gentlemen! I brought you Alice!" Mr. Darking announced, his voice echoing through the room. The black-coated and white-hatted individuals turned their attention towards me, their eyes wide with curiosity. I blinked, feeling a bit overwhelmed by the sudden attention. "Um, hello," I greeted with a sheepish smile. "Nice to meet all of you, I suppose." A man in a black coat with a remarkably long and crooked nose stepped forward, adjusting his hat. "Ah, the elusive Alice! We've been awaiting your arrival for quite some time," he said, his voice nasally and dramatic. "And who might you be?" I asked, trying to keep a straight face but failing miserably. "I am the Notorious Nosedive, the Grand Inquisitor of the Black Coats!" he exclaimed dramatically, striking a pose. I stifled a giggle. "The Notorious Nosedive? Well, that's quite a name you've got there." Meanwhile, a woman in a white hat with a fluffy feather stepped forward, her voice tinged with excitement. "And I am Mis
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.