Share

Bab 208

Author: Rizu Key
last update publish date: 2026-04-15 21:20:31

"Ayah cepatlah mandi, lalu kita makan," ucap Aya sembari berjalan mendekat.

"Iya, Bunda."

Setelah Ibra membersihkan diri dan berganti pakaian santai, mereka bertiga berkumpul di meja makan. Menu malam ini sederhana namun menggugah selera, favorit Ibra karena tidak ada bau bawang sama sekali. Selama makan, Putra bercerita dengan antusias tentang kegiatannya di sekolah dan bagaimana Lili hampir saja menjatuhkan vas bunga di ruang tamu, lalu dengan pertemuannya dengan Niko.

Aya lebih
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 209

    Sementara itu, suasana di kantor pusat Bagaskara Group berbanding terbalik 180 derajat. Langit siang hari di kota itu yang mendung seolah menjadi latar belakang yang sempurna untuk kekacauan yang akan meledak.Pukul dua siang. Hanya tersisa kurang dari dua puluh empat jam sebelum 'grand launching' proyek besar dan terbaru Bagaskara Group yang disusun oleh tim Ibra, serta merupakan ide dari Aya dan Ibra. Sebuah mega-proyek superblok ramah lingkungan yang diprediksi akan merevolusi pasar properti Asia Tenggara.Saat Ibra baru saja menyesap teh camomile buatan Aya, tiba-tiba saja pintu ruang kerjanya dihantam terbuka tanpa ketukan.Brak!Ibra tentu saja terkejut. Dirinya ingin marah atas ketidak sopanan Samuel. Namun saat melihat Samuel masuk dengan wajah sepucat kertas, napasnya memburu, dan tablet di tangannya gemetar. Pria itu mengurungkan niatnya dan kini malah berubah cemas."Pak Ibra... kita punya masalah besar. Masalah yang sangat buruk." Suara Samuel tercekat."Tenangkan dirimu,

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 208

    "Ayah cepatlah mandi, lalu kita makan," ucap Aya sembari berjalan mendekat."Iya, Bunda."Setelah Ibra membersihkan diri dan berganti pakaian santai, mereka bertiga berkumpul di meja makan. Menu malam ini sederhana namun menggugah selera, favorit Ibra karena tidak ada bau bawang sama sekali. Selama makan, Putra bercerita dengan antusias tentang kegiatannya di sekolah dan bagaimana Lili hampir saja menjatuhkan vas bunga di ruang tamu, lalu dengan pertemuannya dengan Niko.Aya lebih banyak diam, namun matanya tak lepas dari suaminya. Ia melihat gurat lelah di sudut mata Ibra, sebuah kelelahan yang berusaha disembunyikan di balik senyum tegasnya. Ada rasa rindu di hati Aya untuk kembali duduk di samping Ibra di kantor, menyusun strategi dan menghadapi musuh bersama. Namun, ia tahu Ibra sangat keras kepala soal kesehatannya sekarang. Apa lagi karena ia mengandung anak kedua mereka dan pria itu sangat protektif."Mas," panggil Aya lembut. Ibra pun menoleh menatap istrinya

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 207

    Aya memeluk sahabatnya itu. "Aku yakin Mas Niko-mu pasti akan segera sembuh. Kalian juga pasti akan hidup bahagia.""Aamiin, Ay. Makasih."Kembali lagi pada Putra dan Niko, keduanya tampak begitu akrab."Oh iya, Om Niko harus lihat Lili!""Lili siapa?""Kucing Putra yang sudah kaya adek sendiri. Dia sudah besar sekarang!" Putra menarik tangan Niko menuju halaman belakang."Jangan lari-lari, Sayang!" seru Aya memperingatkan."Iya, Bunda. Ayo, Om!"Gina dan Aya hanya memerhatikan dari kejauhan, membiarkan mereka bermain, sementara para wanita itu berbincang di paviliun kecil.Di halaman belakang yang dipenuhi dengan tanaman dan bunga, Putra memanggil Lili, kucing putih kesayangannya. Kucing itu mengeong manja, melompat-lompat mengejar bola bulu yang dilemparkan Putra. Niko tertawa kecil, meski sesekali ia harus menutup mulutnya karena batuk yang tertahan."Dia sangat aktif, ya?" ujar Niko terdengar lemah."Iya, Oma. Ayah bilang Lili harus rajin olahraga supaya tidak malas seperti kucing

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 206

    'Tidak mungkin Samuel yang melakukannya... Tidak mungkin dia berkhianat. Dia sudah cukup lama bekerja bersamaku dan membereskan masalah denganku,' gumam Ibra dalam hati. Mulai ragu dengan pemikirannya sendiri.Ibra termenung cukup lama di kursinya. Kata-kata dalam pesan itu seolah menjadi racun yang perlahan merayap di pikirannya. 'Senyum yang paling kamu kenal.'Siapa lagi yang paling sering tersenyum di dekatnya selain Aya, Samuel, dan Sinta? Samuel, asistennya itu selalu tahu kapan harus memberikan dukungan, kapan harus bergerak cepat, dan kapan harus menenangkan keadaan. Namun, pemikiran itu segera ditepisnya. Ibra menggelengkan kepala, mencoba mengusir keraguan yang mulai menyelimuti pikirannya."Tidak, Samuel sudah bersamaku sejak aku masih merintis di posisi bawah. Dia tidak punya alasan untuk menghancurkanku," bisiknya pada diri sendiri. Namun, benih kecurigaan adalah sesuatu yang berbahaya. Gara-gara pesan itu, pemikiran yang sekali ditanam, ia akan terus tumbuh

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 205

    Aya terdiam. "Maksudnya?" tanya wanita itu heran."Itu baru spekulasi, Aya. Tapi... setidaknya kita memang harus berhati-hati," jawab Ibra."Iya, Mas. Aku mengerti. Setidaknya masalah ini harus segera diselesaikan supaya kita bisa hidup tenang," imbuh Aya."Ya sudah. Sekarang kita tidur. Ibu hamil nggak boleh begadang. Besok aku akan meminta laporan penyelidikan lagi," ujar Ibra lembut sembari mengelus perut Aya.Wanita itu perlahan berbaring. Ibra membantunya memakai selimut dengan gerakan lembut."Tidurlah," ucap Ibra lembut sembari mencium kening istrinya dan dirinya ikut berbaring. Tak lupa pria itu mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.Malam itu, hujan turun rintik-rintik di luar. Di dalam kamar dengan pencahayaan yang remang-remang, Ibra berbaring menyamping, memeluk Aya dari belakang. Tangannya mengusap lembut perut Aya yang sudah besar, ingin merasakan gerakan halus dari calon buah hati mereka."Dia... semoga sehat dan semakin besar biar aku bisa merasakan

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 204

    Samuel tertegun mendengar perintah itu. "Audit menyeluruh, Pak? Termasuk keluarga dan orang kepercayaan Anda?" tanya pria itu.Ibra tidak menjawab. Matanya yang sedingin es sudah cukup menjadi jawaban. Samuel segera mengangguk patuh dan melangkah keluar dengan cepat, meninggalkan Ibra sendirian di ruang rapat yang kini terasa mencekam."Sam," panggil Ibra kemudian."Iya, Pak?""Periksa saja orang-orang terdekat. Termasuk para tim IT. Periksa mereka lagi. Juga... periksa para mitra saat ini. Apakah mereka melakukan tindakan yang mencurigakan akhir-akhir ini atau tidak. Soal keluargaku, biar aku sendiri yang memastikan," lanjutnya.Samuel menatap wajah sang Presdir. "Maaf, Pak. Apa Anda mencurigai Bu Aya?" tanyanya.Ibra diam lagi. Lalu pria itu menatap ke luar jendela yang menunjukkan gedung pencakar langit lain di sebelah gedung perusahaannya."Aku sendiri tidak percaya. Aya tidak pernah memiliki niat seperti itu. Tapi untuk meyakinkan dan mencari bukti kalau istriku tidak bersalah, a

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 44

    Seseorang turun dari sebuah mobil mewah. Aya menyadari kehadirannya dan segera mendongak. Kedua matanya membulat saat melihat siapa yang saat ini berlari ke arahnya."Aya!"Sebelum wanita itu sempat merespon, tubuhnya dipeluk erat."Aya... astaga... Aku benar-benar rindu padamu, Ay... Bagaimana kab

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 42

    Pertanyaan polos namun tajam dari bocah berusia lima tahun itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang menyesakkan di dalam mobil mewah tersebut. Ibra, pria yang biasanya memiliki jawaban untuk segala negosiasi bisnis bernilai miliaran, kini mendadak diam. Lidahnya kelu, dan tenggorokan

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 40

    "Iya! Kamu Presdir Galak yang selalu menyuruh Bunda lembur sampai capek!" Putra menunjuk Ibra dengan jari telunjuknya yang mungil, meskipun matanya masih berkaca-kaca karena bingung.Ibra masih diam. Ia kembali menatap wajah mungil yang memang terlihat jelas seperti cetakan sempurna dirinya.

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 28 (18+)

    [Pastikan kamu ada di kantorku jam 7 tepat. Jangan terlambat satu detik pun.]Aya menghela napas, menatap bubur ayam yang sedang ia siapkan untuk Putra. Ia harus mengantar Putra ke sekolah lebih awal dari biasanya setelah menerima pesan singkat dari sang Presdir."Putra, bangun, Sayang," bisik Aya

    last updateLast Updated : 2026-03-19
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status