LOGIN"Aku tahu soal semuanya, Alia. Utangmu, keluargamu, semuanya. Kamu nggak perlu sembunyi lagi dariku." Alia Pramesti, lulusan cumlaude S1 Sastra Indonesia yang kini banting tulang bekerja sebagai kasir minimarket, menyimpan dua rahasia besar: Utang ratusan juta peninggalan ayahnya yang bunuh diri, dan hubungan diam-diam dengan Revan Wijaya, seorang jaksa paling disegani di kota, kekasihnya selama tiga bulan yang belum pernah dikenalkan pada siapa pun. Ketika ancaman Haji Rasyid membuat keluarganya di ambang kehancuran, Alia akhirnya luluh menerima uluran tangan Revan untuk melunasi semua utang, dengan satu syarat: Alia harus siap dikenalkan pada keluarga besarnya. Tapi di meja makan keluarga Wijaya yang megah, Alia justru berhadapan dengan wajah yang paling ingin ia hindari yaitu Farel, adik kandung Revan, pria yang pernah menjadi segalanya baginya selama tiga tahun, sebelum menghilang tanpa penjelasan setahun lalu. "Dari miliaran wanita di dunia ini, kenapa harus kamu yang jadi pacar kakakku?" Kini Alia terjebak di antara Revan yang posesif dan protektif, dan Farel yang menyimpan luka serta rahasia yang belum terungkap. Satu kesalahan, satu tatapan yang terlalu lama, bisa menghancurkan segalanya. Akankah Alia mampu menjaga rahasianya, atau masa lalu yang terkubur justru akan membongkar semuanya?
View MoreDari kejauhan, aku sudah melihat kerumunan kecil di depan kontrakan kami yang reyot. Aku segera berlari sekuat tenaga, napasku tersenggal-senggal, jantungku berdebar kencang menembus keramaian sore.
Baru saja aku pulang berkencan dengan pacarku, tapi entah kenapa nasib malangku seolah tidak pernah membiarkanku bahagia lebih dari beberapa jam. Yang lebih buruk, ini bukan kerumunan warga yang biasanya menggosip. Haji Rasyid berdiri di tengah halaman, diapit dua orang suruhannya yang bertubuh kekar. Tiap kali berbicara, ia sengaja mengeraskannya supaya menggema ke seluruh gang. Sementara ibu hanya bisa duduk berlutut. Dan adikku, Laras, yang masih mengenakan seragam SMA-nya berdiri di belakang ibu sambil memeluknya. Wajahnya pucat pasi dan tangannya bergetar hebat. "...tiga hari lagi, Bu Sari! Kalau utang ini nggak lunas, rumah ini kami sita besok juga. Dan aib keluarga kalian akan kami bongkar ke seluruh kampung. Biar semua tahu siapa yang suka ngutang lalu kabur tanpa tanggung jawab seperti suamimu yang pengecut itu!" Seketika kakiku lemas mendengar ucapan itu. Tapi aku memaksakan diri menerobos kerumunan dengan napas yang masih ngos-ngosan. "Pak Haji! Tolong... jangan di sini. Ada tetangga yang melihat semuanya! Kita masuk Pak Haji, ya? Kita bicarakan baik-baik," teriakku. Haji Rasyid menoleh, dia menarik garis bibirnya yang penuh ejekan itu. Kemudian matanya menyapu badanku dari kepala hingga ujung kaki. "Oh, Alia. Si lulusan universitas ini. Si tulang punggung keluarga yang katanya hebat ini. Utang ayahmu masih numpuk ratusan juta, tapi kamu malah sempat-sempatnya dandan rapi keluyuran." "Malu ya, diperlakukan di depan umum begini? Dulu ayahmu sok hebat, sekarang anaknya cuma bisa kabur-kaburan waktu ditagih hutang." Tetangga-tetangga mengintip dari balik pagar dan jendela. Sebagian berpura-pura menyapu halaman. Sebagian lagi hanya diam. Mereka juga sadar diri mempunyai utang pada Haji Rasyid. Dengan cepat aku berlutut di samping ibu, memeluk bahunya yang kurus sekali, tulang bahunya menonjol di bawah bajunya yang tipis. "Kasih waktu sedikit lagi, Pak Haji. Saya sedang usaha keras. Saya janji akan lunasi..." "Janji?" potong Haji Rasyid, kemudian tertawa pendek. "Ayahmu dulu juga janji. Enam bulan lalu bunuh diri dan meninggalkan utang dan keluarga yang hancur berantakan. Sekarang kalian mau ikut-ikutan lepas tanggung jawab?" ujar Haji. "Tiga hari. Titik. Kalau nggak, rumah ini kami kosongkan dan sita semua isinya." Salah satu suruhannya melempar amplop cokelat tebal ke tanah di depan kami. Amplop itu terbuka sedikit, memperlihatkan tumpukan kertas tagihan dan bunga yang terus membengkak. Haji Rasyid dan kedua anak buahnya berbalik pergi, langkah mereka berat menginjak kerikil dan genangan air di jalan gang. Suara motor mereka perlahan menjauh, tapi bisik-bisik tetangga justru semakin keras. Aku merasa seperti sedang telanjang, ditelanjangi oleh penghinaan ini. Akhirnya kerumunan bubar pelan-pelan. Kami bertiga masuk ke rumah, pintu ditutup pelan. Takut suara itu bakal menarik perhatian lebih banyak lagi. Rumah kontrakan ini kecil dan pengap, dindingnya sudah mengelupas cat, atapnya sering bocor saat hujan deras, dan lantai semennya sudah retak-retak. Dulu ayah bilang ini hanya sementara sambil menunggu proyek besarnya sukses. Sekarang ini jadi penjara bagi keluarga kami. Malam itu, setelah ibu dan Laras akhirnya tertidur karena kelelahan, aku duduk sendirian di kamarku yang hanya muat kasur tipis, meja belajar, dan lemari kecil. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip, suaranya berdengung menyayat telinga. Pikiranku melayang jauh ke enam bulan lalu. Ayah yang dulu selalu pulang membawa kabar baik tentang kerja sama dengan Firmansyah. Lalu tiba-tiba semuanya runtuh dalam semalam. Ayah dijebak, utang numpuk dan menggunung, dan pada suatu malam hujan deras ayah memilih jalan pintas untuk meninggalkan kami semua. Untung saja enam bulan yang lalu tepat waktu aku sudah wisuda. Saat ini bekerja sebagai kasir di suatu minimarket, sedangkan Laras diam-diam mencari kerja paruh waktu meski aku larang. Tapi semua itu pun belum cukup untuk melunasi utang Bapak. Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Air mata akhirnya jatuh deras, bahuku terguncang. "Kenapa, Pa? Kenapa tinggalin kami begini? Kami nggak tahu harus gimana lagi..." lirihku Aku merasa hancur total, seperti sedang tenggelam di lumpur yang semakin dalam. Tidak ada jalan keluar. Pinjam ke sana-sini sudah habis. Barang yang bisa dijual sudah hampir tidak ada lagi. Besok... tiga hari lagi kami benar-benar akan kehilangan atap di atas kepala. HP-ku bergetar keras di samping bantal. Nama Revan menyala di layar. Aku menyeka wajah cepat-cepat, menahan napas sebelum menekan tombol jawab. Setelah tiga bulan berpacaran diam-diam dengannya, aku masih belum terbiasa dengan jantung yang selalu berdebar tiap kali namanya muncul di layar. Apalagi malam ini, di tengah keributan yang baru saja kualami. "Halo?" suaraku serak, berusaha terdengar biasa saja. "Alia." Suaranya tenang seperti biasa, "Kamu kenapa? Suaramu aneh," lanjutnya "Nggak apa-apa," bohongku. "Cuma capek aja." Hening sejenak di ujung telepon. Cukup lama untuk membuatku gelisah. "Besok malam," katanya akhirnya, nadanya berubah. "Aku jemput kamu jam tujuh di tempat biasa. Ada yang mau aku omongin." "Mau ngomongin apa?" "Soal kamu, kita, dan keluarga kamu. Kamu lagi butuh bantuan kan? Aku bisa bantu." "Maksud ka-" "Besok kita ketemu aja, ya?" potong Revan. Telepon itu ditutup begitu saja. Aku menatap layar HP yang sudah gelap, jantungku berdegup kencang. Tiga bulan kami pacaran, dan sampai sekarang tidak ada satu pun yang tahu, termasuk Ibu, Laras, dan siapapun itu. Aku terlalu malu mengakui bahwa aku, yang hidupnya berantakan seperti ini, bisa dekat dengan seorang jaksa terkenal seperti dia. Apa maksud dia tentang keluarga aku. Aku tidak salah mendengarnya, kan? Revan membicarakannya seolah-olah dia tahu segalanya tentang keluargaku. Mungkin ini akhirnya...? Atau... mungkin, hanya mungkin, ini justru satu-satunya harapan yang tersisa di tengah keributan ini. Aku tidak tahu lagi harus percaya apa. Tapi besok malam, aku harus temui dia. Demi ibu. Demi Laras. Demi rumah ini yang mungkin masih bisa diselamatkan.Nadia sudah duduk di meja kantin ketika aku datang, dua kotak nasi di depannya. Satu sudah terbuka, satu lagi belum. "Duduk, Mbak." Dia menggeser kotak yang belum dibuka ke arahku, mengetuk tutupnya dua kali dengan ujung jari. "Ini buat Mbak. Anggap aja ucapan terima kasih. Kemarin itu, kalau Mbak nggak nemuin selisihnya, bisa berabe kita semua." Aku menatap kotak itu sebentar. Kemarin dia masih bilang kalau kamu salah, yang malu bukan cuma kamu. Hari ini, nasi padang di depanku. "Terima kasih," kataku, membuka kotaknya. Rendang, sayur nangka, sambal ijo. Masih hangat. Nadia sudah lebih dulu menyendok nasinya sendiri. "Mbak udah lama kerja di sini?" "Belum lama. Baru beberapa minggu." "Oh." Alisnya terangkat sedikit, seperti tidak menyangka. "Aku kira udah lama. Padahal aku lihat kemarin itu kayak orang yang udah biasa." "Kebetulan
Kami sudah berdiri di ruang tengah itu lama, mungkin dua menit tanpa bicara.Farel masih di sofa, map di pangkuannya. Aku masih berdiri dekat pintu, tas selempang belum kulepas. Ini benar-benar tidak nyaman.Terakhir kali kami benar-benar berdua di ruangan yang sama tanpa siapa pun, itu malam di hotel. Sejak itu, selalu ada orang ketiga, Revan, Maya, siapa pun. Farel menutup mapnya, berdeham kecil. "Kamu udah makan?"Pertanyaan itu keluar terlalu cepat, terlalu ringan, seperti dipaksakan untuk terdengar biasa."Udah," jawabku, meski belum."Oh." Dia mengangguk, menatap map di pangkuannya lagi, meski jelas tidak sedang membacanya. "Aku juga."Kami sama-sama berbohong soal hal sesederhana itu, dan kami berdua tahu itu, dan itu justru membuat keheningan berikutnya terasa lebih berat dari sebelumnya.Farel membuka mulutnya lagi. "Alia, aku—"Aku menahan napas. Tanganku mengepal di samping tubuh,
Mulai minggu ini, Revan membawaku ke hampir setiap rapat.Kasusnya menumpuk. Tiga berkas sekaligus mendarat di mejanya dalam dua hari, dan yang paling menyita waktu adalah kasus pengadaan komputer untuk sekolah-sekolah di kabupaten. Anggaran miliaran, spesifikasi tidak sesuai, tiga perusahaan saling terkait dalam rantai distribusi.Nadia ada di tim itu.Revan memperkenalkannya ulang pagi ini, lebih formal dari kemarin."Nadia, jaksa muda. Dipindahtugaskan dari Surabaya khusus buat kasus ini."Nadia mengangguk padaku, senyumnya sopan tapi tipis. Tidak ada lagi tatapan aneh waktu pertama ketemu. Atau mungkin aku yang terlalu sibuk memperhatikan tumpukan berkas untuk menyadari.Aku duduk di sudut ruangan, mencatat jadwal, menyusun map, menuangkan air mineral untuk tiga orang yang terlalu fokus berdebat soal angka untuk ingat minum sendiri."Margin distribusi tiga belas persen," kata Nadia, membacakan dar
Dua hari tanpa Maya, dan rumah ini terasa beda. Bukan sepi. Bu Wulan masih mondar-mandir di dapur, dua pelayan muda masih sibuk di taman. Tapi ada yang hilang. Langkah kaki paling pagi. Suara yang selalu menyapa sebelum siapa pun sempat bangun. Maya. Aku berdiri di depan jendela kamar, menatap taman yang masih basah. Dan yang bikin sesak bukan kehilangannya. Tapi caranya pergi. Mengakui segalanya, menaruh kartu akses di meja dan barang lainnya, lalu melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Tanpa diusir. Tanpa pernah terlihat kalah. Seolah dia sendiri yang memutuskan kapan cerita ini selesai. Bukan kami. Aku menghela napas, berbalik, lalu keluar kamar. Di ruang utama, Bu Wulan sudah berdiri tegak, mengarahkan dua pelayan muda menata vas bunga. "Selamat pagi, Mbak Alia," sapanya begitu melihatku, sedikit membungkuk yang dii






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.