로그인"Aku tahu kamu masih mencintainya. Tapi sekarang kamu istriku, Lia. Dan aku akan memastikan kamu lupa caranya mencintai pria lain." Demi melunasi utang ratusan juta, Alia menerima pernikahan kontrak dengan CEO dingin bernama Revan. Tapi takdir bermain kejam, di rumah mewah itu, ia harus hidup serumah dengan Farel, adik suaminya yang ternyata adalah cinta pertamanya. Terjebak antara suami kontrak yang posesif dan mantan kekasih yang obsesif, Alia perlahan menyadari mansion mewah itu menyimpan rahasia gelap. Saat masa lalu dan masa kini bertabrakan dalam satu atap, Alia harus memilih: bertahan dalam sandiwara yang penuh kebohongan, atau mengikuti hatinya yang masih terpaku pada pria itu?
더 보기Dari kejauhan, aku sudah melihat kerumunan kecil di depan kontrakan kami yang reyot. Aku segera berlari sekuat tenaga, napasku tersenggal-senggal, jantungku berdebar kencang menembus keramaian sore.
Baru saja aku pulang berkencan dengan pacarku, tapi entah kenapa nasib malangku seolah tidak pernah membiarkanku bahagia lebih dari beberapa jam. Yang lebih buruk, ini bukan kerumunan warga yang biasanya menggosip. Haji Rasyid berdiri di tengah halaman, diapit dua orang suruhannya yang bertubuh kekar. Tiap kali berbicara, ia sengaja mengeraskannya supaya menggema ke seluruh gang. Sementara ibu hanya bisa duduk berlutut. Dan adikku, Laras, yang masih mengenakan seragam SMA-nya berdiri di belakang ibu sambil memeluknya. Wajahnya pucat pasi dan tangannya bergetar hebat. "...tiga hari lagi, Bu Sari! Kalau utang ini nggak lunas, rumah ini kami sita besok juga. Dan aib keluarga kalian akan kami bongkar ke seluruh kampung. Biar semua tahu siapa yang suka ngutang lalu kabur tanpa tanggung jawab seperti suamimu yang pengecut itu!" Seketika kakiku lemas mendengar ucapan itu. Tapi aku memaksakan diri menerobos kerumunan dengan napas yang masih ngos-ngosan. "Pak Haji! Tolong... jangan di sini. Ada tetangga yang melihat semuanya! Kita masuk Pak Haji, ya? Kita bicarakan baik-baik," teriakku. Haji Rasyid menoleh, dia menarik garis bibirnya yang penuh ejekan itu. Kemudian matanya menyapu badanku dari kepala hingga ujung kaki. "Oh, Alia. Si lulusan universitas ini. Si tulang punggung keluarga yang katanya hebat ini. Utang ayahmu masih numpuk ratusan juta, tapi kamu malah sempat-sempatnya dandan rapi keluyuran." "Malu ya, diperlakukan di depan umum begini? Dulu ayahmu sok hebat, sekarang anaknya cuma bisa kabur-kaburan waktu ditagih hutang." Tetangga-tetangga mengintip dari balik pagar dan jendela. Sebagian berpura-pura menyapu halaman. Sebagian lagi hanya diam. Mereka juga sadar diri mempunyai utang pada Haji Rasyid. Dengan cepat aku berlutut di samping ibu, memeluk bahunya yang kurus sekali, tulang bahunya menonjol di bawah bajunya yang tipis. "Kasih waktu sedikit lagi, Pak Haji. Saya sedang usaha keras. Saya janji akan lunasi..." "Janji?" potong Haji Rasyid, kemudian tertawa pendek. "Ayahmu dulu juga janji. Enam bulan lalu bunuh diri dan meninggalkan utang dan keluarga yang hancur berantakan. Sekarang kalian mau ikut-ikutan lepas tanggung jawab?" ujar Haji. "Tiga hari. Titik. Kalau nggak, rumah ini kami kosongkan dan sita semua isinya." Salah satu suruhannya melempar amplop cokelat tebal ke tanah di depan kami. Amplop itu terbuka sedikit, memperlihatkan tumpukan kertas tagihan dan bunga yang terus membengkak. Haji Rasyid dan kedua anak buahnya berbalik pergi, langkah mereka berat menginjak kerikil dan genangan air di jalan gang. Suara motor mereka perlahan menjauh, tapi bisik-bisik tetangga justru semakin keras. Aku merasa seperti sedang telanjang, ditelanjangi oleh penghinaan ini. Akhirnya kerumunan bubar pelan-pelan. Kami bertiga masuk ke rumah, pintu ditutup pelan. Takut suara itu bakal menarik perhatian lebih banyak lagi. Rumah kontrakan ini kecil dan pengap, dindingnya sudah mengelupas cat, atapnya sering bocor saat hujan deras, dan lantai semennya sudah retak-retak. Dulu ayah bilang ini hanya sementara sambil menunggu proyek besarnya sukses. Sekarang ini jadi penjara bagi keluarga kami. Malam itu, setelah ibu dan Laras akhirnya tertidur karena kelelahan, aku duduk sendirian di kamarku yang hanya muat kasur tipis, meja belajar, dan lemari kecil. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip, suaranya berdengung menyayat telinga. Pikiranku melayang jauh ke enam bulan lalu. Ayah yang dulu selalu pulang membawa kabar baik tentang kerja sama dengan Firmansyah. Lalu tiba-tiba semuanya runtuh dalam semalam. Ayah dijebak, utang numpuk dan menggunung, dan pada suatu malam hujan deras ayah memilih jalan pintas untuk meninggalkan kami semua. Untung saja enam bulan yang lalu tepat waktu aku sudah wisuda. Saat ini bekerja sebagai kasir di suatu minimarket, sedangkan Laras diam-diam mencari kerja paruh waktu meski aku larang. Tapi semua itu pun belum cukup untuk melunasi utang Bapak. Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Air mata akhirnya jatuh deras, bahuku terguncang. "Kenapa, Pa? Kenapa tinggalin kami begini? Kami nggak tahu harus gimana lagi..." lirihku Aku merasa hancur total, seperti sedang tenggelam di lumpur yang semakin dalam. Tidak ada jalan keluar. Pinjam ke sana-sini sudah habis. Barang yang bisa dijual sudah hampir tidak ada lagi. Besok... tiga hari lagi kami benar-benar akan kehilangan atap di atas kepala. HP-ku bergetar keras di samping bantal. Nama Revan menyala di layar. Aku menyeka wajah cepat-cepat, menahan napas sebelum menekan tombol jawab. Setelah tiga bulan berpacaran diam-diam dengannya, aku masih belum terbiasa dengan jantung yang selalu berdebar tiap kali namanya muncul di layar. Apalagi malam ini, di tengah keributan yang baru saja kualami. "Halo?" suaraku serak, berusaha terdengar biasa saja. "Alia." Suaranya tenang seperti biasa, "Kamu kenapa? Suaramu aneh," lanjutnya "Nggak apa-apa," bohongku. "Cuma capek aja." Hening sejenak di ujung telepon. Cukup lama untuk membuatku gelisah. "Besok malam," katanya akhirnya, nadanya berubah. "Aku jemput kamu jam tujuh di tempat biasa. Ada yang mau aku omongin." "Mau ngomongin apa?" "Soal kamu, kita, dan keluarga kamu. Kamu lagi butuh bantuan kan? Aku bisa bantu." "Maksud ka-" "Besok kita ketemu aja, ya?" potong Revan. Telepon itu ditutup begitu saja. Aku menatap layar HP yang sudah gelap, jantungku berdegup kencang. Tiga bulan kami pacaran, dan sampai sekarang tidak ada satu pun yang tahu, termasuk Ibu, Laras, dan siapapun itu. Aku terlalu malu mengakui bahwa aku, yang hidupnya berantakan seperti ini, bisa dekat dengan seorang jaksa terkenal seperti dia. Apa maksud dia tentang keluarga aku. Aku tidak salah mendengarnya, kan? Revan membicarakannya seolah-olah dia tahu segalanya tentang keluargaku. Mungkin ini akhirnya...? Atau... mungkin, hanya mungkin, ini justru satu-satunya harapan yang tersisa di tengah keributan ini. Aku tidak tahu lagi harus percaya apa. Tapi besok malam, aku harus temui dia. Demi ibu. Demi Laras. Demi rumah ini yang mungkin masih bisa diselamatkan."Farel ini beda banget sama Revan," lanjut ibunya, menyesap air putih sebelum kembali bicara."Revan dari kecil udah keliatan bakatnya, ngikutin jejak ayahnya. Rajin, disiplin. Farel mah... maunya bebas aja gitu. Waktu kuliah juga begitu. Padahal kalau mau, bisa aja dia masuk firma keluarga."Ayahnya hanya mengangguk pelan, tidak berkomentar, tapi rahangnya sedikit mengeras. Cukup untuk menunjukkan dia sependapat dengan kekecewaan istrinya.Aku mengangguk sopan, memaksa diri fokus pada obrolan. Tapi di ujung meja, aku bisa merasakan tatapan Farel menempel di wajahku, diam-diam.Aku tidak berani menoleh balik. Tidak perlu. Aku hafal betul rasanya ditatap seperti itu.Dulu, di kos sempit yang hanya cukup untuk satu kasur dan satu meja belajar, dia sering menatapku persis seperti ini sebelum akhirnya mendekat, menyentuh rambutku, membisikkan sesuatu yang membuatku tertawa sampai lupa segalanya.Sekarang tatapan yang sama duduk di seberang meja, dan aku hanya bisa berpura-pura sibuk memot
Chat balasan Revan datang dengan cepat, hanya beberapa menit setelah aku mengirim keputusanku semalam.Revan: Akhirnya. Aku tunggu ini dari kemarin. Siang ini aku jemput ya, ada yang mau kita siapkan.*Aku tersenyum menatap layar, meski masih ada gugup yang mengganjal di dada.Siang itu, aku berpamitan pada ibu dengan alasan mau jalan bersama teman. Supaya lebih meyakinkan, aku mengenakan pakaian casual dengan gamis panjang sederhana dipadu rok lipit yang biasa kupakai kalau sedang santai.Baru saja keluar rumah, aku berpapasan dengan Laras yang baru pulang sekolah, masih sempat melambai pamitan pada seseorang, laki-laki, di ujung gang."Itu Dimas ya?" godaku sambil mengancingkan kancing rok.Laras mendadak salah tingkah. "Bukan siapa-siapa kok, Kak. Kok kakak malah mau pergi lagi? Ketemu pacar lagi ya?""Nggak ada pacar-pacaran," elakku cepat. "Kamu tuh yang tiap hari pulang bareng Dimas terus. Jangan alihkan topik.""Ih, kita cuma temenan, Kak!" Laras membela diri, pipinya mulai mem
Mobil berhenti di ujung jalan yang sama, tempat aku dijemput tadi. Aku turun pelan, merapikan gaun pinjaman yang sudah agak kusut."Makasih ya, buat makan malamnya," kataku, mencoba tersenyum, meski pikiran berkecamuk.Revan menatapku dari balik kaca mobil yang terbuka setengah, tidak terlihat kecewa atau memaksa meski aku baru saja menolaknya di restoran tadi. "Nggak apa-apa. Kamu pikirin lagi aja, Alia. Aku nggak akan maksa."Aku mengangguk pelan, lega karena dia tidak marah."Tapi kalau kamu tetap mau nolak," lanjutnya, suaranya tetap tenang, "paling nggak hubungi aku ya. Jangan didiemin kayak semalam.""Iya," bisikku. "Aku janji kali ini.""Kabarin aku kalau udah siap," katanya, lalu tersenyum tipis sebelum kaca mobil kembali naik. Mobil hitam itu melaju menjauh, meninggalkanku sendirian di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip.Aku berdiri sebentar, menatap kepergian mobilnya, dadaku masih penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab. "Dikenalkan ke keluarga. Bantuan besar. Semua
Suara azan subuh berkumandang samar dari kejauhan saat aku terbangun. Tubuhku terasa berat, mataku masih perih setelah semalaman nyaris tidak bisa tidur.Aku meraih HP, menatap layarnya yang gelap, mengingat kembali suara Revan semalam di telepon.Besok malam. Aku jemput jam 7. Ada yang mau aku omongin. Begitu katanya. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang Revan ingin bicarakan.Aku bangkit dari kasur, mengusap wajah, lalu keluar kamar untuk bersiap kerja.Rumah masih sunyi. Tapi di ruang tamu kecil, ibu sudah duduk di kursi kayu, menatap kosong ke amplop cokelat yang masih tergeletak di meja sejak kemarin.Aku mendekat, menyentuh bahunya pelan. "Ma, udah nggak usah dipikirin dulu amplop itu. Alia yang akan cari solusinya. Sekarang Alia mau berangkat kerja dulu ya."Ibu menoleh, matanya lelah tapi mencoba tersenyum. "Hati-hati di jalan, Nak."Aku mencium punggung tangannya sebentar, lalu bergegas keluar.Di tengah jalan menuju minimarket, HP-ku bergetar sekali.Revan: Semangat ker






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.