FAZER LOGIN"Kenapa, Yah?" tanya Putra heran. Bocah itu memiringkan sedikit kepalanya.Suasana di meja makan yang tadinya penuh gurauan hangat perlahan tergantikan oleh ketegangan tipis yang terasa. Putra menatap ayahnya dengan sepasang mata bulat yang memancarkan kekecewaan sekaligus kebingungan. Sendok di tangannya terhenti di udara sebelum akhirnya ia letakkan kembali di atas piring.Sang ayah masih diam. Putra kembali bersuara. "Kenapa nggak boleh sekolah, Ayah? Putra udah pakai seragam loh. Kan gosipnya udah ditangani Om Samuel?" tanya Putra lagi, mencoba mencari celah negosiasi.Meski masih kecil, sebagai anak laki-laki tertua yang mulai paham situasi, ia merasa cemas jika harus tertinggal pelajaran. Putra juga sudah punya banyak teman dan bisa bermain dengan mereka setiap istirahat. Dan yang bocah itu takuti, teman-temannya akan memusuhinya jika mereka juga membaca gosip yang tersebar di internet."Aku sebenarnya juga takut, Ayah, Bunda... Gimana kalau teman-teman Putra menjauhi Putra gara
Ibra tertohok. Hampir tersedak ludahnya sendiri. Pria itu kemudian mengubah posisinya, bergeser turun dan berbaring di samping Aya. Ia membetulkan pakaian Aya. Lalu dengan lembut menarik tubuh istrinya masuk ke dalam dekapan hangatnya. Tak lupa menarik selimut untuk menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut tebal hingga sebatas dada. Satu kaki panjang Ibra sengaja dilingkarkan di atas paha Aya, mengunci wanita itu dengan posesif namun tetap lembut."Maafkan aku, ya, Sayang. Aku benar-benar hampir saja menyakitimu," bisik Ibra tulus kembali meminta maaf. Ia mengecup kening Aya cukup lama."Nggak papa, Mas. Aku tahu kamu cuma kangen kan," jawab Aya seraya menyandarkan kepalanya di dada telanjang Ibra, mendengarkan detak jantung pria itu yang perlahan-lahan kembali melambat dan stabil.Ibra mengusap-usap punggung Aya penuh kehangatan, meninggalkan rasa nyaman yang menjalar ke seluruh tubuh sang istri. Rasa gairah membara tadi kini berganti menjadi kehangatan yang sangat menenangkan.
Jemari Aya mulai meremas bahu lebar Ibra, merasakan kehangatan kulit pria itu yang polos tanpa kain penghalang.Sementara Ibra tak puas hanya menguasai bibir Aya, ciuman pria itu pun turun merayapi rahang mulus Aya, berpindah ke leher jenjangnya. Pria itu menyesap dan mengecup kulit sensitif di sana dengan keahlian yang membuat kepala Aya terkulai ke belakang."Ahhh... Mas....." Desahan Aya lolos saat bibir Ibra memberi gigitan-gigitan kecil yang memabukkan di ceruk lehernya.Tangan Ibra yang besar dan hangat mulai bergerilya. Dari pinggang Aya, jemarinya merayap naik, menyusup ke balik piyama kain halus yang dikenakan istrinya. Sentuhan telapak tangan bersentuhan dengan kulit itu memicu rasa geli yang menjalar di tubuh Aya.Ibu jari Ibra mulai mengelus lembut kulit perut Aya yang masih agak lunak pasca melahirkan. Perut yang meninggalkan sebuah jejak perjuangan yang justru membuat Ibra semakin memuja wanita di bawahnya ini."Hmm...." Aya bergumam menahan geli.Sementara Ibra terus me
Ibra terkekeh pelan, rasa lelahnya mendadak sirna. Ia mengecup bibir Aya dengan lembut dan penuh kehangatan, bukan ciuman karena nafsu belaka. Ia peluk Aya erat-erat dan kembali menghirup aroma lembut favoritnya yang menguat dari tubuh sang istri."Oh iya, Mas...." Aya menahan dada Ibra saat pria itu hendak menciumnya lagi. Aya menatap suaminya dengan tatapan jahil dan penuh peringatan."Kenapa lagi, Sayang?" tanya Ibra heran.Aya menunjuk ke arah pintu kamar mandi dengan dagunya. "Mas baru pulang dari luar, kan? Habis ketemuan sama banyak orang, kena debu jalanan dan konferensi pers dengan banyak wartawan."Ibra diam, seolah tahu ke arah mana pembicaraan sang istri."Mas harus mandi, cuci tangan pakai sabun, terus ganti baju dulu. Biar bersih," perintah Aya sembari menatap suaminya dengan bibir sedikit mengerucut.Ibra tertegun sejenak sebelum akhirnya tertawa pelan. Di tengah badai skandal yang baru saja mereka lewati, aturan kebersihan dari istrinya tetap menjadi hukum tertinggi di
"Bagaimana perkembangan penyelidikannya, Yudha?" tanya Ibra saat pria itu memasuki sebuah ruangan khusus yang ia siapkan untuk detektif kepercayaannya.Yudha masih menatap layar laptopnya. Tangannya bergerak lincah di atas keyboard. Namun ia mendengar pertanyaan yang diajukan oleh sang Presdir."Kami sudah menemukan terduga pelaku, Pak. Informasinya baru saja selesai saya cetak," jawabnya.Ibra segera duduk di kursi yang ditarik oleh Samuel. Tatapannya tajam tertuju pada Yudha yang masih sibuk dengan laptopnya. Yudha segera menghentikan gerakan tangannya lalu ia menoleh mengambil sebuah dokumen baru dan menyerahkannya pada Ibra."Ini, Pak," ujarnya.Samuel mewakili sang Presdir menerima dokumen tersebut. Lalu menyerahkannya padanya. Ibra dalam diam membuka dokumen tersebut. Kedua alisnya saling bertaut. Di sana ada cetak foto yang diambil dari CCTV rumah sakit."Ini...." gumamnya.Samuel ikut melihat. "Itu... Saya ingat. Waktu kita tiba, kita bertemu dengan orang itu, Pak!" serunya.L
Unggahan Aya dalam sekejap menjadi viral. Kejujuran, ketenangan, dan ketegaran respons dari istri Presdir Bagaskara Group itu mulai membalikkan simpati publik. Tak sedikit dari para netizen yang mulai mempertanyakan kebenaran berita yang beredar dan mengutuk tindakan keji peretasan data pribadi seseorang."Gimana, Bunda?" tanya Putra penasaran.Aya menilik kembali ponselnya di mana sudah ada banyak notifikasi yang masuk. "Banyak yang komentar. Biarkan saja."Dengan sengaja Aya mematikan notifikasi pada akun sosial medianya itu. Ia tak mau tidur anaknya terganggu. Namun wanita itu tetap memantau apa yang terjadi di sana.*Sore harinya, Ibra melangkah keluar dari gedung kantor menuju area konferensi pers yang telah disiapkan secara mendadak di lobi utama kantor Bagaskara Group. Puluhan kilatan lampu kamera langsung menyambut kehadiran sang Presdir.Para petugas keamanan menjaganya dengan ketat. Sementara beberapa wartawan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak sopan lagi.Na







