INICIAR SESIÓNTiga tahun menikah, Nindy harus bertahan demi suami impotennya. Sampai ketika ia menderita sebuah penyakit yang membuat gairahnya terus meledak-ledak, di saat suaminya tidak pernah bisa memuaskannya. Saat periksa, Nindy salah masuk ruangan dan bertemu Malik, dokter sekaligus cinta pertama Nindy. Tak disangka, Nindy yang diancam cerai oleh mertua Fajar, tiba-tiba mendapat pesan dari Malik. "Suami dan mertuamu minta kamu hamil, dan akulah orang yang dipilih untuk melakukannya!"
Ver más"Dok, aku udah nggak tahan lagi! Cepat periksa bagian kewanitaanku, sekaraaangg!"
Nindy melangkah masuk ke kamar 304 dengan napas memburu, lalu ia langsung berbalik dan menekan tombol kunci pada gagang pintu. Ia sengaja mengunci ruangan tersebut karena sangat berharap dokter di dalam bisa segera menuntaskan rasa sakitnya tanpa hambatan dari luar.
Keringat mengalir deras membasahi dahi hingga lehernya akibat otot di perut bawahnya terus berkedut kuat, sehingga rasa gatal yang luar biasa itu sudah sangat menyiksa fisiknya sejak beberapa jam lalu.
"Tolong lakuin apa aja, Dok! Rasanya gatal dan sakit banget sampai aku susah buat berdiri tegak!"
Nindy menundukkan kepala sambil meremas ujung tas selempangnya dengan sangat kuat untuk menyalurkan rasa nyeri pada saraf tubuhnya.
Udara dari pendingin ruangan seketika mengenai permukaan kulitnya, berpadu dengan bau cairan antiseptik yang memenuhi udara.
Namun, ketika Nindy mengangkat wajahnya perlahan lalu menoleh ke arah meja kerja, langkah kakinya terhenti seketika. Tubuh Nindy mendadak kaku karena pria yang duduk di balik meja kayu tersebut jelas bukan dokter kandungan wanita yang ia tuju malam ini.
Seorang dokter pria berjas putih dengan tubuh tinggi tegap perlahan bangkit berdiri dari kursi kerjanya.
"Nindy?!" Pria itu menyebut nama Nindy dengan nada datar, tetapi ekspresi wajahnya menunjukkan rasa terkejut yang sangat jelas.
"Malik...?" balas Nindy dengan suara bergetar pelan.
Malik dan Nindy seketika saling menatap dalam diam selama beberapa saat di tengah ruangan poliklinik yang sunyi tersebut.
Mereka berdua sama-sama mengenali wajah satu sama lain secara jelas karena mereka adalah kisah lama di masa lalu.
Ingatan mereka berdua secara otomatis kembali pada memori nyata bahwa ternyata mereka adalah cinta pertama masing-masing sewaktu masih duduk di bangku sekolah menengah.
Menyadari kesalahan masuk ruangan ini, rasa canggung dan malu yang luar biasa langsung menguasai pikiran Nindy sepenuhnya.
Suhu tubuh Nindy naik dengan cepat hingga wajah dan lehernya memerah merah karena ia baru saja berteriak meminta bagian pribadinya diperiksa oleh mantan kekasihnya sendiri.
"Sori, Malik, aku salah masuk ruangan!" ucap Nindy cepat dengan nada panik.
Nindy yang ingin segera keluar dari kecanggungan itu langsung membalikkan badan, lalu mengulurkan tangan kanannya untuk menarik gagang pintu sekuat tenaga.
Akan tetapi, tangannya bergetar sangat hebat karena menahan panik dan sakit secara bersamaan, sehingga keringat dingin yang merembes di telapak tangannya membuat pegangannya menjadi licin.
Suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat dengan cepat dari arah belakang Nindy.
Sebelum Nindy berhasil memutar kunci pintu sepenuhnya, pergerakannya langsung ditahan oleh Malik yang melangkah maju memangkas jarak di antara mereka.
Malik memblokir jalan keluar Nindy dari belakang, lalu menempelkan telapak tangannya pada daun pintu tepat di atas kepala Nindy agar pintu itu tertahan sepenuhnya.
"Minggir, Malik! Aku mau keluar sekarang juga!" desis Nindy.
Nindy memukul pelan lengan Malik yang menghalangi pandangannya, tetapi pria itu sama sekali tidak memundurkan posisinya.
"Kamu yakin mau keluar? Dokter Sita masih ada pasien lain. Kondisimu butuh penanganan medis sekarang, dan kalau tidak ditangani, bisa makin parah," balas Malik dengan suara baritonnya yang berat.
"Aku bilang minggir! Aku mau cari ruang Dokter Sita, dan ini sama sekali bukan urusanmu!"
Nindy berusaha menepis lengan Malik dari pintu, namun tenaga pria itu jauh lebih besar sehingga Nindy gagal memindahkan posisinya meskipun sudah mengerahkan seluruh tenaganya.
"Ruangan Dokter Sita memang ada di ujung lorong, tapi percaya padaku, kondisiku ini terlalu parah!" tegas Malik.
Malik menolak keras membiarkan pasiennya pergi begitu saja karena hal itu bertentangan dengan kode etiknya sebagai seorang tenaga medis. "Aku dokter di rumah sakit ini, Nindy, jadi aku nggak akan ngebiarin kamu keluar dari ruangan ini sebelum rasa sakit di perutmu itu mereda."
"Tapi aku adalah pasien dokter Sita. Pliss, jangan seperti itu denganku, Malik!" mohon Nindy.
Nindy menggigit bibir bawahnya kuat-kuat karena kelainan di perut bawahnya kembali berkedut kencang, membuat kedua kakinya sangat lemas hingga ia tidak sengaja menyandarkan punggungnya pada dada Malik.
Melihat wajah Nindy yang semakin pucat, Malik segera mengesampingkan rasa canggung di antara mereka dan mengambil alih situasi secara penuh.
Malik memegang kedua bahu Nindy secara tegas, lalu mengarahkan Nindy berjalan perlahan menuju ranjang pasien di sudut ruangan.
Nindy sempat menahan langkah kakinya untuk menolak, namun rasa sakit di tubuhnya membuat ia tidak punya pilihan lain selain menuruti arahan Malik.
"Duduk dan berbaring di atas ranjang itu sekarang," perintah Malik.
Nindy mendudukkan dirinya di tepi ranjang, kemudian membaringkan punggungnya di atas permukaan kasur bersuhu dingin. Tubuh Nindy bergetar terus-menerus karena ia harus menahan gejolak fisik yang menuntut pelepasan segera pada saraf di sekitar panggulnya.
Malik berjalan mendekati meja kecil di samping ranjang, lalu mengambil sepasang sarung tangan medis berbahan lateks berwarna putih.
Ia memakai sarung tangan itu secara perlahan, menciptakan bunyi gesekan karet yang terdengar sangat jelas hingga membuat jantung Nindy berdetak semakin cepat.
"Buka pakaian bawahmu, aku akan melakukan pemeriksaan fisik sekarang juga," ucap Malik dengan ekspresi wajah yang sangat fokus dan profesional.
Nindy terdiam kaku selama beberapa detik karena rasa malu kembali menyerangnya.
Tetapi, karena rasa gatal dan kedutan di area sensitifnya sudah mencapai batas maksimal yang bisa ia tahan, Nindy menurunkan pakaian bawahnya dengan gerakan tangan yang gemetar lalu menyisihkannya ke samping kasur.
"Tolong jangan lihat wajahku, Malik," ucap Nindy pelan.
Malik menarik kursi beroda lalu duduk tepat di ujung ranjang, kemudian mengamati area bawah perut Nindy dengan tatapan mata yang sangat teliti tanpa menunjukkan niat buruk apa pun.
"Otot saraf di area ini ngalamin ketegangan yang sangat tinggi, Nindy," jelas Malik setelah melakukan observasi visual.
"Terus aku harus gimana?!" tanya Nindy dengan napas yang memburu.
"Aku harus ngasih stimulasi manual pakai sentuhan jari buat ngeredain ketegangan sarafmu ini secara langsung."
"Lakuin aja cepat! Aku udah nggak tahan lagi!" balas Nindy.
Jari telunjuk dan jari tengah Malik yang terbalut sarung tangan lateks perlahan bergerak maju, lalu langsung menyentuh titik pusat keluhan di tubuh Nindy secara akurat.
Sentuhan fisik pertama itu membuat punggung Nindy sedikit melengkung ke atas secara otomatis.
Napas Nindy tertahan di tenggorokan saat merasakan suhu dingin dari sarung tangan lateks berpadu dengan suhu tubuhnya yang sedang sangat panas.
Malik menggerakkan jari-jarinya secara konstan tanpa memberikan jeda, lalu memberikan ritme sentuhan yang sangat teratur pada titik saraf Nindy yang paling tegang.
Sentuhan tersebut secara langsung memberikan kelegaan nyata pada saraf Nindy, sehingga rasa nyeri yang menyiksanya sejak tadi perlahan berkurang dan tergantikan oleh sensasi nyaman.
Eleanor memakai blus biru muda, warna yang sama dengan seprai kamar di lantai atas rumah besar. Mesin mobil sudah dimatikan sopirnya, tetapi Eleanor tetap duduk di kursi belakang dengan tas tangan di pangkuan."Ibu mau turun sekarang?" tanya Malik dari kursi depan."Sebentar. Ibu mau liat dulu dari sini," jawab Eleanor.Nindy duduk di sebelah mertuanya dan memegang tangan perempuan itu tanpa bicara. Dari balik kaca, mereka bisa melihat halaman panti yang tanahnya disapu bersih, ayunan besi yang catnya mengelupas, dan jemuran panjang berisi seragam sekolah anak-anak dalam berbagai ukuran.Sepuluh menit berlalu begitu. Seorang anak laki-laki kecil berlari melintasi halaman mengejar bola plastik, lalu berhenti dan memandangi mobil hitam itu dengan mulut terbuka."Bima dulu main di halaman itu juga, ya," ucap Eleanor, nyaris ke dirinya sendiri."Kata Bima di telepon semalem, dia yang paling sering jatuh dari ayunan itu," jawab Malik pelan.Eleanor membuka pintu mobil. Nindy dan Malik turu
"Saya nggak pernah berniat ngambil apa pun dari Dokter. Itu yang pertama mau saya bilang, dari dua belas tahun lalu," ucap Bima.Malik mengangguk pelan. Kedua tangannya masih di saku jas putih, dan Nindy melihat kain di saku itu bergerak karena jari-jari di dalamnya mengepal."Kamu tahu dari kapan, aku adikmu?" tanya Malik."Dari umur dua puluh dua. Saya masih jadi pengasuh anak-anak kecil di panti waktu itu. Ada bapak tua pakai jas dateng ke kantor panti, nanya nama saya, terus duduk di depan saya dua jam tanpa ngomong apa-apa," jawab Bima."Ayah," ucap Malik pelan."Abis dua jam, dia bilang dia ayah saya. Terus dia nangis. Saya nggak pernah liat orang tua nangis sampai bahunya naik turun kayak gitu," lanjut Bima.Nindy memandangi tangan Bima yang terlipat di dada. Jari-jarinya panjang, kukunya dipotong pendek dan rata, dan ruas jari tengahnya sedikit lebih besar dari ruas yang lain, sama persis dengan tangan Malik yang setiap malam menggenggam tangannya.Tanpa sadar, Bima menyentuh
Hendra mengangkat wajah dari buku catatannya. "Kamu tahu dia nambal pakai dana abadi dari mana?""Dari laporan tahunan yang dia kirim ke saya buat diperiksa, dulu, sebelum saya dipecat. Angkanya nggak cocok sejak tahun kedua," jawab Bahar.Malik memandangi laki-laki di depannya. Tiga pertanyaan dijawab tanpa satu pun kalimat yang diputar, dan dia tidak tahu apakah itu membuatnya lega atau malah lebih marah.Kipas angin di langit-langit berderit setiap kali putarannya sampai di titik yang sama. Di luar jendela berteralis, terdengar suara petugas memanggil nama-nama tahanan untuk apel siang, satu per satu.Hendra menutup bukunya dan meletakkan pulpen di atasnya. "Kerja sama kamu saya ajuin ke penyidik dengan satu syarat. Semua yang barusan kamu bilang dibikin tertulis, kamu tanda tangan, terus diserahkan ke Inspektur Rudi.""Kertasnya Bapak bawa?" tanya Bahar.Hendra mengeluarkan dua lembar kertas kosong dan satu pulpen dari mapnya, lalu menyodorkannya lewat petugas. Petugas itu memerik
Ponsel Malik di nakas menyala jam sepuluh lewat sedikit. Nama Hendra muncul di layar, dan Malik mengangkatnya dengan pengeras suara karena dia tahu Nindy tidak akan tidur sebelum tahu isinya."Maaf ganggu malem-malem. Bahar ngajuin permohonan pertemuan kedua dari dalam rumah tahanan, barusan petugasnya nelepon aku," ucap Hendra.Nindy bangun setengah duduk sambil menarik selimut ke dadanya. Malik menatap ponsel di tangannya tanpa berkedip."Kali ini dia nolak ketemu Nindy. Yang dia minta dateng cuma kamu," lanjut Hendra.Permohonan Bahar dikabulkan pihak rumah tahanan dalam dua hari, dan Rabu pagi jam sepuluh kurang seperempat, mobil Eleanor sudah terparkir di luar pagar gedung itu. Nindy duduk di kursi belakang bersama sopir Eleanor di depan, ponselnya tersambung ke ponsel Hendra. Susunannya kebalikan dari kunjungan Nindy dulu, dan sambungan itu cuma boleh bertahan sampai pintu ruang besuk."Kalau dia ngomong yang aneh-aneh, kamu keluar aja. Nggak usah pamit," ucap Nindy sebelum suam
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas