LOGINSinopsis: Di Balik Tawa Jihan Bagi dunia luar, Jihan Andexa adalah definisi gadis eksentrik yang tak pernah kehabisan baterai. Ia periang, cerewet, dan tawanya selalu mendominasi ruangan. Namun, di balik senyum lebarnya yang nyaris tanpa celah, Jihan menyembunyikan sepi yang menggema keras di dinding-dinding rumahnya sendiri. Beruntung, ia memiliki Kalandra—kekasih green flag dengan kesabaran seluas samudra yang selalu menjadi pelabuhan tenangnya. Di sudut kampus yang berbeda, ada Marvin Alexander. Si biang onar fakultas, playboy kelas kakap, sekaligus musuh bebuyutan Jihan sejak zaman putih abu-abu. Namun, tak ada satu pun yang tahu bahwa di balik balutan jaket kulit dan mulut pedasnya, Marvin menyimpan satu rahasia yang ia jaga rapat-rapat: ia telah mencintai Jihan dalam diam selama bertahun-tahun. Saat Maudy—kekasih Marvin yang haus validasi—semakin menuntut, dan Kalandra mulai kewalahan membagi waktu dengan kewajiban keluarganya, semesta seolah sengaja menarik Jihan dan Marvin ke dalam garis singgung yang tak pernah mereka prediksi. Akankah Jihan terus bersandar pada cinta yang menenangkan? Ataukah tanpa sadar, ia justru jatuh pada seseorang yang telah lama rela memeluk bayangannya dalam gelap?
View MoreUdara siang di kafetaria Fakultas Bisnis terasa pengap, tapi Jihan Andexa seolah memiliki pasokan oksigennya sendiri. Jari-jari lentiknya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dengan ritme cepat, sementara bibirnya tak henti menembakkan rentetan kalimat tanpa koma.
"Pokoknya, abis ini kita harus mampir ke kafe baru yang di ujung jalan itu. Kamu tahu kan, Yang, aku butuh banget ngerjain revisi skripsi dengan view laut lepas," cerocos Jihan, matanya berbinar-binar penuh harap menatap pria di hadapannya. Ia menopang dagu, memajukan wajah. "Biar jiwa aku sejuk. Sama satu lagi, aku butuh banget lari dari kebisingan otakku yang rasanya mau meledak gara-gara ngejar target marketing plan sialan ini!" Di seberang meja, Kalandra Exder hanya tersenyum. Senyum yang selalu sama: teduh, sabar, dan tak pernah menghakimi sekecil apa pun keanehan Jihan. Tangannya terulur lembut, merapikan anak rambut yang menempel di dahi gadis itu, lalu menyelipkannya ke belakang telinga. "Iya, Jihan cantik," suara Kalandra mengalun tenang, bagai air es yang menyiram bara kepanikan di kepala Jihan. "Apa pun buat kamu. Aku bahkan udah siapin tote bag isi baju ganti kamu di mobil. Nanti sore kamu nggak perlu capek bolak-balik ke rumah cuma buat ganti baju." Jihan tertegun. Bahunya yang sejak tadi tegang, perlahan merosot santai. Sorot matanya melembut seketika, menyadari betapa beruntungnya ia memiliki pria ini. "Aaaa... makasih banyak, sayangnya aku. Kamu kok selalu tahu sih apa yang aku butuhin, bahkan sebelum aku minta?" Kalandra mengusap puncak kepala Jihan dengan gerakan sayang. "Dihabisin dulu jusnya. Kita masih ada satu kelas lagi sebelum pulang, oke?" Di sudut lain kampus—tepatnya di pelataran parkir Fakultas Teknik—atmosfernya terasa bertolak belakang. Jauh dari kata manis. Angin siang meniup rambut ikal Marvin Alexander yang sengaja dibiarkan berantakan. Gaya khas seorang berandal kampus yang entah bagaimana justru jadi magnet bagi para perempuan. Jaket kulit hitamnya hanya disampirkan asal di sebelah bahu. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke depan, kosong dan terkesan bosan, sementara gadis di sampingnya terus mengoceh tanpa henti. Maudy Martin melipat kedua tangannya di dada. Wajah cantiknya ditekuk kesal. "Aku nggak mau tahu ya, Marvin! Pokoknya kamu harus pakai pengaruh kamu di anak-anak mesin buat voting aku jadi ketua promosi kampus tahun ini." Marvin menghela napas panjang dan kasar. Ia merogoh saku jeans-nya, mengeluarkan pemantik api besi dan memainkannya di sela-sela jari. Klik. Klik. "Nggak bisa, Dy," jawabnya datar tanpa menoleh. "Kali ini anak-anak milih kandidat murni karena prestasi sama portofolio. Bukan jalur backing." Maudy mendelik. Ia maju selangkah, menuntut atensi penuh dari kekasihnya. "Kamu harus bisa, dong! Kamu itu cowok aku, Marvin! Masa kamu nggak bisa ngusahain hal kecil yang dipengenin cewek kamu sendiri, sih?" tuntutnya egois. Gerakan tangan Marvin terhenti. Ia akhirnya menoleh. Sorot matanya sedingin es, tak ada sisa kehangatan di sana. "Kalau lo butuh validasi orang lain cuma buat ngerasa berharga, jangan jadiin gue alatnya, Dy." Tanpa menunggu balasan Maudy yang mematung karena syok, Marvin menyambar helm full-face miliknya dan menghidupkan mesin motor sport kesayangannya. Deru knalpot membelah pelataran parkir yang bising, meninggalkan Maudy yang menghentakkan kaki dengan amarah meledak-ledak di tengah kepulan asap tipis. Sore itu, awan abu-abu mulai menggantung rendah, menyelimuti langit kampus. Kelas Jihan kebetulan selesai lebih awal. Ia berdiri di lobi fakultas, jempolnya menggeser layar ponsel, membaca pop-up pesan yang baru saja masuk. Kalandra: Sayang, maaf banget ya aku nggak bisa jemput kamu sekarang. Kondisi Mamah lagi drop, aku harus temenin beliau terapi hari ini. Tapi tenang aja, aku udah suruh Pak Maman bawa mobil buat jemput kamu di lobi. Hati-hati ya pulangnya. Jihan menghela napas pelan. Kecewa? Bohong kalau ia bilang tidak. Namun, ia buru-buru menepis perasaan egois itu. Ia tahu betul seberapa berat beban Kalandra merawat ibunya yang mengidap kanker. Dengan cepat, jempolnya mengetik balasan. Jihan: Iya, Sayangku. Nggak apa-apa, fokus aja ke Mamah, ya. Titip salam buat beliau. Kamu juga hati-hati. Love you more. Gadis itu baru saja memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Belum sempat ia melangkah mencari tempat duduk, suara deru knalpot yang memekakkan telinga sengaja digeber, tepat di depannya. Brummm! Jihan terperanjat kaget, mundur selangkah sambil memegang dadanya. Asap knalpot mengepul dari motor sport hitam yang berhenti tepat di depan anak tangga lobi. Sang pengendara membuka kaca helmnya perlahan, menampilkan senyum miring—senyum smirk menyebalkan yang paling Jihan benci di muka bumi ini. Marvin Alexander. "Tuan Putri sepertinya butuh tumpangan?" ledek Marvin. Suara baritonnya terdengar mengejek, diiringi kilat jenaka di kedua matanya. Jihan memutar bola mata malas, refleks melipat tangan di depan dada. Sentimennya pada pria di depannya ini sudah mendarah daging sejak mereka masih berseragam putih abu-abu. "Makasih udah repot-repot nawarin, Alexander. Tapi sorry, gue nggak butuh tumpangan dari cowok playboy cap buaya bermulut tajam kayak lo," balas Jihan super sarkas. Marvin malah terkekeh pelan, suaranya terdengar renyah berbaur dengan gerimis yang mulai turun. "Yakin? Syukurlah kalau gitu." Pria itu memajukan sedikit tubuhnya, menumpu kedua lengan di atas tangki motor, menatap Jihan lekat. "Soalnya biasanya, gue bakal kena sial tujuh turunan kalau jarak gue terlalu dekat sama cewek galak plus aneh kayak lo." "Sialan lo, Marvin!" desis Jihan tajam, wajahnya memerah menahan kesal. Tepat saat Jihan berniat melontarkan makian kebun binatang, klakson mobil Alphard hitam berbunyi dari arah gerbang. Itu mobil jemputannya. Pak Maman. "Jemputan gue udah datang. Minggir, lo ngalangin jalan!" Jihan mengibaskan tangan seolah mengusir lalat, lalu berjalan menyamping menghindari motor Marvin dengan wajah ditekuk rapat. Ia bahkan tidak sudi menoleh lagi saat masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya menutup. Alphard hitam itu perlahan melaju, membelah gerimis sore yang perlahan berubah menjadi hujan. Namun di belakang sana, di depan lobi yang mulai sepi, Marvin tidak langsung memutar kemudinya. Ia mematikan mesin motor. Senyum mengejek yang tadi terlukis sempurna di wajahnya perlahan luntur, digantikan oleh raut lelah yang begitu kelam. Mata elangnya terus terpaku ke arah mobil Jihan, menatap tanpa kedip hingga kendaraan itu menghilang di belokan jalan. Tangan Marvin mencengkeram stang motornya erat-erat, urat-urat di punggung tangannya menonjol hingga buku-buku jarinya memutih. Gue masih di sini, Han, batinnya merintih lirih. Sejak kita SMA, gue selalu nunggu di tempat yang nggak pernah lo lihat. Lo selalu mandang terlalu jauh ke depan. Ada nyeri yang berdenyut konstan di dada Marvin setiap kali ia melihat gadis itu. Bagi semua orang, ia adalah pangeran kegelapan fakultas. Walking red flag yang harus dijauhi. Tak ada yang tahu, dan tak ada yang pernah sudi melihat lebih dalam, bahwa di balik semua topeng berandal yang ia kenakan, ada hati yang terus berdarah. Berdarah karena sibuk mencintai seseorang yang tak bisa ia genggam. Senang rasanya lihat senyum lo masih sama, Jihan. Sangat indah. Bahkan senja sore ini pun kalah telak. Marvin memejamkan mata sejenak, membiarkan rintik hujan yang makin deras menyamarkan setitik air yang menggenang di sudut matanya. Dengan embusan napas berat, ia kembali menghidupkan mesin, membawa pergi luka lamanya menembus badai. Setengah jam kemudian, Jihan melangkah masuk ke dalam rumah mewahnya. Pintu kayu jati berukir itu tertutup di belakangnya, menciptakan suara debuman yang menggema ke seluruh sudut ruangan. Sepi. Hening. Lampu-lampu gantung kristal menyala begitu terang dan megah, namun entah kenapa rumah ini selalu terasa sedingin lemari es. Tidak ada suara televisi yang menyala, tidak ada aroma masakan hangat dari dapur, tidak ada tegur sapa. Kedua orang tuanya, seperti biasa, tengah sibuk mengurus kerajaan bisnis mereka di luar negeri—atau entah di belahan bumi mana lagi sekarang. Jihan bahkan berhenti menghafal jadwal penerbangan mereka. Gadis itu melempar tasnya sembarangan ke atas sofa ruang tamu. Ia menjatuhkan diri di sana, menatap nanar langit-langit rumah yang menjulang tinggi. Perlahan, topeng gadis cerewet dan ceria yang ia pakai mati-matian seharian ini di kampus mulai retak. Luruh, hancur bersama rasa lelah yang menggerogoti jiwanya hingga ke tulang. Jihan menarik kedua kakinya, merapatkan lutut ke dada, lalu memeluk dirinya sendiri erat-erat. Hanya Kalandra. Ya, di dunianya yang bising namun terasa begitu sunyi dan hampa ini, hanya Kalandra yang menjadi pelindungnya. Sosok hangat yang menjadi satu-satunya jangkar kewarasannya. Memikirkan senyum lembut Kalandra, Jihan memejamkan mata rapat-rapat. Berusaha keras mencari secuil kehangatan di tengah dinginnya rumah yang perlahan menelannya hidup-hidup bak penjara.Pelukan Kalandra malam itu seharusnya menjadi penawar dari segala luka. Biasanya, dekapan hangat pria inilah yang menjadi satu-satunya tempat Jihan merengkuh kewarasannya kembali setelah dihancurkan oleh sepinya rumah.Namun malam ini, semuanya terasa berbeda.Di bawah cahaya lampu teras yang temaram, Jihan bisa merasakan bahu Kalandra yang sedikit bergetar, meski pria itu berusaha keras menyembunyikannya. Aroma parfum Kalandra yang menenangkan kini bercampur dengan bau khas rumah sakit dan keringat dingin akibat kelelahan yang ekstrem."Aku nggak butuh kamu berjuang sendirian buat aku, Ndra," bisik Jihan lirih, suaranya teredam di dada Kalandra. Air matanya merembes membasahi kaus pria itu. "Cinta itu bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban sampai hancur. Gimana aku bisa bahagia kalau kebahagiaan itu dibayar pakai kehancuran kamu?"Kalandra mengurai pelukan mereka perlahan. Tangan besarnya menangkup kedua pipi Jihan yang basah, ibu jarinya mengusap jeja
Hujan gerimis malam itu berubah menjadi tirai kelabu yang membungkus jalanan kota. Di atas jok motor sport Marvin, Jihan duduk merosot, membenamkan wajahnya di punggung lebar sang pria. Jaket kulit Marvin yang masih menyisakan kehangatan tubuh dan aroma peppermint-nya membungkus tubuh Jihan yang basah dan gemetar.Tidak ada sepatah kata pun yang terucap di antara mereka selama perjalanan. Marvin membawa motornya dengan kecepatan konstan, membelah keheningan malam hingga akhirnya mereka tiba di sebuah tempat asing—sebuah kedai kopi kecil di sudut distrik seni yang sudah tutup, tapi pintunya dibukakan oleh pemiliknya khusus untuk Marvin.Di dalam kedai yang temaram dan hangat, Marvin menyodorkan segelas cokelat panas mengepul ke tangan Jihan yang masih membeku.Jihan menerima mug itu dengan tangan gemetar. Ia menatap cairan cokelat di dalam cangkir, sementara air matanya kembali meleleh tanpa suara, membasahi pipinya yang dingin. Semua beban yang ia pendam—rumah yang terasa seperti
Kalimat itu jatuh begitu saja di udara, menggantung di antara mereka dengan gravitasi yang luar biasa berat. Jihan merasa oksigen di koridor mendadak lenyap. Otaknya berhenti bekerja, mendadak mengalami buffering hebat mencerna implikasi dari pengakuan telak yang baru saja dilontarkan oleh pria di hadapannya.Orang yang beneran gue mau?Jantung Jihan melompat ke tenggorokan. Ia membuka mulutnya, berniat melontarkan protes atau sekadar sarkasme untuk menutupi salah tingkahnya, tapi tidak ada satu pun suara yang keluar. Matanya berkedip cepat, terpaku pada manik mata elang Marvin yang menatapnya dengan intensitas yang sanggup membakar kulit. Tidak ada topeng berandal, tidak ada seringai mengejek. Yang ada hanya kejujuran yang telanjang—dan itu jauh lebih menakutkan bagi Jihan."Marvin, lo..." cicit Jihan, suaranya nyaris tak terdengar di antara debar jantungnya sendiri.Sebelum Marvin sempat menjawab atau menarik jarak, suara derap langkah kaki dan suara bising sekelompok mahasiswa
Jihan mengerjap. Sekali. Dua kali.Matanya masih terpaku pada pintu kaca kafe yang baru saja tertutup, menelan siluet punggung tegap Marvin dalam temaramnya senja. Aroma peppermint pria itu entah kenapa masih tertinggal di udara, berbaur secara kurang ajar dengan wangi kopi di mejanya, menginvasi indra penciumannya tanpa permisi.Tangannya perlahan naik, meremas ujung kemejanya tepat di atas dada kiri.Gila. Jihan menelan ludah. Sistem saraf gue pasti lagi konslet.Berani-beraninya seorang Marvin Alexander—musuh bebuyutannya, si cowok brengsek bermulut tajam itu—membuat jantungnya berdebar dengan ritme yang memalukan seperti ini?Dengan kasar, Jihan mengusap wajahnya, berusaha mengusir sisa-sisa debaran aneh itu. Ia kembali menatap layar laptopnya. Kursor yang tadi berkedip mengejek kini seolah menunggunya. Kalimat Marvin terngiang kembali di kepalanya, berputar bagai kaset rusak.Ngasih mereka keberanian buat pakai 'topeng' saat dunia lagi jahat-jahatnya.Jari-jari Jihan mulai






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.